
Zain berhasil di ringkus kembali oleh para bodyguard kiriman ayahnya, laki-laki tampan itu ditahan oleh empat orang, "Lepas! Lepasin gue! Kalian berani nyakitin Kaira, lihat apa yang bakal gue lakuin sama kalian!" berontak Zain dengan terus berucap.
"Maaf sebenarnya kalian ini siapa? Zain ini ada di rumah neneknya, dia anak kota yang kurang paham dengan adat desa, mohon maaf jika adik saya ini membuat kesalahan." sopan Annisa meminta maaf.
"Maaf Nona, saya ini dari ZG-KNIGHT, bawahan Tuan besar Gautam, dan ini perintah dari beliau untuk membawa Tuan Muda kembali ke kota, dengan alasan, besok hari pengesahan Tuan Muda." salah satu dari bodyguard ZG-KNIGHT berucap dengan sopan.
"Sekali lagi mohon maaf untuk kerusuhan yang kami perbuat, kami mohon undur diri." masih berbahasa sopan anggota ZG-KNIGHT itu berpamitan.
Tidak bisa berbuat apa-apa Annisa, karena itu adalah keputusan dari Om nya yang tak lain adalah Gautam Zora.
"Mbak, titip Kaira." lirih Zain dan itu hanya di angguki oleh Annisa, sejujurnya ibu dua anak itu merasa bingung, memangnya siapa Kaira? Kok Zain nitip ke Annisa? Bukannya Annisa itu ibunya? Tidak usah dibilang begitu juga Kaira bakal di jaga Annisa.
Mengingat kejadian sore menjelang petang tadi Annisa jadi ingat ucapan Zain yang terakhir sebelum para bodyguard itu membawanya pergi "Titip Kaira." terngiang kata-kata Zain itu Annisa baru mengetahui.
Pantas saja Zain berkata demikian, lihat saja Kaira sudah seperti orang yang kehilangan barang berharga, paniknya tidak ketulungan, tapi sudah lebih mendingan karena Annisa sudah mengatakan yang sesungguhnya.
Gadis remaja itu sudah memasuki kamar, kini Annisa tengah duduk di dalam kamar tepatnya di sisi ranjang, sedangkan Marcel tengah membaca dokumen-dokumen yang dibawanya pulang.
"Mas?" panggil Annisa.
"Dalem sayang? (Apa sayang?)" sahut Marcel dengan menatap istrinya.
"Nisa pen cerita."
"Mau cerita ya monggo, Mas dengerin." dengan santai Marcel berucap.
"Kalau misal Zain sama Kaira punya hubungan spesial, apa boleh?"
Terdiam Marcel menatap sang istri, di tutupnya dokumen yang baru saja diperiksanya.
"Gimana Yank? Maksud mu? Mereka ada hubungan gimana?" Marcel beranjak dari meja kerjanya, ia berjalan mendekat kearah ranjang, dimana istrinya duduk.
"Mas lihat sendiri kan, kalau Kaira tadi begitu paniknya mendapati Zain yang ndak ada di rumah?" jelas Annisa, Marcel masih terdiam, mengernyit kening bapak dua anak itu.
"Juga Zain sempet bercanda sama aku, kalau dia minta di nikahkan sama Kaira saja dari pada gadis lain, terus sebelum dia pergi tadi Zain sempet bilang, nitip Kaira, lha wong Kaira itu anak ku kok, masa iya Zain nitipin Kaira ke ibuknya sendiri, kan aneh mas." cecar Annisa.
Di sana terlihat Marcel memijit pelipisnya, mungkin bapak dua anak itu mulai merasa pening dengan kejadian ini, apa lagi Kaira itu anak sulungnya.
" Mungkin mereka mulai dekat, mulai nyaman, mulai akrab dengan keponakannya, makanya Zain perduli sama anak kita." sahut Marcel berusaha menenangkan Annisa.
"Ya... semoga begitu." sahut Annisa dengan menyandarkan kepalanya di belahan dada bidang Marcel.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Di sebuah hunian mewah bak istana negeri dongeng, para pelayan yang hampir berjumlah puluhan terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Di beberapa titik juga ada penjaga yang berjaga dengan ketat dan penuh kewaspadaan, bodyguard dengan lambang ZG-KNIGHT yang berjumlah lebih dari ratusan ada tersebar di beberapa tempat.
