I Love You Handsome Uncle

I Love You Handsome Uncle
Part 26 (Manfaatkan saja)


__ADS_3

Rapat pengesahan CEO baru berjalan dengan lancar, senyum bangga Gautam terlihat jelas diraut wajah laki-laki tua itu, sedangkan Zain, dia hanya menarik salah satu ujung bibirnya saja, jika boleh jujur mungkin ia akan berkata tidak siap untuk menerima semua ini, dia masih ingin bebas, dia masih ingin bermain-main, bahkan masa remajanya tak pernah berjalan normal layak nya anak-anak remaja yang lainnya, penuh aturan penuh pengawasan.


Zain masih duduk di sofa didalam ruangan sang ayah, tak lama kemudian masuklah seorang laki-laki paruh baya yang tak lain adalah Kuncoro sang supir canggih keluarga Zora.


"Sini Kun!" Gautam terlihat melambaikan tangan kearah laki-laki yang mungkin hampir seumuran dengannya itu.


Menunduk sopan Kuncoro mendekat kearah Tuan besarnya.


"Kamu tau kesalahan kamu?" terdengar sangat mengintimidasi pertanyaan Gautam saat ini, hingga membuat Zain pun tertarik untuk mendengarkan pembahasan kedua orang tua beda posisi itu.


"Maaf Tuan besar, saya hanya mendapatkan kiriman foto dan biodata dari anggota yang lain." tanpa mengurangi rasa hormat, Kuncoro mengutarakan kejujurannya.


"Tapi kamu itu sudah lama lo Kun ikut saya, masa iya kamu tidak mengenali anak cucunya kak Maria, Kaira yang kamu kirim fotonya itu cucu saya! Berani kamu mencurigai dia?!" gertak Gautam.


"Tapi kan sudah lama juga lo Tuan, saya tidak bertemu nona Kaira."


Mendengar nama Kaira Zain semakin tertarik saja dengan pembahasan kali ini, "Ada apa Ayah?"


"Ini Kuncoro ngirim foto gadis yang katanya punya hubungan spesial dengan mu, dan kamu tau foto siapa yang dia kirim?" Gautam terlihat menggeser layar ponselnya, dan memperlihatkan wajah cantik yang tertera di sana, seketika rasa rindu Zain kembali mengusik kalbu, bahkan perasaan yang disimpannya saja belum terungkap, namun kini keduanya malah harus terpisah oleh jarak yang cukup jauh.


"Oh iya, kemarin salah satu ZG-KNIGHT, menghajar Kaira sampai gadis itu pingsan Ayah, padahal Kaira cuma mau menolong Zain, dia kira Zain mau di culik, dia nggak tau kalau ZG-KNIGHT itu suruhan Ayah." jelas Zain.


"Wah gimana kamu Kun?! Minta di berhentikan atau dipotong gaji saja Kun?" gertak Gautam setelah mendengar aduan dari Zain.


"Ampun Tuan, jangan dua-duanya." memohon Kuncoro dengan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.


"Eh kamu ini nggak normal Kun, orang lain mah di kasih pasti minta lebih kamu di kasih nggak mau dua-duanya, gimana sih?!" bercanda namun dengan ekspresi datar membuat lawan bicara kikuk ingin tertawa tapi takut gaji anjlog mau serius tapi jujur ini tidak bisa dianggap serius, ada kah yang minta lebih ketika di beri hukuman? pastinya tidak ada kan!


"Dari pada itu, mending dipindah tugaskan saja Ayah!" saran Zain, Gautam sedikit mempertimbangkannya, "pindah tugas kemana?" tanya Gautam.


"Mereka yang membuat kesalahan kemarin, suruh jaga di kampung, toh rumah nenek juga besar dan jauh dari tetangga." Zain memberikan usulan, sebagai seorang pewaris satu-satunya tak ada salahnya untuk dia membantu ayahnya untuk berpikir.


"Oh iya, kehilangan lima orang, tidak masalah juga saya." Akhirnya Gautam setuju, sedangkan Zain terlihat tersenyum simpul seperti ada sesuatu yang di rencanakan nya.


Sementara Gautam berunding dengan Kuncoro, Zain terlihat tengah berpikir, "Kalau di sana ada orang suruhan ayah, bisa dong gue sesekali tau kabar seputar Kaira, atau nggak, gue bisa manfaatin kedudukan gue." batin Zain yang mungkin telah menemukan obat galaunya.

__ADS_1


Keputusan yang Zain ambil memerlukan pertimbangan sampai beberapa hari, sampai deal, keputusan Gautam yang menyetujui saran dari putra tunggalnya, Kuncoro dan beberapa anggota ZG-KNIGHT dikirim ke kediaman Flora yang ada di Jawa Tengah.


