I Love You Handsome Uncle

I Love You Handsome Uncle
Part 34 (Beasiswa ke Korea)


__ADS_3

Kaira kembali ke kamar, CEKLEK!!!


"Kemana aja lo?!" pertanyaan bernada ketus itu terlontar dari mulut Fadli yang kala itu berkumpul bersama dengan teman-teman yang lain.


"Gu... gue dari..."


"Lo tau nggak! Kita panik nyariin lo!" timpal Sinta.


"Opo to Sin! Awak e dewe lo, mung nebeng mobil e Kaira, mbokyo biasa wae, aku lo panik ning biasa wae! (Apaan sih Sin! Kita loh, cuma nebeng mobilnya Kaira, biasa aja napa, Gue loh panik, tapi biasa aja!)" cecar Risa yang otomatis membela sahabatnya.


"Maaf." hanya itu yang Kaira ucapkan, kini Risa menggandeng lengan Kaira, "Kita ngomong di luar!" bisik Risa.


Sementara Risa dan Kaira keluar dari kamar, Fadli dan Irvan kembali ke dalam kamar mereka, Sinta yang merasa jengkel duduk di ranjang dengan perasaan kesal.


Di lorong hotel, Kaira dan Risa terus berjalan keduanya saling bertukar cerita, "Oh dadi awak mu mau ketemu karo Om-Om ganteng iku ta? (Oh jadi lo tadi ketemu sama Om-Om ganteng itu to?)" tanya Sinta dengan sedikit berbisik, mungkin ia takut jika ada orang lain yang mendengarnya.


"Iya terus dia baru aja balik ke Jakarta lagi." sahut Kaira dengan raut wajah sendunya.


Keduanya berbincang dengan bersantai di rooftop, malam sepi ini membuat Kaira merasa sepi khususnya jauh didalam hatinya, dan dengan setia Risa menemani sahabat sebestienya itu.


...~∆∆∆🌼∆∆∆~...


Di sisi lain, di depan gedung mewah...


Mentari pagi tanpa rasa malu-malu kini sudah menunjukkan sinar hangatnya, menggantikan tugas sang rembulan yang telah usai.


CEO muda nan tampan terlihat keluar dari dalam mobil, tentu saja disambut dengan antusias oleh para karyawan dan staf kantor yang lebih dulu sampai di sana.


Zain berjalan dengan tegap, sesekali senyum di wajah ia tampilkan demi membalas sapaan pagi dari para pegawainya, dibelakang Zain ada Jova dan Jefri yang mengikuti langkah kaki Zain untuk masuk ke dalam lift khusus.


Berhenti langkah kaki Zain, ia berbalik menatap Jova dan Jefri, "Oh aku melupakan dokumen yang baru saja aku baca dan kaca mata ku di dalam mobil, tolong kalian ambilkan, aku tunggu di ruangan ya!" perintah dengan nada halus itu segera dilaksanakan oleh Jova dan Jefri.


Zain kembali berbalik menatap pintu lift setelah kedua rekannya itu meninggalkannya, TING!!


Pintu lift terbuka, Zain masuk begitu saja tanpa memandang jika ada gadis yang tengah berdiri didalam lift tersebut, atensi Zain fokus pada arloji silver yang melingkar di lengan kirinya.


Zain baru menyadari jika ada orang lain setelah ia berbalik dan menatap punggung ramping gadis itu, "Posturnya bagus." batin Zain.


TING!!


Pintu lift terbuka tanpa ada perbincangan apa pun di dalam lift, Zain keluar terlebih dahulu dari pada gadis itu yang tak lain adalah Zoya.


"Zain!" panggil Zoya dengan melangkahkan kakinya keluar dari alat transportasi vertikal itu.


Terhenti langkah kaki Zain, terpaksa ia menoleh kearah sumber suara, helaan napas kasar terdengar tatkala netra tajam Zain mendapati sosok yang sangat dibencinya, Ya Zoya berjalan mendekati CEO utama Zora Group itu.


