I Love You Handsome Uncle

I Love You Handsome Uncle
Part 24 (Panik)


__ADS_3

Setelah mendengar panggilan dari Annisa, Zain kembali meregangkan pelukannya, "Hey udah dong nangisnya, kita keluar yuk, makan malam sudah siap." ajak Zain dengan mengusap pipi Kaira yang masih sedikit basah.


Gadis itu mengangguk, kemudian keduanya keluar dari ruangan fitnes, "Zain! ada yang nyariin lo tuh!" sekali lagi Annisa berteriak.


Kaira masuk ke dalam kamar, Zain turun ke lantai bawah, ditemuinya wanita yang sedari tadi berteriak-teriak memanggilnya, "Apaan sih mbak? Udah kek di hutan aja teriak-teriak." gerutu Zain yang merasa diganggu kenyamanannya bersama gadis yang tak lain adalah keponakannya sendiri.


"Asem emang lo! Tu di depan ada yang nyariin lo, badannya gede-gede!" ucap Annisa dengan bergidik ngeri.


"Siapa sih?" gumam Zain dengan berjalan menuju halaman depan.


Ada sekitar lima laki-laki berseragam dengan tubuh yang besar-besar berdiri di teras depan, tak lupa ada logo ZG-KNIGHT di dada kanan mereka.


Sudah dapat Zain tebak siapa mereka, ya... Mereka adalah para bodyguard suruhan Gautam Zora atau ayah Zain.


"Mau apa kalian ke sini?" dingin Zain berucap, bahkan alis nya sedikit mengernyit.


"Maaf Tuan Muda, kami diutus Tuan besar untuk menjemput anda." sopan tapi terlihat tegas salah satu anggota dari ZG-KNIGHT itu menjawab.


"Kembali saja kalian, gue nggak butuh di jemput, kaya anak TK aja!" ketus Zain.


"Tapi maaf Tuan, ini perintah dari Tuan besar!" tegas salah satu dari mereka.


Kelima anggota ZG-KNIGHT itu saling pandang lalu kemudian mengangguk satu sama lain dan mendekati Zain dan segera meringkus Tuan Muda mereka.


"Hey... hey... hey... apa-apaan ini lepas in Gue!" berontak Zain, tak mungkin laki-laki itu nurut saja, "Maaf Tuan Muda tapi ini perintah!"


"Lepasin gue! Lepasin!" teriakan Zain begitu keras sampai terdengar oleh Kaira yang baru saja menuruni anak tangga.


"Uncle." gumam gadis itu, "Ada apa itu ramai-ramai?" tanya Annisa yang saat itu keluar dari ruang makan.


Kaira menggelengkan kepalanya, "Entahlah Buk, coba kita lihat dulu." sahut Kaira yang segera berlari menuju teras depan.


Berlari gadis itu menuju teras depan, dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati adegan yang sama persis dengan mimpi buruknya barusan.


Ya... Mimpi dimana Zain diringkus dan dibawa pergi oleh pengawal Gautam.


"Hey lepaskan Uncle!" teriak Kaira.


"Maaf Nona, tapi ini adalah tugas kami, maka mohon kerja samanya, kami tidak akan melukai Tuan Muda, kami hanya akan membawanya kembali ke kota." ujarnya.


"Zain? ada apa ini?" panik Annisa mendapati sepupunya di cekal seperti itu, sudah mirip maling yang ketangkap basah saja, hanya bedanya Zain tidak di pukuli.

__ADS_1


"Tuan-tuan ku mohon lepaskan Uncle, kita bisa bicara baik-baik bukan?" Kaira berusaha bernegosiasi.


"Maaf Nona." sepertinya negosiasi baik-baik Kaira tidak berhasil, alhasil gadis itu mengambil ancang-ancang dan...


BUGH-BUGH-BUGH...


Tiga pengawal itu mendapatkan tendangan di bagian kepala, tepatnya di sebelah telinga mereka.


Terlepas Zain dari tiga orang yang menahannya, Kaira menarik lengan Zain agar berlindung di belakangnya.


"Nona tolong kerja samanya karena kami hanya melakukan pekerjaan kami!" salah satu anggota ZG-KNIGHT itu berucap, tapi Kaira tetap kekeuh menyembunyikan Zain di belakang punggungnya, "Tidak akan ku biarkan kalian mengambil Uncle Zain dari ku!"


"Maaf, sekali lagi kami minta maaf." ucap salah satu pengawal berseragam itu, lalu tanpa kata yang terucap lagi mereka menyerang Kaira yang sedang melindungi Zain.


"Uncle tenang saja selama ada Kai, semua akan Baik-baik saja." menangkis juga sesekali menyerang, itulah yang di lakukan Kaira dengan mulut yang terus nyerocos mengingatkan agar Zain Baik-baik di belakang tubuhnya.


Sampai akhirnya salah satu dari bodyguard itu berhasil menangkap salah satu tangan Kaira dan BUGH!!! Di pukul tengkuk Kaira, hingga pandangan gadis itu memburam.


"Uncle tetap di tempat ya, jangan kemana-mana!" ucap Kaira dengan mengedipkan matanya yang mulai menggelap dan akhirnya BRUGH!! tumbang sudah gadis itu tak sadarkan diri.


...~∆∆∆🌼∆∆∆~...


Annisa tengah mengompres anak sulungnya, ia begitu panik dengan keadaan Kaira, "Kai bangun sayang! Jangan bikin Ibuk takut!"


