
Pagi ini di vila keluarga Zora, semua tengah berkumpul di meja panjang yang dipenuhi dengan hidangan.
Ritual sarapan pagi ini dilakukan dua keluarga, mereka sudah siap dengan piring dihadapan masing-masing yang terisi hidangan.
Gautam menyapukan pandangannya, iq merasa ada yang kurang di meja panjang yang sudah ramai itu.
"Dimana Zain dan Kaira?" tanya Gautam, karena sepasang pengantin baru itu belum menampakkan batang hidungnya sedari pagi tadi.
"Biar saja mereka pasti lelah dengan rentetan kejadian kemarin juga semalam." ucap Mariana yang menenangkan Gautam.
Di dalam kamar...
Meringis Kaira menggigit bibir bawahnya, rasa perih juga nyeri di bagian intinya membuat gadis itu duduk terdiam cukup lama di atas closed duduk
"Masih sakit?" tanya Zain yang kembali berjongkok di hadapan Kaira.
"Sedikit perih," sahut Kaira.
"Coba aku kompres," ucap Zain penuh perhatian.
Tak mau menolak, Kaira hanya patuh diam saja di sana, sementara Zain mengompres bagian inti Kaira menggunakan air hangat yang barusan di ambilnya dari dapur.
Selesai dengan bersih-bersih sepasang pengantin baru itu segera keluar dari kamar mandi.
"Sayang duduk disini dulu, tunggu aku ambilkan sarapan, kita makan disini ya!" Penuh perhatian, Zain menurunkan Kaira dari gendongannya, di dudukkan istri cantiknya itu di sofa yang teronggok di dekat jendela kamar. Setelahnya mereka melewati sarapan pagi berdua, tak lagi memikirkan ekspresi keluarga yang lain, mungkin saja mereka tengah geleng-geleng kepala, tapi biar saja, memangnya siapa yang merencanakan nikah dadakan ini? Para orang tua itu bukan? Zain dan Kaira hanyalah korban yang kebetulan sangat menikmati keputusan orang tua mereka.
Bahkan semua ponsel mereka matikan, tak mau sedikitpun pengantin dadakan itu terganggu oleh hal pekerjaan.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Didalam gedung perkantoran...
Jefri terlihat menekuk wajahnya, sedari tadi ia berusaha menghubungi Tuan Muda nya yang menghilang tanpa kabar sedari kemarin siang.
"Kemana dia? Katanya suruh chat, giliran di chat malah nggak ada balasan, bahkan belum ada tanda-tanda untuk dibuka." cetus Jefri dengan mondar-mandir di depan pintu ruangan milik Zain.
"Gimana Jef?" tanya Jova yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Nggak bisa dihubungi," sahutnya singkat.
"Memangnya kemana Pak Zain pergi?"
"Entahlah, dia tidak mengatakan kemana dia pergi."
__ADS_1
"Bukannya bapak kamu kerja dengan Big Bos ya? Maksud aku Pak Gautam."
"Hem..." Jefri mengangguk.
"Ya udah telfon aja apa salahnya, masih ada waktu setengah jam loh ini." Jova menyarankan, terdiam sejenak Jefri, kemudian ia menekan layar ponselnya untuk menghubungi Kuncoro yang tak lain adalah bapaknya Jefri.
"Halo Pak? Bapak ada sama Tuan Gautam? Atau Bapak ada sama Tuan Muda?" pertanyaan segera Jefri lontarkan kala dering tuuuuttt... tuuuuuttt itu berganti dengan suara Halo dari seberang sana.
📞 "Tuan Muda menikah tadi malam, ini Bapak ada di Vila puncak Bogor, ada apa?" terdengar sahutan dari pria paruh baya dari seberang telepon sana.
"Share lokasinya sekarang ya Pak! Jefri mau nyusul!" setelah mendapatkan persetujuan dari Kuncoro, Jefri segera mengakhiri panggilan singkat itu.
"Ayo!" Jefri berjalan mendahului Jova.
"Kemana Jef?" tanya Jova dengan mengikuti langkah panjang Jefri.
"Ke Vila." sahutnya.
"Ish, Serius!"
