I Love You Handsome Uncle

I Love You Handsome Uncle
Part 20 (Kesepakatan)


__ADS_3

"Aaaaaaaaaaaaaaaa!!!"


Mendengar suara teriakan dari lantai dua semua penghuni rumah mewah itupun segera berlari ke arah sumber suara.


"Ada apa ini?" tanya Annisa yang sudah tiba di depan pintu kamar Kaira.


Terdiam Kaira dan Zain, keduanya saling pandang, kemudian Kaira menundukkan wajahnya.


Annisa mengerutkan alisnya, "Jangan bilang semalam kalian tidur sekamar!" tuding Annisa.


"Ya ampun mbak! Ya kira-kira dong kalau ngomong!" cetus Zain membela dirinya.


"Ya terus pagi-pagi begini, ngapain kamu dikamar Kaira?!" pertanyaan itu bernada judes dan juga ketus.


"Tadi Zain denger Kaira bersin-bersin, Zain khawatir kalau dia flu, eh nggak taunya tu anak baru selesai mandi." jelas Zain.


"Ooohh... kirain ada apaan!" gumam semuanya, kemudian mereka mulai meninggalkan kamar Kaira.


Zain masih berdiri ditempatnya, dilihatnya Kaira yang juga masih mematung ditempat, kedua netra itu sama-sama bertemu.


"Apa?" tanya Kaira.


"Apa?!" sahut Zain.


"Apa?!" Dengan berkacak pinggang kaira bertanya lagi.


Zain geram akhirnya ia memilih untuk mendekati gadis dengan handuk yang melilit tubuhnya itu.


Kaira membulatkan kedua netra-nya, spontan gadis itu menyilang kan kedua lengannya didepan dada.


"Uncle stop ya! Uncle eng... enggak boleh macem-macem lo ya!" tergagap Kaira dengan langkah kaki yang terus mundur demi menghindari Zain.


Dugh!!


Tubuh Kaira membentur dinding, sedangkan langkah kaki Zain masih terus mendekat, terpejam kedua mata Kaira, seolah menahan nafas Kaira pagi itu, ketika wajah Zain mendekat dan...


"Lo mandi bener nggak sih?! Gue kira ini tadi uban ternyata busa masih nempel di sini!" ucap Zain dengan mengusap busa putih yang masih melekat di rambut Kaira.


Terbuka kedua netra yang terpejam barusan, "Uncle pikir Kaira udah tua, hah?! Yang ada uban itu harusnya Uncle bukan Kai!" cerocos gadis itu dengan kedua tangan yang terus mendorong-dorong dada Zain, sedangkan Zain hanya mundur setiap kali tangan gadis itu menyentuhnya.


"Hey-hey-hey santai dong! Itu kalau marah-marah bikin cepat tumbuh uban loh." lagi-lagi Zain meledek gadis pemarah dihadapannya itu.


Kedua tangan Kaira terus saja menyerang Zain dengan pukulan-pukulan ringan yang membuat Zain juga menangkisnya.


Terus berjalan mundur Zain, karena tidak sedikitpun Kaira memberinya kesempatan untuk menyerang balik, hingga kaki Zain tersandung sofa dan...

__ADS_1


BRUGH!!


Zain jatuh terduduk di atas sofa, dan otomatis Kaira yang terus menyerang Zain ikut ambruk di atas tubuh Uncle taman itu.


Terdiam sejenak keduanya, berusaha menetralkan suara detak jantung masing-masing, "Maksudnya apa ini? cuma pakai handuk terus ada di atas tubuh gue? Lo mau godain gue?" bisik Zain.


Tersentak Kaira, ia segera bangkit dari atas tubuh Zain, tapi keberuntungan tidak berpihak kepada gadis itu, ujung handuk yang melekat pada tubuh Kaira, terhimpit lutut Kaira dan lutut Zain hingga SRAT!!


"Yak!!" kembali Kaira ambruk di atas dada Zain, mengerut kedua alis Zain, "Hey ada apa?" tanya Zain yang memegang kedua pundak Kaira.


