
Kegiatan panas yang memakan waktu kurang lebih setengah jam itu membuat Kaira termangu, gadis cantik yang berbalut selimut tebal itu kini merasa bingung, ditatapnya wajah damai Zain yang masih terpejam mengatur napas.
Ada rasa sesal setelah rasa nikmat yang dirasa, tapi ada juga secuil harapan untuk memiliki benih yang Zain berikan.
"Mungkin aku sudah gila! Memangnya gadis mana yang mau sengaja hamil diluar nikah? Haha... Bodoh! Mungkin hanya kata itu yang pantas ku sandang sekarang." batin Kaira dengan mengelus kepala Zain.
Ia daratkan kecupan di kening laki-laki tampan itu, cukup lama hingga tak terasa bulir bening meleleh melalui pipi dan membasahi dahi.
Zain memeluk erat tubuh Kaira, merasa ada air yang membasahi dahinya, Zain mendongak menatap wajah sendu gadis yang sudah membuat dirinya semakin candu.
"Kau menangis?" tanya Zain lembut.
Kaira menunduk, segera ia mengusap bulir bening yang masih meninggalkan bekas, "Sayang?" lirih Zain.
"Hem?" sahut Kaira dengan suara yang sedikit bergetar, "Kau menyesal?" kembali Zain mencecar kekasih hatinya itu dengan pertanyaan, bukan sahutan kata yang Zain dapatkan melainkan hanya gelengan kepala yang Kaira lakukan.
"Uncle... " lirih Kaira menatap wajah tampan Zain dengan mata sembabnya.
"Iya sayang?" Zain membelai wajah cantik itu.
"Bagaimana kalau kita sudahi saja hubungan ini?"
Duarrrr... bagai tersambar petir di siang bolong, tercengang Zain mendengar penuturan gadis yang masih didalam dekapannya, "Apa maksud mu?" mengerut tipis kening Uncle tampan itu.
"Uncle tau kan, kalau keluarga kita sangat memikirkan nama baik keluarga, walau pun kita saudara jauh, kita tetap tidak bisa menikah karena aku ini keponakan mu!" isak tangis semakin menjadi.
"Lalu? Apa mau mu?!" geram Zain, ia beranjak dari posisi tidurnya.
"Kita sudahi saja hubungan yang tak berujung ini..."
"Jangan gila kamu Kai?! Bagaimana kalau kamu hamil? Apa kau lupa, baru saja kita melakukannya!" sela Zain dengan kembali menghadap kearah Kaira.
Terlihat gadis itu kesusahan untuk bangun dari posisi tidurnya, sungguh daerah intinya masih menyisakan rasa perih.
"Tapi ini yang terbaik Uncle, anggap saja yang barusan itu bonus!" cetus Kaira dengan entengnya.
"Enggak! Kita akan tetap menikah, bahkan aku akan mengatakan semuanya!" ancam Zain.
"No, Uncle! Apa Uncle nggak mikirin perasaan mereka?! Semalam nenek Mariana saja sampai syok, bagaimana dengan buyut Flo? Dia sudah sangat tua Uncle, tolong mengertilah!" jelas Kaira.
"Kau menyuruh ku untuk mengerti? Lalu siapa yang akan mengerti hati dan perasaanku, hubungan kita? Siapa pula yang akan mengerti jika kau hamil tanpa status istri yang kau sandang! Hah?!" penuh penekanan juga dengan hati yang geram Zain berucap.
"Pikirkan dirimu juga Kai!" Zain beranjak dari ranjang, ia mengenakan pakaiannya yang tercecer di lantai.
Kaira masih terisak dengan air mata yang mengalir tiada henti, setelah Zain keluar dari kamar dengan keadaan hati yang kacau, Kaira meraih gawai canggih yang ada di atas nakas.
Di scroll nya layar benda canggih itu hingga ia menemukan satu nama di sana, Sinta, ya hanya nama itu yang terpikirkan olehnya, karena kebetulan Sinta satu pekerjaan dengannya.
__ADS_1
📤[Sin?]
Satu pesan singkat itu terkirim tapi tak kunjung mendapatkan balasan dari seberang sana.
Jam delapan pagi, Kaira tetap sudah rapi dengan pakaian kantornya, berangkat bareng dengan uncle tampannya, sepi keadaan rumah besar ini, entah kemana perginya orang tua Zain.
Tapi kali ini Zain dingin, ia tak menunjukkan sifat jahilnya, bahkan kecupan singkat yang ia lakukan setiap kali bercanda tak ada lagi pagi ini.
"Kenapa Uncle marah? Aku hanya tidak mau orang tua kita saling berseteru hanya karena hubungan tidak jelas yang kita jalani ini." batin Kaira kala ia menatap Zain.
Laki-laki tampan di sampingnya itu sedikitpun tak menoleh ataupun melirik ke arah Kaira.
Perjalanan dengan mode hening ini terasa sangat lama, sampai akhirnya mereka tiba di gedung perkantoran Zora Group.
Setibanya di sana Kaira dan Zain lantas berpisah, sepatah katapun tidak Zain ucapkan kepada gadis cantik yang biasa mengisi hari-harinya.
Kaira berusaha memahami ketidak nyamanan hati Zain, gadis itu terpaksa harus melakukan itu demi perdamaian keluarga dan juga nama baik keluarga, sama seperti yang Mariana ucapkan.
Ternyata sindiran secara tidak langsung yang Mariana cetuskan semalam berhasil menembus benteng keras yang ada di dalam hati dan otak Kaira.
Di tatapnya punggung Zain yang kian berlalu, "Kamu kuat Kai! Toh setidaknya 9bulan lagi akan ada keturunannya yang akan menghiasi hari-hariku." gumamnya.
