
"ZAIIIIIIINNN!!" teriak Marian, Zain yang baru saja hendak membuka pintu kamar jadi mengurungkan niatnya.
"Ada apa Mah?" tanya Zain dari lantai dua.
"Gaun rusak begini Kau beli?!" bernada emosi Mariana berteriak.
Saking lantangnya suara Mariana, Kaira yang ada didalam kamar pun segera membuka pintu kamar yang tadi di tutupnya.
CEKLEK!!!
Pintu terbuka hingga Zain yang masih berdiri didepan pintu sontak menoleh, "Gaunnya rusak?" tanya Kaira.
"Mama bilang begitu, coba kita lihat dulu." ucap Zain dengan berjalan menuruni anak tangga, dibelakangnya ada Kaira yang mengekor mengikuti dirinya.
Setibanya di lantai bawah, Kaira segera melihat gaun yang di kata rusak oleh ibu mertuanya.
"Coba Mah, mana yang rusak?" tanya Kaira yang baru saja tiba di samping Mariana.
Mariana segera menunjukkan bagian gaun yang rusak, dan benar saja, gaun cantik yang tadi Kaira coba kini tinggal-lah menjadi baju compang-camping yang sobek di sana-sini.
"Kok bisa begini? Salah masukin barang apa ya? Mbak nya?" gumam Kaira masih dengan melihat-lihat gaunnya yang kini sudah rusak parah.
"Yank?" Zain menyentuh pundak Kaira, wanita cantik itupun menoleh kearah sang suami yang ada di samping.
"Bagaimana kalau kecurigaan ku benar?" tanya Zain lagi.
"Maksudnya? Pelayan di butik tadi Zoya?" dengan raut wajah yang sedikit ditekuk Kaira bertanya.
"Bisa jadi," sahut Zain.
"Jangan nathing dulu lah Yank, aku kan cuma menyampaikan kecurigaan ku." imbuh Zain dengan merangkul bahu istrinya yang sedang sensi tingkat dewa itu.
"Jangan asal cemburu Kai, kamu nggak tau aja gimana pusingnya Zain pas kamu hilang beberapa minggu yang lalu." timpal Mariana menengahi sepasang suami-istri itu.
Kaira menatap ibu mertuanya kemudian beralih netra bening itu menatap sang suami yang tersenyum tipis.
Drrrttttzzz...
Drrrttttzzz...
Drrrttttzzz...
Keheningan sejenak itu dibuyarkan oleh dering ponsel milik Zain yang masih tersimpan rapi didalam saku celananya.
"Halo?" ucap Zain setelah ia menggeser tanda hijau di layar ponselnya.
📞"Maaf mengganggu Tuan Muda, saya barusan melihat nona Zoya keluar dari dalam butik yang sama dengan butik yang Tuan Muda datangi." terdengar suara Kemal memberikan laporan.
__ADS_1
"Ya terimakasih!" tanpa aba-aba Zain segera memutuskan sambungan telepon tersebut, segera ia melangkahkan kakinya keluar dari hunian mewah itu.
"Mau kemana?" tanya Kaira.
"Ke Butik!" tanpa bertanya lagi, Kaira segera mengekor dibelakang Zain, tak lupa ia juga membawa gaun rusak nya.
Tak banyak perbincangan diantara sepasang suami-istri itu saat didalam mobil, keduanya larut dengan pikiran masing-masing.
Hingga tiba keduanya didepan butik, "Selamat datang Tuan dan Nona..."
"Mana pemilii butik ini?!" bertampang dingin Zain mencari kakak dari Jova.
Terlihat seorang wanita dengan gaya kasualnya sedikit tergopoh-gopoh berjalan kearah Zain.
"Eh Tuan Zain, ada apa ya?" berbahasa sopan wanita pemilik butik tersebut.
"Kok gaun istri saya bisa rusak ya? Apa pelayan disini ada yang tidak suka dengan istri saya atau dendam dengan saya?" to the point Zain berucap.
"Astaga Tuan, tidak seperti itu, anak buah saya, sudah saya jamin bekerja dengan pofesional..."
"Momy, maaf menyela, Risa baru saja telfon, dia kehilangan seragamnya saat berangkat bekerja." sela salah satu karyawan butik tersebut.
"Risa? Kehilangan seragam? Bagaimana bisa?" tanya si pemilik butik yang biasa di panggil Momy Cleo.
"Dia bilang, dia dibius, baru saja dia sadar, dia masih mengenakkan pakaian yang entah pakaian siapa." imbuh karyawan yang baru saja mendapatkan kabar.
"Iya Mom, benar kata Tuan Zain, lagi pula dia bisa saja melaporkan butik kita ini dengan tuduhan menjual barang rusak."
