
Di atas rooftop...
Jova yang malu-malu masih duduk berhadapan dengan Jefri yang cuek dan kaku, terlihat Jefri menilik arloji hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Bukan lagi malam, kini sudah hampir mendekati lewat larut malam, ya... waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB.
"Pak Zain kemana ya? Kok lama sih?" gumam Jova dengan menyilang kan kedua lengan di depan dada dan sesekali tangannya mengusap-usap lengannya sendiri.
"Kau kedinginan?" tanya Jefri, nadanya memang datar tapi ada sedikit perhatian di dalamnya.
Jova tersenyum tipis, kembali pipinya memerah, "Sedikit Jef." lirih nya masih menundukkan pandangan.
"Jalan-jalan yuk, biar nggak dingin!" terdengar lucu memang ajakan seorang Jefri yang terdengar kaku.
Jova mengangguk, keduanya berjalan beriringan, udara kota Semarang memang lumayan dingin, kini Jova berjalan beriringan dengan Jefri.
Sesekali Jova mencuri pandang kearah pria tampan yang berambut panjang itu, masih di area rooftop keduanya, mereka melihat-lihat keadaan kota ditengah desa ini dari atas.
"Jef, apa itu taman di samping bangunan ini?" tanya Jova yang melihat taman yang tertata rapi.
"Hem, biasanya banyak pasangan muda-mudi yang main kesana." sahut Jefri.
"Kau mau ke sana?" imbuh Jefri menawarkan, "Boleh." sahut Jova, sungguh beruntung Jova malam ini bisa sedekat ini dengan Jefri yang sudah lama di kaguminya.
Mereka berjalan masih dengan beriringan, Jova dengan kedua tangan yang masih mengusap lengannya, sedangkan Jefri dengan gaya kerennya memasukkan kedua tangan kedalam saku celananya.
Setibanya di taman, langkah kaki Jova terhenti tatkala ia mendapati dua sejoli yang tengah berpeluk mesra.
"Ada apa?" tanya Jefri, memerah sudah pipi Jova, "sebaiknya kita jangan ke sini Jef." ucapnya dengan menunduk.
Jefri tak mengerti, ia menaikkan salah satu alisnya, "Kenapa? Apa kau masih kedinginan?" tanya Jefri.
"Iya." Jova malu untuk mengatakan alasan ketidak nyamanan nya, alhasil ia hanya mengiyakan saja pertanyaan Jefri.
Tanpa di duga, Jefri melepas resleting jaketnya, kemudian dari arah belakang ia memeluk tubuh Jova, "Maaf, karena aku juga dingin, sementara begini dulu."
Jefri menancapkan dagunya di pundak Jova, sedangkan tangannya masih erat memeluk Jova, tubuh Jova yang ramping dengan mudah masuk ke dalam dekapan tangan dan juga jaket Jefri.
__ADS_1
Debaran-debaran jantung membuat wajah Jova kian memerah, "Jef..." lirihnya.
"Hem?" sahut Jefri, Jova tak melanjutkan ucapannya, ia malah melihat sepasang kekasih yang sepertinya tengah asik berciuman, sontak Jova membuang muka.
"Kau ini kenapa?" tanya Jefri, Jova hanya menggeleng, Jefri menghela nafas dan tak sengaja melihat pasangan yang tadi di lihat oleh Jova.
"Ekhem... Itu yang membuat mu malu?" tanya Jefri menunjuk kearah bangku taman dengan dagunya, Jova menoleh memastikan, "Hem..." singkat Jova, kemudian gadis itu kembali menunduk "Sungguh ini pemandangan yang tidak sehat." batin gadis itu.
Tapi entah mengapa pemandangan yang mereka hindari itu seolah menjadi magnet yang menarik pandangan mata keduanya.
Pandangan Jova sesekali melirik kearah sepasang kekasih, dan kembali gadis itu menunduk, ditambah dengan hembusan napas Jefri yang menerpa leher putihnya membuat perasaan Jova semakin tak karuan.
"Sebaiknya kita kembali ke kamar saja." ajak Jefri, yang segera di iyakan oleh Jova.
Di kursi taman...
Setelah pengakuan yang Kaira ucap juga kesepakatan keduanya, kini Zain memandang gadis yang selalu mengganggu otak dan pikirannya.
"Kau cantik." lirih Zain dengan menyelipkan anak rambut Kaira kebelakang telinga gadis itu.
Tersenyum malu Kaira, ia menunduk, tapi Zain segera mengangkat wajah gadis itu agar memandang kearahnya.
Sangat menikmati sentuhan lembut yang Zain berikan, Kaira hanya meremas kerah jaket Zain, sedangkan Zain terus menekan tengkuk dan punggung Kaira agar semakin mendekat.
