
Zain mengikuti langkah kaki gadis cantik yang tak lain adalah keponakannya itu, ia duduk di samping Kaira yang duduk di ambang jendela kamar, kaki gadis itu menjuntai keluar, tidak tinggi luar jendela kamar itu masih terdapat balkon yang terhubung dengan balkon kamar Zain.
"Uncle minta maaf." lirih Zain dengan meraih tangan kanan Kaira.
Sedikit pun Kaira tak menoleh, masih lurus memandang jauh ke depan netra yang mulai berkaca-kaca itu.
"Uncle cuma nggak mau kalau sampai keponakan cantik Uncle yang Uncle sayangi ini murung, galau, dan kehilangan pelangi indah yang melengkung di sini." cecar Zain dengan mencolek ujung bibir indah Kaira.
"Lo cantik, nggak pantes aja kalau lo galau cuma gegara laki-laki breng*sek itu!" cetus Zain.
Kaira menoleh, ditatapnya wajah tampan Uncle Zain yang duduk di sampingnya itu.
"Uncle bilang dia breng*sek karena dia nyakitin hati Kaira, lalu perdikat apa yang pantas di gunakan seorang Zain Julio Zora yang mencumbu gadis dibawah umur, dengan alasan agar gadis itu melupakan sakit hatinya, hem?!" tanya Kaira dengan sedikit memajukan wajahnya.
"Asal kamu tau Kai, Uncle sendiri juga tidak tau kenapa Uncle begitu sakit ketika melihat mu kehilangan keceriaanmu." batin Zain.
"Kenapa diam? Bahkan barusan Uncle juga menuding ku, dengan kata jatuh cinta, apakah pantas seorang keponakan jatuh cinta dengan Uncle nya sendiri?!" tanya Kaira dengan mata yang mengembun.
"Kalaupun iya, aku jatuh cinta dengan Uncle itu bukan kesalahan Kiara ya! Itu kesalahan Uncle karena Uncle kasih perhatian lebih ke Kai! Juga, kenapa udah tua tampilan kek remaja?!" kini bulir bening itu meluncur tanpa permisi, bahkan Zain sendiri bungkam mendengar penuturan dari keponakan cantiknya.
Kaira beranjak dari ambang jendela kamarnya, gadis itu melangkahkan kakinya menjauhi Zain, tapi jemari kekar itu meraih lengan mulus milik Kaira.
Terhenti langkah kaki jenjang gadis itu, "Gue minta maaf."
"Dahlah! Uncle keluar aja! Kaira mau tidur!" sepertinya gadis itu sudah terlanjur marah.
"Lo yakin mau tidur tanpa dengerin isi hati gue?" Sebenarnya wajah Zain kali ini serius, tapi sayang sekali Kaira sedikitpun tak menoleh kearahnya.
"Kai nggak butuh! Kai ngantuk!" bahkan sebelah tangan Kaira melepas cengkeraman tangan Zain dengan pelan, itupun pandangan Kaira menunduk tak sedikitpun terarah ke wajah tampan Uncle nya.
Kaira beranjak menuju ranjangnya, segera gadis itu masuk kedalam selimut tebal nya, dan mulai menenggelamkan dirinya ke dasar lautan mimpi yang ia harapkan akan lebih indah dari kenyataan pahit dunia fana ini.
Zain tak punya pilihan selain keluar dari kamar keponakan cantiknya itu, "Good night, Kai." lirih Zain sebelum ia menghilang dibalik pintu kamar Kaira.
Tidak mungkin kan dalam hitungan detik Kaira sudah sampai di lautan mimpinya, benar sekali, setelah mendengar pintu kamarnya tertutup, gadis itu sedikit membuka selimutnya, mata indah itu terlihat melirik kearah pintu yang baru saja tertutup.
Hidung dan tubuh Kaira masih tertutup selimut tebal, terdiam sejenak gadis itu masih mengingat jelas ciuman panas dengan Uncle nya beberapa menit yang lalu.