"Kau bahkan tidak menyapaku." tersenyum kecut Zoya berucap, Zain memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Maaf aku sibuk!" singkat Zain berucap, ia segera beranjak dari tempatnya.


Zoya menghentakkan kakinya kesal, sedikit umpatan di dalam hati tatkala ia mendapati sikap Zain yang terlampau dingin padanya.


Terlihat Zoya mengeluarkan ponselnya, ia menghubungi seseorang, "Halo? Gue udah di kantor, lo siap, kan? Pokoknya ATM berjalan ini jangan sampai lolos!" gumamnya kepada seseorang yang ada di balik sambungan telfon, setelahnya Zoya segera berbalik menuju ruang pemotretan.


Kebetulan saat Zoya berucap barusan Jefri dan Zoya berjalan melewati gadis itu, "Jef." panggil Jova.


"Hem?" sahut Jefri tanpa menatap Jova.


"Itu Nona Zoya."


"Iya, saya juga lihat, terus?" gemas sekali Jova di buatnya, "Astaga Jef, kamu nggak denger dia tadi ngomong tentang apa?" melotot Jova menghadang Jefri di depan pintu ruangan CEO.


Jefri terpaksa berhenti, "Denger lah, kau pikir aku tuli?!"


"Bu... bukan gitu sih." tergagap Jova kala melihat ekspresi Jefri yang terlampau dingin, berbeda sekali dengan semalam.


Sebelah tangan Jefri menyentuh pinggang Jova, terkejut gadis itu berdebar rasanya tapi detik berikutnya, seolah terPHP oleh harapan sendiri, karena pada dasarnya Jefri hanya memegang handle pintu yang kebetulan tertutup oleh tubuh Jova. BRAK!!!


Pintu tertutup hingga membuat Jova tersentak, "Kenapa sih? Kok aneh." gumam Jova dengan berjalan menuju meja kerjanya.


Di dalam ruangan Zain tengah memandangi foto Kaira yang ada di layar ponselnya, karena baru saja ia mendapat pesan bahwa gadis kesayangannya itu memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Korea.


Berkali-kali Zain menghela napas panjang, "Permisi Tuan?" Jefri yang berdiri sejak tadi dihadapannya sampai tak terlihat di pelupuk mata.


"Barusan saya bertemu dengan nona Zoya di depan, apa dia dari sini?" tanya Jefri.


"Tidak, langsung kau urus saja, nanti hasil akhir saya terima jadi jangan sampai ada kesalahan!" cetus Zain.


"Siap Tuan!" Jefri segera berjalan menuju ruang pemotretan.


...~∆∆∆🌼∆∆∆~...


Di sisi lain...


Kaira baru saja mengirim pesan kepada Zain bahwa dirinya akan terbang ke Korea siang nanti.


"Kai? Semua sudah siap sayang?" tanya Annisa.


"Sebentar Buk, masih ada yang kurang!" sahut Kaira dengan berteriak juga.


"Makanya kalau main jangan lama-lama, kan jadinya begini!" cecar Annisa lagi dengan memasukkan baju Kaira ke dalam koper.


"Ya Kai juga nggak tau loh Buk kalau bakal berangkat sekarang, orang bu gurunya juga baru chat selepas Subuh tadi, makanya kita semua langsung gas pulang." sahut Kaira dengan menata perlengkapan mandinya.


"Terus yang dari sekolahmu ada siapa aja?" tanya Annisa lagi.

__ADS_1


"Cuma berdua Buk, makanya kalau Ibuk nggak kasih ijin mending nggak usah deh Buk." ucap Kaira dengan berjalan keluar dari dalam kamar mandi.


"Nggak Nduk! Kejarlah mimpi mu, jadi orang sukses, jangan kayak Ibuk yang cuma bisa jaga rumah.


