
CEKLEK!!
Suara pintu membuat dua sejoli yang tengah mengobati rindu mendadak melepas tautan satu sama lain.
"Jangan menjauh!" bisik Zain dengan menahan tengkuk Kaira, "Tapi itu ada yang datang Uncle." sahut Kaira dengan berbisik juga.
"Sedang apa Kalian?" tanya seorang cleaning servis yang baru saja masuk dengan membawa alat kebersihan.
Deg!
Rasanya jantung Kaira mau berhenti berdetak saja, bagaimana tidak, dia kepergok berduaan dengan laki-laki di dalam toilet hotel.
"Diam dulu, itu ada bulu mata di sana!" sengaja Zain berucap dengan fokus memandang mata Kaira.
Mengerut kedua alis Kaira hampir bertaut, tapi Zain mengedipkan salah satu matanya seolah memberi isyarat kepada gadis yang ada di hadapannya.
"Iiiihh hati-hati dong, kan sakit!" tanggap dengan rencana Zain, Kaira menyahuti seolah benar matanya kelilipan.
"Permisi? Kalian..."
Mendengar cleaning servis berucap sontak Zain menoleh, "Oh mbak, maaf istri saya tadi kelilipan bulu mata, jadi saya khawatir, dan main masuk begitu saja." berusaha sesantai mungkin Zain mengucap alasan.
"Lain kali jangan di toilet ya, nanti dikira kalian berbuat yang tidak-tidak." ucap wanita yang mengenakkan seragam cleaning servis itu.
"Hehe iya mbak." ucap Zain kemudian ia merangkul pinggang Kaira, "Ayo sayang, kita keluar, yang lain pasti sudah menunggu." ucap Zain dengan menarik pinggang gadis itu untuk diajaknya berjalan keluar dari toilet.
Setibanya di luar toilet...
Dengan bersamaan Kaira dan Zain menoleh kearah pintu toilet yang baru saja mereka lewati lalu detik berikutnya secara bersamaan pula netra keduanya saling bertukar pandang, dan entah apa yang lucu mereka sama-sama terkikik geli, mungkin mereka mengingat adegan di dalam toilet barusan.
Namun tak bertahan lama tawa keduanya, kini Zain telah kembali mencekal lengan Kaira, "Ada yang perlu kita bicarakan!" ucap Zain dengan menarik paksa lengan gadis cantik itu.
Terseok-seok kaki jenjang Kaira mengikuti langkah panjang kaki Zain, "Uncle pelan-pelan! Kai capek!" rengek Kaira setelah keduanya tiba di taman dekat hotel.
Atensi Zain terarah pada bangku taman yang terletak tak jauh dari sana, kembali kaki panjang itu melangkah menuju bangku panjang itu.
Keduanya duduk bersandingan, "Kai, Uncle tanya sekali lagi, apa laki-laki itu pacar mu?"
__ADS_1
Menghela nafas, Kaira memutar bola mata jengah, "Itu lagi, itu lagi! Nggak ada pembahasan yang lain ya Uncle?" cemberut Kaira, kedua tangannya ia lipat didepan dada.
"Hey, jawaban mu akan sangat penting buat Uncle." bernada lembut dan sabar Zain bertanya.
"Sepenting apa sih? Hari kelulusan Kai aja Uncle gak sempat datang!" mendengus kasar gadis itu, sungguh sangat menggemaskan Kaira saat ini,sampai-sampai Zain mencubit kedua pipi Kaira.
"Aduduh sakiiiittt!!" teriak gadis itu dengan memegangi lengan Zain.
"Sini Uncle peluk." tanpa menunggu persetujuan Zain, Kaira langsung ditarik Zain dan masuk kedalam pelukan hangat Uncle tampan itu.
"Uncle minta maaf ya? Akhir-akhir ini Uncle sibuk." ucap Zain dengan mengelus pucuk kepala Kaira, bahkan sesekali Zain mengecup surai hitam itu.
"Uncle!" bisik Kaira dengan mendongakkan kepalanya.
"Hem?" sontak Zain menatap wajah cantik Kaira.
"Jangan begini! Nanti ada yang lihat!" Kaira mencoba untuk memperingatkan, "Kenapa? Takut pacarmu melihat kita?" senyum miring Zain tampilkan.
"Bukan itu, Kai lebih takut ke perasaan Kaira sendiri aja." ucap Kaira dengan menundukkan pandangannya.
"Perasaan? Maksud mu?" tanya Zain kini ia meregangkan pelukannya.
"Oh maaf, coba sekarang ngomong, maksudnya apa?" tanya Zain dengan memiringkan kepalanya agar dapat melihat wajah cantik Kaira.
Terlihat Kaira menarik nafas panjang, gadis itu seolah mempersiapkan mentalnya luar dalam, "Kai masih bingung sih sampai sekarang." Kaira menatap sejenak wajah Zain yang masih setia menatap dirinya.
