
Waktu demi waktu terus berlalu tanpa mau menunggu, siapa termangu maka tertinggal lah dia disitu.
Hari pun berganti tanpa mau mengerti, bagaimana kondisi hati yang tak tertata rapi.
Yang paling sakit adalah yang merindu, tapi tak dapat bertemu, dan pada saat itu hanya setitik harapan semu yang dapat menghibur kalbu.
Hari ini tepat tiga tahun setelah kepergian Kaira, Zain sudah rapi dengan pakaian santainya, ia menggunakan sweater hitam dengan celana jeansnya, tak lupa kacamata minus 0.5 tersemat di hidung bangir nya.
"Mau kemana Zain?" tanya seorang wanita cantik berusia setengah abad lebih yang tak lain adalah Mariana atau ibu biologis Zain.
"Mau ke rumah nenek Flora, sudah lama rasanya Zain tidak main ke sana." alasan Zain, padahal baru saja ia mendapat chat dari gadis kesayangannya bahwa Kaira akan tiba hari ini di bandara Adi Soemarmo.
Rasanya seperti pelangi yang muncul setelah langit mendung beserta badai yang besar, begitulah gambaran hati Zain saat ini, apalagi ia mengingat tepat tiga tahun lalu saat Kaira menjemputnya di bandara yang sama.
"Mau apa kau ke sana?! Pak Alex bersama istri dan anaknya akan berkunjung malam ini." suara bariton itu sukses menghentikan niat Zain untuk menjemput sang gadis pujaan.
"Urungkan dulu niat mu untuk bermain-main, perusahaan sangat membutuhkan dirimu! Ingat Zain, CEO utama ZG itu kau!" tegas Gautam dengan tatapan tajamnya.
Mendengus kesal Zain hanya berbalik dan berjalan menuju kamarnya, bukan Apa-apa, laki-laki tampan itu tak mau menentang sang ayah yang sudah banyak bekerja keras untuk keluarganya.
📤[Baby maaf, Uncle nggak bisa menjemputmu ke bandara.]
Begitulah pesan yang Zain kirim, CEO tampan itu kini tengah merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang nyaman.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Di sisi lain...
Kaira yang mendapatkan pesan pribadi dari sang kekasih pun enggan untuk membukanya, niat hati ia ingin mengejutkan Zain, biar saja pesan nya tidak di buka dan nanti mereka akan segera bertemu di bandara.
Tapi sungguh sayang beribu sayang, saat Kaira turun dari pesawat ia mencari juga menunggu sosok yang sangat dirindukan nya tapi tak kunjung muncul jua.
"Udahlah Kai, bareng gue aja udah." ucap Fadli, mau tak mau Kaira yang sudah kepalang penat hanya mengangguk, menyetujui bantuan dari Fadli tersebut.
Berita kepulangan Kaira memang cepat menyebar, bahkan kini Zain yang masih asik rebahan dengan menata hati dan pikiran tiba-tiba mendapatkan satu notifikasi pesan masuk di gawai canggihnya.
Mengira Kaira akan membalas chatnya Zain segera membuka pesan masuk itu, tapi naas bukan pesan dari gadis pujaan yang datang, melainkan nomor tak di kenal yang mengirimi foto yang mana menunjukkan Kaira tengah bersama laki-laki lain hendak memasuki mobil.
"Siyaland, siapa laki-laki ini?" Zain segera mengenakkan kacamata minus 0,5 nya agar dengan jelas menatap foto yang tertera di dalam layar ponselnya.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Zain keluar dari kamar, tak perduli dengan kemarahan Gautam, laki-laki itu sudah berjalan menuju garasi.
Drrrrrrttttzzz...
Drrrrttttzzzz...
"Shi*t!!" memgumpat sejadinya Zain kala ia merasa ponsel yang ada di dalam sakunya bergetar menandakan bahwa ada panggilan masuk.
"Ada apa Jef?" tanya Zain dengan memijit keningnya.
"Dokumen kemarin selesai, dan ini tinggal tanda tangan dari anda, juga ada proyek baru yang perlu anda periksa terlebih dahulu, dan kemungkinan besok mulai ada interview karyawan baru yang harus anda sendiri yang menanganinya." terdengar suara yang membahas seputar pekerjaan dari balik sambungan telepon.
"Iya, bawa kemari!" Lagi-lagi Zain urung dengan niatnya yang akan menemui Kaira, bagaimana pun perusahaan dan ribuan karyawan sudah menjadi tanggung jawabnya.
Baru saja laki-laki itu melangkah masuk kedalam rumah, sebuah mobil mewah berhenti di halaman depan kediaman Gautam Zora.
Gautam dan Mariana terlihat sangat antusias dalam menyambut kedatangan tamunya, tapi tidak dengan Zain, pemuda tampan dengan kacamata minus 0,5 itu malah berjalan ke lantai atas menuju kamarnya.
