
Hari terus berlalu, kini saatnya Kaira dan teman-teman berangkat melakukan rencana mereka, sudah dibahas di dalam grup chat kalau mereka akan membawa mobil milik Kaira, karena ya hanaya beberapa siswa saja yang ikut tidak banyak.
Kaira berpamitan dengan semuanya kalau akan menginap selama dua hari di Semarang, "Hati-hati sayang, pokoknya Ibuk percaya sama kamu, ingat masih ada jenjang kuliah yang harus kamu lalui, perpisahan ya perpisahan tapi ingat jangan sampai kelewatan!" wejangan Annisa sebelum Kaira melaju menggunakan mobilnya selalu di ingat oleh gadis itu.
Setibanya di rumah Risa, terlihat Fadli, Irvan, Sinta dan Risa sudah stay di teras depan dengan berbagai koper dan tas ransel yang di bawanya.
"Tujuan kita kemana sih?" tanya Kaira yang baru saja turun dari mobilnya.
"Semarang... " gumam Risa dengan mengetuk-ngetuk dagunya.
"Gimana kalau deket-deket Lawang Sewu? Kan memacu adrenalin." saran gila diucapkan oleh Irvan.
"Ho'oh, gen ngko kunti ne ngintili awak mu! (Iya, biar ntar kuntinya ngikutin lo!)" cetus Risa yang sangat mudah tersulut emosi.
"Yo nek ngintil aku, lak yo awak mu barang, wong awak e dewe lo, bareng-bareng! (Ya kalau ngikutin gue, kan ya lo juga, orang kita loh, bersama!)" cetus Irvan tak mau kalah.
"Ish ki bocah njaluk di pithes yakin!" geram Risa berusaha menghajar Irvan.
"Ish udah deh kalian itu udah kek Tom and Jerry tau nggak!" bentak Kaira dengan wajah kesalnya.
"Jadi kita kemana ini?" tanya Kaira berwajah serius.
"Sebenarnya saran dari Irvan ok juga sih Kai, spot foto di Lawang Sewu bagus loh." ucap Fadli.
"Ok kita ke sana!" Setuju tidak setuju kalau Kaira sudah bilang Ok, mau tidak mau semua juga Ok.
Kelima remaja itu mulai memasuki mobil satu persatu, tetap Kaira yang mengemudi, gadis itu sudah stay di balik kemudi.
"Sopo sing wis weruh dalan e? Opo nek ra sing lancar moco MAP? (Siapa yang udah tau jalannya? Atau nggak, yang lancar baca MAP?)" tanya Kaira kala temannya sudah stay di jok belakang semua.
Saling pandang satu sama lain, "Awak mu biasane karo Kaira lo Ris! (Lo biasanya sama Kaira loh Ris!)" ucap Irvan.
"Aku lo ra yakin moco MAP, ko wayah belok kanan malah tak kon belok kiri pie? Bukane tekan Lawang Sewu, malah tekan omah e rondo, pie jal? (Aku loh nggak yakin baca MAP, ntar harusnya belok kanan malah aku suruh belok kiri, gimana? Bukannya nyampe Lawang Sewu, malah nyampe rumahnya janda, gimana coba?)" beralasan Risa, pada dasarnya ia tidak pernah menggunakan aplikasi yang bernama google Map, dan melihat Kaira yang sedari tadi marah-marah terus, Risa lebih baik mengundurkan diri saja.
"Ris!" bentak Kaira, membuat semua yang tertawa mendadak bungkam, kembali saling lempar pandangan, akhirnya Fadli mengalah untuk duduk di samping Kaira.
"Dah aku aja!" sela Fadli yang segera berpindah untuk duduk di depan.
Setelah drama pendek itu, kelima remaja itu mulai melaju merayap menyusuri jalan raya yang terbilang cukup ramai.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Beberapa jam yang lalu...
Perjalanan bisnis Zain berjalan lancar, baru saja ia selesai meeting dengan Kliennya, hari mulai menunjukkan kegelapan nya, "Istirahat dulu Jef, cari penginapan kek!" sahut Zain yang duduk di kursi penumpang bagian belakang, sedangkan Jefri sebagai sopir dan Jova duduk di samping Jefri, di jok penumpang bagian depan.