Kembali Kaira menundukkan kepalanya, "Nggak tau ini perasaan apa, yang jelas terasa hanyalah rasa nyaman saat di dekat Uncle dan rasa sepi, kosong, bahkan seperti kehilangan saat Uncle pergi." jelas Kaira, sungguh gadis cantik dengan otak yang genius itu kini mengesampingkan egonya.
Ditatap nya Zain yang tak bersuara, senyum kecut Kaira suguhkan, kemudian kembali gadis itu mengalihkan pandangan.
"Gila sih, maaf ya Uncle, kalau Kaira udah bikin Uncle ilfeel." terdiam Kaira menunduk, sebisa mungkin gadis itu mengesampingkan rasa malunya, lebih baik ia mengatakan walaupun hasil akan mengecewakan yang penting bagi Kaira rasa aneh yang tidak jelas artinya itu bisa segera hilang saja, walaupun rasa kecewa yang akan menggantikan, Kaira berusaha untuk tetap siap.
"Kai? Istri cantik Uncle?" panggil Zain dengan lirih, bahkan jemari Zain meraih dagu Kaira agar gadis itu menatap dirinya.
"Uncle please deh, Kai serius!" Kaira berucap dengan menepis pelan jemari kekar yang bertengger di dagunya.
"Kau pikir Uncle bercanda?" sorot mata serius itu terpancar kala Zain menatap Kaira.
__ADS_1
Kaira terdiam, ia bingung bahkan tak berani menatap balas mata tajam Zain, "Kai lihat Uncle!" Zain kembali menarik dagu Kaira pelan.
Kaira menatap dalam iris mata yang menyiratkan rasa tulus yang begitu dalam, "Adakah candaan yang tersirat di dalam sana?" tanya Zain masih dengan menatap lekat wajah cantik dihadapannya itu.
Entah dorongan dari mana, tapi kepala Kaira segera menggeleng pelan setelah Zain menyelesaikan pertanyaannya barusan.
Pelan sekali Zain menarik tengkuk Kaira, disatukannya kening Kaira dengan keningnya, mencari ketenangan dan kenyamanan, Zain terdengar menghela nafas.
"Jujur, aku juga merasakan perasaan yang sama seperti apa yang kau rasakan, bahkan aku tidak bisa berhenti untuk tidak menanyakan bagaimana kabarmu, makanya aku mengirimkan surat kecil, entah berhasil membuatmu lebih baik atau terkesan lebay, aku tidak memikirkan sampai ke sana, aku hanya berharap agar kau tenang dan tidak melupakan aku.
Jujur saja Kai, aku tidak sanggup jika sampai kau melupakan aku." kini Zain membuka isi hatinya, dan itu membuat Kaira menatap lekat wajah tampan yang selalu membuatnya terpesona itu.
"Jadi..."
"Bisa kah kita menjalin hubungan lebih serius? Mau kah kau menerima orang tua ini sebagai kekasih hati mu?" sela Zain dengan memegang erat kedua tangan Kaira.
"Tapi Uncle, bagaimana dengan keluarga kita? Apa mereka akan setuju?" kini Kaira mengerutkan kedua alisnya.
"Entahlah, tapi apa kau tidak mau untuk kita menjalin hubungan ini diam-diam saja dulu?" tanya Zain dengan membelai wajah cantik dihadapannya.
"Kalau ketahuan gimana?" khawatir Kaira, karena ia tau, orang tua Zain sangat keras dalam mendidik putra semata wayang nya itu.
"Ya asal kita simpan rapat-rapat pasti aman." sahut Zain dengan menyelipkan anak rambut Kaira kebelakang telinga gadis cantik itu.
Terdiam Kaira menunduk, bingung mulai menyelimuti hati gadis itu, "Gimana? Kau mau?" tanya Zain dengan mengangkat dagu Kaira agar gadis itu melihat ke arahnya.
Zain dapat melihat keraguan dimata Kaira, "Kenapa kau ragu? Apa benar laki-laki berkaca mata itu pacarmu?" sekali lagi Zain membahas Fadli.
"Ish bukan!"
"Lalu apa yang membuat mu takut? Kita akan sama-sama diam, menjalin hubungan seperti biasa, hanya bedanya, di sini..." Zain memegang dadanya.
"Kau sudah menempati rating tertinggi di sini, tentunya setelah orang tua ku." imbuh Zain yang membuat Kaira tersipu, gadis cantik itu mengulum senyum dengan menunduk.
"Kai? Ayolah, aku tidak punya banyak waktu, besok aku harus kembali lagi ke Jakarta." jelas Zain yang membuat Kaira kembali menatapnya.
"Iya Kai mau." Kaira menjawab dengan menganggukkan kepalanya, begitu bahagia Zain, tanpa melihat ke area sekeliling, CEO tampan itu kembali memeluk erat tubuh Kaira.
__ADS_1
"Akhirnya, thanks Kai, ternyata perasaan kita sama, aku janji, akan berusaha sebisa mungkin untuk terus ada di sampingmu.
Tanpa sadar kedekatan kedua nya dipergoki oleh dua pasang mata yang tak jauh dati taman...