Sedangkan di dalam kamar mewah, terlihat seorang laki-laki dengan raut wajah masamnya duduk di sofa singelnya yang berwarna hitam, ya... nuansa kamar itu serba hitam dengan paduan gold di beberapa bagian.
Asap mengepul dari bibir yang baru saja menghisap putung rokok yang diapit oleh jarinya.
CEKLEK!
Suara pintu kamar itu terbuka, terlihat seorang laki-laki dengan umur yang lebih dari setengah abad memasuki kamar bernuansa hitam itu.
"Zain, besok bersiap kekantor, karena hari pengesahan mu besok!" ucap laki-laki tua itu yang tak lain adalah Gautam Zora
Zain sedikitpun tak menjawab, ia masih asik dengan rokoknya yang terus saja mengepulkan asap.
__ADS_1
"Pertunangan mu beberapa minggu lalu kau batalkan secara sepihak! Lalu apakah kau juga akan membuat malu Ayah dengan membatalkan acara besok?"
"Ayah masih gagah untuk menjabat sebagai CEO ZG!" ketus Zain menyahuti.
"Kau pilih menikah dengan Zoya atau memimpin perusahaan keluarga kita?!" Gautam dengan gigi yang menggelutuk menahan amarah.
"Haaaahh... iya iya besok Zain datang!" ucap Zain dengan mematikan putung rokok yang sudah memendek.
Merasa berhasil dengan bujuk rayunya, Gautam cukup merasa senang, pak tua itupun segera meninggalkan kamar Zain.
"Good night boy." Ucapan selamat malam itu berhasil mengembangkan sedikit senyum dari Zain.
Namun setelah Zain sendirian di kamarnya, "I Love You Handsome Uncle"
"Kai?" celingukan Zain mencari sumber suara, "Ah mungkin gue udah mulai gila, ini kan di Jakarta, mana mungkin Kaira di sini." gumamnya.
Kembali Zain menyandarkan punggungnya di sandaran sofa singelnya. Baru saja ia memejamkan mata, bayangan tentang Kaira kembali muncul.
"Istri cantik Uncle, sedang apa kira-kira?" gumam Zain dengan lengkung senyum di bibir tapi netra tajam yang berair.
Bayangan dimana dengan cerobohnya Kaira mencium bibirnya di depan umum membuat Zain memejamkan mata dengan mengelus bibirnya.
"Kaira..." lirihnya dengan bulir bening yang meluncur dari sudut mata.
Malam sepi itu Zain isi dengan kenangan-kenangan manis yang mampu menumbuhkan rasa rindu yang begitu menyiksa kalbu.
Air mata menjadi saksi bisu, walau mulut membisu, tapi batin menangis pilu, tak ada yang tau melainkan kedua insan yang kini terhalang oleh jarak dan waktu, dan hanya Tuhan lah yang akan membantu mereka untuk bertemu.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Pagi hari Zain sudah rapi, sesuai dengan pilihan yang Gautam berikan, pria tampan itu lebih memilih menggantikan jabatan ayahnya dari pada harus menikah dengan wanita yang kini sudah sangat di bencinya.
Mengangguk singkat Zain, "Siap." menjawab pun hanya dengan satu kata.
Tersenyum Gautam dengan sikap anaknya yang terlampau dingin, tak jauh dari sifatnya sebagai ayah.
Keduanya berangkat bersama, dengan mobil mewah fasilitas tak terbatas, bahkan sopir canggih duduk dibalik kemudi, beberapa mobil mengawal di depan dan belakang mobil CEO utama Zora Group.
Suasana yang sangat membuat Zain muak, tidak sebebas kemarin saat dirinya masih di kampung, lagi-lagi Zain merindukan suasana kala dirinya bersama Kaira.
Terdiam Zain bukan berarti marah, dia hanya sedang tenggelam saja di dalam kenangan manisnya.
"Dapat apa kamu di kampung nenek mu? Sepertinya kau enggan meninggalkan desa kecil itu?" tanya Gautam yang sedari tadi memergoki Zain yang terdiam dan sesekali mengulas senyum tipis, dan kadang mata tajam itu terlihat sendu, yang mengisyaratkan hatinya tengah dilanda rasa pilu.
"Mendapatkan calon istri." sahut Zain singkat, bahkan ia tak menatap wajah Gautam yang ada di sampingnya.
"Ayah serius Zain." ucap Gautam dengan menatap tajam putra semata wayangnya.
"Zain juga serius Ayah!" kini Zain menatap balik wajah serius Gautam.