"Mau ke Hotel aja atau kemana Tuan?" tanya Jefri dengan sesekali melihat Bos nya dari kaca spion bagian tengah.
"Serah lo aja deh, yang penting deket, udah capek gue! ini juga hampir tengah malem!" cetus Zain.
"Maaf Pak, Hotel yang saya boking cukup dekat dengan lokasi kita saat ini, dekat simpang lima di depan sana." Jova membuka suara.
"Nah tu Jef, ngobrol sama Jova, gue terima jadi aja!" sudah memejamkan mata Zain melepas kaca mata nya kemudian memijit pelan batang hidungnya.
__ADS_1
Setibanya mereka di hotel, Jova langsung menghubungi resepsionis nya untuk kembali cek in, sedangkan Jefri dan Zain menunggu tak jauh dari sana.
"Silahkan mbak." ucap petugas wanita yang menjaga meja resepsionis.
"Terimakasih." singkat Jova berucap dengan meraih tiga kunci kamar yang di berikan padanya.
Ketiga rekan kerja beda kedudukan itu segera menuju kamar masing-masing dan beristirahat dengan leluasa.
Pagi hari waktu sudah menunjukkan pukul 09.00WIB, Zain keluar dari kamar hotelnya bertepatan dengan itu Jova juga keluar dari kamarnya.
"Cari makan yuk Jov!" ajaknya.
"Tapi Pak, Jefri gimana?" tanya Jova.
"Dah dia lama kalau bangun, bungkus in aja udah." cetus Zain, bersamaan dengan itu pintu kamar Jefri terbuka.
"Kalian mau cari makan?" tanya Jefri dengan raut wajah datarnya.
"Nah ni anaknya muncul, yuk ah kita jalan!" ucap Zain dengan berjalan memasuki lift yang kebetulan kosong.
Tanpa menjawab keduanya segera mengekor dibelakang Zain, tak butuh waktu lama Zain dan kedua rekannya sudah tiba di lantai bawah TING!!
Pintu lift terbuka dan saat itu lah ada gerombolan anak-anak remaja yang berpapasan ketika Zain keluar dari lift dan gerombolan remaja berjumlah sekitar lima anak itu memasuki lift.
Zain seperti melihat gadis yang tak asing baginya, sekilas kedua mata itu bertukar pandangan.
Namun Zain terus berjalan saat Zain menoleh lagi kebelakang pintu lift mulai tertutup, "Kok kaya pernah lihat ya? Tapi nggak mungkin ah ini kan Semarang, mana mungkin ada yang kenal sama gue, apa lagi itu gerombolan bochil bau kencur." gumam Zain.
"Ada apa Tuan? Apa mereka tadi mengganggu Tuan?" tanya Jefri yang mendapati Tuannya bergeming memandang pintu lift yang sudah tertutup rapat.
Di dalam lift kelima remaja yang tak lain adalah Risa, Fadli, Irvan, Sinta dan Kaira tengah menunggu pintu lift terbuka.
TING!!
"Haaaahhh... Akhirnya keluar juga, deg-degan gue!" seru Irvan dengan mengelus dadanya.
"Hieleh... Cemen lo!" sentak Risa, yang lain hanya geleng-geleng kepala.
Setelah membagi kamar mereka masuk kedalam kamar masing-masing, yang mana Fadli bersama dengan Irvan sedangkan Kaira bersama dengan Risa dan Sinta.
Melalui grup chat mereka saling berhubungan...
Fadli : Gimana kalau malam nanti kita makan-makan di rooftop aja?
^^^Sinta : Setuju, pasti suasana nya jadi romantis-romantis gitu, kan? ^^^
Irvan : Lo doang Sin yang setuju? Jangan-jangan lo mau romantis-romantisan sama Fadli ya?
^^^Sinta : Eh ngga kok! Ini juga lagi pada beberes, jadi ini keputusan bertiga, bukan cuma gue! ^^^
Fadli : Ok girls, selamat istirahat, ketemu ntar sore ya?!
^^^Sinta : Iya Fad, lo juga istirahat ya? ^^^
__ADS_1
Irvan : Dih gue kek obat nyamuk di sini, mana nggak ada yang ngucapin selamat istirahat lagi.
