I Love You Handsome Uncle

I Love You Handsome Uncle
Bonus Part 1


__ADS_3

Memiliki momongan memanglah salah satu cita-cita setiap pasangan, tapi walau begitu mudah membuatnya bukan berati mudah pula dalam menunggu hasil juga proses selama 9-bulannya.


Seperti sepasang suami istri yang saat ini tengah duduk di sisi ranjang, ya... Zain dan Kaira yang setelah menikah langsung segera diberikan buah hati, dipermudah dalam proses pembuatan dan pemasukannya, tapi sedikit diper-rewel dalam ngidam-nya.


Raut pucat pasi dengan perut membesar membuat Zain miris menatap sang istri tercinta.


"Makan dulu sayang!" pinta Zain dengan halus, tak lupa ia menyapa sang calon buah hati yang ada di balik perut sebundar bola basket itu, dengan sentuhan lembut dipermukaan kulit yang tertutup dress berwarna gading.


Kaira yang duduk bersandar pada kepala ranjang hanya menggeleng lemah, tanda ia tak bernafsu sedikitpun untuk memasukkan makanan kedalam mulutnya.


Sembilan bulan sudah umur kandungan calon ibu muda itu, tapi ya begitu masih rewel dan rentan, Kaira manja di depan suaminya, dan Zain dewasa bak suami siaga.


"Sedikit saja ya? Ayolah, sedari semalam Sayang belum makan apa-apa, nanti kalau mau nengokin calon babynya di dalam nggak ada tenaga dong?" goda Zain, CEO utama Zora Grup itu tak pernah kehabisan ide untuk melukiskan kembali senyum sang istri kecil yang tengah tidak baik-baik saja.


"Hehe... Kan tinggal kamunya aja yang naik," tawa garing dari bibir pucat itu memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Nggak asik ah, nanti kalo Sayang nggak hot, mana mau berdiri dia?" Zain berucap dengan raut wajah yang cemberut, bahkan lirikan matanya terarah pada resleting celana yang masih rapi tertutup.


"Astaga! Apaan coba!" jawaban itu dibarengi dengan senyum yang mengembang lemas, tapi tetap saja tangan Kaira memukul pelan dada Zain.


"Uncle?" panggilnya saat Zain berpura-pura marah dengan menunjukkan raut wajah cemberut.


Tak mau menjawab, Zain hanya melirik sedikit demi melihat ekspresi yang Kaira tunjukkan, dia harap panggilan barusan berbuah hasil agar Kaira mau memakan sarapannya.


Namun tak sesuai bayangan, kini Zain membelalak bulat, panik menghiasi ekspresi wajah tampannya.


Karena apa?


Ya... Wajah cantik Kaira terlihat meringis kesakitan, istri CEO itu meremas dress yang menutupi perut buncitnya.


"Aaahh... Sakit Uncle..." terlihat dari cara Kaira menggigit bibir bawahnya, Zain tau rasa itu pasti sungguh menyakitkan.


"Baby, baby, kenapa? Dimana yang sakit Sayang?" panik Zain, dia kembali meletakkan sarapan yang sedari tadi dipegangnya, ia mengelus bagian perut Kaira yang terasa keras.


"Apa ini sakit?" tanya Zain, sedang sang istri hanya mengangguk kecil, keringat dingin mulai memenuhi dahi calon ibu itu.

__ADS_1


Napas naik turun seolah susah untuk diatur, bahkan Zain menuntun napas sang istri dengan cara ia mengikuti tarik napas panjang kemudian dia hembuskan.


Usapan lembut pada permukaan perut yang Zain berikan juga napas panjang yang teratur membuat Kaira semakin membaik, "Sudah baikan?"


Zain bertanya bukan tanpa alasan, ia merasakan perut istrinya tak sekeras yang tadi, "Iya, tapi Kai pengen pipis," sahut Kaira dengan pipi yang sedikit memerah karena malu.


"Astaga, Sayang masih malu? Aku ini suamimu..." sedikit tawa menghiasi pertanyaan Zain kala melihat wajah malu-malu istrinya.


"Bahkan setiap inci tubuhmu, aku sudah menghafalnya," bisik Zain dengan mengedipkan salah satu matanya.


"Ih, apa an sih!" Kaira kembali memukul dada suami jahilnya itu.


