
Tanpa pikir panjang Kaira segera menarik kerah baju Zoya dan, "Lo salah pilih lawan bestie!" bisik Kaira dengan tatapan tajam yang menusuk.
Segera pihak kepolisian melerai kedua perempuan yang hampir berseteru itu, "Lepas! Pak, dia harus diberi pelajaran!" Kaira berontak, segera Zain menahan tubuh istrinya.
"Uncle apa-apaan sih?!" bertaut kedua alis Kaira, protes sudah pasti terlihat dari tatapan mata wanita cantik itu.
"Sayang, biar pihak kepolisian saja yang menanganinya, bagaimana nanti kalau malah kamu yang kena tuduhan penganiayaan?" bisik Zain dengan membawa tubuh Kaira perlahan mundur menjauh.
Kaira terdiam, bersama dengan Zain ia melihat Zoya diringkus oleh pihak kepolisian, dengan tuduhan yang telah di laporkan juga dengan pemakaian obat-obatan yang ada di tempat kejadian barusan.
"Kita pulang ya? Lagi pula bukankah kita harus segera memilih gaun yang pas untuk kau pakai besok?" dengan pelan dan halus Zain berusaha membujuk istri cantiknya yang masih memasang tampang muram.
"Ayo lah Yank, besok kita akan menerima banyak tamu, apa kau akan muram begini terus?" kini Kaira melirik kearah Uncle tampan yang kini sudah sah menjadi suaminya itu.
"Senyum dong!" pinta Zain dengan mencolek pipi Kaira.
Tersenyum lebar Kaira, bahkan barisan gigi rapinya terpampang di sana, "Tapi Kai mau beli rujak dulu." senyum lebar itu ternyata bersyarat.
"Rujak? Ya udah ayok." mau tak mau Zain menuruti keinginan istrinya.
Setelah cukup lelah mereka muter-muter mencari tukang rujak di hari yang sudah tidak terang lagi akhirnya ada satu penjual rujak malam ini yang tengah mangkal di dekat gedung perkantoran.
"Yank itu tukang rujak!" dengan semangat Kaira berucap bahkan jari telunjuknya menunjuk seperti anak kecil yang menemukan mainan kesukaannya.
"Ok kita kesana ya!" ucap Zain yang segera melajukan mobilnya mendekati si tukang rujak.
Setelah selesai dengan rujak keinginan Kaira, mereka segera menuju butik untuk memesan gaun dadakan, tentu saja warna dan modelnya di sesuaikan dengan gaun yang rusak, dan itulah yang membuat para perancang busana harus bekerja lembur malam ini, karena akan dikenakan besok siang.
Cukup sudah untuk drama hari ini, kini Zain dan Kaira kembali ke kediaman utama keluarga Zora tepat pukul 23.00WIB.
Sebagian orang sudah lelap kedalam mimpinya, sebagian lagi masih ada yang sibuk dengan urusannya bahkan ada yang sibuk mengurus urusan orang lain, contohnya WO (Wedding Organizer), mereka bekerja tanpa pandang siapa yang akan menggunakannya, mereka profesional dengan apa yang digelutinya, jika belum selesai maka pantang bagi mereka untuk berhenti.
Malam kian melarut bahkan fajar mulai menyingsing dengan hiasan lembut sinar sang mentari yang sudah siap menghangatkan bumi.
Di dalam hunian mewah yang semakin indah nan menawan dengan hiasan hasil karya orang-orang profesional ini sudah ramai dengan keluarga besar Zora Group.
Bahkan tamu-tamu undangan telah tiba, Gautam gagah bersama dengan Mariana yang anggun tengah menyapa para tamu undangan, yang datang kebanyakan dari kalangan-kalangan elite, bahkan sebagian besar adalah rekan bisnis juga ada sebagian karyawan kantor, ada juga teman-teman Kaira yang kebetulan ada di sana.
__ADS_1
Julio datang bersama dengan kedua orang tuanya, tak lupa dokter cantik Dessy juga turut hadir di acara bahagia ini.
Jika hiruk pikuk terjadi di ruang tengah, ruang keluarga bahkan sampai ke halaman, kini beda cerita di dalam kamar sang pengantin, di sana hanya ada dua insan yaitu Zain dan Kaira.
Zain sudah rapi dengan tuxedo nya sedangkan Kaira masih mengenakkan handuk kimononya.
Bolak-balik wanita cantik itu keluar-masuk kamar mandi, "Sayang kau baik-baik saja?" tanya Zain yang mulai curiga dengan istrinya.
"Entahlah, aku tidak yakin." sahut Kaira lemas, sampai akhirnya ia kembali berlari ke dalam kamar mandi dan...
