
Zoya gadis dewasa yang merasa kehilangan kekasih hatinya, kini bertekad untuk mencarinya, sudah ia dapatkan alamat lengkap yang akan ditujunya, setelah perjalanan kurang lebih 24 jam, Zoya kini sudah tiba di depan bangunan megah yang dikelilingi kebun teh dengan luas yang berhektar-hektar.
Kedatangannya disambut dengan hangat dan juga ramah, karena memang belum ada satupun yang mengenali dirinya.
Bahkan Zoya berbincang menggunakan bahasa yang baik dan sopan dengan Annisa dan Flora.
Tatapan Zoya kembali terkunci tak kala ia mendapati tubuh kekar yang sangat dikenalinya.
Tubuh dengan otot yang sempurna, juga wajah tampan yang sudah berhari-hari ini di rindukan nya kini muncul juga di hadapannya.
"Zain?" berdiri Zoya memanggil sang kekasih yang melangkahkan kakinya hendak menaiki tangga.
Lelaki tampan itu menoleh, ia merespon panggilan Zoya, terlihat mata tajam yang berpadu dengan alis tebal juga rahang tegas itu seperti terkejut melihat kedatangannya.
"Zoya?!" lirih Zain, sungguh ia tak mengerti bagaimana bisa wanita yang sangat dibencinya itu menemukan persembunyian nyamannya ini.
Tersenyum Zoya mendengar Zain menyuarakan namanya.
Ketika Zoya mulai melangkahkan kakinya, Zain dengan acuh membalikkan tubuhnya kemudian dengan cepat menaiki anak tangga hingga ia tiba di kamarnya.
Ingin sekali Zoya menghentikan langkah kaki Zain lagi tapi ia tak kini dirinya ada dimana, kembali duduk adalah pilihan terbaik baginya.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Malam hari...
Setelah makan malam Kaira membantu Zahira untuk mengerjakan tugas sekolahnya.
Mereka, kakak beradik itu memilih mengerjakan tugas di balkon, alasan Zahira adalah agar ada pemandangan lain yang membantunya agar tidak bosan belajar, Kaira hanya mendengus seperti biasa mendengar alasan yang tidak logis itu.
Kalau mau belajar ya fokus dulu jangan lihat yang lain nanti kapan selesainya tugas mu! Begitu lah sistem kerja otak gadis genius itu, menyelesaikan salah satu pekerjaan adalah kunci utama agar hati kita tenang menuju ke pekerjaan yang selanjutnya.
Kaira fokus mbantu Zahira mengerjakan tugas sekolahnya sedangkan sang adik malah sibuk melihat halaman belakang yang terlihat dari atas balkon itu.
"Za! Niat belajar nggak!" teriak Kaira dengan menatap tajam adik kandung nya itu.
Bukannya menurut kini Zahira malah memanggil rasa penasaran Kaira.
"Eh kak sini deh, bukannya itu Uncle?" tanya Zahira dengan menunjuk kearah bawah.
__ADS_1
Kaira penasaran, walaupun wajahnya di tekuk tapi gadis itu tetap berdiri kemudian mendekati Zahira, "Yang mana?" tanya Kaira celingukan.
"Yang itu lo! Itu Uncle sama siapa?" tanya Zahira semakin membuat panas hati Kaira.
Menajam kedua mata Kaira, gadis itu sudah curiga dengan tamu wanita yang datang kerumahnya sore tadi, Kaira tanpa sepatah kata pun segera berlari keluar dari kamarnya, "Kak! Kak Kaira?!" teriak Zahira heboh, dan suara gadis remaja itu terdengar oleh Zain.
Laki-laki itu menoleh ke arah balkon, kemudian fokus kembali dengan gadis yang ada di hadapannya, "Hubungan kita ini sudah berkahir!" sekali lagi Zain mengingatkan.
"Tapi Zain, aku dijebak sayang! Ayolah dengerin penjelasan aku!" gadis itu terus merengek.
"Cukup Zoya! Kalau lo masih mau jadi model BA di perusahaan ZG-Zora-Group, berhenti ngejar-ngejar gue!" hardik Zain dengan tegas, tapi sekali lagi Zoya memaksa memeluk tubuh laki-laki yang telah lama menjadi kekasihnya itu.
Terdiam Zain, sedikitpun ia tak membalas pelukan erat dari Zoya, "Maafin aku sayang, aku dijebak, itu vidio juga kamu nggak boleh percaya gitu aja dong! Itu rekayasa!" tampik Zoya dengan terus memeluk tubuh Zain.
"Lepas in gue!" dingin Zain berucap, Zoya menggeleng masih dengan mengeratkan pelukannya.
"Mana mungkin keluar desah manja jika kau tidak menikmatinya!" akhirnya Zain teringat kembali vidio yang membuat dirinya pulang kampung selama ini.
"Kau tidak tau bagaimana cerita aslinya!"
