I Love You Handsome Uncle

I Love You Handsome Uncle
Part 50 (Fitting)


__ADS_3

Kesibukan demi kesibukan yang di lalui pasti lambat laun akan terselesaikan juga setiap urusan yang menyibukkan, sama halnya dengan kesibukan persiapan resepsi keluarga besar Zora ini.


Undangan sudah tersebar dimana-mana, tentunya di setiap kalangan elite juga teman-teman Zain maupun teman-teman Kaira.


Hari ini H-1 dari acara resepsi, acara yang di rencanakan seminggu yang lalu itu cukup membuat beberapa orang kewalahan, bahkan pengantin nya saja baru akan fitting baju di H-1 ini.


Terlihat Zain dengan langkah panjangnya keluar dari gedung perkantoran, dering ponsel ya g sedari tadi berbunyi dibalik saku celananya membuat laki-laki itu semakin laju membawa mobilnya.


Di sisi lain Kaira masih menelfon suami tampannya, karena ini sudah hampir jam satu siang, dan mereka ada janji dengan MUA yang sudah mereka boking.


"Ish kok nggak di angkat sih?!" gumam Kaira dengan terus menekan tombol panggil, tapi tak sedikitpun panggilannya mendapatkan atensi dari suaminya.


Semakin gelisah saja wanita cantik yang sudah rapi dengan dress putih yang panjangnya selutut bermotifkan bunga daisy.


TIN... TIN... TIN...


Hingga suara klakson mobil mengalihkan atensinya, segera Kaira berjalan menuju teras depan dengan membawa tas selempang di bahu kanannya, wanita berstatus istri CEO itu sedikit merengut.


BRAK!!!


Pintu mobil tertutup setelah Zain keluar dari dalam kijang besinya itu, "Kenapa cemberut sayang?" Zain berjalan mendekati istri cantiknya itu.


"Kenapa lama? Masih ngurus model-model lagi?" ketus Kaira bertanya, dengan melipat kedua tangannya bersedekap di depan dada.


"Astaga, bu..."


"Udah deh ngaku aja! Kamu mau bilang habis meeting, kan? Tapi nyatanya habis nemuin model-model itu, kan?! Ngaku deh!" masih bertampang garang Kaira mencecar suaminya.


"Enggak sayang bukan seperti itu!" tegas Zain.


Memang butuh kesabaran untuk menghadapi wanita yang tengah cemburu, bahkan tanpa alasan mereka akan marah-marah jika itu ditambah dengan mood yang anjlok.


Masih terdiam ditempatnya, Kaira enggan untuk mengajak suaminya beranjak menuju butik milik kakaknya Jova.


"Jadi fitting baju nggak nih?" tanya Zain dengan mencolek pinggang Kaira.


"Ya jadi lah." sahut Kaira ketus.


"Senyum dulu dong!" kini Zain memposisikan wajah ya didepan wajah cantik istrinya.


Sedikit tergetar hati Kaira, tiba-tiba dan tanpa aba-aba, senyum tipis tersungging di sana, hingga mencetak lengkung senyum manis.

__ADS_1


"Nah gitu dong!" Zain menyelipkan anak rambut Kaira kebelakang telinga gadis itu.


Keduannya kini bergandengan, berjalan menuju mobil, tak lupa Zain membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Kaira untuk masuk kedalamnya.


Mendapat perlakuan manis seperti itu membuat Kaira tak kuasa menahan senyum yang mengembang di wajah cantiknya, hatinya kian berbunga-bunga, entah kenapa ia merasa dihargai oleh suami tampannya itu.


...~∆∆∆🌼∆∆∆~...


Di dalam butik...


Seorang gadis dengan tampilan modis berada di dalam ruangan yang berisi banyak gaun pengantin.


Masker menutupi wajahnya, ia menggulung rambutnya bak seorang pelayan yang ada di dalam butik itu.


"Selamat datang Tuan Muda Zain dan Nona Kaira," sapa si pemilik butik dengan sangat sopan.


Hanya senyum manis sekilas yang Zain dan Kaira tunjukkan, mereka berdua segera beranjak menuju sebuah ruangan dimana di sana terdapat banyak gaun yang bisa Kaira pilih sendiri.


Seorang pramuniaga dengan masker yang melekat pada wajahnya segera Kaira panggil, "Kak? Halo?" Kaira lambaikan tangan kearah sosok pramuniaga itu.


Terlihat sedikit gugup pramuniaga itu menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.


"Iya kak, bisa tolong bantu saya memilih gaun?" tanya Kaira, pramuniaga itu hanya mengangguk dan mengarahkan Kaira untuk memilih gaun di tempat yang dia sarankan.


