
Setelah lulus dengan perdikat S1, berbekalkan ijazah yang tidak main-main dan juga otak yang terlampau genius, Kaira kini tengah membereskan kembali baju-baju dan juga beberapa perlengkapan pribadinya.
Gadis itu sudah cantik dengan gaya casual, "Kamu yakin Kai mau ke Jakarta?" tanya Annisa.
"Korea saja Kai datangi loh Buk, masa Jakarta kota besar di negara sendiri Kai tidak datangi?" bercanda gadis yang kini sudah tumbuh lebih dewasa itu.
"Kau di Korea sana tidak terlibat perkelahian, kan?" goda Marcel tatkala semua melingkar di meja makan.
"Hahaha... Apa an sih yah! Ya enggak lah, mana berani Kaira, Kai kan pendatang." sahut Kaira dengan disambut gelak tawa oleh semuanya.
"Nenek turut bangga sama kamu Kai, ternyata kamu bisa juga lulus S1 di Korea, padahal kamu pecicilan nya minta ampun," ucap Maria dengan melempar senyum ke arah Kaira.
Sungguh bukan pilihan yang salah tiga tahun yang lalu, hari ini bahkan Maria yang biasanya tidak respect saja kini mau tersenyum.
"Iya nek, semua tidak lepas dari do'a kalian semua." sahut Kaira dengan sopan.
"Buyut ku ini memang hebat, bukan cuma otak tapi otot juga main, kamu ke Jakarta mau ke rumah siapa nanti, Kai?" Flora memuji juga mencemaskan Buyut cantiknya itu.
"Rencana mau ke kontrakan Risa dulu Yut." sahut Kaira.
"Kenapa nggak menghubungi nenek Mariana saja?" cetus Maria yang mengingat bahwa adiknya ada di sana.
"Iya sayang, kenapa tidak menghubungi Zain saja?" tanya Annisa.
"Kau takut dengan kakek Gautam?" tanya Marcel, dan Kaira hanya mengangguk bahkan kepala gadis itu tertunduk.
"Lah bagus itu kalau ada yang di takutkan, jadi Kaira terkendali, aku nggak yakin kalau nanti dia sama temannya, jangan-jangan malah jadi begal dia di sana, karena tidak ada yang dia takuti." cetus Maria yang setuju jika Kaira ikut keluarga Gautam saja.
"Iya Nduk, toh kakek mu kan juga punya perusahaan besar, kenapa tidak bekerja di sana saja?" Flora menimpali, dan mau tak mau Kaira harus mengiyakan, karena tak mau merubah raut bahagia nenek Maria nya, Kaira dengan mantap menganggukkan kepalanya, "Ya sudah Kai ke sana saja, tapi Uncle akhir-akhir ini susah di hubungi." jelas Kaira.
"Yo jelas susah, wong dia itu sibuk kok, tok pikir dirimu yang masih gledar-gleder mainan hp?" cetus Maria yang lagi-lagi membuat Kaira tidak enak hati.
Kaira hanya diam dan melanjutkan makan, sampai akhirnya mereka semua selesai Maria sudah menghubungi adiknya yang tak lain adalah Mariana. Kini keluarga besar itu mengantarkan Kaira ke Bandara.
Jauh dari kota besar sana Gautam memberikan perintah kepada salah satu agen ZG-KNIGHT untuk mengkawal cucu kesayangannya itu.
Kuncoro yang menerima perintah segera mengirim Kemal untuk mengikuti perjalanan Kaira.
Kini Kaira sudah di dalam pesawat di sampingnya duduk seorang laki-laki yang tak asing baginya, "Hai?" sapa laki-laki itu dengan senyum tipisnya.
Menoleh Kaira terkejut bukan main, "Kak Julio?"
Ya... Julio lah yang duduk di samping Kaira, pria tampan itu mengembangkan senyum tipisnya.
"Iya Kai, kau masih mengingat ku?" tanya Julio dengan terus memandangi wajah cantik Kaira.
__ADS_1
"Bagaimana bisa lupa, luka yang kakak berikan itu tidak secetek cakaran kucing!" tersenyum kecut Kaira sengaja menyentil perasaan laki-laki yang ada di sampingnya itu.
"Maaf, apakah sudah tidak ada sisa maaf mu untuk ku?" Julio kini meraih tangan Kaira.
Sontak gadis itu menoleh, "Kakak tenang saja, aku orangnya pemaaf kok." senyum singkat Kaira suguhkan, namun kemudian gadis itu sibuk mengenakkan headset untuk menutup telinganya, dan segera memejamkan mata.
Julio hanya dapat melihat gadis cantik yang duduk di sampingnya itu, sesekali helaan napas panjang ia lakukan, entah mungkin saja rasa bersalah masih terasa didalam hati Julio.
Selang 1jam lebih 10menit, pesawat yang Kaira tumpangi sudah melakukan pendaratan dengan aman dan lancar di bandara Soekarno-hatta Jakarta.
Gadis itu berjalan keluar dari bandara terus di ikuti oleh Kemal yang memang sengaja di perintahkan untuk mengawalnya.
"Tunggu Kai!" Julio menahan lengan Kaira, hingga gadis cantik itu terpaksa menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa?" sahut Kaira dengan ekspresi datarnya.
"Selama di sini, kamu tinggal dimana?"
"Di rumah kakek!" Sahut Kaira, bersamaan dengan itu Kemal datang dengan mobil mewahnya.
"Mari Nona, saya diperintahkan untuk menjemput anda." dengan sopan Kemal membukakan pintu mobil, dengan tangan yang mempersilahkan Kaira untuk masuk.
