
Jova yang tak mengerti apapun, ia hanya diam berdiri di samping Jefri yang tiba-tiba menghentikan langkah panjangnya.
"Ada apa Jef?" tanya Jova.
Bingung mau menjelaskan, Jefri hanya mengeluarkan ponsel yang ia simpan di dalam saku celananya. Terlihat laki-laki itu menscroll layar ponselnya, terdengar samar-samar dering ponsel dari dalam mobil yang bergoyang itu.
Tapi tak kunjung panggilan Jefri mendapatkan jawaban, "Nggak tau tempat apa ya? Bukannya semalem udah unboxing, kok siang bolong begini malah bikin adegan mobil goyang di basement, astaga, untung bos." batin Jefri dengan mengusap wajahnya kasar.
"Jef, kira-kira Pak Zain kemana ya?" tanya Jova dengan celingukan.
"Tau kemana! Kita duduk dulu di sana yuk!" ajak Jefri dengan menggandeng lengan Jova, kembali mengulum senyum gadis cantik itu mendapatkan perlakuan manis dari laki-laki dingin ini.
Di dalam mobil...
Napas memburu saling beradu, Zain dengan tenaga yang dipengaruhi gairah nafsu yang menggebu, terus bergerak memacu mundur dan maju.
Begitu juga dengan Kaira wanita cantik itu kini hanya dapat mengeluarkan suara desah manja yang tertahan, "Baby uuuhhh... stopehh... Nanti kalau ada yang lihat!" dengan napas yang tersengal-sengal Kaira berucap.
"Sebentar sayang." bukan berhenti Zain malah semakin mengganas kali ini.
Peluh mulai terlihat membasahi permukaan kulit halus keduanya, hentakan demi hentakan menghasilkan lenguh desah yang membuat Zain semakin terpacu dengan gairah yang kian memanas.
Berbeda dengan dua insan yang kini tengah duduk tak jauh dari mobil Zain, keadaan keduanya semakin terasa canggung kala indera pendengaran mereka mendengar samar-samar suara lenguh panjang juga desah manja.
"Jef? Itu suara apa?" tanya Jova, dengan memegangi lengan Jefri, cuaca siang ini cukup mendung hingga membuat ruang basement itu terlihat lebih gelap dan suram.
Jefri menoleh sambil mengendikkan kedua pundaknya.
"Ish Jef, aku serius! Kamu denger juga, kan?" sekali lagi Jova bertanya, dengan menggoncang lengan Jefri.
"Abaikan saja, bisa?!" dingin raut wajah Jefri saat menoleh menatap Jova.
Bertemu kedua netra itu dengan jarak yang begitu dekat, berhiaskan ruang minim cahaya juga back sound yang menggoda iman, Jefri perlahan memiringkan kepalanya dan Cup...
Membola seketika netra Jova, hanya kecupan singkat, kemudian Jefri berpaling, kembali laki-laki balok es itu mengeluarkan ponsel yang tadi disimpannya didalam saku celananya.
"Jef?" Jova memanggil Jefri, laki-laki itu sontak menoleh dan Cup...
Jova mengecup bibir Jefri, "Impaskan?" ucap Jova setelah ia melerai kecupan singkat itu.
Memerah pipi Jefri menahan malu, ia segera berdiri, sedikit memberi jarak antara dirinya dan Jova.
Di dalam mobil setelah pergulatan panas itu Kaira dan Zain segera membersihkan cairan lengket pada bagian inti mereka menggunakan tissue yang ada di dashboard mobil.
"Makasih ya?" Zain berucap, kemudian ia mengecup kening Kaira.
__ADS_1
Wanita cantik itu hanya tersenyum dengan mengangguk sekali. Setelah selesai Zain membuka ponsel yang sedari tadi di abaikannya.
Segera Zain menekan tombol panggil untuk ia menelfon balik Jefri yang tadi menelfon.
Klek...
Bukan jawaban dari telfon yang Zain dapatkan melainkan Jefri yang kini sudah duduk di jok kemudi, "Eh Jef, sudah selesai?" tanya Zain dengan menyimpan ponselnya kedalam saku.
"Sudah Tuan Muda, kita balik ke kota atau ke vila?" tanya Jefri berusaha profesional.
"Langsung ke kota aja," Setelah mendengar jawaban dari bosnya Jefri segera menginjak pedal gas, mereka segera menyusuri jalan raya bersama dengan pengendara yang lainnya.
Di kediaman Gautam...
Rumah besar itu sudah dihias dengan sedemikian rupa, bahkan banyak orang yang sibuk mengurus ini dan itu.
"Bagaimana, apa sudah dapat dihubungi MUA nya?" tanya Mariana kepada salah satu asisten rumah tangganya.
"Belum Nyonya," sahut bi Tutik dengan menunduk sopan.
