
Zain masih asik dengan kopi hitam dan batang rokok yang sesekali di sesap nya, kepulan asap berwarna abu-abu itu terlihat menari-nari lembut mengitari tubuhnya, lalu kemudian menghilang dibawa terpaan angin yang lalu lalang.
Ingin sekali Zain menyamakan perasaan tidak pantasnya itu sama halnya seperti asap rokok yang selalu terlihat indah dan kemudian hilang begitu saja dibawa angin, tapi lagi-lagi semua terikat dengan kata sulit, dan hanya Dia-lah yang berkuasa untuk membolak-balikan hati juga perasaan, ya... Zain menyerah dengan keadaan, lelaki tampan itu memutuskan untuk menerima perasaan yang tengah singgah dihatinya.
Tidak untuk mengungkapkannya, Zain hanya akan mengikuti saja alur kehidupan ini, entah kejutan apa yang akan didapatnya, lelaki itu memutuskan untuk tetap menerima, bukankah rasa sakit dikhianati itu sudah cukup sakit dibanding rasa yang lain?
Karena itulah Zain memilih untuk menjalani saja semua agar berjalan apa adanya.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Helaan napas panjang terdengar tak kala wajah imut Kaira melintas dibenaknya, rasa manis ciuman semalam kembali terbayang, sampai ia mendengar seperti ada seseorang yang sedang bermain air di kolam renang yang terletak di halaman belakang.
"Siapa itu?" gumam Zain yang baru kembali dari bayangan seputar gadis cantik yang tak lain adalah keponakannya .
Berdiri Zain menatap gadis yang tengah mengapung di permukaan kolam, terkadang tubuh dengan lekuk indah itu menyelam, kemudian kembali muncul ke permukaan.
"Kaira?" gumamnya dengan netra yang terus melihat gadis cantik dari balkon kamarnya.
Indah sekali pemandangan itu hingga membuat Zain terlena, dan akhirnya gadis didalam kolam renang itu tiba-tiba menoleh kearahnya berada, hampir saja kedua mata itu beradu dengan jarak yang cukup jauh.
Terkejut Zain, segera ia bersembunyi masuk kedalam kamarnya, "Bodoh! Kenapa juga harus menghindar? Bagaimana kalau hubungan kita semakin renggang?" gumam Zain.
"Lebih baik gue deketin dia deh, mana tau dia malu karena kejadian semalam." niat baik itu membuat Zain segera beranjak dari kamarnya, laki-laki berumur 27tahun itu berjalan menuju kolam yang ada di halaman belakang dimana Kaira berenang.
Melihat gadis yang setengah badannya ada didalam air dengan raut wajah yang sepertinya tengah waspada membuat Zain tersenyum tipis.
Niat jahilnya mungkin mulai tertata rapi di dalam otak lelaki itu.
Perlahan ia melepas kemeja yang di kenakan nya, bertelanjang dada Zain perlahan masuk kedalam kolam, menyelam melalui dasar kolam ia meluncurkan tubuhnya untuk mendekati Kaira.
Berhasil Zain mendekat tanpa berlama-lama ia menarik Kedua kaki jenjang itu untuk masuk kedalam dasar kolam.
Zain merasakan kalau Kaira kehilangan keseimbangan hingga tangan gadis itu terlihat seperti meraih-raih sesuatu.
"Dia pandai berenang tapi kenapa matanya tertutup ketika menyelam?" batin Zain dengan memegangi pinggang Kaira agar tidak tenggelam.
Khawatir jika gadis itu kehabisan oksigen di kedalaman kurang lebih 3m itu, Zain menarik tengkuk Kaira dan membantunya bernapas dengan mempertemukan kedua bibirnya.
Selama keduanya kembali ke permukaan air terus saja Kaira meronta, tapi selama itu juga Zain membantunya untuk bernapas.
PYASSSS!!
__ADS_1
Muncullah keduanya di permukaan, saat itu juga Zain menyudahi bantuan napasnya.
"Katanya atlet renang, kok tenggelam?" cibir Zain masih dengan memeluk pinggang Kaira.
Mendengar suara yang tak asing di telinganya, Kaira segera membuka kelopak matanya yang dihiasi bulu mata basah itu.
"Uncle?!" terkejut bukan main gadis itu dengan mengedipkan kelopak matanya beberapa kali karena bulir-bulir air yang menetes menghalangi matanya untuk terbuka lebar.
Terlihat senyuman yang membuat gigi taring Zain sedikit terlihat, "Kok kagetnya gitu sih?" Zain berucap, terdengar tawa yang menghiasi setiap kata.
"Ya lagian sore-sore gini, terus sepi lagi." sahut Kaira dengan cemberut.
Ada rasa syukur yang terucap didalam hati Zain, ketika ia melihat keponakan cantiknya itu masih menggerutu seperti biasa.
"Lo takut?" tanya Zain masih dengan senyum mengejeknya, dan itu selalu membuat Kaira jengkel.
"Iiiiihhh nyebelin!" Kaira menepuk permukaan air dengan keras sampai air-air itu muncrat mengenai wajah Zain, sontak pria tampan itu melepaskan pelukannya dan mengusap wajahnya.
