I Love You Handsome Uncle

I Love You Handsome Uncle
Part 22 (Curhat)


__ADS_3

Setelah berbagai drama pagi yang di lalui Kaira, kini gadis itu terlambat masuk sekolah, lihat saja pintu gerbang sekolah kini sudah tertutup rapat karena jam sudah menunjukkan pukul 07.30WIB.


Kaira baru saja berkata kepada satpam yang menjaga gerbang untuk membukakannya, alih-alih membukakan gerbang satpam itu malah memanggil guru BK.


"Njiiiirrrr!! Wis Modar wis!" batin gadis cantik itu dengan mengusap wajahnya kasar.


Seorang guru berpenampilan cantik berjalan mendekati gerbang utama gedung sekolahan itu.


"Astaghfirullah Kai, yang bener kamu telat?" terkejut guru cantik itu.


"Maaf bu tadi jalanan macet." ucap Kaira beralasan, tapi memang benar adanya, mobil yang di kendarai nya bolak-balik terjebak lampu merah.


"Memangnya yang mengalami kemacetan cuma kamu? Saya juga loh, tapi tidak terlambat." guru cantik dengan name tag Lusiana dan jangan lupa dibelakangnya pasti ada segala embel-embelnya, berucap dengan bersedekap dada.


"Ok bu maaf Kaira telat bangun, tolong dong ijinin Kai masuk, ini sudah hampir dimulai ujiannya." rengek Kaira dan itu dilihat Zain dari balik kaca mobil yang masih tertutup.


Zain mengamati Kaira dari kejauhan, sampai akhirnya Kaira kembali ke mobil dan...


"Semua gara-gara Uncle!" merengut gadis itu dengan duduk di kursi penumpang.


"Lo nggak di ijin in masuk?" tanya Zain.


"Kalau Kaira masuk, nggak mungkin Kaira duduk di sini!" ketus gadis itu berucap, jangan dilupakan wajah kusut yang menghiasi setiap katanya.


"Haish... " Zain mendesis, laki-laki itu turun dari mobil, entah apa yang di lakukan nya, kini ia sudah kembali dan membuka pintu mobil dan mempersilahkan Kaira untuk keluar.


"Turun!" ucap Zain.


"Hah?!" mengernyit Kaira tak paham dengan apa yang Zain maksud.


"Budeg apa mendadak bego sih lo? Gue bilang turun ya turun dari mobil! Astaga Kaira!" ucap Zain dengan menepuk dahinya.


"Buat ap..."


"Kaira buruan masuk keburu ujian selesai!" teriak bu Lusiana yang tak lain adalah guru BK Kaira yang tadi tidak memberikan ijin kepada gadis itu.


"Hah? Yang bener nih? Uncle ngomong apa sama bu Lusi?" tanya Kaira dengan menatap tak mengerti.


"Dah itu urusan gue, yang penting istri Uncle harus lulus ujian dengan nilai yang bagus ya!" ucap Zain dengan mengusak kepala Kaira pelan.


"Idih kayak yang beneran aja!" cetus Kaira sebelum ia meraih tangan Zain untuk berpamitan.


Zain hanya tersenyum simpul mendapati ucapan Kaira barusan.


...~∆∆∆🌼∆∆∆~...


Di halaman belakang, kediaman Flora...


"Halo Om? Iya jadi Zain nggak mau pulang bareng saya." terdengar Zoya berbicara dengan seseorang dari balik sambungan telfon.


"Ya begitu juga boleh, kirim saja beberapa body guard khusus untuk menjemputnya, lagi pula tunangan yang harusnya dilakukan dua minggu yang lalu harus segera dilakukan, toh keluarga saya juga mendapatkan imbasnya." terdiam sejenak Zoya, mungin ia mendengar keputusan dari seseorang dari balik sambungan telepon itu.

__ADS_1


"Iya Om, siap, jadi saya akan balik ke kota sore ini juga." kembali Zoya berucap sampai akhirnya ia mematikan sambungan telepon itu.


"Ngomong sama siapa lo?!" suara Zain yang baru saja tiba di halaman belakang berhasil mengejutkan gadis dewasa itu.