"Kamu pikir aku pernah bermain-main?" dingin tatapan Jefri, Jova terdiam mengatupkan mulutnya, tak lagi ia berucap, segera gadis itu mengikuti langkah kaki Jefri.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Zain sudah rapi dengan jaz kerja yang disiapkan oleh Kemal, "Mau kemana Yank?" tanya Kaira, kala netra bulat milik wanita berstatus istri itu melihat tampilan suaminya yang sedemikian rapi.
Kaira mendekat, sebagai seorang istri ia tau bagaimana tampilan rapi suaminya, dirapikan nya dasi panjang yang melingkar pada kerah leher suaminya.
Zain tersenyum, bahagia rasanya bisa mendapatkan perlakuan manis dari istri cantiknya.
Tak bisa diam lengan kekar itu kini memeluk pinggang ramping Kaira, sedikit diremasnya lekuk tubuh yang mampu menggugah gairah itu.
"Akh... Ish jangan aneh-aneh deh!" cetus Kaira dengan menahan lengan Zain agar tidak lagi meremas pinggangnya.
"Apa sih? Memangnya kenapa?"
"Geli tau!"
"Ih padahal loh enak."
"Enak di kamu! Geli di aku!" cemberut wajah cantik Kaira menanggapi celetuk dari suaminya yang sedikit menjengkelkan itu.
Entah mengapa sampai saat ini Zain suka sekali menjahili istri cantiknya itu, seperti ada rasa bahagia tersendiri kala ia mendapati Wajah imut yang cemberut itu.
__ADS_1
TOK... TOK... TOK
Terdengar pintu kamar mereka diketuk oleh seseorang, hingga terpaksa keduanya berhenti bercanda.
"Siapa?" tanya Helen, sedangkan Zain malah mengendikkan bahunya, "Sebentar aku cek dulu." ucap Zain, Kaira hanya mengangguk dengan senyum manis di bibirnya.
Langkah panjang Zain tertuju pada pintu...
Ceklek...
Pintu terbuka, bersamaan dengan itu muncullah wajah dingin Jefri dengan menunduk sopan.
"Maaf Tuan Muda, meeting hari ini..."
"Iya aku nggak lupa kok!" sela Zain.
"Tunggu dibawah, aku akan segera menyusul." cetus Zain.
Hari ini Zain tak meninggalkan Kaira, di ajaknya istri cantik itu untuk menghadiri meeting di resto yang tak jauh dari vila yang mereka tempati.
Meeting hari ini berjalan lancar namun juga menghabiskan waktu yang cukup lama, hingga Kaira kini merasa bosan, wanita bergelar istri itu kini berjalan menuju mobil.
Niat hati ingin mencari suasana yang tidak membosankan, tapi malah netra bulatnya kini terpejam.
Zain terlihat menandatangani surat perjanjian kerja sama, "Jef, aku mau susul Kaira, kau urus sisanya!" cetus Zain yang segera beranjak dari tempat duduknya.
Jefri hanya mengangguk mengiyakan titah dari Tuan Mudanya dengan dibantu oleh sekretaris Zain, yang tak lain adalah Jova.
Kaki jenjang dengan langkah panjang itu berjalan keluar dari dalam resto, menuju basement berniat mengecek apakah istri cantiknya ada di sana.
Begitu Zain tiba di samping mobil, ia mendapati pintu mobil bagian belakang terbuka, "Loh kok..."
Berakhir sudah prasangka buruk Zain kala ia mendapati pemandangan di dalam mobil, ya... Di sana ada gadis yang tengah tertidur didalam mobil.
"Kai? Sayang?" panggil Zain dengan membelai pipi mulus Kaira.
"Emh..." hanya menggeliat Kaira tanpa membuka mata, tersenyum semirik Zain, otak mesum nya mulai bekerja saat ini juga.
Seperti mendapatkan permainan baru dengan fantasi liar yang memenuhi otaknya, Zain melepas dasi yang di pakainya, ia gunakan dasi panjang itu untuk mengikat kedua lengan Kaira.
Zain mulai mengecup setiap inci tubuh istrinya, karena merasa terganggu Kaira mendorong tubuh Zain.
Tapi bukannya menyerah Zain malah semakin menjadi.
__ADS_1
Jefri dan Jova baru saja keluar dari dalam resto, keduanya kini berjalan menuju basement, berpikir untuk menunggu sang pemilik mobil.
Tapi langkah kaki keduanya terhenti kala mereka menatap mobil milik Zain bergoyang-goyang...