I Love You Handsome Uncle

I Love You Handsome Uncle
Part 33 (Kembali LDR)


__ADS_3

Mendengar pekikan dengan suara sedikit tertahan membuat Zain berhenti dengan mengerutkan kedua alisnya, "Apa sih? Orang Uncle cuma mau..." Zain melepas jaket yang ia kenakan.


Semakin terbelalak mata Kaira mendapati kelakuan asurd dari Uncle tampan ini, "Astaga Uncle stop deh! Kita baru aja sepakat buat jalin hubungan secara diam-diam, ntar kalau kelewatan gimana?" cecar Kaira, sedangkan Zain dengan santainya melucuti jaket sekaligus kemeja yang dipakainya.


"Apa sih Kai? Uncle nggak ngerti deh kamu ngomong apa?" ucap Zain dengan menyangkut kan Jaket juga kemejanya di dinding yang ada pakunya, dan paku itu ada tepat di atas kepala Kaira.


Berbalik Zain menuju salah satu lemari kecil, dari sana ia mengambil T-Shirt hitam kemudian dipakainya, memejamkan mata Kaira merasa malu, "Gilaaaaa gue bisa gila bener-bener gila! Bisa-bisanya gue mikir ke sana, astagah, beneran rusak ini format otak gue!" batin Kaira dengan mengusap wajahnya.


"Nginep di sini aja Kai!" ucap Zain dengan merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk.


"Gila! Nggak lah!" tolak Kaira dengan suara yang ngegas.


"Yakin nggak mau? Uncle besok balik Jakarta loh." ucap Zain dengan mengotak-atik gawai canggihnya, ia memeriksa jadwal untuk besok.


Terdiam Kaira, jujur saja gadis itu dirundung kebimbangan untuk saat ini, "Udah deh nggak usah banyak mikir." ucap Zain lagi, kali ini ia berjalan mendekati Kaira, meraih lengan putih itu, dan menariknya untuk diajak duduk di atas ranjang.


Keduanya kini sama-sama duduk di atas ranjang yang sama, Zain merebahkan tubuhnya, menggunakan paha Kaira sebagai bantalnya.


"Kamu yakin nggak mau nginep disini? Ntar nyesel loh, besok udah nggak bisa ketemu lagi." ucap Zain dengan membelai pipi Kaira.


"Iiiihhh... jangan gitu ngapa sih ngomongnya!" cemberut Kaira, sengaja gadis itu mengalihkan pandangannya.


"Emang kenapa? Takut kangen ya?" goda Zain dengan ekspresi yang sangat menyebalkan, bagaimana tidak? Sudah jelas jika ditinggal pergi oleh orang yang kita sayangi maka kita akan merasakan rindu, nah ini malah di tanya.


Sungguh kesal hati Kaira, "Awas ah!" Kaira membangunkan posisi Zain, tapi bukannya beranjak pergi, Zain malah duduk dengan posisi wajah tepat didepan wajah Kaira.


Kedua tangan Zain ia gunakan untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh menimpa tubuh Kaira.


Terpaku keduanya, seolah syok Kaira sedikitpun tak menyentuh Zain, bahkan bibir Kaira terkatup rapat.


"Uncle bakal rindu sayang," ucap Zain dengan menatap lekat wajah cantik itu, Kaira masih terpaku, diamnya gadis itu karena terkejut juga karena ucapan lembut dari Zain.


Tak terasa entah kapan dimulainya, kini Zain sudah mulai memagut bibir Kaira dengan lembut, tak ada tuntutan sama sekali.


Netra Kaira mulai terpejam mengikuti alur kelembutan yang Zain berikan, kini Kaira sudah membalas pergerakan Zain dengan sedikit menutut ciumannya, bahkan Jemari lentik Kaira meremas kerah T-Shirt hitam yang Zain pakai.


Bahkan dada dengan ukuran besar bulat kencang nan menantang itu terasa naik turun menempel di dada berotot Zain yang tertutup T-Shirt hitam.


Perlahan sebelah tangan Zain mulai meraba pinggang ramping Kaira, masih dengan lidah yang saling membelit, Zain merebahkan tubuh Kaira dengan nyaman di ranjang.

__ADS_1


Kecupan Zain kini beralih pada leher putih Kaira, lenguh desah mulai terdengar dan itu mampu membakar gairah Zain sebagai laki-laki normal.


Kaira mendongak serta menggigit bibir bawahnya kala Zain menyesap kuat kulit putihnya yang ada di belakang telinga.


Tangan-tangan nakal milik Zain mulai menggerayangi tubuh Kaira, menuju puncak kekenyalan dua bongkahan besar, dan tiba-tiba, TOK... TOK... TOK... TOK!!!


Ditengah napas yang memburu karena menahan gairah yang kian menggebu, tiba-tiba kegiatan kedua sejoli beda generasi itu harus berhenti.


"Sebentar ya?" ucap Zain seraya mengecup singkat kening Kaira.


Gadis itu hanya mengangguk, setelah Zain berlalu membukakan pintu, Kaira meringkuk dengan menahan senyum yang sulit untuk ditahan.


Alhasil senyum tipis menghiasi wajah cantik yang saat ini tengah ia tenggelam kan dia atas kasur empuk itu.


CEKLEK!!!


Zain membuka pintu, di sana ia mendapati kehadiran Jefri, "Eh Jef, ada apa?" tanya Zain dengan berusaha sesantai mungkin.


