I Love You Handsome Uncle

I Love You Handsome Uncle
Part 37 (Tinggal satu atap)


__ADS_3

Jefri keluar dari dalam ruangan Zain, di sana ia mendapati Jova yang tengah sibuk dengan dokumen yang lumayan banyak.


"Jov!" panggil Jefri dari ambang pintu ruangan Jova.


"Apa? Marahnya udahan?" sahut Jova dengan tatapan mata yang masih fokus dengan pekerjaannya.


"Marah? Siapa yang marah, aku cuma mau tanya sama kamu," Jefri berjalan mendekati meja kerja milik Jova, dan itu sukses membuat gadis berpakaian seksi ala kantoran itu semakin menunduk.


Jova menarik napas panjang kemudian menghempaskan nya, "Tuan Jefri yang terhormat, saya sedang banyak pekerjaan jadi saya mohon tanpa sedikitpun mengurangi rasa hormat saya, jangan ganggu suasana hati dan pikiran saya!" Jova berucap dengan menatap Jefri.


Tercengang Jefri mendapati gadis dihadapannya begitu berani, biasanya Jova selalu malu-malu, dengan pipi merah khas gadis pemalu.


"Ok, kalau begitu saya permisi." tak kalah formal Jefri segera beranjak dari tempat nya berdiri.


Sontak Jova berdiri dari duduknya, "Kok pergi sih?! katanya mau ngomong!"


Jefri tersenyum sebelum membalikkan tubuhnya, tapi ia urung untuk kembali ke hadapan Jova, laki-laki itu hanya menoleh sedikit kemudian melenggang meninggalkan Jova, gadis itu sedikit menghentakkan kaki, sambil memanyunkan bibirnya.


...~∆∆∆🌼∆∆∆~...


Sore hari...


Kaira pulang ke hunian mewah yang menyerupai Penthous, bersama dengan Zain gadis itu melangkah masuk ke dalam hunian mewah bak istana negeri dongeng itu.


"Selamat sore Tuan Muda?" sambut beberapa pelayan yang antusias menyambut kepulangan Tuan Mudanya.


Senyum tipis Zain berikan, laki-laki itu terus saja berjalan lurus, tak lupa sebelah tangannya masih terus setia menggenggam lengan ramping milik Kiara.


"Mah!" teriak Zain dengan terus berjalan menuju ruang keluarga, "Mamah!" teriaknya lagi.


"Ish jangan teriak-teriak kenapa sih! Sama emak sendiri juga!" Kaira sedikit mencubit lengan Zain.


"Apa sih?" sahut Zain dengan senyum yang mengembang.


Entah mengapa setelah tiga tahun tak bersua dua insan beda generasi ini masih saja gampang bertengkar bahkan dengan mudahnya lagi mereka berbaikan.


"Ada apa Zain? Mama di sini!" terdengar teriakan khas suara ibu-ibu dari arah seberang ruang keluarga, yang mana di sana terdapat kolam renang yang ada di dalam ruangan.


"Kita ke sana!" bisik Zain dengan iseng menggigit kecil telinga Kaira, tersentak gadis itu dengan kelakuan absurd uncle nya.

__ADS_1


"Lihat ni Mah, Zain bawa siapa!" teriak Zain dengan terus berjalan kearah kolam.


"Wuuuaaaahhh ini Kaira? Aduuuuhhh cantik sekali." antusias Mariana saat menoleh kebelakang, ibu kandung Zain Julio Zora itu segera beranjak dari sofa yang ada di pinggiran kolam itu dan segera melangkahkan kakinya mendekati Kaira.


Saling bertukar sapa kedua perempuan itu, senyum puas dan bahagia terpancar dari wajah Zain, melihat kedekatan keduanya.


Namun tak berlangsung lama senyum dan canda tawa itu, karena Mariana tak sendirian duduk diruang bersantai itu.


Netra Kaira mendadak berubah kala iris legamnya bersitatap dengan wajah yang sangat-sangat mengganggu hati dan pikirannya.


Mariana yang menyadari perubahan Kaira yang sangat dan amat drastis, segera ibu satu anak itu mengikuti arah pandang mata Kaira.


"Oh, dia itu Zoya, calon tunangan Uncle mu." dengan lembut Mariana memperkenalkan gadis cantik yang tengah berdiri di depan sofa.


"Zoy! Sini cantik! Ini loh yang dari tadi Mama bicarakan, Kaira, cucu Mama, dia keponakannya Zain, cantik kan?" begitu heboh dan bangganya Mariana dapat bertemu langsung dengan Kaira yang selama ini hanya dapat dilihat dari foto yang Maria kirimkan.


Zoya dengan langkah gontainya beranjak mendekati Mariana, senyum palsu pasti ia suguhkan di sana.


Kaira dan Zoya saling berjabat tangan, senyum miring Kaira tampilkan di sana.


"Dia lulusan S1 di Korea loh Zoy, hebat kan, mana umurnya masih muda lagi, beruntung banget deh pasti cowok yang bakal memperistri Kaira ini." Mariana masih dengan segala semangatnya membanggakan cucu dari kakaknya.


