
Pagi ini, setelah adegan basah kuyup di atas ranjang, gadis remaja itu kini sudah bersiap untuk berangkat sekolah, sarapan yang sudah ditata rapi di atas meja ia tinggalkan begitu saja.
Bukannya tidak menghargai kerja keras Annisa, tapi Kaira sedang tidak mempunyai kepercayaan diri yang penuh untuk berhadapan langsung dengan Uncle tampannya yang saat ini sudah duduk dimeja makan dengan menikmati sandwich dan juga kopi hitam favoritnya.
"Kai! Sarapan dulu!" teriak Annisa yang melihat Kaira melenggang setelah bersalaman dengannya.
"Nggak buk! Udah siang!" teriaknya seraya mengucap salam.
Zain hanya melihat punggung keponakannya yang semakin menjauh, entah mengapa ia merasa kalau pagi ini Kaira seperti menghindari dirinya.
"Apa gue keterlaluan ya? Apa harus gue ungkapin juga rasa ini? Tapi ntar kalau dia salah paham gimana? Gue sendiri juga bingung, ini asli rasa suka atau hanya sekedar pelampiasan aja?" batin Zain, kemudian ia menyeruput kopi hitam miliknya.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Siang hari di kantin sekolah...
Kaira tengah menikmati makan siangnya bersama Risa.
"Eh cerito o to! Pie maksud mu mau bengi? Awak mu lagi kesengsem kambek sopo seh?(Eh cerita dong! Gimana maksud lo semalem? Lo lagi kasmaran sama siapa sih?)"
Logat jawa terdengar dari mulut sahabat Kaira yang tangannya sibuk mengaduk es jeruk yang ada di atas meja.
"Kesengsem gundul mu! (Kasmaran pala lo!)" ketus Kaira dengan mendengus kesal, sepertinya memang pembahasan topik seputar kasmaran ini cukup memancing amarah gadis pegulat itu.
"Hahaha... Pie to kih? (Gimana sih?)" tawa receh terdengar tak kala Risa mendapati sahabat sebestienya mulai tersulut api amarah.
"Bingung gue!" cetus Kaira, yang membuat Risa kembali memasang wajah serius.
"Cerita aja, masalah di pendem sendiri juga gak bakal jadi duit kok!" sahut Risa dengan menepuk pelan pundak Kaira, nada medok jawa tetap menghiasi kata-kata gadis jawa tulen itu.
Kaira menoleh, ia menatap lekat wajah sahabatnya, seolah batinnya tengah merancang kata yang pantas untuk dia ucapkan.
"Nek sak umpomo, aku seneng kambek Uncle Zain, pie menurut mu?(Kalo misalkan gue suka sama Uncle Zain, gimana menurut lo?)" sangat pelan Kaira berucap, bahkan Risa terlihat sedikit mencondongkan wajahnya mendekati wajah Kaira demi mendengarkan rangkaian kata yang diucapkan sahabatnya.
"WHAT THE... " teriak Risa, namun kemudian ia menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya, iris mata berwarna coklat kopi susu itu melirik ke kanan dan kiri, berharap mereka tidak menjadi pusat perhatian, setelah dirasa aman, kembali Risa berbisik...
__ADS_1
"Edan po awakmu?! (Gila apa lo?!)" bisik Risa dengan mencengkeram lengan Kaira.
Menggelengkan kepala Kaira menanggapi ucapan Risa, "Dengerin dulu coba!" cetus Kaira yang tidak keberatan untuk menjelaskan semuanya. Setelah Risa terdiam, terlihat gadis dengan iris mata coklat kopi susu itu fokus dengannya, Kaira memulai cerita dari apa yang di alaminya sampai apa yang akhir-akhir ini dirasakannya.
"What?! So, your first kiss? Oh May... Astaga!! Aku bisa gila mendengar pengakuan mu!" Risa memijit keningnya, bahkan bahasa sopan yang diucapkannya malah terdengar lebay di telinga Kaira.
"Tapi Kai, setahu gue, selama lo nggak ada hubungan darah, ya sah-sah aja sih!" imbuh Risa yang entah mengapa terdengar seperti memberikan dukungan untuk perasaan Kaira yang menyukai Uncle tampannya itu.
"Ok, jadi gue harus ngungkapin perasaan ini?" tanya Kaira antusias.
"No baby! Jangan! Masa iya cewek yang nembak?!" tolak Risa setelah Kaira mengatakan bahwa ia akan mengungkapkan perasaannya.
"Terus gue harus gimana?" tanya Kaira bingung.
"Gimana kalau lo pancing, biar dia nembak lo duluan." saran itu keluar dari mulut Risa.
"Caranya?" masih polos sekali Kaira ini, bahkan memancing agar Zain mengungkapkan perasaannya saja dia tidak tau caranya.