"Aaaaaaaaa!!!" teriak Kaira dengan menutup kembali kepalanya dengan selimut tebal itu, lalu detik berikutnya tubuh gadis itu terlihat berguling ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
Berhenti sejenak Kaira bangun dari posisi tidurnya, "Oh aku bisa gila! Siapa saja tolong aku! Ini sungguh tidak aman untuk jantung gadis muda dan cantik seperti ku!"
Kembali Kaira menungging dengan kepala yang ia tutup menggunakan bantalnya.
"Aaaaaaa!!! Siapa saja tolong katakan kalau ini hanya mimpiiiiii!!!" teriaknya yang tenggelam dalam bantal.
Drrrrttzzz...
Drrrrtttzzz...
Dering ponsel akhirnya menyudahi kegiatan konyolnya itu, beranjak dari ranjang gadis itu meraih ponsel yang mencuri perhatiannya.
"Risa? Ada apa dia malam-malam telfon?" gumamnya, tapi kemudian Kaira segera menekan tombol hijau yang tertera pada layar ponselnya.
"Halo?" seperti bernada malas Kaira berucap.
📞"Njir kok koyo males ngunu ta awak mu ngangkat telpon ko aku?! (Njir kok kaya malas gitu sih lo angkat telpon dari gue?!)" logat jawa sudah pasti terdengar dari balik sambungan telepon itu.
"Lagian ngopo seh telpon wengi-wengi ngene?! Wis wayah micek iki! Ra nyawang jam ta mata mu!(Lagian ngapain sih telpon malam-malam begini?! Sudah waktunya tidur ini! Nggak liat jam ya mata mu?!)" sungguh bahasa yang di gunakan kedua gadis ini sangatlah absurd dan terdengar seperti orang yang sedang berdebat, bahkan tak jarang keduanya dikira tengah beradu mulut, padahal aslinya hanya ngobrol biasa saja.
📞"Utek ku rasa ne kek arep njedot ndes! PR ku rak rampung-rampung, awak mu mesti lak yo wis garap to!(Otak ku rasanya kaya mau meledak ndes! PR gue nggak kelar-kelar, lo pasti udah ngerjain, kan!) bukan pertanyaan, itu malah lebih terdengar seperti tudingan yang pasti akan berakhir dengan niat meminta contekan.
"Hieleh... mesti lak ameh nirun to awak mu?! (Hieleh... pasti kan mau minta contekan, kan lo?!)" sudah terbaca niatan sahabat Kaira itu, tapi bukannya pelit Kiara, gadis itu rela menjelaskan cara dan rumus dari tugas sekolah yang tadi dikerjakannya, keduanya berbincang melalui sambungan telepon sampai hampir tengah malam.
Mata Kaira sudah mulai berair, sesekali gadis itu menguap, menandakan kalau dia sudah mengantuk malam ini, tak mau memaksakan matanya, Kaira segera beristirahat dan mengarungi lautan mimpinya.
Di kamar lain...
Di dalam kamar Zain, laki-laki itu masih duduk santai dibalkon kamarnya, dengan menikmati secangkir kopi juga sebatang rokok yang baru saja disulutnya.
Nafas panjang dihirupnya, laki-laki itu menghembuskan asap abu-abu yang menguar.
Pikiran Zain tak lagi memikirkan apapun kecuali satu, rasa yang sering kali di tepisnya kini malah kian melekat, bahkan setelah gadis yang berstatus keponakannya itu mengungkapkan rasa tak pantasnya.
"Apa perhatian gue selama ini nunjukin perasaan gue?" Gumamnya dengan kembali menyesap cangkir yang berisi kopi hitam.
"Oh Astaga kenapa bisa jadi begini sih?!" keluh Zain dengan menengadahkan kepalanya.
Ditatapnya langit-langit malam yang berisikan bintang-bintang yang bertebaran.
