I Love You Handsome Uncle

I Love You Handsome Uncle
Part 45 (Mencabut Tuntutan)


__ADS_3

Hari berlalu, dengan berbagai masalah yang membelenggu, tapi walau begitu perjalanan hidup masih terus melaju, tak ada alasan yang dapat menghentikan waktu. Setelah dilaporkan kepada pihak berwajib akhirnya Marcel diringkus oleh pihak kepolisian dengan tuduhan penculikan bayi. Sedangkan Annisa yang merasa sangat dan amat kecewa hanya mengikhlaskan, tak sedikitpun Annisa memberatkan pekerjaan para polisi.


Wanita yang sempat di panggil Ibuk oleh Kaira itu, kini tengah merenung di depan rumahnya, duduk dengan mengenang masa-masa manis kala satu keluarga kecilnya masih lengkap.


Tangis, canda, dan tawa yang terlukis di wajah Kaira masih jelas terbayang dalam ingatan.


Tak terasa bulir bening menetes membasahi pipi Annisa hingga...


TIN... TIN... TIN...


Bunyi klakson mobil membuyarkan lamunan Annisa, dilihatnya Zain turun dari mobil, sepupu tampannya itu telah rapi dengan setelan jas ala-ala CEO nya.


"Hai Mbak?" sapa Zain dengan berjalan mendekati Annisa.


Hanya senyum tipis yang Annisa suguhkan namun kemudian kembali wajah itu sendu kala ia mengingat Zain yang dulu pernah mengatakan ingin menikahi Kaira.


"Mau jenguk Mas Marcel?" Zain menawari, Annisa hanya menggeleng lemah, mungkin sakit hati nya begitu dalam, bayangkan saja selama 20 tahun ia dibohongi, siapa yang tidak sakit hati jika dibohongi selama itu?


"Tapi kalau ke rumah Kaira, ikut kan? Zain mau tarik dia biar gabung sama keluarga kita lagi." Zain duduk jongkok di depan kursi dimana Annisa duduk.


Perlahan tatapan Annisa ia tujukan kepada wajah tampan yang ada di hadapannya, "Kamu yakin mau menikahi Kaira?" lirih pertanyaan Annisa, tapi masih terdengar jelas ditelinga Zain.


Mengangguk mantap Zain dengan senyum yang mengembang, "Iya Mbak, Zain nggak main-main kok." sahut Zain yang mendapat tepukan dipundaknya.


"Mbak mendukungmu." Annisa segera beranjak dari kursinya, "Tunggu ya, Mbak mau ganti dulu."


"Iya, Mbak." sampai di situ perbincangan keduanya, kini Zain menunggu Annisa untuk diajak berkunjung ke rumah Kaira yang sekarang.


...~∆∆∆🌼∆∆∆~...


Tak jauh dari kediaman Flora, sebuah rumah bergaya minimalis dengan gedung olahraga yang ada di samping rumah, terdengar suara bising samsak yang di tendang dan ditinju dari dalam gedung olahraga.


Bhak... Bhuk...


^^^Bhak... Bhuk... ^^^


"Hahh... Haahhh... Haahhh..." dada gadis dengan T-Shirt hitam terlihat mengembang kempis, napas ngos-ngosan itu menandakan bahwa tega yang ia keluarkan tidaklah main-main.


"Aaarrrgghhhh!!"


BRAK!!!


Teriak gadis itu dengan kembali menendang samsak, dan tanpa sengaja samsak itu mengenai tubuh seorang laki-laki dibaliknya.


"Kai? Kamu baik-baik saja?" tanya laki-laki yang baru saja tubuhnya dihantam samsak.


"Haahhh..." napas panjang gadis itu hembuskan dengan kasar, gadis cantik dengan peluh yang menetes dimana-mana itu tak lain dan tak bukan adalah Kaira Vexsana.

__ADS_1


Ya, setelah keluar dari rumah sakit Kaira langsung diboyong oleh Julio dan keluarga untuk dibawa pulang ke kediaman Claudia.


Kaira ambruk terlentang di samping samsak yang masih bergelantungan, Julio mendekati adik biologisnya itu.


"Dek? Are you ok?" tanyanya dengan mengelus pucuk kepala Kaira.


Gadis itu menepis tangan Julio, "Tinggalkan aku sendiri Kak!" lirihnya.


