Hijrahku Dari Pacaran

Hijrahku Dari Pacaran
part 57


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Kakiku telah menginjak kembali bumi Jogja. Senyum mengembang di pipiku setelah kudapati semua teman kos ku bercengkrama di teras & di ruang tamu. Seperti yang kulihat pada pesan di grup WA, bahwa mereka sedang menungguku.


.


"Assalaamu'alaikum," salamku.


Semua mata tertuju padaku.


"Wa'alaikumussalaam," jawab mereka bersamaan.


Mereka berdiri & menatapku tak percaya. Kak Rere terdiam di hadapanku. Aku pun terdiam. Kami saling bertatapan. Hening.


.


"Annisa..." Kak Rere membuka suara.


Wajah sendu bahagia mulai terpancar darinya. Refleks, kulepas tas yang kugenggam sejak tadi ke lantai. Air mataku jatuh. Lalu, aku menghambur di pelukan Kak Rere.


"Alhamdulillaah, maasyaaAllaah. Kamu berhasil! Berhasil mengabulkan harapan Kakak," kata Kak Rere terisak.


Aku tak mampu berkata-kata lagi.


"Selamat Annisa," kata Dea.


"Semoga istiqomah," do'a Ria.


"Kami senang liat kamu seperti ini," kata temanku yang lainnya.


Satu per satu teman menyemangatiku. Aku memeluk mereka bergantian dalam isak tangisku. Iya. Tangis bahagia.


.


"Annisa, akhirnya pakaian kita sama sekarang," kata Kak Rere.


Aku menengok Thea yang ada di belakang kerumunan teman-teman ku. Aku menghampirinya & memeluknya.


"Maaf Thea. Kami lupa ada kamu di sini," ucapku sambil mengusap-ngusap punggungnya.


Thea melepas pelukanku & tersenyum padaku.


"Hey! Gapapa lagi. Kita memang berbeda, tapi kita tetap bisa bersama," kata Thea riang.


Aku mngangguk & membalas senyumannya.


"Bhineka Tunggal Ika. Walau berbeda-beda tetap satu," kata Kak Rere sambil menghampiri aku & Thea.

__ADS_1


Aku mengusap air mataku.


"Ya udah, ayo masuk semua. Tas Annisa biar aku yang bantuin bawa," kata Kak Rere.


Semua anak masuk. Aku menjinjing tas besarku dengan Kak Rere sampai ke kamar.


"Jadi kamu bener-bner udah hijrah dari pacaran?" tanya Kak Rere di pintu kamar kosku.


"InsyaaAllaah, Kak," jawabku.


"Alhamdulillaah. Itu artinya kamu bisa menyatukan Kak Sam & keluarganya. O ya, aku koq gak liat Papa sama Mamamu?" tanya Kak Rere.


"Aamiin, Kak. Papa sama Mama kelelahan tadi, terus nyewa hotel deket sini. Aku tadi naik taksi. Aku merengek-rengek minta mereka tidur di hotel itu selama 3 hari 3 malam, agar bisa bkin kejutan, yaitu mereka bisa ketemu Kak Sam. Tapi aku tadi bilang alasanku minta mereka 3 hari di Jogja sih karena masih kangen sama Papa Mama, biar mereka gak curiga, hehe," jawabku.


"Oh, ya udah. Aku mau ke toilet dulu, ya. Kamu istirahat dulu. Pasti capek," kata Kak Rere.


Aku mengangguk. Kak Rere berlalu dari hadapanku.


"Tunggu, Kak!" cegahku.


Kak Rere berhenti, lalu membalikkan badan.


"Apa lagi?" tanya Kak Rere.


"Apa aku bisa ya meyakinkan Kak Sam kalo aku bener-bener gak pacaran lagi?" tanyaku.


.


***


Tok-tok-tok!


"Assalaamu'alaikum," salamku sambil mengetuk toko buku Kak Sam yang masih tutup.


Jam menunjukkan pukul 05.30 WIB. Hari masih pagi sekali.


"Wa'alaikumussalaam," jawab Kak Sam sambil membuka pintu.


Kak Sam mengucek-ngucek mata, pertanda ia masih ngantuk.


"MaasyaaAllaah! Cantik sekali," kata Kak Sam yang kemudian bengong.


"Astaghfirullaah," kata Kak Sam mengalihkan pandangan ke lantai.


"Apa yang aku katakan tadi?" gumamnya.

__ADS_1


.


Aku ikut menunduk.


"Kak, alhamdulillaah Annisa udah hijrah. Annisa udah gak pacaran lagi. Kakak percaya 'kan?" kataku langsung pada tujuan kedatanganku.


"Dengan penampilanmu yang sekarang, limapuluh persen Kakak percaya," kata Kak Sam.


"Mmm..." gumamku sambil berpikir, "Kakak bisa liat HP Annisa. Chat WA Annisa & semua akun sosmed Annisa sebagai bukti," kataku sambil menyodorkan HP ke hadapan Kak Sam.


Berharap Kak Sam menerima hijrahku.


Kak Sam mengambil HP dari tanganku dengan tetap menjaga agar tak saling bersentuhan. Lalu, mengecek HP yang memang tidak kuberi kata sandi atau pola apapun. Sekitar 15 menit, Kak Sam pun mengembalikan ponselku.


"Gimana, Kak?" tanyaku.


"Limapuluh persen dari semua akun sosmedmu, Kakak percaya. Jadi seratus persen, kamu sudah hijrah," jawab Kak Sam.


Aku menganga lebar.


"Kamu boleh kasih tahu Papa Mama," lanjut Kak Sam menyadarkanku.


Kukatupkan mulutku lagi.


"Alhamdulillaah yaa Allaah," ucapku lalu kuhadapkan badan ke samping kanan, yakni arah kiblat & aku bersujud syukur di lantai.


Beberapa detik kmudian, aku berdiri lagi & melangkah pergi.


"Tunggu!" cegah Kak Sam.


Langkahku terhenti. Aku membalikkan badan.


"Iya, Kak. Oh iya lupa. Terimakasih banyak, Kak," kataku sambil memandang ke lantai.


"Apa kamu mau hijrah hanya sebulan saja? Jika iya, berarti hijrahmu bukan karna Allah, tapi karena Kakak," kata Kak Sam.


"InsyaaAllaah Annisa akan tetap melanjutkan hijrah ini karena Allah. Annisa tidak mau pacaran lagi. Empat mantan telah mengajarkan sakit hati pada Annisa & Annisa tidak mau mengulanginya lagi," jawabku.


"Alhamdulillaah. Semoga istiqomah. Semoga pakaianmu tetap seperti itu & jangan pernah ngecewain Kakak," kata Kak Sam.


"Aamiin. InsyaaAllaah Kak," kataku.


Lalu aku melangkah pergi dengan perasaan yang sngat gembira. Perasaan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Aku melangkah menuju kampus dengan pakaian syar'i ini.


.

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2