__ADS_1
Zain kembali membenarkan posisi duduknya, dan wajah tampan itu menoleh kearah balkon kamar Kaira yang terhubung langsung dengan balkon kamarnya.
"Dasar gadis ceroboh!" umpatnya tak kala melihat jendela Kaira masih terbuka lebar, berdiri Zain menuju balkon kamar Kaira.
Niat hati hanya ingin menutup jendela kamar gadis itu, tapi melihat wajah cantik yang terlelap di atas ranjang itu, Zain malah melangkah masuk melalui jendela yang terbuka.
Perlahan langkah kaki itu mendekati ranjang Kaira, "Lo udah gila Zain! Buat apa lo masuk kemari? Bahkan kaya maling gini cara lo masuk!" batin Zain mengumpat untuk dirinya sendiri.
Berusaha Zain berhenti dan ingin segera kembali keluar, tapi lagi-lagi ia tak kuasa menahan diri.
"Sebentar saja, lalu kembali ke kamar! Ok gue cuma mau mastiin lo baik-baik aja gadis nakal!" batin Zain dengan terus mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak berlama-lama di dalam kamar Kaira.
Dibelainya surai hitam yang sangat lembut juga harum itu, kemudian dikecup lembut kening Kaira.
"Sebenarnya gue juga bingung Kai sama perasaan gue, gue nggak suka aja kalau liat lo murung, apa lagi sampai nangis, sakit hati gue Kai, entah ini rasa suka atau hanya obat kekosongan hati setelah tersakiti, yang jelas kita sama-sama tersakiti dan berusaha saling mengobati." gumam Zain dan sekali lagi Uncle tampan itu mengecup kening Kaira, sebelum ia meninggalkan kamar bernuansa pink, ungu itu.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Terbangun untuk melakukan ibadah pagi menurut keyakinannya, Kaira pagi itu tak lanjut berkegiatan, malah gadis itu kembali masuk kedalam selimut, entah masih merasa ngantuk atau memang udara pagi ini terasa begitu dingin, sampai akhirnya...
"KAI!!! BANGUUUUUUNNN!!!" teriak Annisa yang saat ini sudah membawa satu gayung yang berisikan air dingin.
Berteriak ibu dua anak itu dengan menciprat-cipratkan air dingin itu ke arah wajah Kaira.
"Iiiiihhh apa sih buk?!" gerutunya dengan mengusap wajah basah itu menggunakan selimutnya.
"Anak perawan! Jangan bangun siang-siang awas nanti dapet jodohnya juga yang tuaan, kaya waktu bangun kamu yang terlewat, jodoh kamu juga lewat usia di atas mu!" cerocos Annisa dengan masih menciprat-cipratkan air dingin ke wajah anak sulungnya itu.
"Aish si Ibuk! Jangan gitu lah, awas loh, ucapan sebagian dari do'a, apa lagi ini masih pagi, malaikat masih kenceng-kencengnya bilang amin lo ini." cetus Kaira dengan duduk dan segera melipat selimutnya.
"Ya makannya jadi anak cewek jangan bangun siang!" seperti biasa ibu-ibu tetap tidak mau mengalah soal berdebat.
"Emmm... umur Kaira berapa sih? Baru 17 tahun ya? kalau lewat 10 atau 15 tahun dari umur Kaira nggak papa juga sih buk, syukur-syukur dapat Om Lee Min Ho, atau nggak Om Luo Yunxi juga nggak papa sih, udah tua, tajir lagi." dengan senyum mengembang Kaira berucap.
BYURRR!!!
BLETHAK!!!
Air beserta gayungnya melayang mengenai kepala Kaira bahkan mengguyur gadis beserta ranjangnya.
__ADS_1
"Halu terooooooossss!!! Tu rasain bakal Lee mineral!" teriak Annisa yang kini sudah berlalu.
"Yaaaahh Ibuuuuukkk!!! Basah deh semua!" teriak Kaira yang masih stay di atas ranjangnya...