"Huegh... huegh..." terdengar suara muntahan dari luar, Zain yang kepalang panik segera menerobos masuk kedalam kamar mandi.
"Baby masuk angin?" tanya Zain dengan memijit tengkuk Kaira pelan.
Hanya gelengan kepala yang Zain dapatkan, "Gimana kalau dibatalkan saja?" tanya Zain lagi.
"Jangan, kasihan ayah nanti malu." lirih Kaira berucap.
"Telfon kak Julio saja dulu, barang kali dia sudah datang sama dokter Dessy." cetus Kaira.
"Sebentar ya?" Zain segera keluar, diambilnya ponsel di atas nakas segera ia layangkan panggilan kepada saudara iparnya.
"Zain?" gumam Julio yang membaca tulisan dilayar ponselnya.
"Ada apa? Angkat saja, mana tau penting." ucap Dessy mengusulkan.
"Tapi ini sudah dirumahnya loh kenapa nggak ngomong langsung aja coba?" gumam Julio, tapi walaupun begitu, kakak biologis Kaira itu segera menggeser tombol hijau yang tertera pada layar ponselnya.
"Halo?" santai Julio bersuara.
📞"Kamu sudah sampai di rumahku... Kak?" terdengar kaku Zain memanggil pemuda yang lebih muda darinya itu kakak.
"Sudah, ada apa? Kaira baik-baik saja, kan?" entah mengapa pertanyaan Julio mengarah ke sana.
📞"Itu dia masalahnya, Kaira sedari pagi muntah-muntah terus, sepertinya dia masuk angin, apa dokter Dessy ada bersama mu? Jika iya, bawa dia kemari sekarang!"
"Kemana? Ke kamar kalian?"
__ADS_1
📞"Iya, cepat!"
Setelah sambungan telfon itu terputus, Julio segera mengajak Dessy untuk ke lantai atas, tak lupa Julio meminta tolong kepada Mariana.
Ceklek!!!
Julio, Dessy dan Mariana masuk kedalam kamar pengantin baru itu, di sana terlihat Kaira yang masih mengenakkan handuk kimononya duduk di sisi ranjang.
"Bagaimana ini? Tamu undangan sudah berdatangan." panik Mariana melihat kondisi menantunya.
"Ibu sabar dulu, biar saya cek dulu keadaan Kaira." santai Dessy berjalan mendekati Kaira.
Sedikit perbincangan diantara keduanya, karena memang kondisi Kaira yang sedikitpun tidak bersemangat.
"Terakhir datang bulan kapan?" tanya Dessy pada akhirnya.
"Hah? Bulan lalu." gumam Kaira, ia mengingat betul, ia selesai datang bulan sebelum berhubungan intim dengan suaminya.
"Kemungkinan ada janin di dalam rahim mu." cetus Dessy.
"Ini aku ada vitamin, semoga nanti di luar kamu tidak merasa mual." imbuhnya dengan memberikan tablet obat yang siap diminum oleh Kaira.
Jangan ditanya ekspresi dan respon Zain juga Mariana, yang pasti mereka sangat bahagia dengan berita besar ini.
Tak lama kemudian MUA yang di boking sudah datang, maka Kaira harus segera berdandan, Zain tak mau meninggalkan istrinya apalagi dengan kondisi Kaira yang seperti itu.
Selesai dengan riasan yang natural tapi elegan, Kaira kini sudah cantik dengan gaun yang senada dengan tuxedo Zain.
Hari ini Zain dan Kaira seolah menjadi raja dan ratu, obat yang diberikan Dessy pun mujarab, bahkan sampai selesai acara Kaira masih baik-baik saja, hanya perbedaan bumil cantik itu lebih mudah merasakan lapar.
Ucapan selamat banyak mereka ucapkan kala berpamitan, senyum bahagia juga terlihat di wajah para tamu undangan.
Kaira Vexsana cantik berpasangan dengan Zain Julio Zora yang tampan, walau terhalang usia yang cukup jauh keduanya kini sudah resmi menjadi suami dan istri dimata agama maupun di mata publik.
Bahagia keduanya dengan jalan hidup yang mereka pilih, bahkan dengan mudahnya sang Kuasa memberikan keturunan kepada kedua mempelai itu.
...~SELESAI~...
__ADS_1
Terimakasih untuk kalian yang sudah mendukung Novel ini, setelah sekian hari, siang dan malam kalian pantengin terus akhirnya Kaira dan Uncle tampannya menikah ya, author hanya bisa memberikan do'a kepada kalian, semoga kalian para reader yang setia, diberkati dengan kesehatan dan kesuksesan Amiiiiinnn...
Jangan lupa ikuti novel baru aku yang berjudul "si Bobrok dan si Brutal" kisah anak SMA, see you bye-bye...