I Love You Handsome Uncle

I Love You Handsome Uncle
Part 28 (Bukti Move On)


__ADS_3

Sudah berhari-hari bahkan hampir lewat dua bulan Zain sibuk dengan perusahaannya, sampai lupa laki-laki itu tak mengirim kabar lagi kepada sang gadis pujaan yang jauh di sana, mencuri waktu sebentar Zain membuka ponsel yang terkoneksi langsung dengan CCTV yang terpasang di kamar Kaira.


Menjadi CEO sebuah perusahaan besar bukanlah hal yang gampang, bahkan sibuk selalu mengisi kata waktu yang Zain miliki saat ini.


Siang ini Zora Group berencana untuk segera meluncurkan prodak kosmetik terbaru, mereka tentu saja membutuhkan model yang handal, pada saat itu lah mereka menghubungi beberapa model profesional, dan naas nya kebanyakan model sudah penuh dengan jadwal pemotretan.


Jefri salah satu tangan kanan Zain terlihat berjalan memasuki lift khusus, di sana ia bertemu Jova yang tak lain adalah sekretaris Zain.


"Jov?" sapa Jefri yang kala itu berdiri di samping Jova.


"Eh... Iya Jef, ada apa?" bersemu merah pipi Jova, gadis dewasa itu sibuk menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


"Aku belum nemu model buat produk kosmetik baru nih, kamu bisa bantu nggak?" tanya Jefri karena ia yakin gadis seperti Jova lebih tau model yang bagaimana yang pantas untuk di jadikan BA di produk kali ini.


"Ooh... Bukannya nona Zoya selalu jadi BA favorit ZG ya?" menunduk Jova berucap.


"Kamu nggak tau apa nggak ngerti sih? Semenjak balik ke kota, pak Zain kan sudah tidak lagi dekat dengan Zoya, kayaknya mereka udahan deh..."


TING!


Obrolan kedua insan berbeda gender itu terpaksa berhenti tatkala pintu lift terbuka, akhirnya mereka berjalan beriringan menuju tempat yang sama, "Selamat siang pak Zain?" sapa Jova dengan sopan.


"Hem!" hanya berdehem Zain menyahuti, bahkan sedikitpun ia tak memandang ke arah lawan bicaranya.


Jefri dan Jova saling bertukar pandang mendapati CEO baru itu sibuk bermain dengan gedget canggihnya.


"Ekhem... Maaf Tuan Muda, bisa kita bicara sebentar?" sopan dan pelan tutur kata Jefri membuat Zain meliriknya.


Terlalu asik Zain mencari tahu kabar tentang Kaira melalui CCTV yang terkoneksi dengan ponselnya, ia hampir lupa dengan masalah yang ia hadapi pasal permodelan.


"Ekhem... hem... Ya bagaimana?" tanya Zain dengan membenarkan posisi duduknya.


Jefri mempersilahkan Jova untuk menyelesaikan terlebih dahulu pekerjaannya, pipi gadis itu lagi-lagi bersemu merah dengan bibir yang mengulum senyum, langkah kakinya mendekat kearah meja Zain, tapi ekor mata masih mencuri pandang kearah Jefri.

__ADS_1


"Kamu mau bicara sama saya atau sama Jefri, Jov?" pertanyaan Zain berhasil mengalihkan atensi gadis dewasa itu.


Memejamkan mata rapat-rapat Jova menahan malu, karena tercyduk tengah memperhatikan Jefri.


Berusaha kembali profesional, Jova menyodorkan beberapa dokumen yang baru saja dia revisi, juga mengatakan jadwal meeting untuk hari ini. "Dan yang terakhir, nanti meeting di Semarang Tuan, ada satu klien kita yang sedikit jauh." jelas Jova.


"Ya sudah, masih ada setengah jam dari sekarang, kamu bisa siapkan yang akan kita bawa, jangan lupa kamu boking hotel untuk kita istirahat!" ucap Zain di akhir pembahasannya bersama Jova, "Oh iya Jef gimana, kamu tadi mau ngomong apa?" Zain beralih menatap orang kepercayaannya itu.


Sama seperti halnya Kuncoro yang setia dengan pekerjaan sebagai sopir canggih, Jefri sebagai putra sulung dari Kuncoro pun juga mengabdikan hidupnya untuk bekerja di Zora Group.


"Ekhem... Untuk BA produk baru, kita belum dapat model." jawabnya masih dengan kaku, memang dingin dan kaku pembawaan Jefri.


Zain menaikan salah satu alisnya, otak yang terbilang genius itu mencoba mengotak-atik bagaimana caranya agar cepat mendapatkan model yang profesional.


"Maaf Tuan Muda..." ucap Jefri terhenti, Zain kembali menatap santai pemuda yang mungkin lebih tua dua tahun darinya itu.


"Kau ada ide? Ayolah Jef jangan terlalu kaku, biasa saja, aku juga manusia yang makan nasi, kenapa setiap kali bertemu wajah mu selalu begitu? Apa kau takut aku akan memakan mu? Haha..." tawa garing terdengar ketika Zain mengakhiri kalimatnya.


Hanya berdehem Jefri menanggapi ucapan atasannya itu, "Sebelumnya saya minta maaf, jika usulan saya ini terlalu lancang, tapi semua semata hanya demi perusahaan." jelas Jefri sebelum mengutarakan usulannya.


"Ekhem... bagaimana dengan Zoya Aurelie?" usul Jefri, terdiam Zain mendengar nama yang baru saja Jefri sebutkan, sempat mengeras rahang CEO tampan itu.


