I Love You Handsome Uncle

I Love You Handsome Uncle
Part 9 (Curiga)


__ADS_3

"Gue anterin yuk?!" ajak Julio dengan memegang punggung tangan Kaira, sungguh tersentuh hati gadis itu mendapatkan lagi perlakuan manis.


Tak mungkinkan ia menolak ajakan senior idamannya itu, Kaira pun mengiyakan, kemudian keduanya berjalan keluar bersama.


Di pinggir jalan, "Ayok naik!" ucap Julio yang sudah stay di atas motornya.


Kaira masih sibuk dengan helm yang di kenakannya, "Sini gue bantu!"


Julio memasangkan dengan benar helm di kepala Kaira, "Dah ayok, naik!"


Tanpa pikir panjang, Kaira segera naik keatas motor besar itu dan duduk dibelakang Julio dengan tenang sebelum akhirnya tangan Julio menarik kedua tangannya agar memeluk pinggang Julio.


"Pegangan! Ntar jatuh lecet gagal ikut pertandingan lagi! Kan sayang!" ujarnya kala mengaitkan kedua tangan Kaira di pinggangnya.


Tak menyahuti Kaira, gadis itu hanya mampu tersipu dengan mengulum senyumannya, bahkan ia sibuk dengan detak jantungnya yang pasti biasa dirasakan oleh punggung Julio kalau saja laki-laki itu tidak mengenakkan hoodie.


Perjalanan dari Padepokan sampai ke rumah Kaira tak terasa lama sore itu, malah rasanya seperti Kaira ingin bilang muter sekali lagi dong kak, biar masih berdua sama kakak. mungkin seperti itulah keinginan gadis remaja itu.


"Udah nyampe, turun! Apa lo mau gue bawa pulang, biar di kawinin sekalian?" goda senior tampan itu dengan sedikit menolehkan wajahnya.


"Ish kakak, apaan sih." menepuk pelan punggung Julio sebelum Kaira turun.


"Makasih ya kak, mau mampir dulu?" basa-basi Kaira menawarkan agar Julio mampir kerumahnya.


"Masuk Kai! Udah mau Maghrib!" teriak seorang laki-laki yang berjalan dari halaman depan rumah itu menuju depan gerbang.


Tersentak Kaira mendengar suara yang sangat ia kenali itu, sampai akhirnya Zain kini sudah berdiri di samping Kaira.


Mata tajam Zain menatap tak suka kepada pemuda yang masih stay di atas motor.


"Kai? Dia?" Tanya Julio dengan bahasa isyarat.


"Gue..."


"Uncle! Ya... Kak Julio ini Uncle ku, dan Uncle ini kak Julio, senior Kaira di Padepokan." Sela Kaira memperkenalkan keduanya.


Bersalaman sejenak kedua pria itu sampai akhirnya Julio memutuskan untuk pulang.


"Udah mau malem, gue pamit ya Kai! Om... Mari..." sedikit Canggung Julio dengan posisi ini karena Zain menatap nya dengan tatapan tak bersahabat.


"Iya kak Hati-hati!" teriak Kaira bahkan setelah motor Julio menjauh gadis itu masih melambaikan tangannya.


Zain yang muak dengan pemandangan itu pun segera menarik tangan Kaira dan di bawanya masuk ke dalam rumah.


"Ish Uncle apaan sih! Sakit tau!" ngomel-ngomel gadis itu dengan perlakuan kasar uncle nya.


Terus melangkah saja kaki jenjang Zain, kamar Kaira kini menjadi tujuan lelaki dewasa itu.


"Siapa dia?" tanya Zain, pria tampan itu melepaskan lengan Kaira dengan sedikit melemparnya.


Sedikit terhuyung tubuh gadis remaja itu hingga ambruk ke sofa yang ada di sisi ranjang kamarnya.


"Masih nggak jawab? Hem?!" sekali lagi Zain bertanya dan kini dengan menunduk, terlihat laki-laki dewasa itu mengungkung tubuh Kaira yang duduk di sofa.


"Kan tadi Kai udah bilang, kalau dia senior Kaira." lirih gadis itu dengan menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Awas aja kalau sampai pacaran!" gertak Zain yang kemudian ia berjalan meninggalkan Kaira yang bingung dengan situasi saat ini.


"Loh kok? Ngatur sih?! Iiiish nyebelin!!" merengut gadis itu segera berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan dirinya.


...~∆∆∆🌼∆∆∆~...


Di sisi lain...


Julio sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya, netra tajam itu sudah siap untuk terpejam demi mencapai dunia mimpi yang amat dan sangat indah.


Tapi, baru saja Julio memejamkan matanya, tiba-tiba bayangan adegan sore tadi melintas begitu saja di dalam pikirannya.


Sungguh itu membuat jantung berdetak tak karuan, napas yang memburu mulai melelahkan paru-paru dan seperangkat alat pernapasan lainnya.


"Njir! Kok malah kebayang terus sih?!" umpat nya dengan mengusap kasar wajahnya.


Jujur saja cara Kaira yang tiba-tiba melompat dan naik di atas tengkuk Julio, dan sampai akhirnya gadis itu mempu melumpuhkan senior tampannya itu, masih teringat jelas di dalam otak Julio.


"Hebat sih, pantesan aja Dessy milih dia buat menangin tahruhan." gumam Julio.


Menggunakan tangan kanan sebagai alas tidur kepalanya, Julio kembali terbayang kedekatan yang begitu dekat dengan Kaira, "Gila! Kok gue tadi sempet-sempetnya mikir mau cium dia ya?!" Kini Julio beranjak dari posisi tidurnya.


