
Kaira yang duduk di belakang punggung Julio merasakan bahagia, tapi jujur saja setelah kejadian beberapa hari yang lalu Kaira sedikit menjaga sikapnya.
Ia masih fokus dulu dengan latihannya, tak mau ia mengecewakan sang senior yang sangat di kagumi nya itu.
Jalan ke gedung olahraga harusnya belok kanan tapi motor yang mereka kendarai kini malah mengambil jalur lurus dan itu menuju kota sebelah.
"Loh kak, bukannya gedungnya di sana ya?" tanya Kaira dengan sedikit berteriak.
"Dah lo diem aja! Tinggal duduk doang apa susahnya sih?" terdengar ketus nada yang digunakan Julio.
Terdiam Kaira, jujur saja mulai dari sini gadis itu mulai merasakan rasa yang tidak nyaman, suasana hati menjadi tak menentu.
"Sebenarnya mau kemana sih? Oh iya berkas-berkas yang biasanya buat daftar juga nggak di minta, ini beneran mau ke pertandingan nggak sih?" batin Kaira yang mulai menaruh rasa curiga.
Tapi berusaha gadis itu tetap tenang dan diam, tak mau gegabah, Kaira tidak mau dirinya berakhir konyol.
Jalanan yang mereka lewati semakin masuk saja kedalam hutan, bukan takut jika ada begal atau hantu, Kaira takut jika sampai tiba-tiba ada binatang buas yang menghadang keduanya.
"Kak?" gadis itu membuka suara, tapi tak mendapatkan jawaban dari kakak seniornya.
Kembali terdiam dan terus merapal do'a di dalam hati, hanya itu yang dapat Kaira lakukan.
Tak lama kemudian keduanya tiba di sebuah bangunan tua yang jauh di tengah hutan itu.
Julio masih baik-baik mengajak Kaira turun dari motor, melihat kesana-kemari iris coklat milik Kaira, melihat betapa pohon-pohon itu menjulang tinggi, dan tembok bangunan yang sudah berlumut menggambarkan bangunan itu sudah lama di tinggal dan tak terawat.
"Lo takut?" tanya Julio dengan melirik wajah Kaira yang terlihat tegang.
Menggeleng kepala Kaira menjawab, "Tidak." sahutnya singkat.
Terlihat Julio menghubungi seseorang dengan ponsel yang ia keluarkan dari dalam saku celananya.
"Gue di depan!" terdengar Julio berucap, seperti nya ada orang lain di balik tembok berlumut ini, Kaira mulai curiga ia menelfon Risa beberapa kali namun tak mendapat jawaban.
Beralih gadis itu menelfon Zain tapi sama saja, tak ada respon dari nya, tanpa pikir panjang dan sebelum Julio mengajaknya masuk, gadis itu lebih dulu mengirimkan share lock kepada Zain juga satu pesan singkat.
"Ayo masuk!" ajak Julio dengan menarik lengan Kaira, tak dapat menolak gadis itu pun masuk mengikuti langkah kaki Julio.
Di sana di balik tembok berlumut itu ternyata ada sebuah ruangan yang begitu megah.
__ADS_1
Siapa sangka di balik bangunan tua terdapat bangunan yang indah seperti istana negeri dongeng.
Sampai di sana masih terlihat sepi, sebenarnya kemana semua orang? Dan siapa yang Julio telfon barusan?
Pertanyaan itu terjawab ketika beberapa orang dengan tubuh kekarnya berjalan keluar dari salah satu pintu yang terbuka.
Di sana ada Dessy yang menjadi sandera, "Oh jadi dia yang akan maju duel kali ini?" tanya salah seorang laki-laki yang tubuhnya paling gagah diantara semuanya.
"Iya! Mana atlet andalan kalian? Keluarkan!" tantang Julio dengan gaya arogannya.
Kaira bingung di sana, kenapa Dessy di sandera? Bahkan tangan dan kakinya di ikat, ini sudah mirip sekali dengan film-film yang mana ada adegan menyelamatkan putri yang di culik, tapi beda nya ini putri nya sudah di depan mata, hanya saja di jaga lebih ketat.
"Kak? Apa ini?" tanya Kaira yang masih tak paham.
"Lo main aja, tehnik dan otak lo harus pakai, dan ingat, jawaban gue untuk permintaan lo beberapa hari yang lalu, bakal gue jawab kalau lo menang di pertandingan kali ini."
Awalnya gadis itu ragu untuk maju, mana ada pertandingan di tengah hutan, tapi lagi-lagi jawaban yang masih dirahasiakan Julio membuat dirinya bersemangat dan harus menang.
Kaira melepaskan tas punggung yang sedari tadi melekat pada punggungnya, dan memulai pemanasan.
"Lo ikhlas yang itu bakal lo tukar dengan yang ini?" tanya seorang laki-laki bertubuh tinggi besar itu.