Sebahagianya wanita yang duduk diam di rumah lebih bahagia wanita yang bisa mempunyai hasil sendiri, tapi dengan satu catatan, jangan lupa kodrat wanita." wejangan halus itu Kaira dengarkan dengan seksama.


"Lah bukannya enak ya buk, diam di rumah terus ada yang nyariin duit?" tanya Kaira dengan otak polosnya.


"Ya, emang enak sih, tapi ada kalanya kita berpikir, cari duit itu susah, masa iya mau seenaknya kita minta duit, iya enggak?" Annisa masih dengan nada lembutnya berucap.


Kaira menganggukkan kepalanya, memahami semua yang ibunya ucapkan, "Kak Kai jadi terima beasiswa nya Buk?" suara cempreng Zahira tiba-tiba terdengar, gadis itu baru saja pulang dari sekolah.


"Jadi Za, kenapa?" tanya Kaira, gadis itu kemudian menilik jam dinding yang ada di kamarnya.


"Loh ini baru jam 10 lo Za! Kamu bolos?" menajam tatapan mata Kaira kala melontarkan pertanyaannya.


"Hehehe..." Zahira menggaruk tengkuknya tanpa alasan yang jelas.


"Astaghfirullah Za! Sejak kapan kamu main bolos-bolos sekolah?!" kini Annisa melotot dengan berkacak pinggang.


"Hehe... Maaf Buk, Zaza takut ntar kalau pulang sekolah bareng teman-teman yang lain, Zaza ketinggalan, Zaza nggak bisa liat kak Kai." Cemberut Zahira dengan menundukkan kepalanya.


"Astaghfirullah, anak Ibuk yang satu nya mau sekolah jauh, yang satunya kenapa belajar nakal, Masya'Allah..." Annisa mengelus dada, seolah kesabarannya tengah di uji.


"Tapi Zaza tadi ijin kok Buk, Zaza nggak kabur dari sekolah." ucap Zahira dengan memegangi lengan Annisa.


"Ijin sama siapa?" tanya Kaira.


"Sama bu kantin." sahut Zahira dengan polosnya, sedangkan Annisa yang berlagak sabar kini menarik telinga Zahira.


"Buk kantin kamu minta in ijin? Emangnya yang ngajar kamu di sekolah itu bu kantin?!" meluap sudah emosi yang terbendung rapi tadi, "Adudududuh buk sakit buk, ampun..."


"Sabar buk, sabar." ucap Kaira dengan menepuk pelan pundak ibunya.


Setelah menegur dan mengomel habis-habisan Annisa kembali membantu Kaira membereskan barang-barangnya.


Tepat pukul 13.00WIB, Kaira sudah siap untuk berangkat menuju Bandara, ia di antar oleh keluarga, dari bandara Adi Soemarmo Kaira berangkat bersama Fadli.


"Kalian di negara orang jangan pada berantem ya, pokoknya yang akur, awas Kaira jangan sampai nyusahin Fadli!" Annisa berusaha menggunakan momen ini untuk bercanda agar air mata perpisahan tidak menetes membasahi pipi.


"Enak aja Kaira nyusahin, anak Ayah kan mandiri, ya Kai, jago berantem lagi." Marcel menyeletuk tak terima putri sulungnya di katai, tapi tetap menggunakan bahasa candaan.


Setelah waktu yang ditunggu tiba, akhirnya kedua remaja berbeda gender itu berpamitan kepada semua anggota keluarga, dan lekas berjalan menuju pesawat yang akan segera lepas landas.


Fadli mempersilahkan Kaira untuk dudul di samping jendela, "Nggak sala gue duduk di sana?" tanya Kaira.


"Nggak papa, biar gue yang di pinggir." sahut Fadli dengan senyuman.

__ADS_1


Keduanya duduk berdampingan, mereka mulai terlelap selama perjalanan.


__ADS_2