
Cup!!!
Melotot sudah kedua mata Kaira kala ia mendapatkan kecupan dari Zain, bukannya segera melepaskan Zain malah semakin memperdalam ciumannya.
"Emh!!" Kaira memukul dada Zain, seolah mengingatkan, tapi sepertinya laki-laki itu tak menghiraukannya.
Dengan sekuat tenaga Kaira mendorong dada Zain, sampai tautan keduanya terlepas, "Uncle stop! Di bawah ada kakek sama nenek!" pelan Kaira berucap.
Tanpa perduli Zain akan berucap apa Kaira sudah lebih dulu memasuki kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Pagi hari di kantor, didalam ruangan pribadi, Zain di sibukkan dengan banyak dokumen yang menumpuk di atas meja kerjanya.
Sedangkan Kaira masih duduk di sofa yang ada didalam ruangan pribadi CEO itu, sampai...
TOK... TOK... TOK...
Suara pintu diketuk oleh seseorang, Zain dan kaira awalnya saling bertukar pandangan, lalu detik berikutnya Zain menyerukan suara lantangnya, "Masuk!"
Tak lama kemudian masuklah Jefri dengan membawa berita penting, sepertinya laki-laki itu baru saja mendapat perintah dari Tuan besarnya.
"Ada apa Jef?" Zain mengalihkan pandangannya dari tumpukan dokumen.
Jefri berjalan mendekati Zain dan membisikkan sesuatu, terlihat wajah serius Zain, kala ia mendengarkan bisikan Jefri.
"Setujui saja!" sahut Zain dengan tersenyum miring.
"Nona Kaira mari ikut saya!" ajak Jefri dengan suara lembutnya.
Terperangah Kaira, masih terdiam gadis itu bingung dengan menatap Zain, "Ikutlah, Jefri tidak akan memakan mu, tenang saja dia manusia sungguhan dia bukan Jefri temannya mumun." cetus Zain
Jefri mengerutkan alisnya, "Tuan pikir saya pocong, teman nya mumun?!" pertanyaan bernada datar itu semakin membuat suasana semakin lucu saja, bagaimana tidak? Bayangkan saja jika si asisten tampan itu pocong, bukan kah akan ada cerita dengan judul pocong tampan?
Kaira menahan senyumnya, gadis itu segera berjalan mengikuti langkah kaki Jefri, kala keduanya melewati depan ruang sekretaris, Kaira sempat mendapati tatapan gadis yang ada di dalam ruangan itu terus tertuju pada Jefri.
"Kak Jef?" panggil Kaira.
"Hem?" sahut Jefri datar.
"Kakak yang di dalam... "
"Sekretaris Uncle mu." sela Jefri yang membuat Kaira menganggukkan kepala.
"Ngomong-ngomong, dia terus saja mengamati kita." lagi Kaira mengucap kata-kata, saat keduanya berada di dalam satu lift yang sama.
"Dia punya mata!" lagi dan lagi Jefri menyahutinya dengan seperlunya saja.
Sungguh menyebalkan memang, apalagi suasana sepi ini menjadikan perasaan tidak nyaman selalu muncul, untung saja lantai yang dituju tidak begitu jauh, jadi Kaira dan Jefri tidak berlama-lama di dalam lift berdua.
"Tuan Besar memberikan pesan pada saya agar nona Kaira ditempatkan disini." Jefri mengutarakan setelah mereka sampai di sebuah ruangan yang di isi tiga orang di dalamnya.
"Selamat siang semuanya!" sapa Jefri yang segera di sambut hangat oleh ketiga karyawan yang terlihat sangat antusias.
__ADS_1
Jefri dengan baik memperkenalkan Kaira, dam setelahnya pria es balok itu segera meninggalkan ruangan sibuk itu.
"Halo Kaira? Aku Selly, salam kenal ya semoga betah." ucap salah satu gadis yang memegang pulpen di tangan kanannya, Kaira hanya mengangguk serta memberikan senyum tipisnya.
"Hay Kai, gue Irvan, lo nggak mungkin lupa sama gue dong!" sapa Irvan yang dengan konyolnya memperkenalkan diri layaknya mereka belum saling kenal, ya dialah Irvan teman SMA Kaira.
"Blagu lo Van! yang pasti Kai udah kenal sama kita dong ya!" ucap salah satu gadis yang tak lain adalah Sinta dan satu laki-laki yang masih sibuk sedari tadi ya dia adalah Julio Claudian.
"Kak Julio?" gumamnya hingga membuat Julio menatap padanya.
Netra keduanya saling bersibobrok, "Waaaahhh cuma kak Julio yang di sapa dong, cieeee... ada apaan nih? Jangan cilok lo ya!" goda Selly dengan menepuk pundak Kaira.
Kaira dan Julio sama-sama mengalihkan pandangan mereka. Pipi keduanya sama-sama bersemu merah karena di soraki oleh teman-teman yang lain.
Di ruangan lain tepatnya di ruang sekretaris, Jova menahan sesak kala melihat Jefri berpaling begitu saja melewati ruangannya, tak terasa bulir bening menetes tanpa permisi melalui pelupuk matanya.
Tak sampai air mata itu jatuh ke lantai kini sebuah telapak tangan tiba-tiba menengadah di bawah dagu Jova.
Perlahan Jova menengadahkan kepalanya, mendongak menatap si pemilik tangan, setelah mengetahui siapa laki-laki yang kini berdiri di hadapannya, dengan kasar Jova mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya.