Mereka berbicara seolah akan melakukan pertukaran saja, "Kok ditukar? Kan perjanjiannya gue cuma harus memenangkan duel ini dan lo harus bebasin Dessy!" ucap Julio terlihat protes.
"Lo jangan macam-macam ya Ko!" gertak Julio dengan menunjuk wajah laki-laki bertato yang tak lain bernama Miko.
Miko tersenyum tipis, "Lepasin dia!" ujar Miko menyuruh antek-antek nya untuk melepaskan Dessy.
"Kayaknya ada yang nggak beres nih." batin Kaira dengan sedikit mendengarkan pembicaraan Julio dan Miko.
Kaira berdiri maju bersamaan dengan salah seorang gadis juga, duel keduanya pun di mulai, Kaira tetap fokus menyerang dan ingin segera menyelesaikan pertarungan ini.
Brutal Kaira, ia tak mau berlama-lama di pertandingan kali ini.
Tapi dugaannya salah setelah ia menumbangkan satu gadis itu dengan mudah ia terkepung oleh tiga pria yang siap menghajarnya.
"Kak!" teriak Kaira berharap Julio dan Dessy akan menolongnya.
Tapi ternyata tidak, Dessy dan Julio terlihat diam-diam meninggalkan dirinya yang saat itu tengah dalam bahaya.
__ADS_1
Sekuat tenaga Kaira melawan ketiga pria berotot itu, pukulan, tendangan dan juga tangkisan gadis itu lakukan demi melindungi diri dan segera menyelesaikan pertarungan ini.
Senyum miring tertampil pada bibir Miko, laki-laki bertato itu mungkin mulai tertarik dengan Kaira, "Menarik." gumamnya.
"CUKUP!!" teriak Miko menginterupsi, seketika ketiga pria itu berhenti, sedangkan Kaira masih dengan posisi siaga.
Ekor mata gadis itu mencari-cari keberadaan Julio dan Dessy, tapi sedikitpun ia tak menemukan keberadaan dua seniornya itu.
Cukup menguras tenaga bertarung dengan tiga orang sekali gus, sampai akhirnya pertarungan itu di hentikan oleh Miko.
Masih terdiam di tempat, gadis itu masih tidak mengerti posisinya saat ini, apa lagi ia mengingat kedekatan Dessy dan Julio yang terlihat saling merangkul satu sama lain saat dirinya tengah sibuk melawan yang katanya tadi di sebut atlet tapi lebih tepatnya mereka hanya preman biasa saja, buktinya Kaira dapat mengalahkan mereka.
"Maaf? Apa maksud dari semua ini?" tanya Kaira bertanya kepada siapa pun yang ada di sana.
Miko berdiri, "Santai saja cantik, bukan kah kau sudah tau dari awal, untuk apa kau dikirim kemari?" ucapnya dengan berjalan mendekati Kaira.
"Tidak!" sahutnya ketus, jujur saja gadis itu masih bersiaga.
"Kalian! Pegang dia!" perintah itu segera di lakukan oleh dua laki-laki bertubuh kekar, kedua tangan Kaira di cekalnya.
"Apa-apaan ini? Lepas!" Bingung Kaira, gadis itu berusaha berontak.
"Jadi Julio tidak mengatakan kalau kau hanya akan dia tukar untuk menggantikan posisi gadis tadi? Hem?" ucap Miko dengan membelai wajah cantik Kaira.
"Apa?!" Napas memburu mungkin hati gadis itu sudah mulai tersulut api amarah.
"Ya... Kau sekarang milikku dan pertarungan tadi hanya sebuah tontonan saja, tapi siapa sangka gadis secantik dirimu malah lebih hebat dari anak buah ku, bukan kah kita cocok? Dua insan yang hebat bersatu menjadi sepasang kekasih." gumam Miko dengan menyatukan kedua telunjuknya.
"Wong Edan! Dasar perman bucin! Lepasin gue!" berontak semakin keras Kaira, namun kini Miko malah mencengkeram rahang Kaira dan memberikannya sebuah minuman.
Karena dipaksa sebagian air yang entah mengandung apa itu tertelan oleh Kaira sebelum akhirnya banyak yang ia semburkan kembali.
"Kurang ajar! Telan ku bilang!" gertak Miko dengan penuh penekanan.
Ketika semua tengah fokus memberikan minuman racikan itu, tiba-tiba pintu utama gedung tua itu di dobrak oleh seseorang.
BRAK!!
Menoleh semua yang ada di sana, Kaira yang sudah terpengaruh minuman racikan itu pun pandangannya mulai memburam.
__ADS_1
Tapi telinganya masih dapat mendengar kalau pintu itu di dobrak, "Apa kau kembali untuk menolongku kak?" batin Kaira dengan pandangan buram ia melihat sosok laki-laki dengan gadis berjalan memasuki ruangan itu.
"LEPASKAN DIA!"...