
Pagi memang mendung, bahkan awan abu-abu hampir menyelimuti seluruh kota, tapi itu tak sedikitpun mengurangi semangat Zain untuk mengajak keponakan cantiknya itu berjoging.
Tak ada alasan lain selain untuk mengembalikan senyum manis gadis itu, entah mengapa Zain tak suka melihat keponakan yang biasanya ceria, judes bin galak itu mendadak murung, lebih tak suka lagi ketika ia tau alasan dari semua itu adalah laki-laki yang sedikitpun tak menaruh perhatian pada Kaira.
Zain terus menatap wajah ayu gadis yang wajahnya mulai bercucuran keringat di sampingnya itu.
Di dengar juga diresponnya setiap kata dan kalimat yang keluar dari mulut Kaira, entah itu umptan kekesalan atau hanya sekedar cibiran kecil, bahkan curhatan hati sekali pun, Zain tak sedikitpun mengabaikan setiap kata yang Kaira lontarkan.
Sampai pada akhirnya, tak sengaja gadis itu melihat sepasang muda-mudi mengendarai motor yang sangat dikenalinya.
Terdiam Kaira menatap kuda besi yang melintas di hadapannya, "DOR!! Jangan bengong awas ntar kesambet hantu ganteng!"
Tersentak Kaira karena Zain mengagetkannya, ya bayangan dirinya yang pernah berboncengan dengan Julio buyar bin ambyar karena Uncle tampannya itu mengagetkannya.
"Ih apaan sih Uncle! Mana ada hantu ganteng!" ucap Kaira yang mulai menyebrangi jalan raya, dan di ikuti oleh Zain, keduanya menuju taman kota, dimana biasanya mereka istirahat saat lelah berjoging.
"Ya ada lah, mereka kan punya kuasa, bisa menyerupai siapa aja." sahut Zain.
"Idih mulai halu deh, nyadar woy udah tua!" cibir Kaira.
"Tapi tua-tua gini masih ganteng kan?" Kaira sontak menatap Uncle tampannya itu.
"Iya sih." batinnya, kemudian ia tersenyum, "Ganteng iya, tapi liatnya dari sono noh! Dari puncak Hargo Dumilah!" cetus gadis itu dengan menunjuk puncak gunung tinggi yang terlihat dari sana.
"Ish, dasar kamu ya! Tidak mau mengakui ketampanan dan pesona seorang Zain Julio Zora!" merengut Zain berpura-pura marah.
Dan itu malah membuat Kaira terpingkal-pingkal, gadis itu tertawa sampai membungkukkan tubuhnya.
"Hahaha... du duh... ya ampun perut aku sakit haha..." tawa Kaira tak main-main, gadis itu sampai mengeluarkan sedikit air mata di sudut netranya.
"Terus! Terus aja ketawa!" Ucap Zain dengan memiting kepala Kaira di bawah ketiaknya.
"Aduh ampun, Uncle ampun! Haha... udah deh nggak lagi-lagi..." Meminta ampun Kaira terus berjalan dengan kepala yang dipiting dan seret oleh Zain.
"Makanya akuin dong kalau gue ini ganteng!" ucap Zain masih dengan posisi yang sama.
__ADS_1
"Lepasin dulu!" pinta Kaira.
"Nggak akan! Lo pikir gue bakal percaya sama modelan cewek licik kek lo!" cetus Zain tanpa melepaskan kepala Kaira.
"Ok ok ok, gue nyerah, ok Uncle tampan, Uncle ganteng, lepasin Kaira yang cantik ini ya?" ucap Kaira memohon.
"Hehe... gitu dong, ya udah kita sarapan yuk, Uncle yang bayarin deh." ucap Zain dengan merangkul pundak Kaira.
Keduanya kini tengah duduk di atas rumput hijau dengan udara pagi yang cukup untuk di bilang dingin.
Awan mendung masih menutupi warna biru langit pagi itu, bahkan sang surya saja masih tak menampakan sinar hangatnya, beruntung Zain dan Kaira berlari tanpa henti sedari tadi, makanya mereka tak begitu merasakan sejuknya udara pagi ini.
Hanya udara segar yang mereka hirup, tapi tidak dengan rasa dingin yang menjalari tubuhnya.
Zain baru saja kembali dari gerobak tukang bubur kacang hijau, Uncle tampan itu membawa dua mangkuk bubur yang masih terlihat mengepulkan asap panasnya.
"Wuuuaaaahhh... Makasih Uncle." Kaira menerima satu mangkuk, wajah ceria dengan senyum manisnya membuat Zain bahagia.
Pria dewasa itu mengelus pucuk kepala gadis yang ada di hadapan nya itu.
Tapi kenikmatan itu seolah lenyap tak kala netra indah Kaira menatap seorang laki-laki yang tak asing lagi di indera penglihatannya.