"Bantuin berdiri! Malah mesum pikirannya!" cetus Kaira dengan mberengut.


"Hehe... Maaf-maaf, lagian Sayang imut kalo lagi marah," Zain mencubit pelan hidung Zain sebelum akhirnya ia membantu istri cantiknya turun dari atas ranjang.


"Awas hati-hati," sungguh sabar dan juga telaten Zain kala ia mengurus istri rewelnya itu.


Satu kaki dua kaki mulai menapak pada lantai dingin kamar mandi, Zain masih setia memapah tubuh Kaira, hingga...


Pyassss...


"Nggak papa Sayang, mungkin tadi terlalu lama nahannya, jadi..."


"Semua salah Uncle!" selanya dengan menepuk lengan Zain.


"Kok jadi salahku?" tanya Zain dengan mengangkat kedua alisnya.


"Ya habis tiap malem minta jatah terus! Mana burungnya gede banget lagi! Kan Kai jadi nggak bisa nahan pipis! Ngompol deh!" ngomel bumil itu dengan wajah cemberutnya.


"Nggak gitu konsepnya sayang, kamu katanya pinter, tapi jalan pipis sama jalan lahir aja nggak bisa bedain, gimana sih?" celetuk Zain dengan menahan tawanya.


"Kok jadi ngatain Kai bodoh?" mengerut tajam dahi juga alis ibu hamil itu.


"Bukan Sayang, bukan gitu, maksud aku, ngompol ini nggak ada kaitannya dengan jatah tiap malam, ok?" pelan Zain menjelaskan.

__ADS_1


"Nggak mau pokoknya semuanya salah Uncle!" kekeuh Kaira menyalahkan suami tampannya.


"Kai? Sayang? Ada temannya main ini, kamu bisa turun nggak nak?" terdengar teriakan dari arah luar, dan itu membuat Kaira menatap tajam Zain.


"Tuh kan! Teman-teman Kai pasti bakal ngetawain..." terdiam sejenak Kaira, sedikit membungkuk dengan memegangi pinggang dan juga perutnya.


"Aduh..." keluhannya singkat.


"Kenapa Baby?" Zain memegang pelan perut Kaira, ya... terasa keras seperti sebelumnya, "Sayang santai, tarik napas, buang, pelan sayang, ayo..." ucap Zain masih dengan kesabaran tingkat dewa-nya.


"Aduh duh... Emh... Ahhh ini sakit Uncle... Aaww..." semakin berat napas Kaira, ia kontraksi yang terjadi semakin membuat dia kesulitan untuk menarik napas panjang.


"Uncle bantu lepas dress-nya, terus kita istirahat di ranjang, ya?" menawarkan juga masih dengan halus dan sabar, tak mau menolak karena Kaira sudah tidak dapat lagi menahan lebih lama rasa sakit itu.


"He'em," angguknya patuh, Zain segera melucuti pakaian sang istri, mulai dari dress hingga bra yang dikenakannya.


Saat tiba Zain melepas ****** ***** Kaira...


"Baby?" lirihnya dengan menatap Kaira, Kaira yang mulai baikan ikut menatap apa yang terjadi dibawah sana.


"Hem? Kenapa?" penasaran membuatnya menundukkan kepala hingga...


"Darah?" cetus Kaira, Zain pun masih terdiam, loading lama memenuhi kamar mandi keduanya, sampai...


Ceklek!!


Pintu kamar terbuka dan Mariana muncul mencari putra dan juga menantunya, "Zain? Kai? Kalian di kamar mandi ngapain?" terkejut Mariana yang melihat Zain duduk didepan Kaira yang polos tak mengenakkan sehelai kain pun.


Sret!!


Dengan cepat Zain meraih handuk kimono yang ada di sampingnya dan menutupi tubuh istrinya.


"Kalian ini kalau mau main lihat waktulah!" gerutu Mariana.


"Bukan begitu Mah! Kai... Kaira berdarah," ucap Zain dengan nada yang berangsur lirih nan pelan.

__ADS_1


"Apa?" Mariana mulai melihat lantai tempat Kaira berpijak ada banyak cairan berlendir sedikit kuning kecoklatan warnanya.


"Astaga ini ketuban kamu sudah pecah!...


__ADS_2