I Love You Handsome Uncle

I Love You Handsome Uncle
Part 43 (Donor Darah)


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit, Risa dan Julio dengan segera memanggil salah satu perawat, dengan posisi Julio yang menggendong tubuh Kaira laki-laki itu terus saja berlari menerobos pintu masuk rumah sakit.


Risa membantu salah satu perawat itu untuk menyiapkan brankar, kemudian Julio dengan hati-hati meletakkan tubuh Kaira di atas brankar.


"Kai, kamu harus kuat Kai, aku nggak bisa maafin diri ku sendiri jika kau sampai kenapa-kenapa." gumam Julio kala brankar Kaira mulai memasuki ruang UGD.


Risa dan Julio sama-sama menunggu di depan pintu ruangan yang tertutup rapat itu.


Rasa tak tenang menyelimuti hati kedua insan itu, sesekali keduanya mondar-mandir di depan pintu ruang UGD.


Derap langkah kaki terdengar semakin mendekat, dari suara ketukan sepatunya saja sudah dapat di pastikan kalau orang tersebut pasti sangat panik dan terburu-buru.


CEKLEK!!


Pintu UGD terbuka, di sana Julio hendak mendekati dokter yang baru saja menampakkan batang hidungnya, tapi terhenti kala seorang laki-laki tampan mendahului dirinya.


"Bagaimana keadaan Kaira?" tanya Zain to the poin. Zain datang bersama dengan Annisa dan Marcel


"Maaf Tuan Zain, nona Kaira kehilangan banyak darah, dan untuk golongan darah yang sama dengan nona sangat susah di dapat." meredup pandangan Zain kala ia mendengar penuturan dokter.


"Langsung ambil darah saya saja dok, saya ibunya pasti cocok!" ucap Annisa dengan menggoncang lengan dokter yang mengenakan name tag bertuliskan Winda beserta embel-embel dibelakangnya.


"Mari kita cek dulu ya buk," seorang perawat menyahuti Annisa yang sudah kepalang panik, hanya menurut Annisa mengikuti langkah kaki perawat yang akan mengecek darah Annisa.


Setelah istrinya andil dalam donor darah untuk anak nya sendiri, Marcel segera mengekor di belakangnya


...~∆∆∆🌼∆∆∆~...


Setelah sekian detik dan menit berlalu, Zain yang menunggu, kini mendapati Annisa yang baru saja kembali bergabung dengannya.


"Gimana Mbak? Cocok kan darahnya?" tanya Zain antusias.


Dengan raut sendu Annisa menggelengkan kepalanya, "Loh kok bisa? Terus mas Marcel gimana?" tanya Zain.


Terlihat wajah Marcel mendadak berbeda tak seperti biasanya, "Mas? Mas Marcel juga chek, kan?" kini Zain beralih pada Marcel yang masih menundukkan kepala.


"Mas! Jangan diam saja!" Zain semakin menggoncang tubuh Marcel, sedangkan Annisa semakin terisak dengan menutup mulutnya.


Julio yang saat itu melihat kegusaran Zain segera mendekat, "Pak Zain, tenang dulu Pak." ucap Julio.


"Tenang kata mu?! Kekasihku di dalam sana sedang berjuang melawan maut! Kau bilang aku harus tenang?!" Zain memijit pelipisnya.

__ADS_1


"Maaf kalau boleh tau, golongan darah Kaira apa?" tanya Julio, Annisa dan Marcel awalnya saling pandang satu sama lain, kemudian Annisa menjawab...


"AB, dan..." terdiam sejenak kedua orang tua Kaira.


"Keluarga kami tidak ada yang mempunyai golongan darah tersebut." ucap Annisa yang membuat Zain mendadak menatap Annisa dan Marcel.


"Kenapa bisa begini?!" teriak Zain.


"Tenang dulu Pak, kebetulan darah saya AB, mana tau cocok, biar saya coba cek dulu." Julio berucap, bagaimana pun pemuda itu juga merasa bersalah.


Zain tak melarang juga tak mengiyakan, tapi Julio dengan sendirinya berjalan menuju sebuah ruangan.


"Maaf dok, bisa cek darah saya? Darah saya AB, dan saya dengar pasien bernama Kaira membutuhkan golongan darah ini." ucap Julio, karena ia tak mau jika sampai Kaira kenpa-kenapa.


"Boleh, mari ikuti saya!" ucap dokter itu berucap dengan bahasa yang lembut khas bahasa dokter.


Di samping Julio mengecek kecocokan darahnya dengan darah Kaira, di depan ruang UGD Annisa terlihat tengah mencecar suaminya.


"Mas? Bagaimana bisa Kaira tidak cocok dengan darah kita?! Dia anak aku kan, mas?!" dengan tatapan yang menajam Annisa mencecar pertanyaan.