"Nanti saja kita tanya kan Kaira, siapa tau dia ada rekomendasi, sabar aja dulu!" Gautam berucap dengan membolak-balikan koran yang ada di tangannya.
"Mau tanya kapan? Jam segini saja mereka belum..."
TIN... TIN... TIN...
"Nah tu, pasti itu mereka." lembaran koran Gautam tutup kemudian ia letakkan di atas meja.
Tubuh tegap yang tak lagi muda itu berjalan mendekat kearah pintu utama, "Mau kemana?" Mariana menatap punggung tegap suaminya.
"Menyambut anak semata wayang ku yang sudah tidak lajang lagi." sahut Gautam tanpa menoleh sedikitpun.
Belum sampai langkah besar Gautam tiba di ambang pintu utama, Zain sudah lebih dulu melewati ambang pintu utama rumah besar itu.
"Ada apa ini Ayah?" tanya Zain dengan pandangan yang menyapu ke seluruh ruangan hunian mewah bak negeri dongeng itu.
Kaira masih terdiam, bahkan ia hanya menyalami tangan Gautam dan mencium punggung tangan laki-laki tua yang kini sudah menjadi ayah mertuanya itu.
"Besok resepsi pernikahan mu!" sahut Gautam dengan menepuk punggung putra tunggalnya.
"Resepsi? Apa perlu?" tanya Zain, ia sekilas menatap Kaira yang masih terdiam menatap balik wajah tampannya yang berkaca mata.
"Bukannya lebih cepat lebih baik? Kamu nggak takut kalau Zoya kembali mengejar mu? Ayah dengar dia masih belum punya kekasih lain." jelas Gautam.
"Stop deh Ayah! Jangan mengada-ada, kayak nggak pernah dicemburui istri aja!" cetus Zain dengan menepis tangan Gautam.
__ADS_1
Berlalu sepasang suami istri itu dan Gautam hanya terkekeh, ternyata putra tunggalnya begitu menghargai perasaan seorang wanita.
Mariana yang melihat kedatangan putra dan juga menantunya segera ia memanggil Kaira...
"Kai, duduk sini dulu sayang." panggilnya dengan menepuk permukaan sofa halus berwarna coklat di sampingnya.
Kaira sejenak menatap Zain, seolah netra bening itu meminta persetujuan dari sang suami.
Peka dengan pandangan yang berisi isyarat, Zain segera mengangguk dengan senyum tipisnya.
Sementara Kaira duduk bersama ibu mertua, Zain segera melangkah menuju lantai atas, dimana kamarnya berada.
"Kai kamu ada tau kenalan MUA nggak? Soalnya Mama hubungin kenalan Mama, dia nggak bisa dihubungi." baru saja Kaira duduk di samping Mariana, ibu satu anak itu sudah mencecar pertanyaannya.
"Maaf Mah tapi..." Belum selesai Kaira berucap, ia melihat Jova masuk dengan Jefri, mereka membawa dokumen yang akan mereka simpan di dalam ruang kerja milik Zain.
"Tunggu Kak Jefri!" teriak Kaira, sontak Jefri dan Jova berhenti, "Ada apa nona?" tanyanya dengan sopan.
"Kakak ada rekomendasi MUA yang bagus nggak?" tanya nya.
Jefri melirik Jova yang masih bungkam, "Ada."
Sedikit jawaban itu membuat Kaira merasa sedikit lega, "Siapa?"
"Jova!" tersentak Jova kala namanya dipanggil.
"Kok aku Jef?" mengerut kedua alis Jova.
"Kakak kamu MUA, kan?" cetus Jefri, ada rasa bahagia tersendiri karena tanpa Jova bercerita tentang keluarganya Jefri diam-diam mencari info seputar kehidupan Jova.
"Iya Nona, kalau Nona Kaira berkenan, biar kakak saya besok saya suruh ke sini." Jova berucap dengan senyum malu-malunya.
"Bilang sama kakak kamu, saya bakal bayar dua kali lipat, pokoknya minggu depan harus bisa luangkan waktu untuk keluarga Zora ya!" cetus Mariana yang takut kalau-kalau kakaknya Jova juga penuh job nya.
"Siap Nyonya Besar." sahut Jova sebelum ia dan Jefri melanjutkan langkah kakinya menuju ruang kerja dimana ia akan meletakkan dokumen yang Zain perlukan.
MUA sudah deal, undangan sudah tersebar, bahkan keamanan sudah ditata sedemikian rupa.
Tapi keluarga besar itu lupa, tak membatasi penyebaran undangan, sampai seorang gadis berpenampilan modis kini tengah mengeraskan rahangnya kala ia membaca tulisan...
...Kaira Vexsana...
...Menikah dengan...
...Zain Julio Zora...
__ADS_1
"Jadi benar mereka akan menikah?...