"Eh Zain, ka... kamu sudah pulang?" basa-basi Zoya menyembunyikan keterkejutannya.


Hanya mendengus kesal Zain tak menjawab, bahkan laki-laki itu tak ingin berlama-lama berdekatan dengan gadis yang sudah berhasil menghancurkan hatinya.


Zain melangkahkan kaki panjangnya untuk meninggalkan Zoya, "Tunggu Zain!" Zoya menahan pengan kekar itu.


Berhenti Zain dengan menatap jemari lentik dengan hiasan cat kuku yang sangat cantik dan bersih itu tengah mencengkeram lengannya.


"Singkirkan tangan kotor lo dari lengan gue!" penuh penekanan Zain berucap.


Zoya sedikit tersentak hingga jemarinya melepaskan lengan kekar Zain, tak menyangka dirinya akan diperlakukan layaknya barang yang menjijikkan oleh laki-laki yang dulu sangat memanjakan nya itu.


Zain melangkah menjauh tak kala lengan nya sudah terbebas dari cengkeraman jari lentik Zoya.


"Zain! Aku baik ke Jakarta nanti sore!" teriak Zoya tapi sedikitpun Zain tak menghiraukannya.


"Shial!!" umpat Zoya yang merasa diacuhkan oleh pria setampan, juga semapan Zain.


Jika di rumah Zain tengah menyendiri menghindari Zoya, berbeda dengan Kaira yang kini tengah bersama dengan teman-temannya.


Hari ini adalah hari terakhir uji cobanya sebelum Ujian Akhir yang akan menentukan gadis SMA itu.


"Awak mu sido kuliah neng luar negeri? (Lo jadi kuliah di luar negeri?)" tanya Risa dengan mengaduk es jeruk favoritnya.


"Weh rencana ameh neng luar negeri to awakmu? (Wah rencana mau ke luar negeri lo?)" terkejut Sinta.


"Ho'oh, tapi baru rencana kok." sahut Kaira dengan senyum tipisnya.


"Kok koyo ra semangat ngunu ta awakmu, yo gene se? (Kok kaya nggak semangat gitu sih lo, kenapa sih?)" tanya Risa yang memang memahami bagaimana perubahan raut wajah Kaira.


"Apaan sih! Nggak!" cetus Kaira yang sepertinya tak mau menceritakan masalahnya.


"Masih tentang Uncle tampan lo itu?" tanya Risa yang kini berubah serius.


"What?! Siapa yang berhubungan sama om-om?" tanya Sinta dengan segala ke kepoan nya.


"Sssshhhtttt... Njir cangkemani!" gertak Risa yang tak suka jika Sinta berkoar-koar.


"Yo biasa wae to Ris, lha kok aku terus di cangkem-cangkem ne!" cemberut gadis itu menanggapi ucapan Risa.


"La makane due C-C-T di jogo ndes, jo asal njeplak!" sekali lagi Risa seperti tersulut emosi.


"Udah Ris, jangan galak-gapak napa sih!" Kaira mengingatkan.


"Astaghfirullah 33x, gara-gara Sinta iki!" gerutu Risa.


"Heh!! udah nyebut ya wis ta, jo nuduh-nuduh maneh!" Sinta pun menggerutu.

__ADS_1


"So... kembali ke cerita, lo ada masalah sama Uncle lo?" tanya Risa, mimik serius kini Risa dan Sinta pasang di wajah masing-masing.


"Hem... gue bingung sih, harus gimana gue jalanin nya, pas kemarin gue mau jujur dan nyatain perasaan gue..."


"Gile lo Kai! Masa iya cewek yang nyatain sih? Heloooo bestiiiiiieeee... jangan kek dunia terbalik napa sih!" sela Risa dengan gemas.


"Lah lo sendiri yang kemarin bilang kalau gue ngomong duluan nggak papa." sahut Kaira.


"Terus gimana?" tak perduli Risa dengan kesalahan yang berawal dati usulnya itu.


"Dia nggak ngijinin gue buat mengartikan atau pun menyatakan perasaan ini..."


