I Love You Handsome Uncle

I Love You Handsome Uncle
Part 14 (Takut Jatuh Cinta)


__ADS_3

Makan malam seperti biasa, keluarga besar Flora berkumpul di meja panjang yang menghidangkan banyak makanan di sana.


Kaira duduk dengan tenang, bahkan gadis remaja itu menikmati makanan yang ada di hadapannya dengan santai, berbeda dengan Zain, lelaki dewasa itu terus memperhatikan setiap gerakan yang Kaira lakukan.


Kaira, melahap setiap nasi yang di sendoknya, Kaira meminum segelas air putih, bahkan kemana wajah cantik itu menoleh, menggeleng entah mengangguk, netra tajam Zain terus memantaunya, sampai akhirnya...


"Ada apa?" tanya Kaira dengan menatap balik Zain, laki-laki itu hanya menggeleng pelan, Kaira tak menghiraukannya, gadis itu kembali menikmati hidangan yang ada didepannya.


Makan malam akhirnya berakhir, Kaira malam ini tak berminat untuk berkumpul dengan keluarganya diruang tengah seperti biasa, bukan apa-apa hanya saja tugas sekolah menunggu nya dimeja belajar.


...~∆∆∆🌼∆∆∆~...


Otak encer Kaira tidak sedikitpun keberatan jika harus memikirkan rumus fisika, aljabar, dan juga rumus-rumus kimia yang lainnya, yang menjadi kendala saat ini adalah Uncle tampannya yang saat ini duduk di atas ranjangnya.


"Uncle bisa nggak, jangan di situ!" cetus gadis itu dengan duduk membelakangi ranjang dimana Uncle tampannya duduk, Zain memainkan boneka teddy berwarna ungu milik Kaira.


"Memangnya kenapa?" tanya Zain tanpa beban sedikitpun, bahkan tubuh kekar yang dilapisi T-Shirt itu terlihat nyaman dengan merebahkan tubuhnya di sana.


"Uncle tau nggak sih kalau Uncle itu merusak konsentrasi Kaira?!" sedikit sopan Kaira kini tak lagi menggunakan bahasa Lo atau Gue, setelah perhatian-perhatian kecil yang Zain berikan kepadanya, gadis itu sedikit menghormati Uncle tampannya itu.


"Hieleh... Bilang aja minta di bantuin, sini gue bantu!" Zain beranjak dari ranjang nyaman milik Kiara, kemudian langkah kakinya mendekati gadis yang tengah duduk juga sibuk dengan buku-buku pelajaran.


"Masih banyak?" tanya Zain dari belakang tubuh Kaira, kedua tangan kekar itu menopang tepat di meja belajar Kaira, tepatnya di samping kanan dan kiri gadis cantik itu.


Kepala Zain ada di samping kanan telinga Kaira, masih biasa saja Kaira dengan posisi itu karena keduanya fokus dengan tugas sekolah milik Kaira.


"Yang ini loh Uncle, ngerjain rumus ini kan harus dengan konsentrasi yang tinggi, sedangkan keberadaan Uncle itu mengganggu otak genius Kai untuk berpikir!" cetus gadis itu dengan menggambar lingkaran pada soal yang membuatnya sedikit pusing itu, sebenarnya bukan tidak bisa hanya saja perhatian Kaira cukup tercuri ketika Zain berada di sekitarnya.


"Coba sini deh pensilnya." Zain merebut pensil yang ada di tangan Kaira, dan mulai mengajari gadis itu dengan cara yang lebih mudah.


Kaira bukan gadis yang acuh dengan ilmu baru, ia benar-benar mendengarkan juga mengingat cara yang Zain ajarkan.


"Ooo... Jadi bisa gitu ya Uncle?" tanya gadis itu setelah paham dengan penjelasan Uncle tampannya.


"He'em, cara yang lo pakai tadi itu kelamaan, kalau cara yang ini bisa mempersingkat waktu, tapi lo harus paham di bagian ini!" kembali Zain mengingatkan poin penting yang ada didalam tugas Kaira.


