I Love You Handsome Uncle

I Love You Handsome Uncle
Part 47 (Nikah Dadakan)


__ADS_3

Masih stay Zain memeluk erat Kaira, terdiam keduanya menikmati dinginnya angin malam dihalaman belakang vila ini.


Tersentak Kaira kala tangan kekar Zain merambat dari perut keatas menuju dua bongkahan kembar yang menggemaskan.


"Uncle... " lirih Kaira dengan menatap wajah Zain dari samping, CEO tampan itu masih menancapkan dagunya di pundak Kaira, "Hem?" sahut Zain dengan mata yang masih terpejam.


"Jangan begini, nanti kalau ada yang lihat gimana?" Kaira menunjukkan raut kekhawatiran, tapi tidak dengan Zain, laki-laki itu malah menarik tubuh Kaira untuk di ajaknya duduk di salah satu sofa yang teronggok di balik pilar.


"Disini aman." tuturnya dengan menuntun Kaira agar duduk di atas pangkuannya.


"Uncle serius deh! Kai nggak mau, ntar kalau ada yang lihat gimana? Kan malu!" Kaira terus saja mengingatkan Zian agar tidak melakukan yang tidak-tidak.


"Uncle serius sayang, Uncle rindu." Zain membelai wajah ayu yang kini ada di hadapannya.


Entah kapan dimulainya, Zain kini sudah mulai memagut bibir manis Kaira yang dihiasi lipstik merah. Bahkan warna merah pada lipstik itu kini sudah berpindah di bibir Zain.


Pagutan lembut awalnya yang Zain lakukan, tapi dengan tangan nakal yang mulai meremas bongkahan bulat yang menonjol di atas paha bagian belakang membuat Zain semakin candu, dan ingin melakukan lebih.


"Akh...Zain..." desah manja terlepas dari bibir cantik Kaira.


"Sssttthhh... Jangan kencang-kencanh sayang, nanti ada yang dengar!" bisik Zain di telinga Kaira, bahkan lidah basah itu menjulur menari-nari di permukaan kulit putih gadis cantik itu.


"Ish jangan dihisap nanti mer..."


"Ekhem-ekhem..." seseorang tengah bersedekap dada dengan berdehem menyaksikan pergulatan panas itu.


Sontak Zian menghentikan kegiatan candunya, CEO tampan itu memiringkan kepalanya demi melihat siapa yang ada di sana.


"Ayah?" gumam Zain, sontak Kaira yang duduk di pangkuan Zain segera beranjak dari sana, berdiri dengan menunduk yang dilakukan Kaira.


"Bikin malu saja! Apa sudah tidak sabar menunggu untuk satu bulan lagi saja?" hardik Gautam dengan ekspresi yang sangat menakutkan.


Anggota keluarga yang lain segera berdatangan satu per satu demi memastikan hal apa yang membuat Gautam sampai berteriak semarah itu.


"Ada apa ini?" tanya Annisa dengan menerobos kerumunan anggota keluarga yang lain.

__ADS_1


"Astaghfirullah, kalian kenapa berantakan begini?" tanya Annisa kala melihat lipstik Kaira sudah sebagian hilang bahkan bekas lipstik di bibir Zain masih jelas tersisa.


Rambut yang tadi tergerai rapi kini terlihat lebih kusut, bahkan seperti acak-acakan.


"Sayang?" lirih Annisa ingin mendekati Kaira, tapi Marcel menahannya, "Jangan Nis, ini bukan lagi ranah kita, biar mereka orang tua yang menyelesaikan semuanya." ucap Marcel dengan menarik lengan istrinya.


"Zain? Apa tidak bisa kamu menunggu 1 bulan lagi?" tanya Gautam yang mengulangi pertanyaannya.


"Maaf ayah, Zain khilaf." lirih Zain dengan menunduk.


"Kemal?!" teriak Gautam memanggil Kemal, tak sampai satu menit Kemal sudah berdiri di samping Gautam.


"Siap Tuan Besar." ucapnya.


"Hubungi penghulu terdekat, bayar berapapun yang dia minta, aku sudah tidak sanggup lagi jika harus menanggung dosa mereka!" ucap Gautam dengan melangkahkan kaki meninggalkan Zain dan Kaira.


