
"LEPASKAN DIA!" teriak seorang laki-laki yang tak lain adalah Zain.
Menyeringai Miko mendapati Zain datang, "Lawan mereka!" Tanpa menunggu lama ketiga preman juga termasuk yang tengah memegangi Kaira maju melawan Zain dan Risa.
Mereka saling menyerang satu sama lain, Risa yang hampir sama hebatnya dengan Kaira mampu melumpuhkan dua laki-laki yang tadi sudah melawan Kaira, mungkin kedua laki-laki itu sudah lelah jadi dengan mudah di kalahkan oleh Risa.
Sedangkan Zain, tanpa ampun Uncle tampan itu juga menghajar habis preman yang lainnya.
Kini giliran Miko, laki-laki itu menatap Zain dengan tatapan tak sukanya, "Lo tinggal sendiri! Mending nyerah aja!" ucap Zain.
Risa yang sudah selesai dengan preman yang mengepungnya pun segera beralih ke tubuh Kaira yang terkulai lemah tak berdaya.
"Kai, Hoy! Awakmu ki pie ta? Ojo semaput! (Kai, Hoy! Lo gimana sih? Jangan pingsan!)" Risa berusaha membangunkan sahabat sebestienya itu.
Membuka mata Kaira berusaha sekuat tenaga untuk bangun, "Gua masih kuat kok!" ucapnya ngeyel dengan keadaan.
Melihat pertarungan sengit antara Miko dan Zain, Kaira bangkit dari duduknya kemudian berlari ke arah Miko dan dengan tenaga yang tersisa Kaira melakukan tendangan memutar hingga BUGH!! Kakinya pas sasaran mengenai telinga Miko bagian kiri.
Gelap penglihatan Miko seketika tubuh tinggi besar itu terhuyung dan BRUGH!!
Tumbang sudah ketua preman itu, tak mau berlama-lama ketiganya segera meninggalkan bangunan tua itu.
Setelah keluar dari pintu utama bangunan tua, "Kau baik-baik saja Kai?" khawatir Zain mengecek kondisi tubuh Kaira.
Tersenyum gadis bermata sayu itu, "Kaira ba..." BRUGH!!
Belum sempat Kaira menjawab, gadis itu sudah ambruk tapi dengan cepat Zain menopang tubuh keponakannya itu.
"Kita pulang sekarang!" ucap Zain yang segera di setujui oleh Risa.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Di tengah perjalanan Risa yang menemani Kaira di jok belakang tiba-tiba teringat dengan sepeda motornya yang tertinggal di parkiran depan sekolahan.
"Om, boleh nggak anterin aku ke sekolah lagi? Soalnya motor aku ada di sana." ucap Risa.
"Loh kamu berani pulang sendiri? Ini hampir senja loh." sahut Zain dengan mata yang masih fokus dengan jalanan di depannya.
"Nggak papa Om, lagian kalau nggak diambil besok mau sekolah pakai apa? Hehe..."
"Ok deh, btw makasih ya udah bantuin Kaira." Zain tak lupa mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
"Nggak papa lagi Om, toh Kaira kan teman Risa." sahut gadis itu dengan cengengesan.
Setelah tiba di sekolah Risa turun dari mobil, kemudian Zain kembali melajukan mobilnya menuju kediaman Flora.
Tak perlu waktu lama kini mobil avanza hitam itu sudah tiba di halaman rumah yang luas itu.
Perlahan Zain mengeluarkan Kaira dari dalam mobil, di gendongnya gadis remaja itu ala bridal style.
Masih tak sadarkan diri Kaira di dalam gendongan Uncle tampannya, "Sebenarnya cantik sih kalau pas lagi anteng gini." gumam Zain dengan berjalan memasuki pintu utama rumah neneknya.
Terlihat sepi hunian mewah ini, kemana sebenarnya semua orang? Netra tajam Zain menyapu keseluruh sudut ruangan, mencari keberadaan anggota keluarganya.
"Kok sepi sih?" gumamnya sembari membenarkan posisi tangannya yang mungkin mulai pegal menggendong keponakan cantiknya.
Tak mau lagi mencari penghuni rumah mewah itu, Zain segera saja menaiki setiap anak tangga demi mencapai kamar Kaira yang ada dilantai dua.
Dibukanya pintu berwarna pink dengan kusen berwarna ungu itu, melangkah masuk kaki Zain mendekati ranjang empuk milik Kaira.
Perlahan Zain menurunkan tubuh gadis yang di gendongnya itu, memposisikan tubuh Kaira senyaman mungkin, bahkan tak lupa Zain menutup tubuh Kaira dengan selimut hangatnya.