Menggeleng Kaira, gadis itu tak menyahut dengan suara, "Hey, ada apa Kai? Lo nyaman dengan peluk-peluk tubuh gue gini? Gue belum mandi loh." cecar Zain dengan berusaha menatap wajah Kaira yang bersembunyi di dada bidangnya.


"Ok deh ok deh, kita cari kehangatan dengan pelukan pagi-pagi." ucap Zain dengan memeluk tubuh Kaira yang masih stay di atas tubuhnya.


"Ish jangan peluk-peluk!" tolak Kaira, dan itu membuat Zain tak mengerti sedikitpun.


"Ok kalau nggak mau dipeluk buruan bangun dari sini sebelum gue yang nyerang balik!" peringatan itu terdengar serius dan itu membuat Kaira mendongak menatap wajah Zain yang saat itu juga menunduk menatapnya.


"Uncle merem dulu, baru Kaira bangun." ucap Kaira dengan wajah yang serius, sedangkan Zain malah menaikkan salah satu alisnya, membulat mata Kaira mengikuti arah pandangan mata Uncle tampannya.


Dua kali netra bulat Kaira bolak balik menatap mata Zain kemudian menunduk kearah bawah menuju belahan dada putih yang terlihat ketika dirinya mendongak menatap Zain.


"Aaaa!!! Dasar Uncle mesum!" teriak Kaira dengan cepat ia kembali menenggelamkan wajahnya di dada Zain demi menutupi aset berharganya.


Masih di atas dada bidang Zain, Kaira mendengar kan juga mencerna ucapan Uncle tampannya itu, lalu gadis itu menutup kedua mata Zain menggunakan telapak tangannya.


Perlahan Kaira berdiri, sebelah tangannya masih stay menutup wajah Zain dan tangan yang lain membenahi handuk yang sempat melorot.


Tapi bukan Zain jika ia hanya diam saja, pria dewasa itu menyentuh tangan Kaira yang menutup wajahnya kemudian disingkirkan nya tangan halus itu dari kedua mata tajamnya.


"No! Uncle nggak boleh lihat! Ini cuma boleh dilihat suami Kai nanti kalau Kai sudah menikah!" cecar gadis remaja itu dengan membenahi handuk yang melilit tubuhnya.


"Lalu bagaimana jika kau menikah dengan orang tua ini?" goda Zain dengan mengalihkan telapak tangan Kaira dari wajahnya.


"Nggak ya Uncle! Kita ini masih saudara..."


"Jauh Kai!" sela Zain.


"Tapi ibuk kan kakaknya Uncle! Mana boleh?" cetus Kaira yang kini sudah membelakangi Zain.


Zain menyilang kan kakinya, masih stay cool di atas sofa berwarna ungu itu Zain bersedekap dada, "Jadi kalau kita nggak saudaraan lo mau nikah sama gue?" tanya Zain dengan menaikkan salah satu alisnya.


Terdiam Kaira, sungguh saat ini dadanya berdetak sangat kencang, "Astaga apa lagi ini? Kenapa ada pertanyaan konyol macam ini? Oh Tuhan harus menjawab apa aku?" batin Kaira dengan mengatur detak jantung yang berdebar begitu hebat.


"Kai? Lo tidur sambil berdiri? Kok diem?" pertanyaan yang tak masuk akal itu membuyarkan segala debaran jantung Kaira yang akan menumbuhkan seribu bunga didalam hatinya.

__ADS_1


Merasa jengkel gadis itu dengan kekonyolan Uncle nya yang sedikitpun tidak ada romantis-romantisnya, tapi memangnya siapa dia, yang minta di romantis in Zain Julio Zora? Dia hanya gadis cantik yang kebetulan keponakan dari Zain saja, bukan pacarnya.


Kaira menghela napas sebelum ia berbalik menatap Zain, "Iya Kaira mau menikah sama Uncle, Kaira mau jadi istri Uncle kalau..." terdiam sejenak gadis itu.