"Mah, Kaira pasti capek, dia baru saja datang dan tadi langsung ke kantor Zain, biar Kaira istirahat dulu ya?" ucap Zain dengan lembut.


Zain berlalu menuju ke lantai dua dimana kamarnya berada, sedangkan diruang tengah sana, Mariana, Kaira dan Zoya kembali duduk bersama di sofa yang ada di pinggiran kolam renang.


"Kalian ngobrol dulu ya, Mama tinggal ke dapur sebentar." ucap Mariana, Zoya dan Kaira hanya mengangguk setuju, setelah kepergian Mariana...


"Heh lo cewek yang dulu di kampung itu, kan?!" bernada ketus Zoya berucap.


Kaira hanya memutar bola mata malas, gadis itu enggan untuk menanggapi ucapan Zoya.


"Heh! Asal lo tau ya, Mama Mariana itu udah anggap gue kaya menantunya, lo jangan sok-sokan godain Zain deh! Lo denger sendiri kan kalau barusan dia nyebut gue calon tunangan Zain." cetus Zoya.


Kaira tersenyum miring, "Kita liat aja nanti, lo itu baru calon tunangan, sedangkan gue... gue yang bakal tinggal satu atap sama Uncle Zain, kebayang nggak gue sama Uncle bakal ngapain aja? Heh... Baru calon tunangan aja udah bangga!"


Bergeletuk gigi geraham Zoya karena ia merasa geram dengan mulut gadis muda yang ada di hadapannya ini.


"Kurang ajar! Beraninya... " Zoya mengangkat tangan hendak melayangkan tamparan di pipi Kaira, tapi...

__ADS_1


TAP!


Tersenyum miring Kaira, tangan Kaira dengan sigap menahan lengan Zoya yang hendak menamparnya.


"Lo mau main fisik sama gue? Lo yakin nggak salah pilih lawan? Mending lo kenalan dulu deh sama gue, buka biodata gue di internet, heh... cewek lemah sok-sokan mau ngelawan gue!" bisik Kaira, gadis itu menatap remeh, tak lupa ia juga menghempas lengan Zoya.


Kaira segera berdiri dari duduknya, sedangkan Zoya masih berusaha meredam gejolak api amarah yang sukses tersulut oleh celotehan gadis desa barusan.


"Mau kemana Kai?" Zain yang baru saja berjalan menuju sofa santai bertanya, hingga membuat Kaira berhenti sejenak.


Senyum miring menghiasi wajah Kaira sore itu, ia berjalan mendekati Zain, "Aku lelah sayang." ucap Kaira dengan membelai dada bidang Zain yang tertutup T-Shirt ketat berwarna putih.


"Kai?" bisik Zain dengan mengerutkan kedua alisnya. "Kenapa? Kau sudah tidak tahan? Hem? Nanti ya, kita tunggu malam tiba, kalau sekarang kasihan yang jomblo, pasti jiwa nya bakal meronta-ronta." sedikit mengeraskan suaranya, ekor mata Kaira melirik kearah Zoya yang diam-diam melayangkan pandangan tak suka.


Tanpa pikir panjang, Kaira segera berjinjit dengan melingkarkan kedua lengannya di leher Zain, dan Cup!


Satu kecupan singkat Kaira berikan kepada Zain, dan itu di saksikan langsung oleh Zoya, bahkan gadis itu melihat kedua lengan Zain dengan lembut meremas pinggang Kaira.


Walau sejenak dan tak sampai lima detik, seolah Zain begitu menikmati kecupan singkat itu.


Zoya dengan dada yang naik turun di penuhi dengan api amarah, segera gadis itu beranjak dari duduknya.


Baru saja Zoya hendak melangkah keluar, "Mau kemana Zoy?" teriak Mariana yang berjalan mendekat.


"Maaf Tante, Zoya permisi, ada panggilan mendadak!" ucap Zoya dengan kembali melangkahkan kakinya.


Mariana beralih menatap Zain dan Kaira yang tengah berdiri berdekatan, "Zain, antar kan Kaira ke kamarnya!" titah Mariana.


"Iya Mah." sahut Zain dengan senyum semiriknya.


"Istirahat yang nyaman ya Kai, anggap saja ini rumah mu sendiri." sebelum berlalu Mariana berucap.


Kini tinggallah Zain yang masih berdiri di samping Kaira, dan tanpa aba-aba Zain segera mengangkat tubuh ramping Kaira, di gendongnya gadis itu seperti karung beras yang ada di atas pundak sebelah kiri.


"Ampun Uncle! Kai nyerah, Kai minta maaf, hahaha..." tawa keduanya memenuhi ruangan besar itu, hingga Zain melupakan masalah yang tengah ia hadapi.


BRUGH!!


Kaira terjatuh di atas karus yang empuk, "Tu... tuan mau apa?" tanya Kaira dengan gemetar.

__ADS_1


"Gadis cantik Uncle ini ternyata sudah mulai nakal ya?" gumam Zain dengan melepas kembali T-Shirt putih yang di pakainya, dan membuangnya serampangan.


Keduanya saling beradu pandang, jarak antara wajahnya Kaira dan wajah Zain sungguh begitu dekat.


__ADS_2