I Love You Handsome Uncle

I Love You Handsome Uncle
Part 44 (Test DNA)


__ADS_3

Tiga hari pasca transfusi darah...


Julio baru saja akan keluar dari ruangan yang ditempati Kaira, di sana ia melihat seorang dokter muda yang sangat familiar wajahnya


"Dessy?" gumam Julio kala dokter muda itu memasuki ruangan dimana Julio berada.


"Hey Baby, masih ingat aku?" senyum miring Dessy lukiskan di wajah cantiknya itu.


Termangu Julio mendapati gadis yang dulu pernah berjanji ingin membantu dirinya, tapi tiba-tiba hilang entah kemana, dan kini secara tiba-tiba pula, Dessy muncul dihadapannya.


"Mau apa kamu?!" ketus Julio entah mengapa, pria tampan itu merasa dikhianati.


"Jangan gitu dong, aku kesini cuma kebetulan ada yang ingin ku katakan padamu." senyum tipis tetap Dessy tampilkan di sana.


Tak menjawab, Julio malah melewati Dessy yang masih berdiri diambang pintu.


"Lio tunggu!" Dessy mencekal lengan kekar mantan kekasihnya itu.


Terdiam Julio, memandang Dessy pun tak ia lakukan, "Lio, maaf untuk yang dulu, aku hanya..."


"Iya, kau mengejar cita-citamu dan meninggalkanku tanpa kabar, maaf jika aku menjadi penghalang kesuksesanmu!" sela Julio.


"Bukan begitu, aku begini juga demi mencari bukti, dulu aku sudah menemukan data yang kau cari..." Dessy terdiam sejenak.


"Data?" sontak Julio menatap gadis yang masih stay memegang tangannya.


"Iya data, karena untuk mencari bukti selain tes DNA itu susah maka ku simpan data itu, hingga sekarang aku sudah menemukan buktinya." jelas Dessy.


"Maksud mu?"


"Kaira Vexsana, dia adik mu yang hilang, kalian ada hubungan darah." Dessy memberikan secarik kertas yang menyatakan hasil tes DNA yang bertuliskan 99,9% cocok.


Julio meraih kertas yang Dessy ulurkan, ia membaca dengan seksama, Julio sejenak menatap Kaira yang masih terbaring di atas ranjang, gadis itu tertidur.


"Jadi dia adik ku?" tanya Julio yang kemudian kembali menatap kertas hasil tes DNA.


Dessy tersenyum, ia menepuk pundak Julio, "Iya, sudah pasti di sana juga tertulis 99,9% kan?" Dessy berucap dengan menunjuk bagian tulisan yang baru saja ia baca.


"Thanks ya Dess, makasih." ucap Julio yang kemudian menarik tubuh Dessy untuk dipeluk nya. Terkejut Dessy tapi dokter cantik itu hanya terdiam tak memberikan perlawanan.


"Ekhem!" suara deheman itu membuat Julio segera melepaskan peluk eratnya.


"Mau bermesraan tau tempat dong!" sindir Zain yang baru saja kembali. CEO tampan itu segera berjalan memasuki ruangan di mana Kaira masih terbaring di sana.


"Maaf Pak Zain!" Zain terpaksa menghentikan langkah panjangnya kala ia mendengar nama nya diserukan oleh Julio.

__ADS_1


"Iya?" Zain berbalik menatap Julio dengan mengangkat salah satu alisnya.


"Bagaimana hasil tes DNA orang tua Kaira?" tanya Julio, sedangkan Zain hanya tersenyum tipis.


"Hasilnya negatif..." terdiam sejenak Zain, ia menatap Kaira, "Jadi dia bukan keponakan ku." imbuhnya, yang membuat Julio gamang, walau baru saja ia diberikan kabar tapi mendengar langsung dari Zain rasanya ada yang berbeda.


...~∆∆∆🌼∆∆∆~...


Di depan laboratorium rumah sakit...


Annisa masih dengan derai air mata yang tak henti-hentinya menetes, mendapati kenyataan yang begitu pahitnya membuat Annisa tak kuasa untuk membendung cairan bening yang kini sudah meleleh membasahi pipinya.


Selembar kertas yang kini masih setia di genggamnya nyatanya dapat menggores rasa kecewa didalam hatinya.


Tulisan kata negatif yang tertera, bahkan 00,0% dirinya dan Kaira sedikitpun tak ada hubungan darah.


Lalu putri siapa Kaira? Dan bagaimana bisa selama 20tahun ini dirinya dibohongi dengan kenyataan yang begitu menyakitkan.


Kembali Annisa teringat canda, tawa dan hari-hari yang dilewatinya bersama gadis cantik itu.


20 tahun itu tidaklah sebentar, dan kenapa harus terungkap sekarang? Jika saja boleh, Annisa ingin meminta untuk tidak usah dirinya tahu kebenaran pahit ini.


Tapi mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terjadi dan hanya Tuhan-lah yang paling mengerti akhir dari semua ini.


