
"Lalu mau bagaimana kau bertanggung jawab?" tanya Zain, sungguh laki-laki itu menikmati keisengan nya itu, suka sekali Zain melihat wajah yang biasanya garang itu berubah menjadi takut dan anehnya terlihat imut.
"Em... kata teman gue... " terdiam sejenak Kaira menata ucapannya agar tidak salah jalan, Zain bersedekap menunggu kelanjutan ucapan keponakannya.
Masih berusaha keras Kaira mengingat curhatan Melda, teman sekelasnya yang sering curhat tentang hubungannya bersama dengan pacarnya.
"Yang sehat itu yang bisa langsung kasih respon." terngiang ucapan Melda beberapa hari yang lalu.
"Gimana?" tanya Zain karena Kaira tak kunjung melanjutkan ucapannya.
"Ka... kata teman, ya... yang sehat, yang bisa respon." ucap Kaira.
"Respon?" Zain menyipitkan kedua matanya dengan memandang keponakan cantiknya.
"Respon yang bagaimana?" tanyanya lagi.
"Ma...mana gue tau, toh Uncle yang punya, kemarin-kemarin, di ajak bicara bisa respon kah? Atau... atau... "
"Dia respon kalau ada sentuhan!" sela Zain dengan niat jahilnya yang tingkat dewa.
"Apa di sentuh tidak apa-apa? Apa tidak sakit?" tanya Kaira serius.
Malu sendiri Zain saat Kaira terlihat serius dengan ucapannya barusan, niat hati ingin mengerjai keponakannya itu malah Kaira menganggapnya serius.
"Dahlah lupain!" Zain menyingkirkan Kaira dari hadapan nya.
"Tunggu Uncle! Katanya minta pertanggung jawaban, biar Kaira cek ya? Apa kah dia bisa merespon?" ucap Kaira dengan menghadang tubuh kekar itu, bahkan tubuh nya bersentuhan dengan dada bidang yang tertutup kemeja.
"Maaf Uncle! Sebentar saja!" ucap Kaira tanpa permisi membelai aset yang beberapa jam yang lalu di remas nya dengan sangat kuat.
"Kai!" Zain bergeming, laki-laki tampan itu terkejut dengan kelakuan keponakannya.
"Maaf Uncle, tapi ini tidak akan sekeras tadi, Kai janji." ucap Kaira yang langsung menerobos masuk celana boxer yang di pakai Zain.
Memejamkan mata Zain tidak bergerak sama sekali, entah mengapa, padahal hatinya mengumpat tapi tubuhnya menerima.
Jemari lembut itu kini sudah memijat pelan aset miliknya.
Dengan mata terpejam Zain berusaha untuk tidak men-desah sedikit pun.
Mendongak Kaira menatap Uncel nya, "Sakit ya Uncle? Maaf Kaira akan pelan-pelan." Ucap Kaira.
Zain dengan sekuat tenaga melawan gejolak yang seolah membakar sesuatu di dalam tubuhnya.
"STOP KAI!!!" Zain mencekal tengan ramping gadis cantik di hadapannya itu.
__ADS_1
Dengan paksa Zain mengeluarkan tangan dengan kulit lembut itu dari balik celana boxernya.
Tanpa bicara sedikit pun, Zain nyelonong masuk, kamar mandi lah tujuannya.
BRAK!!
Tersentak hingga terangkat kedua bahu Kaira ketika pintu kamar mandi dibanting Zain sekuat tenaga.
"Uncle marah ya? Apa gue terlalu kasar menyentuhnya? Padahal kan udah pelan-pelan!" gumam Kaira dengan merengut, gadis itu pun segera kembali ke dalam kamarnya.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Di dalam kamar mandi...
"Aaarrrggghhh shyaland!!!" umpat Zain dengan memainkan asetnya sendiri.
Fantasi liar ia tata di dalam otaknya namun lagi-lagi senyum manis dan bayangan wajah cantik Kaira lah yang muncul di dalam benaknya.
"Oh Shi*t!!" sekali lagi umpatan dengan dengusan nafas kasar terdengar, "Ough..."
Setelah sekitar 15 menit ia bermain sendiri akhirnya tuntas juga, tapi ya begitulah, rasa jengkel, malu dan tak nyaman bercampur menjadi satu.
Kini Zain duduk di balkon kamarnya, dengan menyalakan satu batang rokok, laki-laki dewasa itu duduk bersandar pada kursi malas yang ada di sana.
"Haaahhh!!!" Helaan nafas panjang terdengar tak kala netra tajam itu terpejam.
Kepala Zain menengadah, ia benar-benar memposisikan tubuhnya senyaman mungkin.
Kemudian tak sengaja ia menoleh ke arah kanan, di sana ia melihat balkon dengan pagar berwarna pink.
Ya... itu adalah balkon kamar Kaira, dan lagi-lagi wajah polos juga jemari lembut Kaira melintas, bahkan memenuhi rongga otak Zain malam itu.
