I Love You Handsome Uncle

I Love You Handsome Uncle
Part 5 (Tanggung Jawab)


__ADS_3

Zain tak akan menyangka gadis remaja itu berani mere-mas aset berharganya, kini laki-laki dewasa itu tengah duduk di atas ranjangnya, di dalam kamar.


Rasa linu dan denyut sakit masih terasa di bagian inti itu, karena Kaira tidak main-main dengan tenaganya.


"Gila tu cewek! Bisa-bisanya terpikir untuk menyerang di bagian ini." gumam Zain dengan memandangi aset berharga itu yang masih menyisakan rasa sakit.


"Tapi remaja jaman sekarang, pergaulannya mah bebas, atau jangan-jangan Kaira sudah pernah bermain di bagian itu?" terkaan negatif mulai muncul di dalam otak Zain.


"Ah tidak mungkin, kalau pun iya dia tidak akan mencengkeramnya sekuat tadi." sekali lagi Zain menepis pikiran negatif itu, Uncle tampan itu duduk dengan membiarkan aset berharganya rileks.


...~∆∆∆🌼∆∆∆~...


Di sisi lain...


Di dalam kamar bernuansa pink ungu...


Ya... Kaira Vexsana, ini kamar gadis pegulat itu, dan di sana di jendela yang terbuka lebar, gadis cantik itu duduk dengan memandangi langit malam yang bertebaran bintang malam.


Otak pandai nya masih melanglang buana atas kejadian duelnya barusan.


"Kira-kira bahaya nggak ya? Tadi gue remes kekencengan nggak ya?" Sedikit rasa takut menyelimuti hati dan perasaan Kaira.


"Bagaimana jika patah?" gumamanya lagi.


"Akh tidak mungkin, tadi kan kayak lembek, kayak nggak ada tulang gitu, mana bisa patah?" Otak genius Kaira berpikir, sedangkan netra bulatnya memandang telapak tangan yang tadi melakukan perbuatan nakal itu.


"Tapi... bagaimana jika alat itu tidak bisa berfungsi dengan baik? Sedangkan perusahaan kakek Gautam kan butuh penerus, duuuuuhhh... gimana nih?" Jujur saja gadis itu sebenarnya tadi tidak berniat untuk mere-mas bagian itu, tapi ternyata tak ada pilihan lain, dengan begitu baru dia bisa lolos dari cengkeraman uncle nya.


"Kai? Kau sudah pulang?" suara Annisa di dengarnya, mungkin ibu dua anak itu berdiri di depan pintu kamarnya.


"Sampun buk! (Sudah buk!)" sahutnya dengan segera turun dari ambang jendela, tak lupa ia menutup jendela yang baru saja di duduki nya itu.


CEKLEK!!!


Pintu kamar dibuka oleh Kaira dan ya Annisa atau ibu Kaira berdiri di sana.


"Ibuk kenapa ndak masuk aja?" tanya Kaira dengan merangkul pundak ibunya.

__ADS_1


"Ibuk begini, biar kamu dan adikmu tau, kalau masuk kamar siapapun itu perlu ijin dari yang punya kamar!" cecar Annisa yang masih berdiri di depan pintu.


Di lihatnya putri sulungnya itu masih mengenakkan pakaian hitam-hitam, "Mambu keringet e, bar ko Padepokan mesti. (Bau keringat ih, habis dari Padepokan pasti.)"


Terdiam Kaira mendapat tudingan langsung dari ibunya. Sejujurnya gadis itu sudah berjanji untuk berhenti dengan olahraga fisik itu, karena akan fokus dengan ujian kelas akselerasi nya.


"Padepokan apa Mbak?" tiba-tiba Zain muncul di samping Annisa dan Kaira.


"Ini lo Zain, keponakanmu ini sering curi-curi waktu buat pergi ke Padepokan tarung bebas, padahal cewek, mana pantas olahraga yang begituan?" oceh Annisa panjang lebar.


"Oh... Nggak kok Mbak, tadi iseng aja Kaira aku ajakin ke ruang fitnes." Ucap Zain memberikan alasan, sontak netra bulat Kaira menatap kearah Uncle nya yang terdengar seperti membantunya agar tidak kena marah ibunya.


"Thank you Uncle, ya ampun udah ganteng, baik lagi, duuuuhhh jadi merasa bersalah dong gue tadi udah kelewatan, hajar dia." Batin Kaira dengan masih memandangi Zain.


"Oh kira in, awas ya Kai, kalau sampai kamu ketahuan masih curi-curi waktu main tarung bebas, ibuk nggak akan segan-segan kirim kamu kuliah di kota, biar kakek Gautam yang didik kamu!" ancam Annisa yang segera melenggang meninggalkan kamar anak gadisnya.


Tercekat rasanya mendengar ancaman sang ibu, terbayang sudah wajah garang kakeknya yang memimpin perusahaan besar dan berkembang dimana-mana itu.


