I Love You Handsome Uncle

I Love You Handsome Uncle
Part 40 (Sidang)


__ADS_3

Berkumpulnya kedua orang tua Zain bersama dengan Zain dan Kaira di ruang tengah ini, berawal dari ketidak sengajaan Mariana yang ingin melihat Kaira sudah pulang atau belum dari kerja lemburnya.


Khawatir yang Mariana rasakan tapi justru pemandangan yang sangat tidak pantas yang Mariana dapatkan.


Gautam tersenyum tipis dengan menggelengkan kepalanya, "Jadi benar foto yang Kuncoro kirim tiga tahun yang lalu itu tidak salah?" tanyanya.


Zain dan Kaira duduk berdampingan, tangan Zain menggenggam sebelah tangan Kaira, gadis itu sontak menatap ke arah sang pemilik tangan.


Sejenak kedua pasang netra itu bersitatap, perlahan Zain menganggukkan kepalanya, dan Kaira pun turut melakukan hal yang sama.


Bersama keduanya kembali menatap orang tua yang masih setia menunggu jawaban dari kedua muda mudi ini.


"Benar Ayah... " mendengar pengakuan gamblang Zain, Gautam dan Mariana seolah merasa mendapatkan kejutan yang sangat mengejutkan, bahkan keduanya sampai memejamkan mata rapat, cukup lama dengan pernapasan yang sedemikian di aturnya.


"Awalnya, Zain menganggap rasa ini hanya sebagai rasa kesepian Zain yang baru saja di selingkuhi, tapi lama kelamaan, Zain nyaman dengan Kaira Ayah." lanjut Zain masih dengan menggenggam tangan Kaira.


"Tapi bukan kah kau tau kalau Kaira ini keponakanmu sendiri? Kalian masih saudara!" Mariana masih kekeuh dengan prinsipnya.


"Mah, kita ini saudara jauh, ayolah kalian jangan terlalu..."


"Bagaimana dengan pandangan masyarakat?! Kau itu punya nama! Dan tidak mudah membangun nama besar Zain!" Mariana menyela ucapan Zain dengan nada yang cukup memekik, bahkan Kaira saja sampai tersentak kemudian menundukkan kepalanya.


"Sejauh apa hubungan kalian?" dibanding Mariana yang kurang setuju, Gautam lebih memilih jalur santai dalam otaknya.


"Mas?" Mariana mengerutkan alisnya, tak paham pola pikir suaminya.


"Bukan kah kau pernah mengatakan, kalau laki-laki yang akan menikahi Kaira adalah laki-laki yang beruntung?" Gautam beralih menatap istrinya.


"Anggap saja Zain laki-laki beruntung itu." imbuh Gautam.

__ADS_1


"Jangan konyol mas! lalu dari cucu kau angkat menjadi menantu begitu?! Lalu kau akan berbesanan dengan anak mbak Maria?" menggeleng pelan kepala Mariana.


"Jangan gila kamu Mas!" perdebatan kedua suami istri itu langsung di saksikan oleh Zain dan Kaira.


POV Kaira...


Aku tak menyangka hubungan Backstreet yang ku jalani dengan Uncle Zain akan sepelik dan sesingkat ini.


Jika di bilang egois, ya aku gadis yang egois, aku tak mau Uncle tampan ku ini di miliki wanita lain, bahkan jika profesi gadis itu model sekali pun, aku tetap tidak sudi menyerahkan laki-laki tampan ini.


Malam ini ku saksikan sendiri perdebatan satu keluarga kaya ini, live bahkan gratis tanpa bayaran listrik atau pun kuota, tontonan yang sangat menguras emosi ini harus nya menjadi hiburan bagi kaum yang sudah lelah bekerja, tapi tidak untuk saat ini.


Karena akulah penyebab dari drama live malam ini, kalau saja aku tidak pernah menerima pernyataan cinta dari Uncle tampan itu, maka tidak akan terjadi pula drama live malam ini.


Walau pun masih ada aku di depan mereka, tak ragu pula mereka memekikkan suara setinggi nada seriosa, demi membantah ketidak cocokan pendapat yang terlontar.


