
Pagi hari udara pagi yang sejuk nan menyegarkan paru-paru, bahkan sinar lembut sang mentari pagi, juga embun pagi yang masih enggan meninggalkan daun, menemani kegiatan pagi dua insan beda generasi itu.
Ya... Kaira dan Zain, keduanya kini sudah berlari kecil memutari pedesaan, dengan sesekali obrolan ringan mengisi kekosongan diantara mereka.
Bahkan nafas yang mulai terengah-engah tak menurunkan sedikitpun semangat keduanya, minggu ini Kaira sengaja di minta Flora untuk mengajak Zain berkeliling, takutnya cucu tampannya yang jarang pulang kampung itu akan bosan jika terus berada di rumah.
Keduanya kini sampai di sebuah taman, "Duduk dulu Kai! Capek gue!" teriak Zain dengan menunduk dan memegangi lututnya.
"Heh... Apaan sih gitu doang capek." cibir Kaira dengan berhenti dan memandang Uncle nya yang masih lumayan jauh di belakangnya.
Pagi itu cukup mereka isi dengan keliling jalan pedesaan dan bersantai sejenak di taman kota.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Di kota yang ramai dengan hiruk pikuk manusia, kerlap-kerlip lampu kota yang menjadi pemandangan khas kota besar Jakarta, bisingnya kendaraan menjadi pemecah kesunyian kota besar itu.
Bahkan ada yang bilang, jalanan Jakarta tidak pernah tidur, ada saja kendaraan yang lalu lalang tak mengenal waktu.
Ya, ditengah kota yang ramai itu tepatnya di sebuah hunian mewah yang ada di antara perumahan elite tentunya...
Seorang gadis dengan pakaian modis, tak lupa tas jinjing bermerek melekat pada tangan mulusnya bahkan heels tinggi berwarna merah mengganjal tumitnya.
Langkah yang tak santai ia ayunkan memasuki hunian mewah dengan nuansa brown and gold itu.
"Excuse me... " teriak gadis cantik itu dengan melangkahkan kaki jenjangnya untuk memasuki hunian mewah bak istana moderen itu.
"Hai, Zoya!! Apa kabar cantik? Kenapa baru datang? Kemana saja kamu?" Seorang wanita dengan umur yang tak lagi muda tapi penampilan masih terlihat elegan menyambut kedatangan gadis modis yang tak lain adalah Zoya.
Mariana Zora istri dari Gautam Zora, yang tak lain adalah ibu biologis dari Zain Julio Zora, ibu satu anak itu berjalan dan memeluk hangat Zoya yang sudah dianggapnya sebagai calon menantu.
"Zain nya ada Tante?" tanya Zoya setelah melepaskan peluk hangat Mariana.
"Oh Zain nya... Di kampung sayang, dia bilang akan mengunjungi nenek nya di sana, apa kau tidak tau?" tanya Mariana dengan menatap lembut gadis yang ada di sampingnya itu.
Menggeleng Zoya, "Tidak, Tante, dimana alamatnya?" tanya Zoya.
__ADS_1
"Kau akan menyusul?" tanya Mariana dengan menaikkan kedua alisnya.
"Iya Tante, biar saya beri kejutan untuknya." Ucap Zoya dengan senang hati.
Tanpa pikir panjang, Mariana memberikan lokasi dimana desa yang ditempati nenek Flora.
Entah apa yang ada didalam otaknya Zoya, gadis itu segera pamit setelah mendapatkan alamat rumah nenek Flora yang ada di Jawa Tengah.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Sudah beberapa hari Zain tinggal di desa, di rumah nenek tercintanya, kurang lebih dua minggu Uncle tampan itu tinggal di sana.
Hubungan Kaira dengan Zain, ya masih begitu, kadang baik, kadang juga seperti halnya kucing dan anjing.
Hari ini seperti biasa Kaira pulang telat, dan sore itu Zain sedikit gusar karena ia sempat melihat keponakan nya itu mengendarai motor besar bersama seorang laki-laki, dengan posisi Kaira membonceng dibelakang.
"Siapa dia?" Hampir menyatu kedua alis Zain tak kala netra tajamnya menatap sosok yang sangat di kenali nya itu.
Sengaja sore itu Zain menjemput Kaira, karena mang Ucok selalu gagal membawa gadis itu pulang tepat waktu, dan seperti biasa Zain selalu membantu memberikan alasan kepada Annisa yang semakin lama semakin curiga dengan kelakuan anak gadisnya.
Zain semakin dibuat kesal ketika ia membuntuti motor besar itu yang tiba-tiba berbelok pada bangunan yang berdiri megah tak jauh dari jalanan.