Mengangguk paham gadis cantik itu, "Jadi begini, sebentar biar Kai coba dulu."


Zain masih dengan posisi yang sama, ia memperhatikan coretan demi coretan, pensil yang ada di tangan Kaira itu menggores rumus demi rumus.


Selesai sudah Kaira dengan rumus baru yang diajarkan Uncle tampannya, "Gitu, kan?" tanya Kaira dengan menoleh kearah Zain.

__ADS_1


Terdiam gadis remaja itu menatap wajah fokus Uncle nya yang tengah memeriksa jawaban yang baru saja Kaira kerjakan.


"Ya Tuhan, ini terlalu dekat, mana ganteng banget lagi," batin Kaira dengan menatap wajah tampan yang kini sangat dekat didepan matanya.


"Nah jadi yang ini bisa lo singkat lagi, jadi begini." Jelas Zain dengan menuliskan rumus yang lebih singkat lagi.


"Nah gitu kan lebih simpel, paham kan?" tanya Zain dengan menoleh ke arah Kaira.


Kedua netra itu saling bertemu, bertukar pandang dengan jarak yang begitu dekat, napas segar Kaira dan Zain kini saling bertabrakan satu sama lain.


Dheg-Dheg... Dheg-Dheg...


Berdetak jantung Kaira, entah mengapa gadis itu merasakan debaran berbeda di dalam hatinya.


"Nggak Kai! Stop! Dia itu Uncle lo!" terus saja batin Kaira mengingatkan dirinya agar benih-benih cinta tak tumbuh di dalam hatinya.


Tapi apa ini? Zain melakukan hal di luar nalar gadis remaja itu, pria dewasa itu tiba-tiba menempelkan bibir nya dengan bibir Kaira yang berwarna pink soft.


Natural warna bibir Kaira membuat Zain yang lelaki normal tidak dapat menolak pesonanya, apalagi belum lama ini Kaira pernah mengecup juga bibirnya.


Membulat netra Kaira, karena Zain sedikit menyesap benda pink yang terasa manis itu, dirasakannya, napas Uncle tampannya itu sedikit hangat dan seperti ada getaran yang membuat Kaira mengalungkan kedua lengannya di leher Zain.


Gelap mata Zain malam itu, lelaki dewasa itu semakin memperdalam saja ciumannya bersama gadis yang bahkan tidak tau bagaimana merespon indera pengecap yang mengobrak-abrik isi rongga mulutnya.


"Emh!" tangan Kaira menahan lengan kekar itu, bahkan tak ayal gadis itu melepaskan ciuman panas Uncle tampannya.


"Why?" tanya Zain dengan mencubit kecil dagu Kaira, netra yang biasanya terlihat tajam itu kini terlihat sayu, Kaira menundukkan pandangan matanya dengan menggigit bibir bawahnya.


"Maaf Uncle, tapi ini..."


"Hem? Lo nggak suka?" Zain memeluk tubuh sintal dengan body yang sudah terbentuk itu dari belakang, ditancapkannya dagu lancip Zain di atas pundak Kaira yang terekspos, karena gadis itu mengenakkan atasan dengan lubang leher yang lebar.


Meremang kulit leher Kaira ketika Zain mengecup leher jenjangnya.


Terdiam Kaira dengan memejamkan matanya, gadis itu duduk menghadap ke depan yang mana ia membelakangi Uncle tampannya.


Berusaha sebisa mungkin Kaira tidak menatap wajah tampan Zain Julio Zora yang sangat menggoda dan menggoyahkan iman didada.


Tapi sungguh sayang, karena di depan Kaira ada cermin yang sangat lebar, meja belajar sekaligus meja rias itu dilengkapi dengan cermin selebar bahu dan tingginya setengah pintu.