Setelag Momy Cleo menimang-nimang keputusannya akhirnya kepalanya mengangguk tanda ia menyetujui keputusan yang Zain ambil.
Di dalam sebuah ruangan...
Semua bertampang serius, Zain meminta ijin untuk mengotak-atik komputer yang terhubung langsung dengan CCTV yang ada.
Seketika layar yang terpampang di hadapan banyak orang itu menampilkan kegiatan yang mencurigakan.
Pertama ketemu seorang pramuniaga yang terlihat melayani Kaira mulai dari wanita cantik itu masuk kedalam ruang gaun pengantin sampai Kaira memberikan gaun yang baru saja di cobanya.
"Bisa kita salin dulu dari sini?" tanya Kaira yang sudah menyiapkan kabel data.
"Sebentar sayang sekalian kita cari di bagian akhir, kapan dia keluar." sahut Zain dengan tatapan masih fokus dengan layar komputer dihadapannya.
Kembali terdiam Kaira, sedikit geram rasanya saat ia mendapati wanita bermasker itu merusak gaun yang susah payah dipilihnya.
"Maaf Tuan dan Nona atas kelalaian pengamanan butik kami, kami akan ganti gaun anda dengan yang lebih baik." ucap Momy Cleo tak enak hati, karena merasa sudah dipercaya malah melakukan kesalahan.
"Nanti saja bahas itu, yang terpenting kita urus ini dulu." sahut Zain.
__ADS_1
"Baik Tuan." merasa tak enak hati, Momy Cleo mundur beberapa langkah, kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi pihak berwajib, melaporkan bahwa butiknya kemalingan juga melaporkan tindakan orang asing itu terhadap salah satu karyawannya.
Kaira berusaha menghubungi Risa, ya... Risa sahabatnya lah yang baru saja kecolongan baju yang tengah di kenakan nya.
"Halo Ris, kamu bisa datang ke Butik sekarang?" pinta Kaira setelah berhasil menyambungkan telepon selulernya.
📞"Tapi aku nggak ada seragam." terdengar suara Risa dari balik sambungan telepon.
"Udah nggak papa yang penting kamu bisa datang."
📞"Ok deh bentar ya?!"
Setelah saling setuju Risa akhirnya datang dan di samping itu ada Kemal yang mengantarkan dirinya.
"Eh Mal kamu sudah datang?" tanya Zain seketika atensi nya berubah pada Kemal yang sudah berdiri di sampingnya.
Tak lama kemudian, beberapa polisi juga hadir di sana.
Mereka mengungkap kebenaran di balik masker, dan benar saja ketemu CCTV dari saat Risa di bius di pinggir jalan tak jauh dari toko, gadis dewasa itu keluar dari balik tembok dengan mengenakan baju yang Risa pakai.
"Nah itu seragam ku!" ujar Risa kala ia mengenali wanita bermasker yang mengenakkan seragamnya.
"Baik sekarang kita langsung lacak saja!" ucap pihak kepolisian.
Tak menunggu lama mereka segera bergerak, tak lupa Zain dan Kaira juga menyalin bukti-bukti rekaman yang sudah disalin nya.
"Sayang nanti jangan terlalu emosi, aku lihat akhir-akhir ini kau terlalu sensitif." ucap Zain kala keduanya ada di dalam mobil yang sama.
"Kenapa memangnya? Kau takut aku menghajar habis mantan kekasihmu itu?" tanya Kaira dengan lirikan tajamnya.
"Bukan begitu, biar pihak kepolisian saja yang menanganinya." sahut Zain dengan pandangan yang fokus ke jalanan yang ada di hadapan nya.
"Hem... aku nggak yakin polisi bisa kasih pelajaran kepada gadis gagal move on itu!" cetus Kaira.
"Awas ya kalau sampai di sana nanti kamu masih mau belain dia?!" ancaman bernada sinis itu cukup membuat Zain menelan salivanya sendiri.
"Iya sayang." Bagaimanapun Zain tetap mengutamakan perasaan istri cantiknya itu.
Setibanya di kediaman Zoya, dengan segera semua menerobos masuk...
"Ahahahha... Gur nggak sabar mau lihat gimana tu cewek ganjen lihat gaun sobeknya, lagi pula siapa suruh dia merebut Zain dari ku hahaha..." terdengar suara tawa nyaring di ruang tengah, di sana ada sepasang orang dewasa tanpa ikatan apa pun tengah menikmati minuman beralkohol.
Kaira yang saat itu sudah panas dengan keadaan, tanpa permisi segera melangkahkan kakinya menuju sumber suara.
"Jadi bener lo pelakunya, kan?!" berdirinya Kaira dihadapan Zoya membuat gadis dewasa itu terperanjat.
"Lo... "
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Kaira segera menarik kerah baju Zoya dan, "Lo salah pilih lawan bestie!...