Tetap di pantau nya gadis cantik itu dari kejauhan.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Di depan sebuah bangunan, Kaira turun dari motor besar Julio, dengan wajah yang bersemu merah gadis itu mengucapkan terimakasih.
"Emmm... Makasih ya Kak, itu... Kaira malah ngerepotin kak Julio." ucap gadis itu dengan raut wajah malu-malu.
Julio melepas Helmnya dan menoleh ke arah gadis yang ada di belakangnya itu, "Santai aja kali, lain kali kalau Risa nggak ada lo bisa chat gue, ntar biar gue yang jemput." sahut Julio dengan senyum manisnya.
Kaira tersenyum dengan menganggukkan kepala, "Oh ya Tuhan, apa ini? Kenapa dada ku rasanya penuh dengan bunga-bunga bermekaran, bahkan terasa cerah dan semangat hari ini bertambah, Tuhan, boleh kah suasana ini jangan sampai berakhir?"
Batin gadis itu, bukannya lebay, memangnya gadis mana yang tidak merasakan kebahagiaan lebih ketika sedikit saja ia mendapatkan respond dari orang yang disukainya?
__ADS_1
Jarang bukan? Mungkin hampir semua gadis remaja mengalaminya, kebahagiaan tersendiri hadir saat orang yang kita istimewa kan itu merespon kita.
Drrrrrttttzzz...
Drrrrtttttzzz...
Dering ponsel Kaira membuyarkan segalanya, gadis itu mengindahkan panggilan dari nomor tak di kenal, "Sebentar kak, Kaira angkat telfon dulu." pamit Kaira dengan menunduk sopan, sedangkan Julio hanya tersenyum dengan sedikit menganggukkan kepalanya.
"Halo? Sinten nggih? (Halo? Siapa ya?)" dengan bahasa sopan Kaira menjawab telfon itu.
📞"Sinten-sinten! Lo nggak save nomor gue ya?!" Terdengar omelan panjang lebar dari balik sambungan telepon itu.
Terdiam Kaira bingung, gadis itu kembali melirik ke kanan dan ke kiri, dan di sana di seberang jalan ia melihat mobil avanza hitam yang tak asing di indera penglihatannya.
"Itu kek mobil gue." gumam gadis itu masih dengan menempelkan gawai canggih itu di telinganya.
📞"Bukan kek mobil lo, emang ini mobil lo!" teriak Zain dari seberang telepon, bahkan dapat di dilihat oleh kedua netra Kaira, Zain membuka kaca jendela mobil di bagian kemudi.
"Njir, modiyar aku, kok Uncle bisa tau!" batin Kaira, gadis itu bergeming, bersuara pun sepertinya tak mampu, sampai akhirnya Julio mendekati nya.
"Kai, ayo masuk!" ajak pemuda tampan itu yang pasti didengar oleh Zain memalui sambungan telepon yang masih saling terkoneksi itu.
📞"Pulang Kai!" ucap Zain dengan penuh penekanan, bahkan sudah dipastikan raut garangnya tersirat di sana.
Kaira masih terdiam tak menjawab Zain ataupun merespon ajakan Julio, sampai akhirnya Julio mendekati junior cantiknya itu kemudian memiringkan wajahnya dan tepat di depan wajah Kaira, pemuda tampan itu melambai-lambaikan tangannya.
Tersentak Kaira karena wajah Uncle nya yang ada di seberang jalan tertutup oleh wajah tampan Julio, sontak gadis itu menurunkan ponselnya dari telinganya sampai ke dadanya.
"Kau sakit? Ada apa? Kenapa tiba-tiba bengong?" tanya Julio dengan menempelkan punggung tangannya di kening Kaira.
Semakin merah padam saja wajah Kaira kala itu, sungguh rasa takut di dalam hatinya karena Zain ada di seberang sana hilang seketika, tergantikan oleh kupu-kupu yang menggelitik hati dan juga Bunga-bunga bermekaran yang pasti berwarna-warni.
"Hey... Kai?" sekali lagi suara merdu itu terdengar indah di telinga Kaira, "Dalem sayang?" spontan Kaira menyahutinya dengan senyuman.
Julio menaikkan salah satu alisnya mendengar sahutan yang keluar dari mulut gadis cantik yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
"Apa Kai? Kakak nggak denger." ucap Julio dengan memajukan wajahnya, hingga membuat Kaira tersentak kaget, "Hah? Apa? Memangnya apa? Oh itu Kaira masuk duluan ya Kak, bay!" salah tingkah Kaira, gadis itu segera berjalan memasuki gedung Padepokan.
"Masuk perangkap." Batin Julio dengan senyum miring nya...