Bulir bening tanpa permisi meluncur begitu saja, Zain menyadari perubahan gadis cantik yang ada di sampingnya, segera netra tajamnya mengikuti kemana arah pandangan Kaira berlabuh.
"Shiyaland emang! Susah-susah gue bikin dia ketawa, malah ini ketemu di sini!" batin Zain geram, karena ia melihat Julio bersama dengan seorang gadis, dan mereka begitu mesra.
"Kai, ingat tujuan utama lo, lo cantik, lo siap move on, kan?" bisik Zain dengan merangkul pundak Kaira.
Tatapan tajam Kaira masih tertuju pada sepasang kekasih yang tengah bermesraan itu, namun tiba-tiba, Julio menoleh ke arahnya dan sempat juga kedua mata yang berjarak cukup jauh itu bertemu.
Dengan cepat Kaira menundukkan kepalanya, "Bodoh! Jangan jadi pecundang dong Kai! Balas aja dia, bikin panas sekalian, kasih tau langsung aja kalau lo itu bukan budak cinta!" Batin Kaira menyemangati dirinya sendiri.
Kembali Kaira mengangkat pandangannya, dilihatnya Julio yang masih terkadang curi-curi pandang ke arahnya.
"Apa? Lo udah sama cewek lain masih aja liatin gue? Rasain nih! Gue juga punya cowok!" batin Kaira dengan masih memantau pandangan mata Julio.
__ADS_1
Kaira menoleh, menatap Uncle nya yang masih setia merangkul pundaknya, tanpa ragu gadis remaja itu mengalungkan kedua lengannya di leher Uncle tampannya.
Zain bingung, sempat ia mengangkat kedua alisnya, tapi belum sampai ia melontarkan pertanyaan, Kaira sudah lebih dulu menempelkan bibirnya di bibir Zain.
"WHAT?!" Teriak Zain di dalam hati, jujur saja itu bukan yang pertama kali bagi Zain, tapi Kaira, gadis remaja itu keponakan nya, dan sudah susah payah Zain untuk mengontrol perasaannya, agar laki-laki dewasa itu tidak menjadikan gadis kecil itu sebagai pelampiasan sakit hatinya.
Dan apa ini? Kenapa malah Zain yang dijadikan Kaira tempat pelampiasan?
Kedua bibir itu hanya saling menempel satu sama lain, karena ya, Kaira sedikitpun belum pernah melakukan kegiatan yang namanya ciuman dengan lawan jenis, yang ia tau hanya sekedar mengecup saja.
Tidak lama kedua bibir itu menempel mungkin hanya dalam hitungan detik saja, Kaira segera melepaskannya dan menunduk gadis itu, ekor matanya melihat kearah Julio dan Dessy yang saat itu sudah tak terlihat di sana.
Kembali Kaira menoleh ke arah Zain, tatapan datar di dapatnya.
"Upss... modyar aku! Goblok e! Kok iso lali aku nek iki mau ki Uncle Zain! (Upss... Mampus gue! Bodohnya! Kok bisa lupa gue kalau ini tadi Uncle Zain!)" batin Kaira merutuki kebodohannya.
"Em... Uncle, Kaira udah kenyang." ucap Kaira tergagap, bagaimana tidak? Barusan ia mencium Uncle tampannya dan kini Uncle tampan itu menatapnya dengan tatapan datar.
"Ya udah pulang!" sahut Zain datar.
Sepanjang perjalanan pulang keduanya malah saling berdiam diri dan terasa canggung, bahkan tak ada obrolan yang keluar dari mulut keduanya, berbeda dengan saat berangkat pagi tadi.
Sungguh kecanggungan ini membuat Kaira merasa bersalah, "Uncle!" panggil Kaira ketika keduanya sudah sampai di depan kamar Kaira.
Berhenti Zain, lelaki dewasa itu menoleh kearah gadis remaja yang barusan memanggilnya.
"Maaf tadi Kaira lancang, dan..."
"Iya gue tau kok, lo cuma manfaatin gue buat balas baj*ngan itu, kan? Lo mau buktiin ke dia kalau lo udah berhasil move on darinya." cetus Zain yang pas dan cocok sekali dengan alasan yang Kaira siapkan.
Tapi entah mengapa hati Kaira terasa tak tega melihat Uncle tampannya itu mengucapkannya, "Kaira jahat ya Uncle?" tanya Kaira dengan meraih kedua tangan Zain.
Menggeleng Zain, tak bersuara laki-laki itu, "Kalau Uncle marah, Kaira bisa balikin lagi kok ciumannya!"
Tanpa aba-aba Kaira meraih tengkuk Zain dan dengan berjinjit CUP!!
__ADS_1
Melotot Zain, ini kedua kalinya, ia di cium oleh gadis yang tak lain adalah keponakannya sendiri...