Kaira berjalan gontai menuju ruang kerjanya. Tak terasa dengan membayangkan pergi dari kehidupan Zain saja air mata Kaira sudah kembali luruh membasahi pipinya.
"Dor!! Hayo bengong!" teriak Sinta yang baru saja datang.
"Kamu kenapa Kai? Kamu nggak sehat? Kamu pucat pagi ini." ucap Sinta dengan menempelkan punggung tangannya di kening Kaira.
Kaira menggeleng, "Nggak kok, ini lupa pakai lipstik aku." alasan Kaira mampu diterima Sinta.
"Oh iya Sin, nanti makan siang ada yang mau aku omongin." ucap Kaira mengingat rencananya.
"Ok, nanti kita makan siang bareng ya!" sahut Sinta tanpa rasa curiga sedikitpun, obrolan keduanya harus mereka sudahi karena rekan kerja yang lain pun sudah tiba di ruangan tersebut, kembali mereka mengerjakan pekerjaan masing-masing.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Mariana dan Gautam sengaja terbang ke Jawa Tengah, ya kediaman Flora lah tujuan mereka.
Kedatangan keduanya disambut hangat oleh semua anggota keluarga, bagaimana tidak, mereka sudah lama sekali tidak menginjakkan kaki di kediaman mewah ini.
"Akhirnya anak bungsuku masih ingat pulang juga." Flora dengan duduk di atas kursi roda membentangkan kedua lengan bahkan senyum bahagia menghiasi wajah keriputnya.
"Eh ada tamu jauh nih." Annisa sengaja membercandai kedatangan Om dan Tante nya.
"Ibu kamu mana Nis?" tanya Mariana setelah tangan kanannya di sambut oleh ciuman khidmat dari Annisa.
"Ada Tante, di kebun, kalau jam-jam segini Ibuk sama Bapak belum pulang." sahutnya.
__ADS_1
"Suruh pulang Nis, ada yang perlu kita bicarakan." ucap Gautam, biasa dengan ekspresi wajah garangnya.
"I... iya Om." sahut Annisa, lantas perempuan dua anak itu segera beranjak dari tempatnya.
Sekian menit kemudian...
Semua keluarga besar Flora sudah berkumpul hanya minus Zain, dan Kaira bahkan Marcel sengaja di telfon untuk segera pulang.
Mereka semua berwajah serius, bahkan Annisa tak hentinya menitikkan air mata, Zahira yang duduk di samping sang ibu terus saja mengelus punggung ibunya.
"Maaf Om, Nisa lalai, Nisa gagal!" ucap Annisa dengan segala penyesalannya, setelah ia mendengar bagaimana kedekatan Zain dan Kaira.
"Sebenarnya Zain sudah berkata hari itu, dia bilang mau menikahi Kaira saja, tapi Nisa menanggapinya dengan candaan, Nisa kira dia hanya bercanda... hiks... hiks..." imbuhnya dengan tangis yang tak terbendung.
"Sebelum lebih lanjut hubungan keduanya lebih baik, pulangkan saja Kaira!" ucap Marcel.
"Apa sudah gila kamu Cel!" sahut Gautam dengan suara baritonnya, Mariana segera memasang tampang siaga satu, ia masih menentang usulan suaminya untuk menikahkan kedua muda-mudi itu.
"Kalau kau memisahkan mereka, apa jadinya jika Zain malah frustasi kemudian tidak dapat fokus dengan pekerjaannya, dan bagaimana dengan hati dan perasaan Kaira? Apa kalian tidak pernah mencintai seseorang?! Coba kau tempatkan posisimu di posisi mereka!" cecar Gautam.
Semua terdiam, "Jangan gila kamu Mas! Kamu masih kekeuh dengan keputusan mu semalam untuk menikahkan mereka? Apa kata orang mas?!" Mariana membuka suara dia tak setuju dengan usulan sang suami.
"Mariana!" bentak Zain.
Tarkatup sudah mulut Mariana, "Kalian ini cobalah berpikir dengan logika, dampaknya akan tidak baik bagi perusahaan ku juga kepada kedua anak muda itu!" Gautam sedikit geram dengan semua orang yang terlalu memikirkan nama baik keluarga.
"Lagi pula, Kaira akan tinggal di Jakarta, bukan di kampung!" imbuh pak tua itu dengan elegannya.
"Toh jika perusahaan anjlok, imbasnya juga ke keluarga kita, bukan hanya aku saja!" lagi-lagi Gautam berujar.
"Ya sudah, bagaimana baiknya saja! Aku ngikut kamu saja Tam!" kali ini nenek tua yang duduk di atas kursi roda ikut bersuara, bagaimanapun semua menyangkut soal keluarganya.
"Deal, jadi keputusan akhir, kita nikahkan saja mereka!" Gautam berucap, sedangkan yang lain setuju dengan mengiyakan keputusan akhir itu.
Drrrrrtttttzzz...
Drrrrrttttzzzz...
Dtrrrrrttttzzzz...
Dering ponsel membuat Gautam mengalihkan atensinya kearah kantong celana yang menyimpan gawai canggih di sana.
Dirogohnya ponsel yang berdering itu, dan segera Gautam menggeser tombol hijau setelah ia membaca nama Zain di layar ponsel itu.
"Halo Zain? Ada apa?"
Terlihat serius Gautam menunggu Zain berucap, "Ngomong yang jelas! Ada apa dengan Kaira?" raut panik tercetak jelas di wajah laki-laki yang tak muda lagi.
__ADS_1
"Apa hilang?!...