"Ada tamu loh, mau ketemu sama ka..."


"Aku pengen sendiri, Kak! Kak Julio ngerti nggak sih?!" sentak Kaira dengan menatap tajam Julio, kemudian ia meringkuk membelakangi Julio.


Tanpa sepengetahuan Kaira Julio kini sudah melangkah keluar dari ruangan yang penuh dengan peralatan olahraga itu.


Berhenti Julio di ambang pintu kala ia mendapati sosok Zain yang sudah berdiri di sana.


"Pak Zain?" lirihnya tapi segera Zain menempelkan jari telunjuk di bibirnya, "Sssshhhh... jangan berisik!" lirihnya hampir berbisik.


"Kaira nya ada didalam?" tanya Zain masih dengan suara yang berbisik.


Julio mengangguk, ia sudah paham dengan kedekatan adik dan juga bosnya itu, maka tanpa menghalangi lagi, Julio mempersilahkan Zain untuk masuk kedalam demi menemui Kaira.


Julio berjalan keluar sedangkan Zain menerobos masuk kedalam ruang olahraga itu, dilihatnya seorang gadis tengah meringkuk.


Tanpa banyak bicara Zain menarik lengan Kaira, agar gadis itu beralih menatapnya.


"Uncle?" lirihnya masih dengan posisi terlentang, Zain tersenyum, "Uncle rindu istri kecil Uncle." dibelain ya wajah cantik yang masih dihiasi bulir-bulir keringat itu.


"Iiiihhh... Kai lagi nggak mood bercanda!" gadis itu bangun dari posisi tidurnya, "Uncle kesini sama siapa?" tanya Kaira.


"Ada Mbak Nisa di luar..."


"Ibuk ikut?" membelalak netra bulat Kaira, Zain yang melihat sorot semangat yang Kaira pancarkan dari dalam matanya segera mengangguk, "Iya, dia ikut."


Segera Kaira berdiri dan berlari keluar, bahkan Zain yang mengatakan rindu saja dia tinggalkan di sana sendiri, "Kai! Yang bilang kangen kan Uncle, bukan Mbak Nisa!" teriak Zain. Tapi Kaira sedikitpun tak menggubris, gadis itu terus saja berlari menuju ruang tamu.


Setibanya di sana ia melihat Claudia bersama dengan Annisa saling bercengkrama, "Ibuk!" teriak Kaira, setelah Annisa menoleh, gadis itu segera berlari dan bersimpuh di depan kaki Annisa, di ciumnya lutut Annisa dihadapannya itu.


"Kai kangen Ibuk." rintihnya dengan menhan bulir bening agar tak luruh membasahi pipinya.


"Sayang, kau tetap putri Ibuk sayang." Annisa mengangkat tubuh penuh keringat itu kemudian ditariknya kedalam pelukan.


Peluk hangat Kaira dan Annisa membawa rasa tersendiri pada Claudia, nyatanya wanita yang melahirkan gadis itu tak pernah melihat kebahagiaan Kaira selama gadis itu tinggal bersama dirinya beberapa hari terakhir ini.


Kaira perlahan melepas pelukannya, "Mama, bisa Kaira minta sesuatu?" Kaira beralih menatap Claudia.


"Iya sayang, ada apa?" tanya Claudia berusaha untuk tetap biasa saja.

__ADS_1


"Bisa nggak Mama cabut tuntutan yang membuat Ayah Marcel dipenjara?" lirih Kaira memohon, semua tercengang dengan keinginan gadis cantik itu.


"Yang benar saja Kai? Dia sudah memisahkan mu dari Ibu kandung mu!" cetus Zain yang baru saja tiba di sana.


"Tapi Uncle, tanpa Ayah, kita nggak akan pernah ketemu, bahkan Ayah juga yang membawaku kepada keluarga hangat kalian, jangan lupa keluarga kalian juga yang mendidik ku hingga aku lulus dan kuliah di Korea, tanpa dukungan dari keluarga kalian, aku belum tentu sesukses sekarang ini." cetus Kaira yang kini sudah tak mampu lagi menahan bulir bening yang membasahi pipinya.


Semua terdiam, saling pandang, cukup lama keheningan itu terjadi, pasalnya sangat sulit untuk Claudia memberikan kebebasan kepada Marcel yang telah memisahkan dirinya dari putri cantiknya itu selama 20 tahun.


