
Didalam ruangan yang penuh dengan kabel juga terdapat monitor, bahkan benda tajam lengkap di atas nakas yang tersedia.
Dingin ruangan operasi itu, harap-harap cemas Zain menemani Kaira sang istri yang akan segera melakukan proses persalinan, "Aku nggak papa Om, jangan pasang wajah begitulah!" cetusnya enteng.
Terdiam Zain kali ini dia tak menanggapi ucapan sang istri, dia hanya menggenggam tangan wanita kesayangannya itu dengan lembut.
Lihat saja betapa santainya Kaira, bahkan setelah beberapa waktu lalu ia berhasil menggemparkan seluruh anggota keluarga dengan cairan ketuban yang sudah pecah di rumah.
"Saya suntik dulu ya Bunda?" seorang suster meminta ijin kepada Kaira.
"Hati-hati Sus, jangan menyakitinya!" cetus Zain dengan tatapan penuh peringatan.
"Om! Jangan gitulah! Kau menakutinya!" cetus Kaira dengan sedikit mencubit lengan Zain.
"Coba miring dulu Bunda," pinta sang Suster setelah tersenyum menanggapi peringatan dari Zain.
Baru saja Kaira memiringkan tubuhnya ia kembali terlentang, "Aduh duh, Sus bayinya, bayinya, ah... kepalanya sudah di jalan!" ceracau Kaira dengan mencengkeram erat tangan Zain yang masih memegangi dirinya.
"Oh ada respon dari bayinya, ayo atur napas, kita lanjutkan saja," titah dokter yang menanganinya. Setelah diberikan aba-aba, Kaira tetap nurut walaupun keringat bercucuran, bahkan napasnya seolah susah untuk dihirupnya, dan...
"Oeeeekkk!!! Oeeeekkk!!!" suara tangis yang mendatangkan senyum bahagia itu kini terdengar sudah.
Bayi mungil itu segera di bersihkan oleh dokter, "Terimakasih sayang," bisik Zain seraya mencium kening sang istri.
<•••••>
...<•••••>...
^^^<•••••>^^^
Tak terasa semua telah menjadi kenangan dalam waktu singkat, kini gadis yang dulu diperjuangan dengan bertaruh nyawa sudah tumbuh besar menjadi gadis cantik yang sehat nan ceria.
Dea Zoraya namanya, gadis itu kini sudah duduk di bangku kuliah, menjadi seorang mahasiswi membuat Dea semakin berwawasan luas, bahkan gadis itu penasaran dengan beberapa hal, seperti hal nya hari ini, Dea diam-diam melamar pekerjaan menjadi asisten dari seorang psikolog.
"Cantik, sopan dan anggun, itu gue banget nggak sih?" berkacak pinggang gadis cantik dengan stelan hitam putih juga rambut panjang yang sengaja ia gerai sepinggang menelisik penampilannya di depan cermin yang tingginya sekitar dua meter itu.
Ting!
Satu notifikasi pesan masuk mengalihkan atensi gadis cantik yang beranjak dewasa itu.
"Gara? Buat apa dia chat di jam-jam begini? toh hari ini nggak ada kelas," gumamnya dengan membuka pesan singkat yang masuk.
__ADS_1
📥 [Sayang, jalan yuk!]
Mengerut kedua alis Dea, walau begitu ia tetap membalas pesan singkat yang Gara kirimkan.
📤 [Sorry Ga, gue ada janji sama dokter Fajar hari ini, lo tau kan kalo gue pengen nyobain kerja part time?]
Lima menit sudah pesan singkat itu terkirim namun tak kunjung mendapatkan balasan dari sang empu.
Tak mau ambil pusing, Dea berjalan keluar dari kamarnya, "Anak Mama udah cantik aja, mau kemana sayang?" tanya Kaira yang duduk di sofa ruang tengah.
Sedang Dea terhenti langkah kakinya, ia berdiri termangu di tangah anak tangga, "Mama tanya sayang, kok diem sih?" tanya Kaira sekali lagi.
Tersentak Kaira, "Em... Kai ada acara sama Jennie Mah," cetus gadis itu dengan melanjutkan langkah kakinya.
"Oh, ya udah hati-hati sayang, pulang jangan malem-malem!" begitulah seorang ibuk setiap kali anaknya berpamitan untuk pergi, entah bermain, atau pun alasan yang lain.
Apalagi memiliki seorang putri cantik seperti Dea, Kaira sungguh was-was dibuatnya, ibarat berdiri di atas tebing yang curam, salah pergerakan sedikit saja pasti terjatuh ke lembah yang sangat dalam.
Tetapi tetap saja Kaira menarik ulur dengan si gadis cantik buah cintanya bersama Zain, tak mau ia dicap sebagai orang tua yang kolot dan membosankan, bagi Kaira curhat seorang anak lebih baik kepada ibunya dari pada kepada yang lainnya.
Tin... Tin...