Udara dingin di sana seolah sangat mendukung kegiatan kedua sejoli beda generasi itu, sejenak Zain melepas tautan mereka, Kaira terlihat masih memejamkan matanya, kembali Zain mengecup bibir yang sedikit menganga itu, kini napas keduanya semakin memburu seperti ada nafsu yang sangat menggebu.
Kaira mendorong dada Zain sampai terlepas tautan bibir keduanya untuk sejenak gadis itu menghirup udara, bibir Zain masih sedikit menganga seolah berharap Kaira menyatu kembali.
Zain menatap leher jenjang yang tertutup rambut panjang yang tergerai, tatapan sayu Zain mengarah pada rambut itu, di sibaknya rambut Kaira kemudian Zain mengecup leher jenjang gadis itu, aroma wangi shampo dan parfum yang Kaira aplikasi kan pada tubuhnya membuat Zain semakin menyesap dalam ceruk leher Kaira.
"Akh... Uncle... " lirih Kaira, ia merasa ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam dada dan perutnya.
"Hem?" sahut Zain yang masih stay di ceruk leher Kaira.
"Jangan begini!" lirih Kaira dengan mendorong tubuh Zain, Zain menjauh dari leher Kaira kini beralih CEO tampan itu menatap wajah cantik gadis itu.
"Kenapa? Bukankah tubuhmu merespon dengan baik? bahkan ciuman mu sudah lebih baik dari pada beberapa minggu yang lalu." Zain berucap dengan mengusap bibir bawah Kaira, "Apaan sih Uncle!" tersipu malu Kaira memukul pelan dada Zain.
__ADS_1
Keduanya tergelak bersama dan berakhir dengan saling pelukan, "Mau ke kamar Uncle?" tanya Zain dengan mengecup pucuk kepala Kaira.
Kaira melepas pelukannya, "Mau apa?" mengerut kedua alis gadis itu.
"Hahaha... dasar mesum!" ucap Zain mendorong kepala Kaira dengan jari telunjuknya.
Semakin bertaut kedua alis Kaira, "Kok mesum? Nggak lah! Kan Kai cuma tanya, mau apa?" sewot gadis itu.
"Hahahaha... kamu nanya?" tawa Zain meledak dengan pertanyaan bahkan bibir nya dibuat-buat, hingga membuat Kaira melotot dan kemudian membuang muka.
"Cieee marah cieee..." Zain semakin menjadi, ia Malah mentoel-toel pipi Kaira, "Apa sih! Awas ah!"
Kaira bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan Zain, "Hey! Kok malah pergi sih?" teriak Zain tang sedikitpun tak di gubris oleh Kaira.
Terus melangkah dengan wajah cemberut, Kaira masuk kedalam alat transportasi vertikal itu, namun belum sempat pintu lift itu tertutup, Zain sudah lebih dulu menyusulnya.
Napas Zain terengah-engah karena ia baru saja berlari, posisi Zain berdiri di depan Kaira, laki-laki itu memunggungi pintu lift.
Kedua netra itu bertemu, ingin menggunakan situasi, Zain mendekat kan bibirnya, "Hey anak muda! masuk lah kamar terlebih dahulu! Dasar pasangan mesum!" umpat seseorang yang saat itu baru saja memasuki ruang lift.
Sontak Zain segera menegakkan posisi berdirinya, puas hati Kaira mendapati Zain yang memerah wajahnya.
Ketika mereka keluar dari dalam lift, orang tua paruh baya tadi juga kebetulan ikut keluar, dan saat Kaira hendak memasuki kamar yang berbeda orang tua itu berucap.
"Kenapa tidak satu kamar saja dengan suami mu?! Tidak baik bermesraan ditempat umum, begitu balik kamar malah kamarnya sendiri-sendiri, atau jika ada maslah alangkah baiknya kalian bicarakan baik-baik, jangan malah pisah ranjang seperti itu!" ucap pak tua itu dengan menatap tajam kearah Kaira dan Zain secara bergantian.
Terdiam sejenak Zain dan Kaira, berpikir keras otak Zain kala itu, "Oh iya pak, istri saya ini memang pemarah." menyahut sopan Zain dengan sedikit membungkuk.
"Ayo lah sayang, jangan seperti itu, jangan merepotkan tetangga kamar kita ayo masuk, mas minta maaf ya?" ucap Zain dengan menarik paksa pinggang Kaira, sedikit memamerkan kemesraan agar orang tua itu segera pergi.
Tapi bukannya pergi pak tua itu masih melihat dua sejoli itu hingga menghilang dibalik pintu kamar Zain.
BRAK!!!
Zain menutup pintu kamar, lalu ia menatap Kaira, begitu juga dengan gadis itu, "Uncle jangan aneh-aneh ya!"
Zain hanya tersenyum miring dan melangkah mendekat ke arah Kaira, sedangkan gadis itu terus saja mundur hingga punggungnya membentur dinding.
__ADS_1
"Uncle stop!...