"Maksud lo, dia nolak lo sebelum lo menyatakan perasaan?" serius Risa.


"Bukan nolak, dia lebih ke pasrah sama keadaan sih, kek jangan Buru-buru mengambil keputusan gitu lo Ris, jadi kita ngalir apa adanya dulu aja." jelas Kaira.


"Tapi tanpa ikatan jelas gitu, apa lo nggak khawatir dia bakal pergi sewaktu-waktu?" penuturan Risa barusan membuat Kaira sedikit berpikir.


"Terus gimana dong?" tanya Kaira, sedangkan Risa terlihat tengah berpikir karena sebelumnya Kaira sudah pernah curhat masalah ini.


"Kalian ngomong serius aja deh keknya, jadi biar nggak salah paham dan juga demi kebaikan kalian berdua." sahut Sinta yang sedari tadi menjadi pendengar setia.


"Tapi lo juga harus siap mental sih Kai, soalnya kan harus bener-bener menghadapi kenyataan, entah manis atau pun pahit." imbuh Sinta.


"Ok deh nunggu ujian kelar jadi gue fokus dulu sama sekolah baru mikirin masalah hati." jelas Kaira kemudian ia menyeruput es lemon tea nya.


...~∆∆∆🌼∆∆∆~...


Sore ini langit terlihat mendung, Zoya dan para bodyguard nya sudah kembali ke kota, helaan napas lega Zain hembuskan kala ia menghempaskan pantatnya di atas sofa.


"Lega banget kamu Zain, orang mah sedih ya kalau ditinggal kekasihnya, ini tunangan pergi malah happy, dasar wong edan! Gimana sih sistem percintaan mu itu?" Annisa yang duduk di samping Zain mencoba mencari tau bagaimana hubungan keduanya, karena sepengetahuan Annisa, Zain terlalu dingin memperlakukan Zoya.


"Bukannya mbak tau, alasan utama Zain pulkam itu apa?" tanya Zain.


"Oh astagfirullah mbak lupa Zain, jadi dia itu mantan pacar kamu yang selingkuh itu? La wong yo cantik Zain, ya pantes aja kalau dia banyak yang mau." cetus Annisa.


Zain memutar bola matanya malas, sungguh kejulidan dan kejahilan Annisa sangat membuatnya menekuk wajah.


"Cantik? Cantikan juga Kaira." cetus Zain dengan mengalihkan pandangannya.


"Ya iya lah orang ibuknya aja juga nyentrik gini kok." dengan kepercayaan diri tingkat dewa Annisa berucap sembari menepuk dadanya.


"Ya udah, Zain udah kehabisan jalan dan nggak mau cari-cari wanita diluar sana yang pasti akan lagi dan lagi menyakiti Zain, biar Zain nikahin Kaira aja ya."


"Ndas mu! (Pala lo!) Yo jangan to! Dia itu masih keponakan mu, anak ku Zain, kan nggak lucu kalau kamu tiba-tiba panggil aku ibuk, Aaaaarrrghhh mbak nggak bisa membayangkan." Annisa berucap dengan ekspresi yang sangat lucu bagi Zain.


"Hieleh mbak-mbak, nggak papa lo, ntar bonusnya mbak Nisa tetap Zain panggil mbak deh, mas Marcel juga." semakin menjadi saja Zain ini, entaj mengapa senang sekali ia dapat memutar balikkan keadaan, dari yang semula dibully kini menjadi dia yang membuat Annisa bingung sendiri.


"HEH WONG EDAN! DULUR ILING DULUR! (heh orang gila! saudara ingat saudara!)" sekali lagi Annisa ngegas, sungguh takut ia jika sampai Zain nekat.


"Kan nggak ada hubungan darah mbak." masih kekeuh Zain, entah dia bercanda atau tidak.

__ADS_1


"Nggak!" teriak Annisa yang segera beranjak dari sofa empuk itu, "Ih kok pergi sih? Mbak! Woy mbak Nisa! Becanda mbak!" teriak Zain dengan menatap punggung Annisa yang semakin menjauh darinya...


__ADS_2