"Ada apa ini?" tanya Marcel yang baru saja pulang dari pekerjaannya.


"Biasa anak mu ini berantem tadi, sok-sokan mau jadi jagoan, malah begini." cetus Annisa


"Ck ssshhhh... Kalian ngapian sih ribut banget!!" berdecih Kaira tersadar dari pingsan nya.


Terdiam semua melihat ke arah gadis yang baru saja siuman itu, "Ada apa?" tanya Kaira menatap satu per satu orang yang ada.


Teringat gadis itu segera beranjak dari posisi tidurnya, "Uncle mana? Ibuk! Uncle mana?!" panik Kaira tak melihat keberadaan Zain.


Kaira menggoncang tangan Annisa pandangannya mulai buram karena bulir bening yang mulai memenuhi pelupuk matanya, "Ibuk! Buk! Ampun mendel mawon to! (Ibuk! Buk! Jangan diem aja buk!)"


Sekali lagi Kaira menatap semua orang yang ada di dekatnya, karena tak ada satupun dari mereka yang berucap sepatah katapun, gadis itu beranjak dari duduknya kemudian berlari ke kamar Zain, "Kai mau kemana nduk?!" teriak Annisa.


Tak menjawab Kaira terus berlari mencari Uncle tampannya, BRAK!! pintu kamar Zain di bukanya dengan kasar, ruangan ini masih berantakan, bahkan selimut masih terlihat baru saja di pakai, bau asap rokok masih tercium di ruangan ini, Kaira mengedarkan pandangannya, ponsel dengan merek yang bagus masih tergeletak di atas nakas.


"Uncle? Uncle di dimana? Jangan bikin Kaira panik dong! Uncle! Barusan mimpi lagi kan? Tapi kenapa ibuk yang bangunin, bukan Uncle!" berucap Kaira dengan menyapukan pandangannya ke seluruh ruang kamar itu.

__ADS_1


"Kai?"


"Uncle?" Berbalik Kaira, dan betapa kecewa menghampirinya tak kala yang ia dapati adalah Marcel, sang ayah yang baru saja menyusulnya.


"Oh, Ayah." lirihnya kecewa, tak perduli ada Marcel di ambang pintu kamar bekas Zain, Kaira berjalan menuju kamar mandi.


DOR-DOR-DOR!!!


"Uncle di dalam? Uncle mandi?" teriak Kaira dengan menggedor-gedor pintu kamar mandi.


Berlari lagi gadis itu mendekati ranjang dibukanya selimut tebal yang menutupi guling yang ada di bawahnya.


SRAT!!


"Apa Uncle sembunyi di sini?" zonk, tak satupun Kaira dapati hasil. Bahkan bau khas Uncle tampannya masih menguar sampai ke indera penciuman Kaira, itu yang membuat Kaira semakin berat hati.


Gadis itu pun keluar menerobos ayahnya yang masih terus menatapnya, "Uncle main petak umpetnya udahan dong! Kaira nyerah! Ntar kita jajan bubur kacang hijau deh, di taman kota, Kai yang bayarin!" teriak gadis remaja itu.


"Kalau yang tadi bukan mimpi, bisa jadi Uncle masih diluar." gumam Kaira dengan berlari ke arah teras depan.


"Uncle! Uncle ada di sana kah?" lagi-lagi tak ada apa pun yang Kaira temukan.


BRUGH!!


Terduduk gadis remaja itu di tengah lantai teras, "UNCLEEE!!!!" teriak Kaira dibarengi dengan air mata yang luruh membasahi pipinya.


Annisa tak tega dengan kondisi terpuruk Kaira, "Sayang masuk yuk? Ini hampir tengah malam lo." Annisa duduk di samping Kaira, ibu dua anak itu membelai surai panjang milik Kiara.


"Berapa lama Kaira nggak sadar buk?" tanya Kaira.


"Hampir tiga jam Kai, tenanglah orang-orang tadi itu hanya suruhan kakek Gautam, karena besok adalah hari pengesahan Uncle mu untuk menggantikannya sebagai CEO perusahaan." jelas Annisa.


Semakin kalut hati Kaira kala ia mendengar bahwa Zain di jemput oleh pengawal dari kakek Gautam, semakin mirip seperti di mimpinya bukan?


"Ayo masuk makan dulu, kau takut Uncle mu diculik?" tanya Annisa masih dengan suara lembutnya.


Hanya mengangguk Kaira, tak mungkin gadis itu mengakui ketakutannya, bisa jadi masalah besar jika Annisa mengetahui isi hatinya.


Kaira memutuskan untuk makan malam setelahnya ia masuk ke dalam kamarnya, di kuncinya pintu kamar itu kemudian ia berjalan kearah balkon, dari balkon ia melihat kolam renang yang ada di halaman belakang, seketika bayangan beberapa hari yang lalu melintas dibenak Kaira.


Zain yang menenggelamkannya, Zain yang memeluk pinggangnya, Zain yang membantu pernapasan melalui bibirnya, Zain yang menghentikannya untuk mengutarakan perasaannya, Zain yang mencium bibirnya semua masih jelas teringat bahkan tersimpan rapi didalam otak genius Kaira.

__ADS_1


"Uncle baik-baik ya di kota! Istri cantik mu sudah rindu." lirih Kaira dengan bulir bening yang kembali luruh membasahi pipi...


__ADS_2