
Hubunganku dengan Roy semakin bertambah dekat. Roy sering sekali memberikan kejutan-kejutan kecil yang bagiku, itu sangat romantis. Mulai dari coklat, bunga, dan sebagai nya.. Ia juga sering mengajakku ke taman dekat kampus sebentar sepulang kuliah. Seperti sore ini, aku & Roy duduk berdua di taman. Aku pun tiba-tiba ingin mengungkapkan sebuah puisi untuknya. Pandanganku lurus ke depan. Roy menatapku lembut, menunggu puisi yang akan aku ungkapkan.
.
.
"Kau Penghapus Lukaku
.
Roy
Nama yang slalu terngiang di telinga
yang slalu menggema di hati
.
Dialah penghapus luka,
pembawa kebahagiaan,
hingga redup kesedihanku
kini berganti dengan sinar keindahan
pecahan-pecahan kaca di hatiku kini kembali utuh
bulir-bulir mutiara yang keluar dari sudut mataku,
terhapus dengan segala keindahan yang kau beri
.
Roy,
nama itu kini bersanding denganku
bersanding dan menyatu
dalam untaian kebahagiaan
Tetaplah bersamaku,
meski kita tak tahu
__ADS_1
cobaan apa yang 'kan menerjang kita berdua
tapi aku yakin,
bersamamu aku mampu"
.
.
Aku menghela nafas panjang & memandang wajah tampan Roy. Ia tersenyum lebar.
"Puisinya bagus banget. Makasih ya," kata Roy.
Lalu, dia meraih tanganku & mencium punggung tanganku. Lalu, dia memelukku.
"Aku akan selalu bersamamu," kata Roy.
Kami pun berpelukan cukup lama. Lalu, Roy melepas pelukannya & melongok arlojinya.
"Pulang, yuk," ajaknya.
Aku mengangguk. Lalu, kami berjalan menuju tempat parkir taman. Roy menaiki motornya. Sedangkan aku berjalan kaki menuju kos. Sebab aku takut dipergoki Ibu Sintia, pemilik kos, jika pulang diantar oleh Roy.
.
***
.
Tapi, di akhir Semester 1 aku kuliah, Roy bilang dia harus pindah ke Universitas lain. Saat kutanya alasannya, dia selalu tak menjawabnya.
"Apa kamu siap untuk LDR-an, yang?" tanya Roy saat berjalan ke kelas dari kantin.
"Aku belum tahu. Tapi, tak ada salahnya 'kan kita coba?" jawabku, mencoba tegar.
"Ya sudah, kita coba dulu," kata Roy.
"Semoga kita kuat ya," kataku sambil memegang tangan kanan Roy dengan erat.
"Iya. Tapi sebelum aku pergi, aku mau tanya sesuatu sama kamu," kata Roy.
"Tanya apa, yang?" tanyaku.
"Atau lebih tepatnyaa...aku mau minta sesuatu sama kamu, sebelum aku pergi," kata Roy.
__ADS_1
"Iya. Minta apa? Bilang aja," kataku heran.
"Tapiii... Kamu jangan marah, ya?" tanya Roy.
"Emangnya apa sih? Permintaannya apa dulu? Jangan bikin deg-deg an dong, sayang," tanyaku.
"Sayang, sebelumnya maaf banget, ya. Mungkin ini berat buat kamu. Buat aku juga. Setidaknya, sebelum aku besok pergi dari sini, aku ingin...." kata Roy menggantung.
.
Tiba-tiba, Vina datang & menepuk pundakku.
"Annisa, kamu belum bayar makanan lhoh!" kata Vina, yang secara tidak langsung memotong kata-kata Roy.
Aku membalikkan badanku.
"Oh iya! Koq bisa lupa sih!" seruku sambil menepuk jidatku sendiri.
"Aku aja, yang. Yang bayarin," kata Roy sambil berbalik ke kantin.
"Ya udah, makasih," kataku dengan pandangan mata mengikuti Roy yang sedang berjalan.
Aku memandang punggung Roy dengan perasaan heran, sampai dia benar-benar tak terlihat.
"Ehem! Gak usah segitunya juga kali ngeliatin cowoknya!" teriak Vina.
Aku mengusap-usap telingaku karena Vina yang suaranya tadi sangat keras.
"Aduuh! Pelan-pelan dong kalo ngomong. O iya! Dimas mana?" tanyaku melihat Vina yang hanya sendiri tanpa Dimas.
"Udah balik ke kelas, lah! Sadar, Nis. Kita udah di depan kelas!" seru Vera.
"Hah?" tanyaku.
Aku menoleh ke samping kanan, yang ternyata adalah pintu kelasku.
"Hehe," aku hanya meringis ke Vina.
"Makanya, fokus dengan sekitar dong. Fokus! Lagian ngobrolin apa sih? Sampe bengong gitu?" tanya Vina.
Aku hanya terdiam. Vina menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap anehku. Lalu, mendahului masuk ke kelas. Meninggalkanku yang masih memikirkan kata-kata Roy tadi.
.
***
__ADS_1
Bersambung.