Gagal sudah Kaira menghindari pemandangan indah itu, memang sudah sedari Zain masih di ranjangnya, Kaira tidak dapat untuk tidak memandangnya, maka dari itu tugasnya tidak segera selesai, karena cermin dihadapannya menampilkan pemandangan yang merusak konsentrasi.

__ADS_1


"Uncle..." lirih Kaira dengan menatap Zain dari pantulan cermin.


"Hem?" sahut Zain masih dengan mengecup leher juga pundak Kaira.


"Jangan begini, ini tidak boleh," ucap gadis itu dengan menahan gelanyar yang dirasakannya.


"Kata siapa?" bisik Zain tepat di telinga Kaira, dan itu membuat Kaira memejamkan matanya, entah apa yang dirasakan Kaira.


Hati dan otak gadis itu sudah tak lagi sejalan, "Yang tidak boleh itu, jika menyatukan barang pribadi, karena itu akan merusak masa depan, jika hanya sekedar mencium, apa yang Uncle rusak dari dirimu?" tanya Zain.


Gila sudah memang Zain ini, sungguh sudah dikuasai oleh gairah yang sudah berminggu-minggu tidak tersalurkan.


Kaira dengan segenap hati dan sisa tenaga yang ada, ia berdiri dari kursi belajarnya, karena jujur saja, perlakuan Zain itu membuat persendian gadis itu merasa lemas.


"Cukup Uncle!" ucap Kaira dengan menghadap kearah Zain.


Menarik napas panjang Kaira mempersiapkan semuanya, "Jangan Uncle kira Kaira tidak tau ya! Lagi pula tidak sembarangan orang bisa melakukan ciuman! Hanya pasangan saja yang bisa melakukannya!" jelas polos Kaira.


Zain menaikkan salah satu alisnya, "Lalu? Bukankah yang main asap cium itu lo?" terbalik sudah penjelasan Kaira, dengan santainya jemari kekar Zain membelai bibir pink yang mendadak terdiam itu.


"Lagi pula, lo bukannya menolak," kembali Zain mendekatkan kedua bibir itu.


"Tapi Uncle..." Kaira menutup bibir Zain menggunakan telapak tangannya, mata sayu milik Zain menatap lembut netra Kaira yang terlihat bingung, di raihnya tangan Kaira yang menghalangi bibir Zain, kemudian dengan lembut dikecupnya punggung tangan itu.


Kaira tersentak, merasakan bibir Zain yang melekat di atas punggung tangannya, rasa lembut dan geli yang samar bercampur menjadi satu.


Gadis itu terdiam membeku, kemudian kembali tersadar, segera Kaira mendorong tubuh Zain agar Uncle tampannya itu keluar dari kamarnya.


"Hey apa ini? Gue cuma mau mengalihkan pikiran lo dari laki-laki bejat itu!" ucap Zain dengan berpegangan pada kusen pintu kamar Kaira.


"Kaira sudah lupain dia kok!" ketus gadis itu.


"Heh? Yang bener? Tadi siapa yang masih bengong di ambang jendela? Ayolah Kai, lo itu kalau sendirian nggak bakal bisa move on, jadi..." terhenti ucapan Zain


"Jadi apa?!" berkacak pinggang Kaira seperti menantang Uncle tampannya.


"Jadi ijin in gue buat temenin lo!" berusaha Zain menerobos masuk kedalam kamar Kaira.


"No! No! No! Big No!" ucap Kaira dengan menyilang kan kedua tangannya di depan dada.


"Lo kenapa sih? Kayak yang takut banget gitu? Lo takut jatuh cinta sama gue kan? Apa jangan-jangan lo emang udah diem-diem mengagumi gue?" Memerah sudah wajah Kaira, gadis itu tak lagi kekeuh mengusir Uncle tampannya.

__ADS_1


Kaira meninggalkan Zain di ambang pintu, gadis itu melangkah menuju ambang jendela, dimana itu adalah tempat favoritnya...


__ADS_2