"Besok pagi Zoya siap melakukan pemotretan, jadi kita harus balik Jakarta sekarang." ucap Jefri dengan ekspresi datarnya.


Zain terlihat menghela napas panjang, "Tuan tak apa?" tanya Jefri lagi.


"Maaf Tuan Muda, dia..." bisik Jefri terhenti tatkala ia mendapati seorang gadis meringkuk di atas ranjang Zain.


"Dia keponakan ku, tenang saja." sahut Zain dengan duduk di samping Kaira.


Jefri turut mengangguk mendengar tanggapan dari Zain, "Kai, Uncle mau balik ke kota sekarang, kau tak apa?" sisi lembut Zain terlihat tatkala ia berbicara dengan gadis remaja itu.


Mendengar ucapan Zain, sontak Kaira terbangun dari posisinya, "Secepat itu?" bertaut sudah kedua alis Kaira, seolah pertemuannya belum mampu mengobati rindu di hati.


"Nanti kalau ada waktu Uncle main ke rumah ya, oh iya kamu mau kuliah dimana setelah ini?" Zain mengelus surai panjang milik Kaira.


"Entahlah, pengennya di kota aja biar kita sama-sama deket, tapi ada tawaran beasiswa ke Korea, terus di sisi lain kayak nggak mau jauh dari ibuk." jelas gadis itu dengan tatapan sendu, sungguh ucapan Zain barusan membuat Kaira sedikit terganggu.


"Jangan di bikin pusing, kira-kira mana yang menguntungkan di masa depan saja yang kau perjuangkan." tersenyum Zain kemudian ia mengecup singkat kepala Kaira, Jefri sengaja berdehem agar kelakuan Zain tidak menjadikan dirinya seperti obat nyamuk.


"Apa sih Jef? Ini keponakan aku, kalau kau merasa jadi obat nyamuk, ya udah sana buruan kau resmikan saja hubungan mu dengan Jova." cetus Zain yang memang mengetahui fakta tentang isi hati Jefri si manusia es balok itu (Dingin juga kaku).


Gelagapan Jefri, kala ia mendengar penuturan Zain, "Tuan jangan..."

__ADS_1


"Permisi? Mohon maaf Pak Zain, ini Nona Zoya kembali menghubungi, katanya dia besok pagi bisa..." Jova tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamar Zain dan tiba-tiba, iris Jova menatap satu persatu insan yang berdiri di dalam kamar BOS-nya itu.


"Eh kebetulan Jova datang... " terhenti ucapan Zain karena Kaira mendadak memegang lengannya, sontak Zain terdiam dengan menatap wajah Kaira.


"Ada apa? Dia sekretaris ku." ucap Zain dengan mengangkat kedua alisnya.


"Zoya?" lirih Kaira dengan raut wajah yang berubah drastis.


"Oh astaga! Itu tidak seperti yang kau pikirkan, itu dia hanya menjadi model, ya hanya sebatas itu saja." jelas Zain, dan itu membuat Jefri dan Jova saling bertukar pandang sejenak.


"Yakin? Cuma sebatas model saja?" Kaira memicingkan netra bulatnya hingga menyipit.


"Astga!" Zain memijit keningnya sendiri, "Jef tunggu aku di basement!" ucap Zain.


"Siap Tuan." Jefri segera undur diri bersama Jova, kini hanya tinggal Zain bersama dengan Kaira yang memasang wajah cemberut.


"Sayang?" lirih Zain dengan membelai pipi Kaira dengan lembut.


Perlahan wajah ayu itu menatap Zain yang ada di sampingnya, "Jangan marah dong..." lirih Zain dengan menangkup kedua pipi Kaira.


"Memangnya gadis mana yang ikhlas jika kekasihnya akan berada dalam satu tempat kerja yang sama dengan mantan kekasihnya? Sedangkan aku disini seperti orang bodoh yang tidak tau kau berbuat apa di sana." Kaira berucap dengan kedua pipi yang dihimpit oleh kedua tangan Zain, sehingga gadis itu berucap dengan bibir yang hampir menyerupai ikan, yang mana itu malah terlihat menggemaskan bagi Zain.


Zain bukannya menanggapi ungkapan kekhawatiran Kaira, laki-laki tampan itu malah mengecup bibir Kaira.


Terkejut bercampur dengan rasa marah Kaira mendorong dada Zain, "Uncle apaan sih?! Kai serius tau!"


Zain tersenyum tipis, ia mengelap bibirnya menggunakan ibu jarinya, "Maaf Uncle tidak tahan untuk tidak mencium mu."


Kaira melotot mendengar ucapan Uncle nya yang malah melenceng dari pembahasan utama.


"Ok ok ok, Uncle minta maaf, sini!" Zain kembali memeluk tubuh Kaira dan kali ini gadis itu menurut, Kaira merasa nyaman dengan pelukan yang diberikan Uncle tampannya itu.


"Percaya sama Uncle ya! Nggak ada gadis mana pun yang lebih menarik dibanding dirimu, kita kan baru aja sepakat untuk menjalin hubungan ini secara diam-diam, kalau kau terus seperti ini maka cepat atau lambat pasti banyak orang yang akan mengetahuinya." jelas Zain.


Kaira mengangguk, kini keduanya sudah berbaikan, dan Kaira melepas kepergian Zain sampai ke basement, di sana ia melambaikan tangan sampai mobil yang Zain tumpangi menjauh dari area hotel.


Kaira kembali ke kamar, CEKLEK!!!


"Kemana aja lo?!...

__ADS_1


__ADS_2