Hafal dengan deru mesinnya juga dengan jam seperti biasanya, Kaira segera berjalan menuju pintu utama, membukakan pintu lebar-lebar demi menyambut suami tampannya yang baru pulang dari kantor.
Ritual cium tangan, peluk juga cium pipi kanan dan kiri selalu Zain dan Kaira lakukan, namun kali ini Zain terlihat celingukan.
"Dia mana Dea? Bukannya hari ini dia tidak ada jadwal kuliah?" bukan hal baru gadis cantik itu selalu Zain tanyakan, bagaimana pun Dea adalah kesayangan mereka, buah cinta pertama yang membuat tali cinta keduanya semakin erat saja.
Kaira meraih tas kerja sedang sebelah tangannya menggandeng sebelah lengan sang suami, "Dia keluar bersama temannya,"
"Jangan biarkan dia main terus Yank!" dengan langkah kaki yang terus melangkah menuju kamar, sepasang suami-istri itu terus mengobrol.
"Nggak terus lah Yank, toh dia butuh refreshing," cetus Kaira.
"Ok lah, dia butuh, berati kita juga butuh," Zain berbalik menatap Kaira dan mengangkat pinggang yang mulai berisi itu untuk dia gendong macam Koala.
"Ah... Yank! Malu lah!" begitulah kedua sejoli itu masih sangat mesra walau sudah beranak dua, Dea Zoraya yang kini sudah duduk dibangku Kuliah dan Kenzita Zora yang baru masuk SMA.
^^^Di taman depan rumah sakit... ^^^
Seorang gadis cantik tengah duduk, terlihat ia tengah menunggu seseorang, hingga...
__ADS_1
"Dea?" panggil seorang wanita berpakaian suster.
"Eh iya kak Nabila ya?" senyum ramah Dea tunjukkan, "Iya, jadi gimana, kamu mau menggantikan aku saat aku butuh, kan?" tanya Nabila.
"Asal dapat ijin saja aku pasti mau kak, kebetulan aku juga ambil jurusan kedokteran, jadi sedikit banyak tau lah tentang medis," cetus Dea.
Dengan senang hati keduanya melakukan perjanjian, jadi setiap kali Nabila tidak bisa masuk, Dea akan menggantikan dirinya bekerja di rumah sakit sebagai suster.
Semua berjalan lancar, Dea mendapat kan upah yang sesuai juga pekerjaan part time itu masih aman dari kedua orang tuanya, kini masalah percintaan nya dengan sang pacar yang membuat dirinya sedikit pusing.
Malam ini Garafa pacar Dea sengaja menunggu gadis itu keluar dari rumah sakit, jam 11 malam memang Dea baru keluar dari gedung megah berbau medis itu.
"Sibuk banget ya sampai-sampai nggak ada waktu buat ngehubungin gue?" pertanyaan itu membuat Dea sedikit terkejut.
"Gara?" terdiam ditempat, Dea tak melanjutkan langkah kakinya.
"Iya, kenapa? Nggak suka lihat gue? Atau jangan-jangan ada cowok lain ya?" tuduhan-tuduhan itu terus saja terlontar, namun Dea terus saja bergeming, sampai tangan Gara meraih pergelangan tangan Dea dan ditariknya gadis itu dengan kasar.
"Hey! Jangan kasar dengan anak perempuan Bung!" teriak seorang laki-laki yang baru saja keluar dari rumah sakit.
"Dokter Fajar?" lirih Dea.
"Oh jadi begini? Ada pahlawan masuk sampe gue keliatan kek penjahatnya gitu?" cetus Garafa.
"Nggak gitu Ga! Dia dokter di rumah sakit ini," jelas Dea.
"Dea ikut saya masih ada berkas medis yang harus kamu pelajari!" Fajar terus berjalan dan mau tak mau Dea mengikutinya.
"Dea! Kalau sampe lo nggak dengerin gue! Kita putus!" teriak Garafa, tapi apa boleh buat Dea lebih mencintai pekerjaannya.
"Jangan dengarkan, dia tidak serius, besok dia akan kembali menemui mu," cetus Fajar.
"Kok dokter tau?"
"Kau lupa atau bagaimana? Aku ini seorang ahli psikologi jadi gerak gerik manusia aku banyak tau dari pada siapapun," cetus Fajar sedikit menyombongkan diri, tapi malah mengundang tawa Dea.
"Hahaha... ok ok, Dea lupa, maaf deh haha..." terpana Fajar melihat gadis di sampingnya tertawa lepas.
"Saya antar pulang ya?" memberanikan diri Fajar menawarkan tumpangan.
"Terimakasih Dok, tidak usah," tolak Dea halus, "Terimakasih juga karena sudah memberikan alasan pasal pelajaran medis, hehe... Dea tau semua itu hanya alasan belaka, tapi makasih," senyum ramah itu mampu meluluh lantahkan hati Fajar si ahli psikologi hingga dokter itu tak menyadari kalau gadis cantik itu sudah hilang dari hadapannya.
__ADS_1