Kaira segera berenang ke tepi dan berusaha naik kedaratan, tapi lagi-lagi ia dibuat kaget saat dengan tiba-tiba Zain menyentuh pinggang Kaira.
Niat hati ingin membantu gadis itu naik, tapi karena lagi-lagi Kaira kaget, gadis itu terpeleset dan dengan sigap Zain menangkap tubuh Kaira yang hampir tenggelam lagi.
"Sorry, sorry, sorry." ucap Zain dengan tetap menampilkan senyum seringainya.
Warna jingga di langit senja semakin pekat saja, mungkin sebentar lagi para orang tua juga akan segera pulang, Zain tak mau membiarkan tubuh indah Kaira berendam lebih lama lagi, ia segera mengangkat tubuh Kaira dan mendudukkannya di bibir kolam.
"Udah sana masuk!" ucap Zain dengan mendongak menatap wajah yang terlihat putih pucat itu, mungkin Kaira mulai kedinginan.
"Uncle?" lirih gadis itu dengan bibir yang membiru.
"Hem?" sahut Zain dengan mengangkat kedua alisnya.
Dilihatnya bola mata Kaira melirik ke sana kemari, seolah mencari keberanian diri.
"Gue di sini! Ada apa?" tanya Zain dengan satu tangan yang membelai pipi kiri Kaira.
"Kai mau ngomong, Kai minta maaf soal semalam yang Kaira marah-marah..." terdiam sejenak gadis itu.
Zain masih dengan tatapan teduhnya menanti kelanjutan kata yang akan segera Kaira ucap.
"Sejujurnya Kai sendiri bingung dengan perasaan ini, Kai takut salah mengartikan, apa lagi belum lama ini, Kaira baru saja patah hati." jelas gadis itu.
__ADS_1
Zain menurunkan tangan yang tadi membelai pipi Kaira, kedua tangan Zain kini stay di pinggang gadis cantik itu.
Senyum tipis terlukis di bibir pria tampan itu, "Jangan diartikan, biar saja semua berjalan mengalir mengikuti arusnya." masih dengan senyum tipis Zain berucap.
"Jangan terburu-buru untuk mengartikan semua ini Kai, nikmati saja dulu apa yang ada." manik tajam itu menatap kedalam iris mata Kaira.
Zain menopang berat tubuhnya dengan kedua tangan yang berpegangan dibibir kolam, jarak wajah keduanya kini semakin dekat, bibir dingin yang membiru milik Kaira membuat Zain ingin sekali memagut kemudian menghangatkannya, tapi baru saja ia memangkas jarak keduanya tiba-tiba...
"Kakak!" suara teriakan Zahira membuat Kaira terkejut dan reflek ia mendorong tubuh Zain hingga Uncle tampan itu kembali tenggelam kedalam kolam.
"Kak? Kakak dimana?" gadis SMP itu masih saja berteriak mencari keberadaan Kaira.
Segera Kaira berdiri dan meninggalkan Zain yang masih ada di dalam kolam.
"Kak?" teriak Zahira lagi, "Iya-iya gue di sini!" sahut Kaira dengan meraih handuk dan di gunakan nya untuk mengeringkan tubuh basahnya.
Kaira masuk menemui Zahira, sedangkan Zain yang baru saja keluar dari kolam tersenyum tipis memandang punggung Kaira yang semakin menjauh.
Diruang tengah Kaira dikejutkan dengan kedatangan seorang gadis dewasa dengan penampilan yang begitu modis, sepertinya ini orang kota, lalu mau apa dia kemari.
Di samping itu, ia membawa dua laki-laki yang terlihat seperti bodyguard nya, Kaira tersenyum sopan dengan tangan dinginnya ia menyapa, kemudian berpamitan dengan sopan untuk ganti baju.
Zahira mengikuti langkah kaki kakaknya, "Itu dibawah siapa sih Za?" tanya Kaira yang sebenarnya penasaran.
"Nggak tau!" sahut Zahira dengan santainya.
"Lah lo tadi panggil gue bukannya karena ada tamu?" tanya Kaira bingung.
"Hehe... Bukan, Zaza mau minta tolong di ajarin PR matematika." ekspresi nyengir itu membuat Kaira mendengus.
"Kira in ada tamu itu." cetusnya.
"Nggak, bukan kok, itu orang mau pesan teh, kali." sahut Zahira sekenanya.
"Tapi modis gitu lo Za, masa mau beli teh?" tak semudah itu Kaira percaya dengan ocehan adiknya, sedangkan Zahira hanya menengadahkan kedua telapak tangannya sambil mengendikkan bahunya.
Di sisi lain...
Zain baru saja masuk ke dalam rumah, pria itu melilitkan handuk di pinggangnya, dengan bertelanjang dada, Zain melangkahkan kakinya menuju anak tangga, niat hati ingin segera menuju kamarnya tapi langkah kaki itu harus terhenti ketika suara seorang gadis memanggilnya.
"Zain?" suara tak asing itu membuat Zain menoleh, betapa terkejutnya ia melihat gadis yang sangat di bencinya itu kini ada di hadapannya, "Zoya?...
__ADS_1