"Haaahhh aku bisa gila!" geramnya dengan mengacak rambut hitam legamnya.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Malam berlalu begitu saja, sebagian manusia melaluinya dengan istirahat yang nyaman, tapi tidak dengan Zain.
Laki-laki dewasa itu gagal menikmati malam tenang di lereng gunung lawu itu, setiap kali ia memejamkan netra tajamnya, saat itu juga bayangan wajah Kaira terbesit didalam otaknya.
Dan ketika Zain baru saja melangkah menuju alam mimpinya, suara berisik ayam kampung sudah memenuhi jagat yang mulai disinari mentari pagi.
"Oh Tuhan, cobaan apa ini?" Keluhnya di balik selimut tebal.
Berusaha mengabaikan semuanya, Zain ingin kembali memasuki alam mimpinya tapi...
__ADS_1
"Zain? Zaiiiiinnn?!" suara melengking milik kakak cantiknya sudah merusak lagi ketenangan paginya.
"Hem!!!" sahut Zain dengan melangkah menuju pintu kamarnya.
CEKLEK!!
Di sana tersuguh wajah Annisa dengan fresh sepertinya kakaknya baru saja mandi, lihatlah rambutnya yang basah pagi-pagi begini, dan juga aroma sabun yang masih menguar.
Oh astaga otak Zain pasti kembali travelling mengingat kakaknya pagi-pagi begini sudah mandi keramas.
"Ada apa?" nada malas itu terlontar dari bibir merah milik Zain.
"Kau baru bangun?" tanya Annisa, sedangkan Zain hanya memutar malas bola matanya.
"Anak muda jangan bangun siang-siang awas ntar rejeki di patuk ayam! Eh khusus buat kamu, jodoh awas ntar di tikung orang." ledekan itu kembali membuat Zain melangkah masuk kedalam kamarnya dengan malas.
"Zain! kamu nggak mau ikut, Kaira mau joging loh?" Mendengar tawaran itu, Zain berhenti tak jadi menutup pintu kamarnya.
"Joging?" tanya Zain dan ternyata Kaira sudah siap dengan T-Shirt putih di padu dengan celana jogger hitamnya, tak lupa ada gambar bunga daisy di paha kanannya, rambut gadis itu di kuncir dua seperti anak TK, tapi malah semakin terlihat imut saja Kaira pagi ini, lihat saja Zain sampai tak berkedip dibuatnya.
"Uncle sudah sembuh? Joging yuk!" cetus Kaira yang sebenarnya mengkhawatirkan Uncle tampannya itu.
"Kamu sakit Zain?" tanya Annisa spontan menyentuh kening Zain dengan punggung tangannya.
"Hah? Eng... Enggak kok Mbak!" tersentak Zain, kemudian pipinya memerah.
"Tapi semalem kan anunyahemmpppft..." Belum selesai Kaira menjelaskan Zain sudah lebih dulu membungkam mulut keponakan cantiknya itu menggunakan telapak tangannya.
"Iya Mbak, ini Zain mau ganti baju dulu! Ok, Mbak Nisa masak aja, Zain nggak bosan kok di sini! Zain mau ikut joging Kaira!" Ucap Zain dengan berjalan ke dalam kamarnya, tak lupa Kaira pun ikut terseret oleh lengan kekarnya, dan BRAK!!!
Pintu kamar tertutup, kebayang nggak kaget dan juga bingungnya Annisa, tapi ibu dua anak itu tidak mau pikir panjang, ia melenggang menuju dapur demi memenuhi tanggung jawab nya sebagai ibu dan istri.
Sedangkan di dalam kamar Zain, Kaira yang baru terlepas dari bungkam an Uncle nya, kini bisa bernafas lega.
"Uncle gila ya?! Mau melakukan aksi pembunuhan?!" cerocos gadis itu dengan berkacak pinggang.
"Lo yang gila! Buat apa lo bilang kalau gue sakit?!" sahut Zain dengan nada tak kalah tinggi.
"Tapi kan semalem Uncle sakit!" Nada tinggi lagi yang Kaira gunakan, bahkan kepalanya mendongak menatap Zain.
"Iya, tapi nggak usah bilang sama siapa-siapa juga kali! Malu gue!" Masih sama ngototnya Zain berucap.
"Ya udah maaf." Merengut Kaira dengan mengulurkan tangan kanannya.
Zain menyambutnya dengan tangan kanan juga, terasa dingin dan lembut telapak tangan Kaira membuat Zain kembali teringat kejadian semalam dan itu membuatnya tak nyaman, terutama di bagian intinya.
__ADS_1
Segera Zain melepaskan jabat tangannya, "Bentar gue ganti baju dulu!" ketusnya yang segera berlari menuju ruang ganti yang ada di dalam kamar itu.
"Uncle kenapa sih? Kok aneh banget? Wajah nya pake merah segala lagi." Bergumam sendiri Kaira dengan menghempaskan pantatnya di atas permukaan kasur empuk milik Zain...