Hijrahku Dari Pacaran

Hijrahku Dari Pacaran
part 43


__ADS_3

Empat hari setelah kejadian menerobos rumah Pak Dirman, Pak Dirman dipenjara setelah Polisi menyelidiki lebih lanjut dari laporan kami. Kami menyerahkan video sebagai barang bukti, disertai dengan berkas-berkas laporan para warga yang sudah disiapkan oleh Dimas. Si centil Dara keluar dari kampus tanpa disuruh. Mungkin karna tak mau menahan malu. Menurut keterangan dari Dimas, rumah Pak Dirman disita oleh Polisi & Dara pulang ke rumah neneknya di Jakarta.


.


Mama meneleponku.


"Assalaamu'alaikum, Annisa," salam Mama di seberang sana.


"Wa'alaikumussalaam, Ma," jawabku.


"Alhamdulillaah, uang Mama sudah dibalikin sama Polisi, sayang. Polisi bilang, semua uang korban dikembalikan pada pemiliknya. Terimakasih ya sayang, kamu benar-benar anak yang melaksanakan amanat orang tua. Kamu anak yang sangat berbakti pada orang tua. Jaga diri baik-baik, ya sayang," tutur Mama terdengar riang.


"Alhamdulillaah, Ma. Annisa ikut senang. Sama-sama, Ma. Itu udah jadi kewajiban Annisa," ucapku.


"Ya udah. Mama lagi sibuk. Assalaamu'alaikum," tutup Mama.


"Wa'alaikumussalaam warahmatullaah," jawabku.


*Tut. Mama menutup telepon. Aku mengunci layar ponselku.


"Maafkan Annisa, Ma. Mama salah nilai Annisa. Mungkin memang benar, Annisa berhasil melaksanakan amanat Mama. Tapi Annisa rasa, Annisa bukan anak yang berbakti. Annisa masih melanggar aturan Papa Mama. Annisa pacaran Pa, Ma. Maafkan Annisa yag tidak bisa memutuskan Bangkit," gumamku seraya meneteskan air mata.


*Ting.


Satu pesan WA masuk, membuyarkan lamunanku.


"Vina @ Enam Sahabat"


Ternyata pesan Vina di grup yang dibuat Roy.


"Guys! Triple date, yuk!" isi pesan itu.

__ADS_1


Aku hampir lupa kalau ini hari Minggu.


"Date? Ciyee, yang udh dapet gebetan," ledek Bangkit di grup.


"Boleh juga, kemana?" tanya Roy.


"Cafe Barita," jawab Vina.


"Ok. Aku mau," jawab Diana.


"Tapi, gimana aku minta ijinnya? Pasti gak dibolehin kalo aku bilang kencan," balasku, ikut nimbrung.


"Hei! Ini 'kan jadwalmu belanja sama Kak Rere. Mall yang sering kamu kunjungi drket koq sama Cafe Barita. Makanya, aku sengaja ngajak kesana biar kamu bsa ikut. Setelah belanja bisa 'kan main bentar?" balas Vina yang memang sudah sangat hafal jadwalku.


"Oke, guys! Siap-siap dulu yaa!" balasku.


Aku segera menutup ponsel & segera mandi. Tak lama kemudian, aku sudah rapi & menunggu Kak Rere di ruang tamu.


"Kak, ntar aku main dulu sama temen-temen ya abis belanja?" tanyaku, saat Kak Rere keluar dari dalam kos.


Lalu, kami naik taksi yang sudah dipesan oleh Kak Rere.


.


***


Kak Nia telah selesai belanja. Aku juga ikut membantu membawa barang belanjaannya. Kami memasukkan bahan makanan yang sudah kami beli ke dalam taksi yang kami tumpangi tadi. Kami berdua juga patungan untuk membayar sewa tunggu, selama sang supir taksi menunggu barang belanjaan kami.


"Woy! La!" panggil Vina.


"Eh, Vina. Ngagetin aja," kataku, terhenyak.

__ADS_1


"Eh, ada Kak Rere juga," kata Vina.


"Iya, Vvin," kata Kak Rere.


"Kami mau main dulu, ya, Kak," kata Vina.


"Iya silakan," kata Kak Rere.


.


Aku & Vina pun berjalan menjauhi mobil taksi yang diparkir di tempat parkir mall.


"Nis, makasih ya. Kamu udah bantu aku bisa deket sama Dimas. Kamu udah bantu satu masalah besar yang bikin aku ga bisa bersatu sama Dimas. Kata Bapak, aku ga bisa drket dia, kalo nilai belajarku belum bagus. Dan aku ga bisa fokus belajar karna masalah besarnya Bapakku, yaitu hutang Bapak ke Pak Dirman. Jujur, setiap mau belajar, fikiranku keganggu karna hal itu. Alhamdulillaah, masalah itu sekarang selesai daan..." kata Vina.


"Kamu bisa PDKT sama Dimas!" potongku, terkekeh.


"Ssstt! Jangan keras-keras!" timpal Vina.


Tanpa sadar, kami sudah sampai di depan Cafe Barita. Kami berdua pun masuk ke dalam cafe. Terlihat di sebuah nomor meja, keempat sahabat kami. Mmm, 3 sahabat & 1 pacar maksudku. Aku & Vina pun menghampiri mereka.


"Udah lama nunggunya?" tanyaku.


"Belum koq, Nis," jawab Diana, Roy & Dimas bersamaan.


"Sini, yang. Duduk di sampingku," kata Bangkit sambil menarik kursi di sebelahnya. Aku pun duduk di samping Bangkit & tersenyum padanya. Vina duduk di samping Dimas. Kami berenam pun makan dengan hidangan yang sudah disiapkan pelayan dari tadi. Kami sibuk ngobrol dengan pasangan masing-masing. Aku dengan Bangkit, Vina dengan Dimas, dan Diana dengan Roy. Aku senang sekali, akhirnya satu sahabatku yang bernama Vina itu sudah tidak jomblo lagi. Yaa walaupun Vina & Dimas belum jadian. Tapi, aku sangat bahagia hari ini.


.


Setelah kenyang, aku pamit pulang karna Kak Rere pasti sudah menunggu lama. Bangkit membayarkan makananku & dia, serta mengantarku sampai di taksi yang ditumpangi Kak Rere. Ya, kami berdua meninggalkan keempat sahabat kami yang lainnya. Lalu, Bangkit pamit padaku untuk mengambil motornya, sesampainya aku di tempat taksi terparkir.


.

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2