"Hey!!" bersuara gadis itu dengan membuka matanya sipit.
Zain menoleh saat dirinya akan meninggalkan ruangan bernuansa pink dan ungu itu.
"Hati-hati." Zain membantu gadis itu untuk duduk.
Memicingkan mata Kaira menatap wajah Uncle nya, "Ada apa?" tanya Zain.
Tiba-tiba tersenyum manis Kaira dengan mencolek hidung bangir milik Zain, "Lo kok genteng sih? Mirip kaya... Uncle gue."
Sungguh saat ini Zain di buat bingung dengan gadis remaja ini, gaya bicaranya ngelantur mirip seperti orang yang terpengaruh minuman beralkohol.
"Kau mabuk?" tanya Zain dengan mengendus-endus dekat ke wajah Kaira, dan benar tercium aroma minuman keras di sana.
PLAK!!
"Nggak sopan! Jangan aneh-aneh ya lo! Awas gue bilangin Uncle gue baru tau rasa!" Satu tamparan mendarat di pipi kiri Zain, di sambung dengan omelan gadis ngelantur itu.
Zain menggelengkan kepala, kemudian ia menarik lengan Kaira agar gadis itu turun dari atas ranjangnya.
"Duuuuuhhh kasar banget sih! Jangan sakiti fisik ku karena di sini sudah sakit!" Bukannya nurut untuk berjalan, Kaira malah luruh kelantai.
__ADS_1
Gadis itu duduk dengan air mata yang mulai membasahi pipinya, terdiam Zai menatap keponakan nya.
"Hiks... hiks... Dia jahat!!! Hiks... hiks... gue benci lo Julio gue benciiiiiiiiii!!!" teriak Kaira tiba-tiba.
Zain duduk di hadapan gadis yang menunduk pilu itu.
"Hey, kenapa?" tanya Zain dengan mengangkat dagu Kaira, agar gadis itu menatap wajah tampannya.
PLAK!! Kaira menampik tangan Zain dengan kasar, "Nggak usah sok peduli! Semuanya sama aja! Yang itu cuma ngatur masa depan, yang di sana cuma manfaatin kemampuan gue! Dan di sini lo mau apa? Lo mau gue cerita terus lo bakal tertawa? Hah? Iya? Lo mau jadiin gue sebagai hiburan?"
Aira mata terus mengalir tak kala gadis itu terus mencecar kata-katanya.
"Enggak! Gue mana peduli sama lo!" ucap Zain dengan maksud terselubung.
"Tu kan lo nggak peduli sama gue! Emang nggak ada yang peduli, gue sakit hati ini loh! Hiks... hiks... sakit banget di sini." Kaira memukul-mukul dadanya.
"Julio itu, dia yang sok tampan, sok baik, dia PHP gue! Dia manfaatin gue! Dia kira hati gue batu apa yang nggak bisa teriris?" cerocos Kaira di sela-sela tangisnya.
"Gue punya obat, lo mau?" Zain menawarkan setelah berhasil mengetahui masalah Kaira yang tiba-tiba menangis.
"Obat?" tanya Kaira dengan memandang wajah Zain walau pun buram terhalang air mata, "Jangan bilang itu Entrostop!" cetus Kaira dengan mengusap pipi basahnya.
"Astaga Kai! Mana ada orang sakit hati di kasih Entrostop! Ada-ada aja deh lo!" sungguh ingin sekali Zain menahan tawanya.
Dan apes nya itu dilihat oleh mata Kaira yang memburam, "Tukan! Lo ketawa! Lo ngetawain gue kan?!" bentak gadis itu dengan menarik kerah baju Zain dan diguncang-guncangnya.
Zain pun dengan cepat merengkuh tubuh gadis cantik yang tak lain adalah keponakannya itu, dibawanya tubuh Kaira masuk kedalam dekapannya.
"Hiks... hiks... jahat... semua... hiks... jahat!" masih terisak Kaira didalam dekapan Zain.
"Dah lo tenang aja, lepasin aja semuanya, jika itu hanya jadi benan buat lo, yang penting itu masa depan lo, yang lain nggak penting!" bersuara lembut Zain menenangkan keponakan cantiknya itu.
Berangsur membaik Kaira, tidak lagi terdengar omelan ngelantur dari bibir pink nya, gadis itu mulai tenang di dalam pelukan Zain.
"Mana obat nya?" Kaira menagih obat yan dijanjikan Zain.
"Ini obatnya." Semakin erat Zain memeluk tubuh Kaira.
Sampai...
BRRRRROOOOOTTTTT!!!
__ADS_1
"OH MAY... KAIRA STOOOOPPPP!...