I Love You Handsome Uncle

I Love You Handsome Uncle
Part 46 (Will You Marry Me?)


__ADS_3

Zain kini tengah duduk di kursi kebesarannya, di tangan kananya ada pulpen yang sedari pagi ia mainkan. Setelah selesai dengan maslah keluarga Kaira, kini Zain berencana untuk melamar gadis pilihan hatinya.


Drrrrrtttzzzz...


Drrrrrtttzzzz...


Dering ponsel yang ada di atas meja kerja berhasil mencuri perhatian dari CEO tampan itu.


"Halo Ayah?" setelah menggeser tombol hijau yang tertera pada layar ponselnya Zain menyerukan suaranya.


📞"Bisa pulang sekarang!" pertanyaan itu lebih bernada perintah, hingga membuat Zain mau tak mau mengiyakan perintah dari ayahnya.


"Iya Ayah, Zain pulang sekarang." sahutnya, bahkan orang tua di balik sambungan telepon itu mematikan tanpa kata pamit.


"Kebiasaan!" cetus Zain, tapi walau begitu CEO tampan putra Gautam itu segera beranjak dari kursi kebesarannya.


"Tuan Muda?" panggil Jefri, saat Zain baru saja keluar dari pintu ruangannya.


"Chat saja Jef! Aku buru-buru!" teriak Zain dengan berlari memasuki lift eksklusif yang tersedia di sana.


Di kediaman Julio Claudian...


Laki-laki tampan itu tengah menyiapkan sebuah mobil mewah yang ia keluarkan dari dalam garasi rumahnya.


"Kita mau kemana, Kak?" tanya Kaira yang sudah siap dengan dress tanpa lengan sepanjang mata kaki, dress cantik berwarna navy dengan hiasan mutiara-mutiara putih di beberapa bagian membuat Kaira semakin terlihat anggun dan menawan.


"Udah ikut aja." ucap Julio yang sudah lebih dulu duduk di dalam mobil.


Dengan langkah gontai Kaira memutari mobil kemudian masuk dan segera duduk di kursi penumpang bagian depan, tepat di samping Julio kini Kaira duduk, wangi parfum gadis itu menguar memenuhi satu ruang mobil yang mereka tempati berdua.


Julio dengan kecepatan sedang mengendalikan kijang besi mewah itu untuk terus menyusuri jalanan berwarna hitam dengan garis putih ditengahnya.


"Jalur kota?" tanya Kaira dengan menatap Kakak biologisnya itu.


Sekilas Julio menatap adik cantiknya, "Iya," dengan tersenyum Julio menyahuti, kemudian beralih pandangan laki-laki tampan itu fokus ke jalanan yang terlihat ramai.


Kaira hanya terdiam, tak lagi ia bertanya, karena keheningan yang menyelimuti suasana, perlahan rasa kantuk mulai menghampiri gadis itu.


Julio terus melajukan mobilnya menuju daerah puncak Bogor, perjalanan yang cukup panjang itu membuat Kaira terbangun dari tidur lelapnya, kala indera pendengarannya tak lagi mendengarkan deru suara mobil.


"Kak?" gumamnya saat netra bulat itu mulai terbuka sipit, pasalnya ia tak mendapati Julio di kursi kemudi.


Sedikit panik Kaira menoleh kesana-kemari demi menemukan sosok sang kakak, tapi nihil, Julio tak di temukan nya dimana-mana.


Klak!!


Dibukanya pintu mobil, tempat asing segera menyambut netra bening yang menyapu pepohonan rindang di sekitar.


Hutan, kata itulah yang tersemat di dalam otak Kaira, "Kak?" teriak Kaira.

__ADS_1


Sejauh apa tempat ini dari pemukiman warga? Lihat saja, sekali Kaira menyerukan nama kakaknya, berkali-kali pula gema manirukannya.


Masih dengan tatapan was-was Kaira berjalan mengitari mobilnya, mencari tanda-tanda kehidupan disekitarnya.


Srak...


Berbalik gadis itu kala melihat seekor kucing mendarat di belakangnya, "Hey kau datang dari mana?" gumam Kaira dengan meraih serta menggendong kucing hitam tersebut.


Ada lipatan kertas di bagian kalung kucing lucu itu, mengerut dahi Kaira, ia membuka lipatan kertas itu, yang tak lain adalah secarik surat yang bertuliskan...


...✉️ "Welcome Kaira, silahkan masuk mengikuti tanda panah merah!"...


Semakin mengerut kening gadis itu, ingin nya ia abaikan tapi kemudian ia berpikir ada apa didalam sana?


Dengan tekat bulat Kaira berjalan masuk mengikuti tanda yang sudah diberikan, langkah kakinya terhenti kala ia tiba di depan pintu sebuah bangunan yang begitu megah.


"Siapa saja yang ada didalam sana! Tolong deh, jangan bercanda!" teriak Kaira.


Tak ada sedikitpun sahutan dari sana, memberanikan diri, Kaira meraih handel pintu rumah besar itu dan membukanya...


Klak...


Krrrriiiiiieeeeetttt...


Suara derit pintu itu berbunyi begitu nyaring, sudah mirip adegan di film-film horor saja.


Melangkah lebih dalam gadis itu melepaskan handel pintu yang sedari tadi digenggamnya.


Krrrrriiiiieeeettt... kembali berbunyi derit pintu besar itu hingga membuat Kaira menoleh dan...


Brak...Gelap sudah pandangan Kaira, pintu besar itu tertutup hingga membuat Kaira tersentak.


Gadis itu hendak berlari menuju pintu utama tapi dengan tiba-tiba pula lengan rampingnya di genggam oleh seseorang didalam kegelapan ruangan itu.