"Hadeh..." Risa terlihat bingung ia menepuk dahinya sendiri.
"Ok, jadi gue harus jujur gimana perasaan gue, kan?" tanya Kaira memastikan.
"Iyup baby, ngunu wae lak yo wis, mbok ben ae di arani dunia terbalik!(gitu aja kan ya udah nggak papa, biar aja dikatain dunia terbalik!)" kembali lagi logat jawab itu terdengar, ya begitulah bahasa campuran kedua remaja itu, mereka memang tidak konsisten menggunakan salah satu bahasa saja.
Terdiam sejenak keduanya sampai akhirnya mereka berdua kembali saling memandang satu sama lain...
"Berani?" tanya Risa dengan wajah seriusnya.
Kaira menganggukkan kepala, "Berani!" sahutnya mantap.
Perbincangan keduanya harus berakhir karena bel tanda masuk kelas sudah berbunyi, semua siswa-siswi SMA itu berhamburan untuk masuk lagi kedalam kelasnya.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Sepulang sekolah...
__ADS_1
Kaira tak mendapati siapa pun setelah dirinya turun dari motor yang dikendalikan mang Ucok, terlihat sepi hunian mewah itu siang ini.
Siang menjelang sore sekitar pukul 14.30 WIB Kaira tiba di kediaman Flora.
Kaira segera masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian, gadis itu kini hanya mengenakkan T-Shirt ketat dengan hotpants, udara panas ini membuat Kaira ingin berenang di kolam renang yang ada di belakang bangunan mewah itu.
Langkah jenjang itu melangkah menuju kolam renang, bahkan terdengar senandung indah mengalun dari bibir Kaira.
"Pokoknya sekarang menyegarkan tubuh dulu, baru ntar ngomong serius sama Uncle." gumamnya kemudian ia mulai menceburkan dirinya kedalam kolam yang kedalamannya kurang lebih 3m itu.
Kaira cukup handal dalam urusan mengapung ataupun menyelam di dalam air, ada beberapa piala yang ia bawa pulang hasil dari kejuaraan olahraga dengan air itu.
Cukup lama Kaira berenang, bolak-balik gadis itu mengitari kolam yang tak dangkal itu, sampai akhirnya ia merasa seperti ada yang mengawasinya.
"Siapa sih?" gumam gadis itu dengan berpegangan pada bibir kolam, netra gadis itu menajam, waspada dengan apa yang akan menghampirinya.
Masih mengedar manik tajam Kaira, sekelebat bayangan ia temukan di lantai dua tepatnya di balkon kamarnya yang terhubung dengan kamar Uncle nya.
Terdiam cukup lama ia, sampai ia merasa ada sesuatu yang mengintainya dari belakang, dengan cepat Kaira menoleh, "Nggak ada orang, siapa sih?" gumam gadis itu.
Rasa merinding nya semakin menjadi tak kala langit senja dengan sunset jingga menghiasi langit sore itu.
"Jangan main-main deh! Keluar lo!" teriak Kaira yang mulai merasakan kehadiran makhluk lain selain dirinya.
Tak ada tanggapan, rasa takut semakin menguasai gadis yang masih berendam di dalam air itu, sampai Kaira memutuskan untuk naik ke daratan, tapi baru saja gadis itu melompat hendak menaikkan tubuhnya dengan kedua tangan yang menopang di bibir kolam, sepasang tangan menarik kembali tubuh Kaira hingga gadis itu kembali tercebur kedalam kolam.
Terkejut Kaira, segera ia menguasai keseimbangan nya dengan tangan yang terus saja berusaha menggapai bibir kolam, tapi tidak sampai, malah jemari lentik itu menyentuh kulit berotot yang dirasakannya sangat kekar.
Kaira juga merasakan lengan kekar melingkar di pinggangnya, "Apa ini? Apakah benar adanya rumor tentang hantu air, Oh Tuhan tolong aku, bagaimana ini? Bagaimana rupanya saja aku tidak sanggup membayangkan nya." batin Kaira dengan tangan yang masih terus berpegangan pada otot-otot besar yang berhasil digapainya barusan.
Masih didalam air dengan kedalaman kurang lebih 3m, Kaira merasakan sesuatu menyentuh bibirnya, "Ya Tuhan, apa ini? Apakah aku akan seperti di cerita fantasi yang sering di ceritakan Risa itu? Aku di cium hantu mesum? Tidak! Tidak! Tidak! Ini tidak benar." batin Kaira, dengan sekuat tenaga gadis itu memukul juga mendorong sosok yang ada di depannya itu.
Semakin di buat bingung Kaira ketika ia merasakan hembusan napas yang seolah dikirim untuknya bernapas didalam air melalui bibir yang menyatu itu.
"Siapa saja tolong jelaskan semua ini...
__ADS_1