Putranya saja bermata tajam, apa lagi bapaknya yang sudah berpengalaman dan mengatur tidak sedikit orang di bawah kuasanya, sungguh pasti tidak bisa berkutik jika Kaira akan benar-benar tinggal di kota bersama dengan kakek Gautam itu, jujur sejak kecil ia sering bermain dengan Zain atau Uncle nya itu, tapi jika sudah bertemu dengan ayah Zain atau kakek Gautam nya, ia merasa takut.


Tapi tidak dengan nenek Mariana, ia terlihat halus, lemah lembut dan baik hati, berbanding terbalik dengan suaminya yang terlihat garang.


Masih terdiam Kaira memikirkan masa depan nya, sampai-sampai Kaira lupa jika ada Zain di hadapannya.


Sengaja Zain menjentikkan jemarinya di hadapan wajah Kaira, tersentak gadis dari lamunannya.


Di tatapnya wajah tampan yang saat ini tengah mengangkat salah satu alisnya, teringat Kaira dengan pembelaan yang dilakukan Zain barusan.


Ya... Uncle tampannya itu sudah membantunya untuk beralasan, kini waktunya untuk Kaira mengucapkan terimakasih.


"Te... terimakasih Uncle." lirih Kaira dengan menundukkan pandangannya.


Jujur saja, ketampanan Zain tak dapat di pungkiri, dan Kaira adalah gadis normal yang dapat mengagumi laki-laki tampan layaknya kaum hawa diluar sana.


"Nggak, nggak, nggak! Dia uncle gue! Dan gue yakin kak Julio lebih keren dari pada dia!" batin nya terus mengingatkan.


"Terimakasih? Gue udah nanggung dosa buat bantuin lo, dan sebelumnya..." terdiam Zain tapi langkah kakinya mulai maju, memangkas jarak diantara dirinya dan Kaira.

__ADS_1


"Lo udah nyakitin aset berharga gue! Aset masa depan gue! Tanggung jawab lo!" gertak Zain dengan suara pelan tapi penuh penekanan.


Sedikit tersentak Kaira dengan suara pelan Zain itu ketika meminta pertanggung jawaban darinya.


Sontak gadis yang menunduk itu mendongak demi menatap keseriusan dari ucapan Uncle tampannya yang baru saja di dengarnya.


"Ta..."


"Tanggung Jawab!" sentak Zain dengan memajukan wajahnya, sontak Kaira memundurkan wajahnya hingga kepalanya membentur kusen pintu.


DUGH!!


Rasa sakit di kepala bagian belakang pun di abaikannya, gadis itu lebih merasa sesak di dalam dadanya, bagaimana mungkin laki-laki meminta pertanggung jawaban kepada seorang gadis polos yang tidak tau apa-apa?


"Ta... tapi Uncle, Ka... Kai nggak sengaja." lirihnya dengan tergagap.


Sungguh Zain merasa tawanya ingin sekali meledak saat itu, melihat raut ketakutan Kaira, keseriusan Kaira menanggapi ucapan tanggung jawabnya, bahkan gadis itu gemetar.


"Nggak sengaja? Asal lo tau, ketidak sengajaan lo itu berakibat fatal!" Dilihatnya Kaira seperti menahan nafas.


Zain mendekatkan wajahnya di samping telinga Kaira, "Kalau sampai dia tidak bisa berfungsi lagi, lo harus tanggung jawab!" bisik nya, setelah itu kaki panjang itu melangkah kembali ke kamarnya.


Sontak Kaira tersadar dan mengejar Uncle tampannya itu, "Uncle tunggu!"


Kaira meraih lengan Zain tepat saat laki-laki itu tiba di ambang pintu kamarnya.


Berhenti Zain tak mau menatap gadis yang ada di belakangnya, yang saat ini tengah menahan lengannya. Ya... karena pemuda itu menahan tawa yang akan segera pecah.


"Ka... Kaira mina maaf." tertunduk gadis itu mengucap maaf. Masih tak ada respon dari Uncle tampannya, Kaira berjalan menghadang langkah Zain, Kaira berdiri di depan tubuh tegap itu.


"Ka... Kaira bakal tanggung jawab kok." ucap Kaira dengan menatap Uncle Zain nya.


"Gimana lo mau tanggung jawab kalau sampai aset gue ini rusak? Nggak mungkin lo ganti pakai aset kuda kan?!" cetus Zain yang membuat Kaira semakin terbelalak.


"Hah? Nggak lah Uncle, aset milik kuda kan terlalu besar itu." cetus Kaira dengan mengingat hewan bernama kuda.


Zain menaikkan salah satu alisnya, "Kau pikir aset milik ku tidak besar?"

__ADS_1


Terdiam Kaira, bingung gadis itu dengan pertanyaan Zain, "Bu... bukan begitu, maksud Kaira..."


"Lalu mau bagaimana kau bertanggung jawab...


__ADS_2