"Sayang!" Kaira keluar dari ruang ganti ia mengenakkan gaun putih dengan hiasan swarovski di bagian dada dan perut juga ada beberapa renda emas yang menghiasi di beberapa bagian.


Terpaku Zain menatap kecantikan sang istri, keduanya kini saling menatap Kaira yang meminta pendapat sedangkan Zain yang masih asik terpesona.


Berbeda tatapan dengan pramuniaga yang kini tengah mengepalkan erat kedua tangannya, sepertinya ia tak suka dengan sepasang suami-istri yang ada di hadapannya itu.


"Gimana? Bagus nggak?" tanya Kaira.


Zain menganggukkan kepala, "Bagus, kau selalu cantik mengenakkan pakaian apapun." Zain membelai pipi Kaira, ingin sekali ia mengecup istrinya itu, tapi Kaira mengingatkan, "Ada orang!" bisiknya.


Zain hanya tersenyum dan kembali duduk di sofa yang tersedia, sedangkan Kaira kembali masuk ke ruang ganti untuk melepas gaun yang baru saja dicobanya.


5menit kemudian...


"Yang ini ya Kak, tolong di bungkus!" ucap Kaira dengan memberikan gaun barusan.


Pramuniaga itu segera meraih dan membawanya pergi dari Kaira dan Zain.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Kaira, ia melihat suaminya memperhatikan pramuniaga barusan.


"Sepertinya dia tidak asing." gumam Zain.


Kaira memicingkan kedua matanya, "Zoya, dia mirip dengan Zoya." gumam Zain.


Mendengus kasar Kaira mendengar suaminya menyebutkan nama mantan kekasihnya, "Kalau memang benar mantan mu itu kerja di sini terus mau apa? Mau kau angkat menjadi sekretaris pribadi mu begitu? terus mau kau ajak dia meeting kesana kemari begitu? Hah?!" cecar Kaira yang mulai terbakar cemburu.


"Astaga bukan begitu sayang, aku cuma takut kalau sampai dia melakukan hal nekat kepada mu." jelas Zain.


"Oh begitu? Jadi kau pikir aku lemah? Kau pikir aku tidak bisa melawan? Hem?" berkacak pinggang Kaira dengan rentetan pertanyaannya.


"Astaga bukan begitu, dengerin aku dulu..."


"Nggak mau! Dah aku mau pulang!" ketus Kaira dengan melangkah kan kaki jenjangnya keluar dari butik, bahkan ia melupakan paper bag yang berisi gaun.


Zain segera menyambar paper bag itu tak lupa ia membayar terlebih dahulu, serta ia membisikkan sesuatu kepada si pemilik butik, setelahnya Zain kembali menyusul istri cantiknya yang tengah merajuk.


Di dalam perjalanan, Kaira masih saja menekuk wajahnya, sedikitpun ia tak berbicara, bahkan ia pura-pura tidur saat Zain mengajaknya mampir untuk makan siang terlebih dahulu.


"Sayang... udah dong ngambeknya, aku minta maaf?" ucap Zain bersamaan dengan deru mesin mobil yang sudah tak terdengar lagi.


Tak menjawab, Kaira keluar dari mobil lebih dulu ketimbang Zain.


Bahkan tak ayal wanita cantik dengan dress putih itu berjalan meninggalkan suaminya.


"Sudah dapat gaunnya Kai?" tanya Mariana yang menyambut di dalam sana.


"Ada sama Uncle." sahutnya singkat, tanpa memandang Mariana sang ibu mertua Kaira melenggang menaiki tangga menuju kamarnya.


"Sayang! Kau tidak mau membuka isi paper bag nya dulu?" teriak Zain yang baru saja memasuki rumahnya.


"Kalian berantem?" tanya Mariana yang menyambut kedatangan Zain.


"Hanya sedikit salah paham Mah." sahut Zain dengan menyerahkan paper bag berisi gaun putih yang dibelinya.


Mariana segera meraihnya, tak menunggu nanti, wanita paruh baya itu membuka dan memeriksa isi dalamnya.


"ZAIIIIIIINNN!!" teriak Marian, Zain yang baru saja hendak membuka pintu kamar jadi mengurungkan niatnya.


"Ada apa Mah?" tanya Zain dari lantai dua.

__ADS_1


"Gaun rusak begini Kau bel?!...


Hay hay hay... Masih ada yang setia kah? Kayaknya novel ini sudah mendekati episode akhir ya, mohon bersabar bagi yang masih setia, ikuti dan dukung terus ya novel ini ya see you...


__ADS_2