Hijrahku Dari Pacaran

Hijrahku Dari Pacaran
part 28


__ADS_3

Mbak Irma memarkirkan mobilnya sesuai intruksi dari tukang parkir. Lalu, kami berdua turun dari mobil. Aku gugup. Aku berjalan di belakang mbak Irma. Dan ketika aku melewati Kak Bim, aku menunduk, berharap Kak Bim tidak melihatku. Namun...


.


"Annisa!" panggil Kak Bim yang kini menutup bukunya.


Langkahku terhenti.


"Kak Bim," jawabku.


Mbak Irma menoleh ke belakang.


"Siapa, Nis?" tanya mbak Irma.


"Eee... Emm.. Dia kakak kelasku dulu, mbak," jawabku sambil mengerlingkan pandanganku pada mbak Irma.


"Ya udah, kalo gitu aku duluan ya?" tanya mbak Irma.


"Iya mbak. Silakan," jawabku.


Lalu mbak Irma melangkah masuk duluan.


"Huft, maaf mbak. Terpaksa aku berbohong kalo dia itu sebenarnya mantanku. Aku takut dimarahi kamu, mbak. Pasti dikasih wejangan lagi deh nanti," batinku sambil memandang mbak Irma sampai ia hilang dari pandangan.


"Nis? Kenapa bengong? Duduk dulu sini," kata Kak Bim mengagetkanku.


"Eee iya Kak," jawabku lalu duduk di hadapannya. Di depanku ada meja panjang yang membatasi antara aku & Kak Bim. Lalu, Kak Bim mengulurkan tangan 'tuk menyalamiku. Dengan gugup, aku membalas menyalaminya. Jadi teringat kata mbak Irma, apa ini dosa dengan aku menyentuh tangannya?


"Gimana kabarnya? Sekarang kuliah dimana?" tanya Kak Bim.

__ADS_1


"Aku belum kuliah, Kak. Aku habis dioperasi & koma selama 4 bulan. Jadi, aku harus menunggu tahun besok untuk masuk kuliah," kataku dengan hati yang sudah agak tenang.


Aku menyadari, aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi padanya. Jadi, aku bersikap netral atau biasa saja.


"Oh, begitu. Semoga cepat sembuh, ya? Aku juga turut berduka cita atas meninggalnya Adam. Maaf, tidak bisa menghadiri pemakamannya karena sibuk kuliah terus. Aku dengar kabar itu dari Meli," kata Kak Bim.


Aku menyunggingkan senyumku.


"Tidak apa-apa, Kak. O ya, kuliah dimana sekarang?" tanyaku.


"Aku kuliah di UNIGA," jawabnya.


"Mmm udah dulu ya, Kak. Aku mau cari buku dulu," kataku sambil berdiri. Lama-lama canggung juga disini.


"Oh iya, silakan," kata Kak Bim sambil menyunggingkan senyuman khas nya.


Akupun beranjak ke dalam ruangan dan mencari mbak Irma.


.


***


.


Mbak Irma melajukan mobilnya dengan sangat hati-hati sebab jalanan licin.


"Yang tadi itu, kakak kelasmu dulu?" tanya mbak Irma.


"Iya mbak," jawabku.

__ADS_1


"Ooo... Kuliah apa kerja?" tanyanya lagi.


"Katanya kuliah di UNIGA mbak," jawabku.


"Ooo... Hebat bisa masuk sana. Apa dulu bintang kelas?" tanya mbak Irma sambil matanya tetap fokus pada jalanan.


"Iya mbak," jawabku singkat.


Mbak Irma manggut-manggut.


"Saran mbak, kamu jangan terlalu dekat sama cowok. Tadi mbak langsung pergi karena memandang lawan jenis itu sudah haram. Apalagi, bicara berdua," kata mbak Irma.


"Iya mbak. Tapi ini terakhir kalinya ya kita bicara ginian. Selanjutnya, kita bahas mata kuliah aja," jawabku kesal.


Mbak Irma hanya diam saja. Untung saja, tak lama kemudian, aku sudah sampai rumah. Lalu, aku segera turun dari mobil dan berlari ke dalam rumah, sebab hujan masih deras.


.


***


Pagi harinya, seperti biasa kami belajar berdua. Mbak Irma memenuhi permintaanku untuk tak membahas masalah pacaran lagi. Aku juga memperpendek jam istirahat. Selain karena kesal padanya, aku hanya ingin memperdalam pemahaman materi. Itu saja.


.


Hari-hari berikutnya pun juga demikian. Aku semakin gencar menyelesaikan soal. Alhamdulillaah, aku semakin mahir. Aku sangat yakin bisa masuk di UGM. Aamiin.


.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2