I Love You Handsome Uncle

I Love You Handsome Uncle
Part 30 (Rooftop)


__ADS_3

"YAK!!!" teriak Kaira kala pintu lift hendak menutup dan posisinya ada di tengah-tengah pintu, karena dua laki-laki tengah menarik tangannya.


"Lepas in tangan cewek gue!" hardik Fadli yang membuat Kaira mau pun Zain terdiam, saat Zain lengah Fadli mengambil kesempatan untuk menarik lengan Kaira, hingga gadis itu terlepas dari cengkeraman Zain.


Zain masih terpaku sampai pintu lift tertutup, CEO tampan itu terlihat mendengus kesal, beberapa kali ia melepaskan tinjunya ke udara kosong.


Sedangkan di depan pintu lift yang tertutup, Kaira masih termangu, ia menatap Fadli yang terus memegangi lengannya.


"Kai? Are you ok?" tanya pria berkaca mata itu dengan melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Kaira.


"Hah? Iya gue nggak papa kok." tersadar Kaira dari lamunan nya barusan.


"Yakin lo nggak papa?" tanya Fadli sekali lagi meyakinkan.


"Eh mending kita segera ke basement aja deh, keburu yang lainnya khawatir." ucap Kaira mengalihkan topik pembicaraan, dengan segera berjalan meninggalkan Fadli tentunya setelah laki-laki itu melepaskan genggaman tangannya.


Sikap Kaira kembali cuek seperti biasa, gadis itu sudah abai dengan ucapan Fadil beberapa menit yang lalu, setelah ponsel Kaira ketemu, gadis itu dan Fadli kembali ke dalam gedung hotel.


"Gue masuk kamar ya Kai, ketemu ntar malem di rooftop ya?" ucap Fadli sebelum ia membuka pintu kamar.


"Hem!" hanya itu yang Kaira serukan, senyum masam Fadli tampilkan sebelum ia menghilang ditelan pintu kamar.


Baru saja Kaira hendak memegang handle pintu kamarnya, dari arah belakang tiba-tiba mulutnya dibekap oleh seseorang.


Berusaha berontak gadis itu, tapi tenaganya kalah telak, sepertinya orang yang membekap Kaira seorang laki-laki.


"Gawat gue makin lemes nih, kayaknya mulai kehabisan oksigen gue." batin Kaira dengan tangan yang memegangi tangan laki-laki yang membekapnya.


BRAK!!!


Terdengar suara pintu tertutup, jantung Kaira semakin berdebar ketakutan, "Duh kok jadi masuk kamar sih? Gimana kalau dia seorang psychopath? Gimana kalau tiba-tiba gue di mutilasi, gimana kalau dia penculik yang suka ambil organ-organ dalam?" batik Kaira bergidik ngeri.

__ADS_1


Dengan segala ketakutan yang mengisi otak geniusnya, Kaira tiba-tiba berusaha mengumpulkan tenaganya yang tersisa untuk menyerang balik, tapi belum sampai ia berhasil, tubuhnya sudah dihempaskan ke dinding.


Dengan cepat laki-laki itu menghimpit Kaira, terkejut Kaira spontan memejamkan matanya, "Kamu pacaran?" pertanyaan itulah yang pertama kali Kaira dengar setelah dirinya tidak lagi dibekap, melainkan dihimpit di didinding kamar hotel.


Perlahan Kaira membuka mata, seketika pupil mata Kaira melebar, gadis itu terkejut bukan main, "Uncle?" lirihnya dengan suara yang tercekat.


"Jawab pertanyaan Uncle! Apa kamu ke sini sedang kencan bersama pacarmu?" tanya Zain dengan memangkas jarak diantara keduanya.


"Bukan urusan Uncle! Memangnya Uncle peduli? Uncle cuma anggap Kai sebagai pelampiasan doang, kan?" cecar gadis itu.


"Kaira!" tersentak Kaira kala ia mendengar suara Zain yang membentaknya.


Terdiam gadis itu dengan penglihatan yang semakin memburam, "Kenapa? Bener kan apa yang Kai bilang? Uncle itu cuma anggap Kai sebagai barang mainan baru, setelah cukup bosan ya udah tinggalin aja, iya kan? Hahaha..." tertawa sumbang gadis itu.