"Mah, Kai mohon, bebaskan ayah Marcel, dia yang mendidik putrimu hingga tumbuh menjadi sedemikian rupa." masih memohon Kaira, tapi masih terdiam juga Claudia.


"Jangan seperti itu sayang, Ibuk nggak papa kok, lagi pula yang dilakukan ayah mu itu termasuk penculikan." jelas Annisa dengan mengelus pundak Kaira.


"Tapi buk! Ayah melakukannya demi Ibuk!" ngotot Kaira.


"Dengan cara memisahkan bayi dari ibu kandungnya? Ibuk ngerti bagaimana perasaan Mama mu sayang, jangan egois!" Annisa kembali memberi penjelasan kepada Kaira.


"Tapi dengan penuh kasih sayang juga ayah Marcel mengurus Kaira! Bahkan setelah kalian mempunyai keturunan, ayah tak pernah membeda-bedakan kasih sayangnya, padahal Beliau tau, aku bukan anak kandungnya, tapi tetap disayang layaknya anak kandung yang lahir dari rahim istrinya." cecar Kaira.


Terdiam semuanya mendengar penuturan dari Kaira, "Ayolah kalian jangan egois, lagi pula yang lelah membesarkan aku bukan kalian! Melainkan orang yang saat ini tengah mendekam di penjara, dialah orang yang sudah membesarkan aku! Dan saat ini kalian memaksa ku untuk ikut tinggal bersama kalian!" Kaira semakin membabi buta dengan ucapan yang membuka jalan pikiran Julio beserta keluarganya.


"Kak Julio tau kan bagaimana kehidupanku yang mewah penuh penjagaan selama dulu aku sekolah?"


"Kakak juga tau kan kalau Kai ini salah satu siswa yang mengikuti kelas akselerasi? Tolong jangan buang semua kerja keras ayah Marcel, semua juga dengan dukungannya, dia rela kerja pulang malam dan semua demi Kaira, membayar les pelajaran Kaira yang tidak murah! Coba kalian pikir!"


Annisa tak menyangka, sesayang itu Kaira kepada Marcel yang sudah memisahkan dirinya dari keluarga aslinya.


Kini mereka saling menatap satu sama lain, "Mah, Mama ok?" Julio membelai punggung Claudia.


Wanita paruh baya itu mengangguk, "Iya, Mama baik-baik saja, Mama terharu dengan kebaikan hati adikmu, ternyata dia tumbuh dengan orang-orang yang baik, yang menyayanginya dengan sangat tulus."


Claudia terlihat menghela napas, "Baiklah, asal kau kembali dengan keluarga kami, Mama akan cabut tuntutan itu." cetus Claudia.


Berdiri Kaira, gadis itu segera menghambur kedalam pelukan Claudia, "Makasih Mah, Mama adalah ibu dengan kebaikan yang luar biasa, thanks, Kaira jadi bangga sudah lahir dari dalam rahim Mama." peluk erat itu membuat Claudia menitikkan air mata.


Air mata haru yang membawa kebahagiaan di dalam hatinya.


Mereka semua segera mengurus segala sesuatu untuk membebaskan Marcel dari dalam tahanan jeruji besi.


Setelah melewati segala rentetan urusan yang sedikit merepotkan, kini Marcel sudah berhasil keluar dari balik jeruji besi dengan menyandang gelar mantan napi.


"Ayah." dipeluknya tubuh Marcel yang lumayan kurusan, Kaira menumpahkan air mata dipundak laki-laki yang sering dipanggilnya ayah itu.


"Kai sayang, maafkan Ayah yang sudah memisahkan kamu dari keluargamu." bisik Marcel dengan suara bergetar menahan tangis.


"Ayah tetap Ayah Kaira, Ayah yang sudah mendidik Kai sampai jadi begini, masa lalu itu Ayah lakukan pasti ada alasan tersendiri." jelas Kaira dengan meregangkan pelukannya.


Tak lupa Marcel berterimakasih juga meminta maaf kepada keluarga Julio. Setelah mereka meluruskan masalah yang ada kini jalur damai lah yang mereka pilih...

__ADS_1


Jangan lupa berikan Bintang lima ya, see you...


__ADS_2