"Aku memang tidak mau tau, toh bagaimana pun, milik mu sudah tidak lagi tersegel!" Zain mencengkeram pundak Zoya berusaha melepaskan pelukan gadis itu, yang begitu erat, hingga...
"Kai?" lirih Zain kemudian ia dengan tenaganya melepaskan pelukan Zoya hingga gadis itu tersungkur di lantai.
Kiara tak kuat hati mendapati pemandangan yang menyayat hati itu, segera gadis itu berbalik dan berlari menjauh.
"Kaira! Tunggu Kai!" teriak Zain dengan menyusul gadis yang menjauh itu.
Zoya yang melihat Zain mengejar gadis lain pun mengumpat sejadinya, "Sialan! Siapa gadis itu?!"
Kaira keluar dari hunian mewah, "Mau kemana Kai?" tanya Annisa yang duduk berkumpul diruang tengah.
Tak menyahut Kaira terus berlari, bukan maksud mau durhaka, tapi jika satu kata saja keluar dari mulutnya, sudah dapat dipastikan kalau bulir bening dari dalam kelopak matanya pasti akan ikut luruh membasahi pipi putihnya.
Tidak lama dari Kaira berlari keluar, tiba-tiba Zain pun ikut berlari mengejar gadis kesayangannya itu.
"Kai tunggu!" teriak Zain.
Laki-laki itu mengejar Kaira tanpa perduli ada siapa di ruang tengah yang di lewatinya.
__ADS_1
Semua orang yang duduk di ruang tengah kembali saling memandang, "Ada apa ini?" tanya Marcel.
"Tidak tau, palingan mereka bertengkar seperti biasanya." cetus Annisa santai.
"Harusnya kau nasihati anak sulung mu itu Nis, biar tidak menjadi gadis yang mudah marah, apa dikit marah ini marah itu marah, haish... sudah seperti tuan putri saja." cibir Maria, dan itu membuat Marcel mengelus punggung istrinya agar tidak membalas ucapan ibunya.
Di halaman depan Zain akhirnya berhasil meraih lengan kiri Kaira, ditahannya gadis itu agar tidak lagi berlari, "Lo mau kemana?!" tanya Zain dengan tatapan tajamnya.
"Bukan urusan Uncle!" teriak Kaira.
"Lo udah jadi urusan gue! Lo ngerti itu!" gertak Zain tak kalah galaknya.
"Buat apa ngurusin Kai?! Urus saja cewek yang barusan! Kai nggak butuh belas kasihan Uncle! Lepas!" Kaira menghentakkan tangannya dan itu berhasil terlepas dari cengkeraman Zain.
"Kai!" teriak Zain yang melihat Kaira terus berlari menjauh, "Zain berhenti! Jika kau terus mengejarnya! Makan akan ku pastikan kau akan semakin jauh dengannya!" ancaman itu terdengar ketika Zoya sudah tiba di belakang Zain.
"Zoy?! Apa-apa an lo?! Dia hanya gadis remaja yang belum ngerti apa-apa!" jelas Zain menghadap kearah Zoya.
"Lalu? Biarkan dia berpikir dengan otaknya, bagaimanapun dia harus tumbuh sayang!" ucap Zoya dengan meraba dada bidang yang tertutup kemeja hitam.
"Tumbuh tapi tidak dengan pikiran negatif tentang ku!" sela Zain, kemudian ia menghempas lengan Zoya dari dadanya, langkah panjang itu kembali mengejar Kaira.
Semirik senyum licik tersirat di wajah Zoya, "Oh jadi ada kerikil kecil yang akan menghalangi usaha ku? Baik lah!" Zoya berbalik ia mendekati kedua Bodyguardnya entah apa yang mereka bicarakan, mungkin sebuah rencana yang akan ia gunakan untuk memikat Zain kembali.
...⚡⚡🌧⛈️BLEDARRRR!!!🌩🌧⚡⚡...
Suara petir mengisi keheningan malam ini, Kaira terus berjalan di dalam kegelapan malam, menyusuri jalanan mencari sebuah ketenangan.
Tak disangka bunga di dalam hatinya yang baru saja tumbuh kini harus layu diterpa badai, juga tenggelam didalam lautan air mata.
Terus mengalir bulir bening itu membasahi pipinya, hingga GREP!!!
Seseorang memeluknya dari belakang, "Malam-malam begini, nggak baik seorang gadis jalan sendiri."
Suara ini? Kaira terdiam tak memberontak sedikitpun, gadis itu perlahan menoleh dan sungguh terkejut bukan main Kaira mendapati wajah tampan yang dulu selalu di elu-elu nya.
Baru Kaira membuka mulut hendak menyebutkan namanya, tapi pemuda itu sudah lebih dulu menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya.
"Sssstttt... Lihatlah air mata yang tidak tau malu ini!" pemuda itu berucap dengan sebelah tangannya mengusap pipi basah Kaira, bergeming Kaira seolah kehabisan tenaga, mendapati perlakuan ini...
__ADS_1