"Siapa kamu?" berbalik Kaira, ia melihat hanya bayangan hitam saja, dan anehnya bayangan hitam itu terlihat berlutut dihadapannya.


Klak...


Lampu didalam ruangan itu menyala dengan terangnya, hingga menyilaukan netra bulat Kaira, "Will you marry me?" terdengar suara yang tak asing bagi indera pendengaran Kaira.


Menganga terkejut gadis berbalut dress navy itu kala melihat Zain lah yang sedari tadi menggenggam lengannya bahkan berlutut di hadapannya.


"Hey? Kok bengong sih?" tanya Zain ketika tak mendapatkan jawaban dari Kaira.


"Terima dong Kai, kita semua restuin hubungan kalian kok, kan udah nggak ada pihak yang membebani." teriak Annisa yang kala itu gemas dengan tingkah Kaira yang terlihat speechless.


Mendengar suara sang ibu asuh, Kaira mengangkat pandangannya, ia edarkan pandangan ke seluruh ruangan, ruangan itu tampak terisi penuh dengan banyak orang, walau hanya keluarga inti tapi keluarga dari Zain saja sudah banyak orang, ditambah lagi dengan keluarga Julio.


Di sudut sana ada juga senior cantik yang dulu sempat dibencinya, Dessy masih mengenakkan jas putih ala dokter, gadis yang dulu senior Kaira itu tersenyum manis padanya.

__ADS_1


Zain berdiri di hadapan Kaira, "Hey, aku di sini! Kenapa kau malah memandang yang lain? Apa kau pikir ini mimpi? Aku melamar mu sayang." bisik Zain dengan wajah yang menunduk menatap lekat wajah ayu Kaira Vexsana.


"Kau membuat ku malu Uncle, kenapa harus semua hadir?" bersemu merah pipi Kaira, gadis itu berbisik dengan menarik kerah tuxedo berwarna navy yang di kenakan Zain.


"Jadi apa kau menerima lamaran dari pria tua ini?" Zain kembali berbisik.


Kaira tak menjawab dengan suara, ia hanya menatap lekat netra tajam milik Zain serta senyum manis yang ia kembangkan, Kaira mengangguk menandakan ia menerima.


Bahagia rasanya hati Zain, tanpa pikir panjang CEO tampan itu membingkai kedua pipi Kaira dengan kedua telapak tangannya dan segera memangkas jarak wajah diantara keduanya.


Hampir bersentuhan kedua benda lembab nan kenyal itu tapi...


"HHHHEEEEEEEEEYYYYY!!!" teriak semua orang, dan Julio segera menarik tubuh Zain agar menjauhi Kaira.


Terkejut Zain, CEO tampan itu sejenak lupa jika ada orang lain di sana, "Astagah!" gumamnya dengan mengusap wajah, senyum malu-malu tergambar di wajah cantik Kaira, bahkan gadis itu terlihat menyelipkan rambut yang menjuntai, kebelakang telinga kanannya.


"Sabar dong! Main nyosor aja! Kancane yo dipikir no mas eeee..." cetus Risa yang kala itu berdiri di samping Kemal.


"Kamu mau di sosor juga?" bisik Kemal yang langusng mendapat cubitan dari jemari lentik milik Risa.


Annisa berjalan maju, "Ini kalian pasangkan di jari kalian, jangan dilihat harganya, karena ini hadiah dari Ibuk, anggap saja ini cincin pertunangan kalian." Ibu asuh Kaira itu menyodorkan kotak warna merah yang berisi dua cincin couple.


"Makasih ya Mbak," Zain tersenyum dengan kedua tangannya meraih benda yang Annisa sodorkan.


"Ibuk." Kaira memeluk Annisa dengan erat hampir saja suasana ini membuat air matanya jatuh membasahi makeup tipis Kaira.


"Udah jangan sampe nangis! Sayang itu cantik-cantik bedaknya, nanti luntur." Annisa bercanda dengan meregangkan pelukannya.


Kaira tak menyahut, ia hanya tersenyum manis, kemudian Kaira berbalik menatap Zain, dan keduanya kini saling bertukar memakaikan cincin pemberian Annisa.


Gautam selaku pemilik Vila besar ini segera mengajak semua untuk makan malam, berhubung hari sudah semakin gelap saja setelah adegan prank yang Kaira dapatkan barusan.


Selesai makan malam, semua orang sibuk menyiapkan kamar untuk mereka tidur tapi tidak dengan sepasang kekasih yang kini masih berdiri di dekat kolam renang halaman belakang.


Zain memeluk pinggang ramping Kaira dari belakang, gadis itu tersenyum dengan sedikit menoleh kearah samping kanan, karena di sana Zain menancapkan dagunya di atas pundak Kaira.


"Kau bahagia?" tanya Zain dengan memberi Kaira kecupan kecil di akhir kalimatnya.


Kaira menggeleng pelan, tapi senyum manis masih tersemat di bibirnya, "Kau tidak bahagia?" tanya Zain yang tau jika Kaira menggelengkan kepalanya.


"Ish... bukan!" sahut Kaira dengan tangan yang mendorong pelan pipi Zain.


"Terus kenapa geleng-geleng?"


"Aku akan bahagia jika Uncle sudah mengucap ikrar ijab qobul yang didalamnya ada namaku." ucap Kaira


"Sabar ya, biar para orang tua di dalam memilih hari yang tepat dulu." ucap Zain dengan mengeratkan pelukannya...


Mohon untuk berbaik hati memberikan Vote dan bintang lima untuk karya ini, terimakasih see you...

__ADS_1


__ADS_2