"Apa maksud mu?!"
"Zain menemukan calon istri di desa kecil itu!"
"Kenapa tidak kau bawa saja ke kota dan kau nikahi!"
"Tidak semudah itu Ayah, dia masih sekolah! Biarkan dia sukses dengan masa depannya dulu."
"Kau berhubungan dengan anak di bawah umur?" mengernyit kening Gautam.
__ADS_1
"Iya, dan jika tidak dengan dia, Zain tidak mau menikah!" pas sekali obrolan keduanya kini terhenti karena mobil yang mereka kendarai sudah tiba di tempat tujuan.
Zain keluar lebih dulu dari dalam mobil, sedangkan Gautam masih di dalam mobil, orang tua itu menepuk pundak sang sopir, "Siap Tuan besar!" sahut sopir yang bernama Kuncoro.
"Saya mau kalian selidiki siapa gadis yang sedang dekat dengan Tuan Muda kalian, lalu cari tau juga latar belakangnya, bagaimana rupanya dan saya tidak mau menunggu lama!" perintah itu langsung di iyakan oleh Kuncoro.
Gautam segera keluar dari dalam mobil sedangkan Kuncoro terlihat menghubungi para anggota ZG-KNIGHT melalui grup chat yang mereka bentuk.
📤 [Tugas baru ZG-KNIGHT, mencari gadis yang dekat dengan Tuan Muda Zain]
Pesan itu terkirim ke seluruh ponsel anggota ZG-KNIGHT.
Salah satu anggota ZG-KNIGHT yang ikut serta dalam meringkus Zain dari rumah Flora segera membalas.
📥 [Lapor pak Kun! Saya tahu!]
📤[Segera cari tahu latar belakangnya kalau bisa beserta fotonya!]
Cukup lama Kuncoro menunggu balasan itu dan setelah sekian lama menunggu akhirnya satu buah pesan yang berisi foto dan biodata juga latar belakang seorang gadis masuk kedalam ponselnya.
Tak mau menunggu lama, Kuncoro segera mengirimkan pesan itu kepada Gautam selaku yang memberikan tugas.
Di dalam ruangan CEO utama...
Gautam tengah membahas soal acara peresmian Zain, namun tiba-tiba ponselnya berdering.
"Sebentar!" ucap Gautam menghentikan rapat itu kemudian meraih ponselnya, dan di bukanya pesan dari Kuncoro, si Sopir canggihnya itu.
📥
Melihat foto yang dikirim Kuncoro, Gautam terlihat sedikit mengembangkan senyuman, "Lumayan, cantik juga." gumam nya dengan sesekali melirik ke arah Zain.
Namun kemudian ada pesan susulan...
📥[Namanya Kaira Vexsana, umur 17 tahun, dia pelajar, sepertinya dia pandai karena info mengatakan dia mengikuti kelas akselerasi, juga dia atlet pegulat, pernah memenangkan berbagai perlombaan, keluarganya terbilang kaya, mempunyai kebun teh berhektar-hektar panjangnya, dia anak sulung dari Annisa dan Marcel.]
Setelah membaca isi pesan itu, wajah Gautam memerah, sepertinya orang tua itu memendam emosi untuk para bodyguardnya.
Terlihat jemari Gautam mengetik di layar ponselnya.
Di satu sisi...
Kuncoro tengah duduk di pos satpam bermain catur dengan satpam yang bernama Agus, "Ayo Kun, giliran mu!" ucap Agus.
"Bentar hp ku bunyi!" Kuncoro meraih ponsel yang ada didalam saku bajunya kemudian membuka pesan, dan membelalak lah kedua matanya, "Ada apa Kun?"
"Mampus aku Gus!"
"Lho yo jangan dulu to, selesaikan dulu ini lo!" Ucap Agus dengan menunjuk papan catur yang ada di depan keduanya.
Bukannya menjawab Kuncoro malah menampakkan isi pesan yang dikirim bosnya.
📥[Mau cari mati kamu Kun?! Bercanda kamu! Gadis ini cucu dari kakak ku! Beraninya kamu mengirim biodata nya!]
"Lho, la kamu itu gimana to Kun?" Agus malah ikut-ikutan menyalahkan Kuncoro.
"Aku nggak tau Gus, tadi cuma dapat laporan dari anak-anak." Kuncoro menggaruk tengkuknya, bingung dan takut mungkin menjadi satu saat itu...
__ADS_1