"Kau menangis?" tanya Jefri.
Jova mengalihkan pandangannya, "Mau apa kau kemari?" bukannya menjawab, Jova malah balik bertanya.
Jefri menunduk dengan mengusap pipi Jova, "Ekhem! Meeting selanjutnya jam berapa Jov?!" Zain yang baru saja tiba di ambang pintu bertanya dengan suara yang lantang hingga membuat dua sejoli itu gelagapan, padahal toh mereka tidak melakukan apa-apa.
"Eh, setelah istirahat Pak." sahut Jova dengan sedikit mendorong tubuh Jefri agar menjauh.
Kini Jova dan Jefri menoleh secara bersamaan, dan saat itu lah mereka kembali membuang tatapan masing-masing.
"Em... saya masih ada pekerjaan, permisi!" ucap Jefri kemudian berlalu meninggalkan Jova, gadis itu hanya menghela nafas kasar.
Zain berjalan memasuki salah satu lift khusus, kali ini ia berniat untuk mengunjungi gadis cantik kesayangannya.
Tak sampai Zain masuk ke dalam ruangan, ia hanya lewat saja di depan ruangan, dan di saat yang sama Kaira melihat kearah luar.
Senyum manis Kaira berikan kepada sang kekasih hati, begitu juga dengan Zain.
Tak lama dari kepergian Zain, ponsel Kaira bergetar pertanda ada sebuah pesan yang masuk.
Tertera nama "MY HANDSOME UNCLE" di layar ponsel Kaira, dibukanya pesan yang masuk itu.
📥[Aku tunggu di ruangan ku! Sekarang!]
Bukan senyuman yang Kaira terbitkan di wajah cantiknya, melainkan kerutan kening yang berlipat, "Ada apa Kai?" Sinta yang perduli bertanya.
"Ah tidak ada." sahut Kaira yang kembali menekan layar ponselnya, ia mengirim balasan kepada Zain.
Di dalam ruangan pribadinya, Zain tengah menunggu sang kekasih hatinya datang tapi bukan nya Kaira yang datang malah balasan pesan yang masuk kedalam ponselnya.
📥[Ketemunya ntar aja ya? Aku banyak kerjaan]
Mendengus kesal Zain, ada rasa menyesal telah menyetujui titah sang ayah, tapi tetap saja CEO tampan itu berusaha untuk tetap bersabar.
__ADS_1
Jam sudan menunjukkan pukul 21.15WIB...
Kaira baru saja keluar dari kantor ia mencoba untuk menghubungi nomor Zain, tapi laki-laki itu sedikitpun tak merespon, tapi tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depannya.
"Hai Kai? Bareng yok!" ajak laki-laki yang ada di dalam mobil.
"Tapi, Kak..."
"Udah ayok! Keburu malem, bentar lagi hujan deh kayaknya, mendung ini!" sedikit berteriak laki-laki yang tak lain adalah Julio berbicara dari dalam mobil.
Pintu mobil sudah terbuka, terpaksa Kaira ikut saja dengan mantan seniornya itu, Kaira duduk kemudian ia menutup pintu dengan benar.
"Maaf!" ucap Julio dengan mendekat kearah Kaira, berdebar jantung Kaira saat itu, "Maaf Kak..."
Belum sempat Kaira menyelesaikan ucapannya Julio sudah berhasil meraih seatbelt dan memasangkannya dengan benar.
Malu rasanya Kaira saat itu, ia merutuk dalam hati, menyesal sudah berpikiran yang tidak-tidak.
Keduanya kini melaju merayap menyusuri jalan raya, tak ada perbincangan, hanya ada kata petunjuk jalan ketika tiba saatnya berbelok.
Tak butuh waktu lama kini Kaira sudah sampai, tak lupa ia mengucapkan terimakasih, gadai itu segera turun dari mobil, dengan hati yang terus berusaha di tata rapi, Kaira berjalan memasuki hunian mewah itu.
Sudah gelap, lamu-lamu sudah banyak yang di matikan, pertanda bahwa sang tuan rumah sudah terlelap.
Kaira berjalan dengan hati-hati, ia tak mau membuat kebisingan, tapi ketika ia hendak membuka pintu kamarnya...
Set...
Tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dari belakang, "Ssssttt... ini aku!" ucap Zain yang membuat Kaira menghela napas lega.
"Uncle apa-apaan sih?!"
"Yang nganter kamu barusan siapa?" bernada datar pertanyaan dari Zain.
"Teman."
"Teman? Dihari pertama?" masih menuntut jawaban Zain di depan kamar Kaira.
"Udah deh, Uncle apaan sih nggak percayaan banget." memutar bola matanya gadis itu merasa sebal.
"Gimana nggak curiga, kamu ini cantik, terus tadi Uncle minta untuk kamu datang ke ruangan, nggak datang, ternyata ada teman ya?" cibir Zain.
"Sayang nya Kai, percaya dong sama Kaira." Kaira mengalungkan kedua lengannya di leher Zain.
Tak mau membuang waktu Zain segera menyambar bibir yang kini telah menjadi candunya itu.
Saling membelit keduanya, suara ciuman mengisi keheningan malam, bahkan mereka lupa dimana mereka melakukannya sampai...
CEKLAK!!
Lampu terang menyala dan...
"Sedang apa Kalian?!...
__ADS_1