"Maaf Tuan, tapi dia satu-satunya model profesional yang tersisa dan belum kita tawari pemotretan ini." cetus Jefri sekali lagi, ia paham bagaimana hubungan Zain dan Zoya sebelumnya, bahkan laki-laki kaku itu sempat beberapa kali memergoki kedua muda-mudi itu berciuman di ruangan Zain yang dulu.


Zain terlihat memandang jam tangan, "Baik, terserah kamu saja, urus semuanya bersama Jova, aku mau keluar sebentar!"


Zain beranjak keluar dari ruangannya, "Tunggu Tuan!" teriak Jefri, dan itu berhasil menghentikan langkah kaki Zain, laki-laki itu kembali mengeraskan rahangnya, ditatapnya Jefri dari sudut mata tajamnya tanpa sedikitpun mengeluarkan suara.


Memahami sifat CEO barunya itu, Jefri menjelaskan dengan berjalan mendekati Zain, "Saya paham bagaimana perasaan Tuan, tapi bukan kah kemarin ada rumor bahwa Tuan sudah mempunyai gadis lain?" ucapan Jefri berhasil mendapatkan atensi dari Zain.


Sebelum Zain berucap, kembali Jefri berkata, "Jika memang sudah ada gadis lain, lalu kenapa harus keberatan untuk bekerja sama atau bertemu dengan nona Zoya? Bukan kah jika seperti itu tandanya Tuan masih belum bisa move on dari model itu?" terdiam sejenak Jefri.


"Lalu bagaimana perasaan gadis yang saat ini menjadi tambatan hati Tuan? Apakah dia akan percaya diri menjalin hubungan dengan laki-laki yang sama sekali belum move on dari mantan kekasihnya?" imbuh Jefri.

__ADS_1


Kini Zain berbalik dan menghadap Jefri, "Lalu bagaimana jika gadis itu tau, kalau aku masih berhubungan, bahkan bekerja bersama wanita murahan itu?!" datar, dingin, bahkan raut wajah Zain tidak enak sama sekali untuk di pandang, saat menyahuti ucapan Jefri.


"Tuan bisa buktikan jika hubungan kalian tak lebih dari sekedar rekan bisnis saja." usulan Jefri kembali ia pertimbangkan.


"Dari pada Tuan terus-terusan menghindar, itu malah akan membuat nona Zoya berpikir kalau kalian bertemu maka perasaan Tuan masih ada untuknya." lanjut Jefri.


"Benar juga apa yang kamu bilang, ok kalau gitu hubungi dia, dan lima belas menit lagi kita berangkat meeting!" ucap Zain dengan berjalan kembali ke kursi kebesarannya.


...~∆∆∆🌼∆∆∆~...


Siang ini adalah hari kelulusan Kaira dan teman-teman sekelasnya termasuk Risa, mereka sama-sama berpesta ala anak SMA yang baru saja mendapat kabar bahagia tentang kelulusannya.


"Konfoi ra iki?(Konfoi nggak nih?)" teriak Risa kepada seluruh teman seperjuangan yang tukang loncat-loncat kelas.


"Dari pada konfoi mending kita nginep bareng aja deh terus BBQ-an gitu, kan lebih asik." saran Fadli salah satu siswa laki-laki.


"Waaaahhh jos kui! Utek mu yo main ngunu cok! (Waaaahhh kos itu! Otak lo main juga cok!)" sahut Irvan menimpali.


"Awakmu pie Kai?(Lo gimana Kai?)" tanya Risa yang kala itu mendapati Kaira termenung tidak ikut memberikan usulan sedikitpun, otak genius gadis itu masih melanglang buana seputar Uncle tampannya yang tak lagi mengiriminya surat-surat kecil lagi, bak ditelan bumi Zain hilang tanpa kabar, bahkan orang-orang suruhannya pun tak Kaira temui dimana-mana, apa Zain sudah melupakan Kaira? Ah benar, di kota mungkin banyak gadis yang lebih darinya, begitulah isi otak Kaira saat itu.


"Kai!" panggil Fadli dengan menepuk pelan pundak Kaira, laki-laki berkaca mata itu kebetulan duduk di samping Kaira.


"Eh... pie-pie-pie?(Eh... gimana-gimana-gimana?)" tersentak Kaira, mendadak ia menoleh ke arah Fadli, si pria tampan berkaca mata itu tersenyum tipis menatapnya.


"Cieeee... mentang-mentang deketan sama Fadli, terus otak travelling tuh si Kaira!" Sorak Irvan kemudian di susul suara riuh teman-teman yang lain.


"Njir! Aku gur luwe lo cok! Cangkem e Irvan i! (Njir! Gue cuma paper kali cok! Mulutnya Irvan!)" geram Kaira segera menjitak kepala Irvan yang berambut cepak itu.


PLETAK!!


"Adoh!! Biasa ae Kai! Gialak mu koyo macan manak! (Aduh! Biasa aja Kai! Galak lo kaya macan beranak!)" Irvan meringis kesakitan sembari mengelus kepalanya.


"Salahe golek goro-goro karo tukang gelud, rasak no! Penak to ndas mu?! (Salah sendiri cari gara-gara sama tukang berantem, rasain! Enakkan pala lo?!)" cetus Risa menimpali.

__ADS_1


"Fad, awak mu ra mbelani aku ta? (Fad, lo nggak belain gue gitu?)" Irvan berusaha mencari perlindungan, tapi gagal karena Fadli hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya, jangan lupa tangan nya pasti membenarkan kaca mata yang bertengger di hidung bangir nya.


Begitulah keseruan anak-anak yang mengikuti kelas akselerasi itu, sampai hari sudah menunjukkan waktu senja, mereka berjanjian untuk berangkat liburan besok paginya, setelah setuju semua, juga rencana yang tersusun rapi, mereka pulang ke rumah masing-masing...


__ADS_2