Meninggalkan ranjang empuknya, Julio mengayunkan langkah besar nya menuju balkon.


Terdiam di sana, laki-laki itu membiarkan angin malam menerpa wajah dan juga tubuhnya.


Julio duduk di salah satu kursi malas yang teronggok di sana, "Pantas saja Dessy marah, tapi bagaimanapun, gue belum bisa menghindar, atau Dessy yang akan jatuh di tangan Brody." gumam Julio.


Malam itu Julio lalui dengan serpihan-serpihan bayangan wajah Kaira yang bolak-balik menghampiri malam gelapnya.


-


-


Sedangkan Zain, di dalam kamarnya sibuk dengan terkaan-terkaan kecurigaan yang membuatnya tak tenang sedikitpun.


...~∆∆∆🌼∆∆∆~...


Siang berganti malam, sang surya yang hangat bahkan dengan profesional bergulir digantikan oleh rembulan yang cantik, namun dingin angin selalu menyertai kecantikannya.


Begitu terus keduanya silih berganti mengemban tugas yang diberikan oleh sang Ilahi.


Tak terasa hari ini tibalah saat nya hari pertandingan itu di mulai, Kaira sedari pulang sekolah sudah bersama dengan Risa di depan gerbang sekolah, kedua gadis itu hendak menyeberang, namun terhenti.


BRUM... BRUM...


Sebuah motor besar yang sudah sangat di kenali Kaira berhenti tepat di depannya.


"Kak Julio?" lirih gadis itu, sedangkan Risa hanya terdiam dengan memandang interaksi diantara keduanya.


Terlihat Julio membuka helmnya, "Ayo naik!" ucapnya.


Kaira bingung, "Risa?" bertanya gadis itu dengan menunjuk ke arah Risa yang berdiri disampingnya.


"Udah naik aja dulu! Lo bareng gue!" Julio terdengar sedikit memaksa, sedangkan Kaira menatap sang bestie yang masih berdiri terdiam.

__ADS_1


"Gue bareng Kak Julio ya?" ucap Kaira dengan menepuk pundak Risa.


"Ok nggak papa kok!" sahut Risa santai.


Setelah keduanya meluncur, sebuah mobil avanza hitam berhenti di depan Risa, "Maaf, temannya Kaira?" tanya laki-laki tampan yang baru saja membuka jendela mobilnya.


"Hah? I... iya..." tergagu Risa menjawabnya.


"Ayo masuk! Kasih tau gue tempat pertandingannya dimana?" Ajaknya, tapi Risa bukan gadis yang mudah di ajak, ia sempat menaruh curiga, bahkan ia takut jika sampai sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya.


Laki-laki tampan yang tak lain adalah Zain itu dapat membaca raut wajah Risa yang tidak mempercayainya.


"Gue Uncle nya Kaira, dia pernah cerita kan sama lo pastinya!" ucap Zain dengan membukakan pintu mobil, berharap Risa segera masuk.


"Oh i... iya Om." Risa segera duduk di samping kursi kemudi, ia memberi tahukan kemana saja arah tujuan mereka.


Tak butuh waktu lama keduanya tiba di sebuah bangunan yang bertuliskan gedung olahraga.


"Loh kok sepi ya?" gumam Risa, dan itu mencuri perhatian dari Zain yang stay di balik kemudi.


"Ini tempatnya?" tanya Zain.


"Iya Om, biasanya kita ada pertandingan di sini." sahut Risa.


"Gue curiga sih!" gumam Zain dengan membuka pintu mobil dan turun dari mobil.


Risa melihatnya saja dari dalam mobil, terlihat laki-laki itu mendekati seorang tukang kebun yang merawat gedung olahraga.


Ya... mungkin Zain bertanya, sedangkan Risa memilih mengeluarkan gawai canggihnya dan menghubungi Kaira, di telfonnya gadis itu tapi sedikitpun tak di angkat, bahkan sempat di tolak.


"Apa ini Kai? Lo nolak panggilan gue?!" sedikit geram, Risa pun mengirim pesan singkat.


📤[Angkaten Cok! Awak mu neng ndie? (Angkat cok! Lo dimana?)]


Begitulah sekiranya isi pesan yang di kirim oleh Risa, bukannya mendapat telfon balik atau balasan dari sahabatnya, Risa malah melihat banyak panggilan tak terjawab ketika ia menscroll layar ponselnya.


"Astaghfirullah, ada apa ini?" gumamnya.


Gadis itu pun menongolkan kepalanya demi memanggil Zain.


"Om! Om! Kaira telfon!" teriak Risa.


Zain menoleh dan kembali ia berlari menuju mobilnya, "Ada apa?" tanya Zain.


"Kaira telfon, tadi juga saya lihat hp Om nyala, keknya ada telfon juga deh." ujar Risa yang tadi sempat melirik dasbor mobil yang terbuka.


Segera Zain meraih benda pipih nan canggih itu, matanya terbelalak tak kala ia melihat banyak panggilan tak terjawab dari keponakan cantiknya.


Ada juga dua pesan singkat yang Kaira kirim ke Zain...


📥[Uncle! Bantuin Kai!]


Begitu yang terbaca oleh netra Zain, dan yang satunya adalah share lock yang Kaira kirimkan.


"Benerkan sedari tadi gue udah curiga!" geram Zain dengan kembali melajukan mobilnya...

__ADS_1


__ADS_2