Benar saja yang datang adalah keluarga Alex, yang mana laki-laki berumur itu membawa Zoya atau putri sulung keluarga ternama itu.
"Halo Zoya, sudah lama ya kamu tidak main ke sini." Mariana berbasa-basi dengan menyalami Zoya.
"Aduh kamu ini udah cantik, pengertian, kariernya juga cemerlang, Tante suka sekali dengan gadis yang energik sepertimu." Mariana sangat dekat dengan Zoya.
"Oh iya ibu kamu mana? Pasti sibuk ya?" tanya Mariana karena malam ini Zoya hanya bersama Alex atau ayahnya.
"Iya Tante, jadi ibu malam ini kurang enak badan jadi tidak bisa ikut." sahut Zoya.
Sedangkan Gautam bersama Alex tengah berbincang masalah bisnis yang mereka jalani masing-masing.
Hingga tiba saatnya Alex menanyakan keberadaan Zain, "Oh iya jagoan kita mana ini kenapa belum terlihat? CEO muda kita, dimana Pak Gautam, jangan bilang anak muda itu sudah pergi berkencan karena ini malam minggu." ucap Alex dengan senyumnya.
"Hais kau ini ada-ada saja, memangnya Zain mau berkencan dengan siapa, orang gadis cantiknya masih duduk di sini ini." sahut Gautam dengan gelak tawa.
Zoya hanya tersipu, walau di dalam hatinya ia tau bahwasanya Zain sangat membenci dirinya.
Di saat yang tepat ketika namanya menjadi tranding topik di acara perbincangan para keluarga itu, Zain tengah berjalan menuruni anak tangga.
"Wuuuaaaahhh itu dia jagoan kita, CEO muda, Zain Julio Zora." Alex dengan suara lantangnya menyambut Zain dengan merentangkan kedua lengannya.
__ADS_1
Dengan senyum yang terbilang hangat, Zain menyambut pelukan tersebut, "Apa kabar Om Alex? Bagaimana perusahaan?" basa-basi Zain sungguh hebat, bahkan ia tak terlihat jika dirinya tengah memendam rasa benci kepada Zoya.
"Perusahaan, lancar lah, sekarang ada Wendy adik Zoya yang mau membantu pekerjaan Om." sahut Alex.
Zain hanya mengangguk, berusaha laki-laki itu bersikap biasa saja, kini atensinya beralih pada Zoya, gadis yang paling di bencinya.
"Hay Zoy, apa kabar?" tanya Zain dengan menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman.
"Baik Zain," sahut Zoya dengan senyum manisnya.
"Oh iya setelah habis kontrak satu tahun yang lalu, sekarang kau dimana? Jangan sampai kau menjadi model majalah dewasa ya! kasihan keluarga mu!" ucap Zain yang sungguh berhasil menohok Zoya.
Tersenyum Zoya, berusaha untuk biasa saja, "Ah kau ini! Mana mungkin aku melakukan itu, Aku ini model profesional, bukan yang abal-abal." sahut Zoya yang hanya ditanggapi senyum miring oleh Zain.
"Kita foto dulu tante, jarang-jarang ketemu ini kita." Basa-basi Zoya mengajak Mariana untuk foto, sengaja gadis itu mengikutkan Zain yang ada di samping Mariana.
Dua keluarga itu asik berbincang hingga,
TOK... TOK... TOK...
Suara pintu utama di ketuk oleh seseorang, "Oh itu pasti Jefri, kalian lanjutkan saja, saya permisi sebentar." Zain beranjak menemui Jefri untuk membahas seputar masalah pekerjaan.
Hari makin malam makin dingin saja udara pedesaan ini, ya kita beralih ke rumah mewah yang ada di bawah lereng gunung lawu ini.
Kaira tengah beristirahat, berusaha gadis itu berpikir positif, "Mungkin Uncle sibuk, makanya dia hanya mengirim pesan." gumamnya yang berusaha memahami CEO tampannya.
Tapi baru saja matanya hendak terpejam, kini ponsel nya yang ada di atas nakas berbunyi, menandakan ada satu pesan masuk.
"Siapa sih malam-malam begini?" gumam Kaira dengan meraih ponsel yang ada di atas nakas.
Sungguh membola sempurna mata Kaira malam ini mendapati pesan dari nomor tak dikenal yang berisi foto.
"Apaan sih?! Siapa coba ini? Orang salah kirim apa ya?" gumamnya.
Namun tiba-tiba atensi nya mengarah kepada laki-laki yang ada di dalam foto itu, "Tapi ini..."
Terdiam sejenak Kaira menatap sosok laki-laki itu, "Uncle bukan sih? Dan yang depan ini Zoya yang dulu itu kan?!" bertaut sudah kedua alis Kaira.
"Astaga...jadi nggak bisa jemput gue gegara ini, oh gitu, ok fine, liat aja besok!" geram Kaira, gadis itu mematikan ponselnya dan beranjak menuju alam mimpi walau hati terasa tersakiti...
__ADS_1