"Sayang?" Marcel berjalan mendekati Annisa, diraihnya pundak ramping istrinya, "Jangan sentuh aku Mas! Aku ingin sendiri." gumamnya dengan menampik tangan Marcel.


Dari Marcel yang tidak mau cek darah, Marcel yang tidak mau tes DNA, dari sana sudah membuat Annisa tak mempercayai suaminya.


"Sejak kapan Mas selingkuh?!" setelah sekian menit terdiam, asik tenggelam dengan derai lautan air matanya, akhirnya Annisa bertanya juga.


"Apa?!" Tak percaya Marcel dengan apa yang ada di dalam otak istrinya.


"Sejak kapan Mas Marcel selingkuh? Kaira pasti anak Mas dengan wanita lain kan?" Annisa mencecar Marcel dengan pertanyaan yang terdengar lebih menuduh.


"Kau menuduh Mas selingkuh?" tanya Marcel tak menyangka, kesetiaannya selama ini diragukan oleh istri yang sangat dicintainya.


"Lalu bagaimana bisa Kaira bukan anak kandung ku Mas?!" terdiam kembali Marcel tak kunjung memberikan jawaban kepada istrinya.


"Jawab Mas! Mas Marcel dapat dari mana anak gadis yang kini sudah berumur 20 tahun itu?!"


"Jangan lagi menyangkal Mas! Jelas-jelas di sini tertulis bahwa Kaira bukan anak ku!"


"20 tahun itu tidak sebentar Mas!"


"Kau pasti menyembunyikan sesuatu dari ku kan Mas?!"

__ADS_1


"Diam lah dulu sayang, kita bicara..." akhirnya Marcel membuka suara, sejenak Marcel menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Kita cari tempat lain ya!" ajak Marcel masih dengan bahasa lembutnya.


"Kenapa nggak di sini aja Mas?" suara Zain membuat sepasang suami-istri itu mendadak terdiam dan menoleh secara bersamaan.


"Zain?" gumam Marcel, kala melihat Zain bersama dengan laki-laki yang baru saja menjadi pendonor bagi Kaira tengah berjalan mendekati mereka.


"Mas Marcel kenapa diam?" kini Zain dan Julio sudah berdiri di samping Marcel, di depan Annisa.


"Mas Marcel mau ngomong apa sama Mbak Nisa?" Marcel masih terdiam, di samping itu Zain masih terus mencecar pertanyaan demi pertanyaan.


"Kaira bukan anak kalian, kan?!" tebak Zain, dan itu membuat Annisa kembali meluruhkan air matanya yang sempat terhenti sejenak.


Marcel masih terdiam, akhirnya Julio mengulurkan satu lembar kertas yang beberapa menit tadi juga mengagetkan dirinya.


Sedikit ragu Marcel untuk menerima selembar kertas yang entah apa isinya, "Apa ini?" tanya Marcel sebelum tangannya benar-benar meraih kertas yang terulur itu.


"Mas Marcel baca sendiri saja!" cetus Zain.


Perlahan dan pasti Marcel membuka lipatan kertas itu kemudian dibacanya dengan seksama, ditariknya napas panjang demi menstabilkan pekerjaan paru-paru di dalam dadanya.


"Apa isinya Mas?" tanya Annisa.


Tak kunjung Marcel menjawab, kini Annisa merebut kertas yang masih stay di tangan suaminya.


"Jadi DNA Kaira cocok dengan DNA mu?" tanya Annisa tanpa mengalihkan pandangannya dari tulisan angka 99,9%.


"Mas? Bisa jelaskan kepada kita?" Annisa beralih kepada suaminya yang sedari tadi hanya terdiam tak sedikitpun menyahuti.


Bukan menjelaskan, Marcel malah bertanya kepada Julio, "Apa kau putra Claudia?"


Julio mengangguk, "Iya Om, saya putra sulung Claudia dan Dion" sahut Julio.


Marcel menghela napas sejenak, "Iya dia adik mu..." dengan berat hati Marcel mengatakan kebenarannya.


"Maaf atas ketamakan ku, dulu aku yang menukar dua bayi itu... " kembali pecah tangis Annisa. Tak menyangka dirinya jika suaminya melakukan hal keji itu.


"Lalu dimana bayi ku Mas?!" tanya Annisa di tengah derai air matanya.


"Putri, putri kita... "


"Maaf Tante, bisa jadi putri anda sudah meninggal, karena tepat 20 tahun yang lalu, keluarga kami mendapatkan bayi yang tak bernyawa." jelas Julio.


Gelap pandangan Annisa, pendengaran pun terasa seolah ada yang menutupinya, hingga...

__ADS_1


Brugh... Annisa jatuh pingsan ketiga pria yang ada di sana segera membawa Annisa kedalam ruang rawat. Marcel segera menggendong istrinya, langkah kaki segera ia ayunkan menuju ruangan pemeriksaan...


__ADS_2