"Oh jadi benar dia tadi itu pacar kamu?" tanya Zain dengan membelai rahang Kaira.


Mengedip pelan gadis itu tak menjawab iya atau bukan, semakin membuat Zain tersulut emosi saja.


"Jawab sayang, dia pacar kamu? Hem? Udah diapain aja sama dia?" Zain mencubit dagu Kaira agar gadis itu mendongak menatapnya.


Tanpa aba-aba Kaira menginjak kaki Zain dengan keras dan "Aaarrrrgghhhhh!!!" Teriak Zain dengan memegangi jemari kakinya.


Mendapatkan kesempatan bagus Kaira segera berlari keluar dari kamar Zain, ya... dia akan kembali kedalam kamarnya


Langkah kaki gontai Kaira memasuki kamar hotel yang mana ada Risa, dan Sinta yang memasang tampang khawatir.


"Gimana? Udah ketemu?" tanya Risa yang melihat Kaira membuat pintu kamar lok.


"Udah kok," sahut Kaira dengan memperlihatkan ponselnya.


"Ya syukur deh kalau begitu." ucap Risa dan Sinta hampir bersamaan.

__ADS_1


Malam hari telah tiba, sesuai dengan rencana awal, mereka para anak remaja itu mengadakan acara makan-makan malam ini di rooftop.


Fadli yang pandai bernyanyi, tak lupa pria berkaca mata itu membawa gitarnya, mereka bernyanyi bersama terkadang gelak tawa terdengar di antara kelima remaja itu, sungguh malam itu begitu menyenangkan, sampai tiga orang dewasa hadir dan duduk di rooftop juga, tak jauh dari keberadaan anak-anak remaja itu.


Karena adanya orang lain yang datang, Kaira melempar tatapan kepada mereka yang baru saja hadir, sedangkan yang lainnya masih asik dengan alat musik seadanya itu.


Tak sengaja saat Kaira menatap tiga orang dewasa itu tiba-tiba tatapan mata Kaira bersibobrok dengan tatapan tajam Zain.


Sesegera mungkin Kaira mengalihkan pandangannya , gadis itu berusaha untuk menghindari tatapan tajam milik Zain, tapi bagaimana pun gadis itu berusaha menghindar tetap saja Kaira terlihat oleh manik tajam milik Zain.


Tak nyaman dengan tatapan Zain walaupun dari jarak yang cukup jauh, Kaira akhirnya memutuskan untuk pergi dari rooftop.


"Gue mau pipis dulu lah." ucap Kaira dengan berjalan meninggalkan gerombolan temannya.


Tak lama kemudian sosok Zain juga terlihat berdiri, karena memang sudah tidak ada lagi membuat bersemangat untuk dirinya berada di rooftop, Zain berjalan keluar.


Didalam lorong hotel, terlihat punggung Kaira memasuki salah satu ruangan yang bertuliskan toilet.


Zain yang melihat gadis itu menghilang di balik tembok toilet segera mengikuti, langkahnya terhenti ketika netra tajamnya mendapati Kaira yang tengah berdiri di depan wastafel.


Gadis itu terlihat sibuk membasuh wajahnya, tanpa permisi Zain memeluk Kaira dari belakang.


"Uncle kangen istri kecil uncle." ucap Zain dengan menancapkan dagunya di atas pundak Kaira.


Tersentak gadis itu, kini Kaira bergeming menatap kaca, yang mana di sana terlihat Zain hendak mencium ceruk lehernya.


"Uncle tunggu!" teriak Kaira dengan berbalik menatap Zain.


"Ada apa?" tanya Zain, namun Kaira bukannya menjawab ia malah asik menatap jakun Zain yang terlihat naik dan turun.


"Tidak!" sahut Kaira singkat, dan itu malah membuat Zain semakin gemas dibuatnya.

__ADS_1


"Gue kangen lo Kai!" lirih Zain dengan menyatukan kening mereka, hembusan nafas halus menerpa wajah satu sama lain, membuat kedua insan berbeda gender itu semakin ingin menautkan kedua benda kenyal nan manis itu.


Dan benar saja kini Kaira dan Zain sudah saling memagut mengobati rasa rindu yang telah lama di deritanya, sedang asiknya berciuman tiba-tiba CEKLEK...


__ADS_2