^^^Risa : Nih gue kasih! Selamat istirahat curut! Sampai bertengkar nanti! ^^^
Irvan : Njir!
Setelah itu mereka benar-benar beristirahat, sedangkan Kaira masih kalut dengan pikirannya seputar laki-laki yang tadi berpapasan dengannya di lift.
"Siapa dia? Kok kek mirip Uncle sih?" gumamnya yang membuat Risa teralihkan perhatiannya dari ponsel, ia menatap Kaira yang duduk di tepi jendela kamar hotel.
"Enek opo Kai? (Ada apa Kai?)" tanya Risa yang begitu perduli dengan sahabatnya itu.
"Ngga kok, aman!" sahut Kaira dengan tersenyum kecut.
Risa masih penasaran dengan Kaira, "Yo gene lo? Kepikiran opo? Uncle ganteng mu ta? (Kenapa sih? Mikir apa? Uncle ganteng mu?)" tanya Risa.
"Kok ngerti?" Kaira sontak memandang Risa.
"Yo mau kek ngerti Uncle mu pas papasan neng lift.(Ya tadi kaya liat Uncle lo pas tadi papasan di lift.)" sahut Risa.
Sejenak ia ingat dengan Kemal yang ditemuinya beberapa hari yang lalu.
Diam-diam Risa masuk kedalam kamar mandi, ia berusaha menghubungi Kemal tanpa sepengetahuan Kaira, tapi nihil, nomor Kemal tidak aktif sama sekali.
Setelah Kaira melihat Risa bermain ponsel dari dalam kamar mandi juga Sinta yang tertidur dengan memegangi ponselnya, lalu kemana ponsel Kaira?
Sibuk sendiri Kaira mengobrak-abrik isi tasnya hanya demi mencari gawai tipis miliknya, niat hati ingin memberi kabar kepada Annisa kalau dirinya sudah tiba ditempat tujuan dengan selamat.
"Ris hp gue mana ya?" tanyanya masih dengan mencari ke segala tempat.
"Loh? tas, tas ada ngga?" tanya Sinta, Kaira hanya menggeleng.
"Jatuh nggak di jendela lo duduk barusan?" tanya Risa berjalan menuju jendela.
Kembali Kaira menggeleng, "Coba gue ke mobil dulu deh!" ucap Kaira dengan berjalan keluar.
"Ok gue coba hubungi Fadli siapa tau dia tau dimana hp lo." ucap Sinta yang segera menelpon Fadli.
Irvan mencari di sekitar kamarnya setelah mendengar telfon dari Sinta, sedangkan Fadli keluar kamar, ia mendapati Kaira berjalan menuju lift.
"Kai tunggu!" teriak Fadli, yang sukses membuat Kaira menoleh.
"Gue ikut!" ucap Fadli, Kaira lanjut berjalan tidak mengiyakan permintaan Fadli.
Keduanya memasuki lift yang terbuka, dari sana mereka berpapasan lagi dengan ketiga orang dewasa yang tadi berpapasan di lantai bawah, ya mereka adalah Jefri, Jova dan Zain.
"Kalian duluan aja! Gue ada perlu!" ucap Zain ketika kedua rekannya keluar dari lift dan saat itu Kaira dan Fadli masuk ke dalam lift bersama dengan Zain yang masih tinggal.
Mencekam suasana di dalam sana, karena Fadli seolah mendekati Kaira karena tatapan mata Zain tak lepas dari gadis itu.
Sedangkan Zain terus mengumpat di dalam hati karena mengira Kiara pacaran dengan laki-laki itu.
Kaira sendiri menunggu Uncle nya untuk menyapanya lebih dulu, sebal gadis itu karena sampai bunyi TING!!
__ADS_1
Pintu lift terbuka sedikitpun Zain tak menyapanya, Fadli yang khawatir segera menarik lengan Kaira agar keluar dari dalam lift, tapi tanpa di duga saat Kiara satu langkah keluar dari dalam lift Zain meraih tangan gadis itu.
"YAK!!!" teriak Kaira kala pintu lift hendak menutup dan posisinya ada di tengah-tengah pintu, karena kedua laki-laki tengah menarik tangannya...