"Pak Kun!" panggil Zain tak kala laki-laki paruh baya itu baru akan memasuki mobilnya.


"Iya Tuan Muda saya?" sopan Kuncoro menyahuti panggilan dari Zain.


"Boleh nitip ini nggak?" Zain memberikan satu benda kotak yang entah isinya apa.


"Buat siapa Tuan?" tanya Kuncoro yang memastikan agar dia tidak salah memberikan benda itu.


"Untuk gadis yang fotonya pak Kun kirim ke ayah." sahut Zain.


"Oh buat keponakan? Baik Tuan Muda" sahut Kuncoro dengan meraih kotak berwarna merah itu.


...~∆∆∆🌼∆∆∆~...


Hari-hari Kaira kembali seperti sebelumnya, tanpa Julio atau pun Zain, keduanya hilang begitu saja, bagaikan sebuah mimpi yang sangat panjang Kaira kini sudah terbangun gadis itu berusaha untuk fokus dengan sekolah saja.


"Kai, sarapan dulu sayang!" teriak Annisa kala ia melihat putri sulungnya sudah rapi dengan seragam putih abu-abunya.


"Buk, Zaza juga pamit deh, udah siang." ucap Zahira, dan Annisa hanya mengiyakannya.


Setibanya di sekolah...


Kaira berjalan melewati gerbang di sana ia bertemu dengan Risa yang terlihat memegang sebuah buku, mungkin dia belajar untuk ujian pagi ini.


"Kai!" teriak Risa dengan melambaikan tangannya.


Kaira yang merasa terpanggil segera berjalan mendekat, "Ngapain lo? Tumben-tumbenan belajar." tanya Kaira dengan melihat buku pelajaran yang dipegang Risa.


"Gila lo Ris!" terbelalak Kaira melihat buku kecil yang ada di tengah buku pelajarannya.


"Sshhhttt... jangan berisik lo! Ntar jadi bahan perhatian berabe gue!" Risa menutup mulutnya menggunakan satu jari telunjuk di depan bibir.


"Ini tuh anatomi tubuh manusia!" bisik Risa.

__ADS_1


"Tapi ngapa gambarnya begini banget dah!" protes Kaira, saat itu juga ia mengingat saat dirinya dengan segala kepolosannya memegang aset berharga milik Zain malam itu.


Masih melanglang buana otak Kaira tiba-tiba datang satpam sekolah menghampiri kedua gadis itu.


"Maaf Kaira Vexsana yang mana ya?" tanya Pak Satpam.


"Saya Pak ada apa ya?" sopan Kaira menyahuti.


"Ada yang mencari kamu itu di luar!"


Mendengar itu Kaira segera berjalan menuju gerbang sekolahannya, di temui nya seorang laki-laki paruh baya dengan kotak merah di tangannya.


"Ada apa ya Pak?" tanya Kaira dengan sopan.


"Ini ada titipan dari Tuan Zain." sahut laki-laki tua yang tak lain adalah Kuncoro.


"Zain?" Kaira mengulang lagi kata yang membuat hatinya sempat berdenyut nyeri itu.


"Iya Zain Julio Zora, putra Tuan Gautam Zora." sahut Kuncoro dengan menyerahkan kotak merah itu.


Kaira menerimanya masih dengan hati yang bingung, sudah beberapa hari ini Zain sama sekali tak memberikan kabar, tapi tiba-tiba datang sebuah kotak hadiah dengan nama Zain sebagai pengirimnya.


Gadis itu menyimpan kotak hadiah itu kedalam tas ranselnya kemudian berjalan memasuki area sekolah.


Kaira masuk kedalam kelas sebelum guru datang, gadis itu mengeluarkan kotak kecil yang berwarna merah, dibukanya kotak kecil itu.


Secarik kertas dengan cincin berwarna hitam dengan pinggiran silver ada di dalam kotak itu, "Apaan sih Uncle nggak banget deh, masa kirim surat segala." gumam nya.


Walaupun begitu Kaira tetap membuka surat kecil itu.


Tersenyum Kaira tak kala ia membaca isi dari surat tersebut.


..."Semangat belajarnya Istri Uncle, Uncle kerja dulu ya biar bisa kasih makan kamu nantinya, Ingat jangan nakal selama Uncle jauh darimu"...


Begitulah isi surat dari Zain, tidak pandai Zain berkata-kata tapi itu saja sudah mampu memekarkan bunga-bunga yang ada didalam hati Kaira...

__ADS_1


__ADS_2