Semakin kesini aku jadi semakin bersalah saja, bagaimana ini? Apakah harus aku tinggalkan lalu aku pergi saja dari sini? Tapi jujur saja itu sangat tidak sopan.


"Besok kita urus surat-suratnya, dari pada kalian berzinah, lebih baik segera aku nikahkan saja!" keputusan Kakek Gautam sebelum laki-laki paruh baya itu meninggalkan ruang tengah.


Ku lihat nenek Mariana masih berusaha mengejar suaminya, bahkan dengan argumen-argumen yang dia cecer di sepanjang jalan menuju kamar mereka.


Aku dan Uncle kini tinggal berdua di atas sofa empuk yang hangat dan nyaman, "Gimana?" tanya ku dengan bodohnya.


"Kita turuti saja, toh kita akan bersatu, bukankah kau bahagia?" senyum tipis yang sangat berdamage juga tatapan lembut Uncle, selalu bisa meluluh lantahkan hati ku.


"Tapi Uncle, bagaimana dengan nenek Mariana?" jujur aku masih mengkhawatirkan nenek cantik itu, dia sangat menyayangiku, dan malam ini begitu terlihat jelas guratan kekecewaan yang mendalam terpancar dari wajah yang sedikit dihiasi keriput itu.


Bukannya menjawab, Uncle Zain malah dengan santainya memeluk tubuh ku, hangat dan nyaman kata itulah yang selalu aku gunakan untuk menilai perlakuan manis ini.

__ADS_1


Sungguh pelukan dan perlakuan lembut tanpa kata yang terucap itu mampu membuat ku merasa nyaman, bahkan saking nyamannya aku sampai tak sadarkan diri, bak menelan pil pengantar tidur, aku tak ingat lagi sedang di mana diriku kini.


POV Kaira off...


Pagi mulai menyapa, mentari dengan sinar hangatnya mulai menyusup masuk melalui celah tirai tipis yang menutupi jendela kamar.


Menyipit mata Kaira terbuka perlahan, rasa hangat dan nyaman kala ia mengusakkan kepalanya.


Tapi ada yang aneh, "Aroma tubuh siapa ini? Sejak kapan guling ku beraroma tubuh laki-laki?" batin Kaira dengan berusaha membuka netra nya yang masih terasa berat.


Betapa terkejut dan syoknya gadis itu kala mendapati wajah tampan Zain yang tengah terpejam di ranjang bersamanya.


"Uncle!" Kaira menggoncang tubuh kekar itu, dan lagi Zain malah memeluk erat tubuh Kaira, tanpa sengaja lutut Kaira menyenggol barang yang semestinya aman di tempatnya.


"Ssshhhh... emmhhh..." lenguh Zain kemudian...


Set...


...Brugh... ...


Zain menindih tubuh Kaira dengan keadaan junior nya sudah berdiri tegak, "Mau kemana?" bisik Zain dengan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kaira.


"Uncle, jangan begini!" Kaira berusaha mengingat Uncle tampannya, tapi malah Zain bermain-main di sana.


Hingga pagi hari dengan hiasan sinar lembut sang mentari itu sudah terdengar lenguh desah yang tak dapat Kaira bendung lagi.


"Kai, sayang, kau mau kan?" tatapan sayu Zain membuat Kaira luluh, bahkan gadis itu lupa dengan penyesalannya semalam, hingga anggukan tanpa kewarasan otak itu Kaira lakukan.


Kini dengan leluasa Zain, melorot kebawah, beralih pada titik sensitif Kaira, dengan lembut dan pelan Zain bermain di sana, hingga akhirnya Zain mendapat persetujuan untuk melakukan lebih.

__ADS_1


05.30WIB goncangan-goncangan indah itu terjadi bahkan Kaira yang awalnya bersiap menerima penyatuan ini menjadi yang paling kewalahan untuk mengimbangi kekuatan Zain dalam beradu cinta.


Peluh membasahi tubuh keduanya, rasa sakit yang tadi mampu menitikkan air mata kini terganti dengan deru desah manja yang kian menggelora, rasa candu semakin mendominasi kaum muda yang masih penasaran dengan rasa nikmat yang tiada tara.


__ADS_2