"Kalau?" Zain mengulangi perkataan Kaira yang menggantung, bahkan kembali Zain mengangkat salah satu alisnya, dan itu sungguh membuat laki-laki yang sudah berumur seperempat abad lebih itu semakin terlihat berdamage.


"Kalau satu, Uncle udah punya pekerjaan tetap, dua Uncle bukan saudara Kaira." senyum miring Kaira tampilkan ketika ia menyelesaikan ucapannya.


"Jadi umur nggak masalah nih?" tanya Zain dengan menatap dalam netra gadis nakal di hadapannya itu.


"Emmm... Buat Uncle nggak papa deh, karena tiga atau empat tahun lagi Kaira yakin Uncle masih ganteng kok." ucap Kaira dengan mengetuk-ngetuk pelan dagunya.


Sedangkan Zain hanya menatap gadis dihadapannya itu dengan senyum yang susah diartikan.


"Ok jadi Uncle cuma harus punya pekerjaan tetap?"


"Iyup, karena itu salah satu kunci rumah tangga, kalau nggak kerja mau Uncle kasih makan apa istri cantik mu ini?" sahut Kaira dengan melenggang memasuki ruang ganti.


"Ok, Uncle akan mencari pekerjaan dulu kalau begitu, selamat pagi istri Uncle!" ucap Zain dengan melangkahkan kaki panjangnya keluar dari kamar Kaira.


"Uncle jangan lupa syarat yang kedua!" teriak Kaira yang tak mendapatkan sahutan sedikitpun dari laki-laki tampan yang berumur 10tahun lebih tua darinya.


Tertawa gadis itu didalam ruang ganti, entah mengapa kedua muda-mudi beda generasi itu mudah sekali bertengkar dan mudah kembali berbaikan, Kaira sendiri terlalu suka menggoda laki-laki tampan yang di panggilnya Uncle itu, sedangkan Zain pun juga suka menjahili gadis yang terkadang suka merepotkan dirinya itu.


Tapi sekali lagi ikatan saudara kekeluargaan mereka yang masih menjadi pembatas antara keduanya.


"Kalau saja Zain Julio Zora, kau bukan Uncle ku, mungkin akan aku terima lamaran tidak romantis mu barusan." gumam Kaira, gadis itu kini sudah rapi dengan seragam putih abu-abunya dan tengah berkaca di depan meja riasnya.


"Benarkah? Jadi cinta Uncle tidak bertepuk sebelah tangan dong?" goda Zain dengan bersedekap di ambang pintu kamar Kaira.


Melotot kedua mata Kaira, terkejut mendapati Zain sudah berdiri di ambang pintu kamarnya dengan kemeja yang rapi, tak lupa senyum menjengkelkan tertera di sana.


"Oh tentu saja tidak." sahut Kaira dengan mengoleskan liptint tipis pada bibir pinknya, kemudian ia berjalan mendekati Zain dan...


CUP!!!


Kaira mengecup pipi Zain dan bekas merah liptint itu menempel di pipi kanan Zain, terkejut Zain membelalakkan kedua matanya.


"Memangnya hanya Uncle yang bisa bermain-main?" ucap Kaira tepat di hadapan Zain, dengan menaik turunkan kedua alisnya.


Sebelum Zain menarik tubuhnya dan membalasnya, Kaira sudah lebih dulu berlari meninggalkan laki-laki yang masih bergeming di tempatnya, "I Love you Handsome Uncle." teriak Kaira dengan memberikan cium jauh kearah Zain, sebelum tubuh gadis itu menghilang menuruni anak tangga.


Mendengar itu Zain hanya tersenyum tipis juga sebelah tangannya mengusap bekas liptint yang ada di sana.


"Dasar gadis nakal." gumamnya dengan menuruni anak tangga menyusul Kaira yang kini sudah bergabung dengan yang lainnya sarapan di meja makan...

__ADS_1


__ADS_2