Terpaksa Julio melepaskan cengkeraman nya, "Aku duluan, Kak!" ucap Kaira dengan senyum yang di paksakan nya.
Julio hanya mengangguk dengan senyum tipisnya, setelah Kaira pergi, Julio mendekati seorang tukang ojek, "Mas ikuti mobil di depan ya!"
Kemal membawa mobil dengan kecepatan sedang, "Nona mau langsung ke kantor atau ke rumah dulu?" tanya Kemal dengan menatap kaca spion yang ada di tengah.
"Langsung aja deh kayaknya!" cetus Kaira dengan semangatnya.
"Siap, Nona!" sahut Kemal dengan melajukan mobilnya menuju kantor pusat perusahaan Zora-Group.
Di dalam kantor, tepatnya didalam ruangan CEO utama, Jefri terlihat memberikan sebuah dokumen kepada Zain.
"Apa ini Jef?" tanya Zain dengan memasang kaca mata minus 0,5 nya dengan benar, ia mulai meraih dokumen yang terulur padanya.
"Kaira Vexsana?" mengernyit dahi Zain membaca dokumen yang berisi biodata.
"Kau yakin ini dikirim Ayah?" tanya Zain dengan terus membaca lembaran biodata itu.
"Iya Tuan, tadi pagi pas saya baru saja datang, Tuan besar memberikan dokumen itu kepada saya." sahut Jefri.
Menghela nafas Zain, jujur saja mengingat foto yang kemarin Kaira bersama laki-laki lain saja Zain masih enggan untuk menghubungi gadis itu, kini malah Gautam sendiri yang mengirim Kaira untuk bekerja bersama dirinya.
"Nanti tukar tempat saja dengan Jova, Jef, untuk yang baru ini langsung suruh masuk ke sini saja!" ucap Zain dengan menutup lembaran dokumennya.
__ADS_1
Tak lama kemudian...
TOK...TOK...TOK!!! seorang staf mengetuk pintu ruangan Zain.
"Masuk!" teriak Zain yang masih duduk ditempatnya, CEKLEK!!!
Zain dan Jefri sontak menoleh secara bersamaan kearah pintu, begitu pintu terbuka terlihat di sana Jova mempersilahkan seorang gadis untuk masuk.
"Selamat siang Nona Kaira?" sapa Zain dengan posisi duduk menyilangkan kakinya, bahkan punggungnya ia sandarkan dengan nyaman di sandaran kursi kebesarannya.
Tatapan tajam Kaira arahkan ke depan tepat sasaran ya itu wajah tampan dengan kacamata bening yang terpasang rapi di atas hidung bangir Zain Julio Zora.
"Tinggalkan kami Jef, kau tau dia keponakanku yang sedikit nakal." ucap Zain dengan sedikit mengibaskan jemarinya.
"Siap Tuan Muda." Jefri menunduk dengan sopan kemudian berjalan meninggalkan ruangan CEO utama itu.
"Punya pengalaman apa kamu berani melamar ke perusahaan ini?" Zain bertanya dengan menatap gadis yang sebenarnya sangat ia rindukan itu.
Berusaha profesional Zain, apalagi mengingat foto yang masih terngiang di dalam otaknya, bahkan Itu sangat mengganggu hati dan keseimbangan emosi Zain.
Sedangkan Kaira dengan santainya berjalan dan duduk di salah satu kursi yang tersedia, gadis yang dulunya pecicilan dan imut kini terlihat anggun dan juga seksi.
Tapi masih menatap Zain dengan tatapan tak bersahabat, "Uncle pikir Kai kesini mau bekerja?!" ketus gadis itu dengan memainkan kursi yang bisa berputar itu.
"Lalu ini apa?" Zain menunjukkan stopmap yang ada di tangannya.
"Mana Kai tau! Asal Uncle tau ya! Kaira ke sini cuma mau tanya soal foto ini!" gadis itu beralih membuka tas selempang yang di bawanya, kemudian mengeluarkan ponsel dari sana, tak lupa Kaira menscroll layar ponsel demi mencari pesan yang mengirimkan foto Zain bersama dengan Zoya.
Kaira memberi tahukan foto itu, "Ini maksudnya apa? Bilang rindu sampai membuatku harus rajin belajar supaya aku bisa pulang lebih cepat."
"Dan setelah aku tiba di bandara, Uncle nggak ada." semakin mengerut kedua alis Kaira, kala berbicara.
"Uncle kemana? Kai mikir CEO muda kita ini sibuk dong, eh tapi ternyata lagi ngacara, sama mantan lagi, cih." sambung Kaira dengan berdecih.
"Bisa jadi tuh kalau Kai pulang tahun depan, udah ada baby baru mungkin, heh... " sebuah cibiran yang berbumbukan nada emosi yang tertahan, terlontar dati mulut Kaira.
Zain terdiam, dirinya tak menyangka jika Kaira yang kini lebih banyak bicara dari pada diam dan menghindar, laki-laki tampan itu mengurungkan niatnya untuk membahas foto yang ia dapat di ponselnya.
"Sudah pandai berbicara ternyata ya?" senyum tipis Zain suguhkan, dan sumpah demi apa itu membuat Kaira bertambah sebal.
Kaira dengan cepat membuang muka, dengan tangan yang ia lipat didepan dada, menahan napas yang menderu dera, berusaha agar tidak semakin membesar bara api amarah yang kian membuncah.
__ADS_1
"Udah nggak usah marah! Kita sama kok!" mendengar ucapan Zain membuat Kaira melirik Uncle tampannya dengan tatapan tajam penuh selidik...