Kemal patuh, ia segera pergi dari Vila demi mencari penghulu, untuk dibawanya kembali ke Vila.


Di samping itu, Zain dan Kaira segera disiapkan serapi mungkin, hanya dengan makeup seadanya, karena memang waktu sudah menunjukkan waktu yang sudah larut.


Tanpa basa-basi Gautam segera mengutarakan maksud dan tujuannya mengapa ia memanggil laki-laki berpeci hitam yang tak lain adalah pak penghulu itu.


"Baik kalau begitu, mana pengantin nya?" tanya Pak penghulu, setelah ditunjukkan...


Tangan Zain menjabat tangan Pak Penghulu, setiap kata yang diucapkannya Zain mendengar dengan seksama, bahkan setelah kata...


"... tunai... "


Zain dengan lancar menyahutinya, bahkan Kaira sempat terpesona dengan laki-laki yang acap kali ia panggil dengan sebutan Uncle itu.


Bahkan ketika nama Kaira Vexsana disebutkannya, berserta binti ayah kandungnya, Kaira sempat merinding haru, gadis itu tak menyangka jika malam ini benar adalah hari pernikahannya. Dengan hanya bermodalkan uang cash yang Zain bawa di dalam dompetnya, ia gunakan uang itu untuk mas kawin, karena memang belum ada sedikitpun persiapan.


"Sah?"


"Saaaaaaaaaaahhhhh!!!"

__ADS_1


"Alhamdulillah... " Seruan itu terdengar hingga mampu membuyarkan lamunan Kaira.


Semua menyerukan kata SAH yang tandanya tak ada satupun dari mereka yang akan menentang hubungan keduanya.


Do'a demi do'a terlantun di sana dan kata Amiiinn yang mereka ucap menggema di ruangan vila milik keluarga Zora ini.


Sudah sah kini Zain dan Kaira menjadi suami dan istri, layaknya pasangan baru yang lain kini Kaira menyalami tangan suaminya dicium nya punggung tangan itu dengan khidmat, kemudian Zain balas mencium kening Kaira dengan lembut.


Setelah upacara sakral yang berhubungan dengan sang kuasa itu selesai, kini sepasang pengantin baru itu sudah ada di dalam satu kamar yang sama.


"Mau mandi?" tanya Zain yang saat ini duduk di pinggiran ranjang.


"Tapi Kai nggak bawa baju ganti Uncle." lirihnya, Zain berdiri, ia mendekati tubuh yang berbalut dress navy itu.


"Kita sudah menikah sayang, panggilnya jangan Uncle dong!" ucap Zain dengan menanggalkan tuxedo navy nya dan ia lempar ke punggung sofa yang ada di sana.


Memerah wajah Kaira kala Zain mulai membuka kemeja putih yang masih melekat pada tubuhnya.


"Uncle... "


"Apa?" Zain menaikkan salah satu alisnya pertanda ia protes.


"Em... sayang, jangan dilep... pas..." memejamkan mata saat Kaira mengakhiri ucapannya.


"Kok jadi lucu gini sih istriku?" gumam Zain yang kini sudah mendekat dan memeluk pinggang Kaira.


Kaira menghindari tatapan Zain, gadis itu kini menggigit bibir bawahnya, "Mau mandi bareng?" bisik Zain yang membuat Kaira terkejut dan balik menatapnya.


Tanpa kata nanti Zain segera menggendong tubuh istrinya, kaki panjang Zain melangkah menuju kamar mandi yang ada didalam kamar itu.


Kaira stay dengan memeluk leher Zain, wajah keduanya kini sangat dekat, bahkan nafas harum Kaira yang membuat Zain semakin candu tercium di sana.


Zain menurunkan tubuh Kaira dibawah shower yang belum menyala, ia tak mau membuang waktu segera dipagutnya bibir merah ranum yang sudah sejak tadi menggoda imannya itu.


Rintik air shower mulai membasahi keduanya, dengan kegiatan yang panas itu Zain dan Kaira menikmatinya dibawah guyuran air shower.

__ADS_1


Lenguh desah mewarnai keheningan didalam ruangan itu, saling memberi dan menerima keduanya kini terbakar nafsu yang membara di dalam hati masing-masing...


__ADS_2