Marcel masih bungkam, ia seperti menyembunyikan sesuatu, "Aku mau sekarang juga kita lakukan tes DNA!" Marcel hanya pasrah, dia tak memberikan jawaban sedikitpun.


"Tes DNA untuk apa?!" tanya Gautam yang saat itu baru tiba di rumah sakit.


"Ada apa ini?! Kaira baik-baik saja, kan?" netra tajam Gautam menyapu setiap orang yang ada.


"Jadi ceritanya Kaira kehilangan banyak darah, dan Mbak Annisa maupun Mas Marcel nggak ada yang darahnya cocok." sahut Zain dengan menundukkan kepalanya.


"Apa?! Kenapa bisa begini?!" membola netra tajam Gautam.


"Masalah apa lagi ini?! Yang kemarin saja belum selesai, ini sudah lanjut yang seperti ini, jangan tunda lagi! segera kalian lakukan tes DNA!" ucap Gautam dengan lantang.


Didalam ICU...


Setelah menunggu beberapa saat, sudah satu kantong darah Julio yang kini sedang mengalir pelan melalui selang kecil, perlahan darah merah itu masuk dan menyatu pada tubuh Kaira.


Julio masih berada di ruang rawat untuk memulihkan tenaganya, Zain berjalan mendekati Julio.


"Kau baik-baik saja?" tanya Zain dengan berdiri di samping ranjang pasien yang tengah di tempati oleh Julio.


"Saya baik-baik saja Pak, bagaimana keadaan Kaira?" Julio balik bertanya, sesungguhnya ia pun takut jika sampai darahnya tidak cocok di tubuh Kaira.

__ADS_1


"Dia sudah melewati masa kritisnya, terimakasih karena sudah mau mendonorkan darah mu." ucap Zain, yang dibalas anggukan oleh Julio.


"Tapi tunggu! Kenapa darah mu bisa cocok dengan darah Kaira?" tanya Zain.


"Itu hal sepele Pak, bukan kah banyak pendonor yang juga darahnya cocok dengan darah para pasien yang membutuhkan?" sahut Julio santai.


"Tapi, kau yakin tidak ada hubungan darah dengan Kaira?" tanya Zain mengintimidasi.


Tercengang Julio dengan pertanyaan yang Zain berikan, "Pak Zain ini ngomong apa? Mana mungkin..."


"Mungkin saja seperti yang di novel-novel gitu, kau punya adik yang hilang lalu secara tidak sengaja sekarang kalian dipertemukan." sela Zain.


Mendengar kata adik yang hilang Julio teringat kembali, dulu saat dirinya masih duduk di bangku kuliah dia pernah mencari adiknya yang hilang tapi karena tidak kunjung mendapatkan hasil Julio berhenti untuk mencarinya.


Dan kini Zain malah membangkitkan rasa ke ingin tahuannya itu, "Apakah mungkin Pak?" tanya Julio setelah terdiam beberapa menit.


"Bisa jadi jika memang kau memiliki seorang adik yang hilang, karena sepertinya, Kaira bukan anak kandung Kakak ku, mereka mau melakukan tes DNA apa kau juga mau mencoba?" tanya Zain, yang sebenarnya mempunyai harapan semoga Kaira benar ada hubungan darah dengan Julio, karena dengan begitu dia bisa leluasa untuk menikahi gadis itu tanpa Kaira takut dengan ikatan keluarga.


"Boleh." Julio menganggukkan kepalanya.


Di saat semua sibuk melakukan tes DNA, Zain duduk di samping Kaira, gadis itu masih memejamkan matanya.


Transfusi darah barusan berjalan dengan lancar bahkan kini kondisi Kaira sudah lebih baik dari kemarin.


"Hey? Apa nggak capek kamu merem terus?" Zain berbisik dengan mengusap pipi Kaira.


Gadis itu masih anteng dengan keadaannya, selang oksigen juga selang infus masih melekat pada tubuh Kaira.


"Bangun dong, Uncle rindu..." belum selesai Zain berucap, kini Kaira memberikan tanda-tanda kesadarannya.


Perlahan gadis itu membuka matanya sipit, "Kau mendengarku sayang?" tanya Zain dengan mengusap kepala Kaira.


Mengerjap pelan kedua kelopak mata Kaira, kemudian ia melirik Zain yang ada di sampingnya, "Uncle..." lirihnya.


"Iya sayang ini Uncle." ucap Zain dengan memegangi sebelah pipi Kaira.


Senyum tipis Kaira suguhkan, "Maaf, Kaira bandel." ucap gadis itu dengan suara lemahnya.


Zain menggeleng dan menutup bibir Kaira menggunakan jari telunjuknya, "Ssshhhh no! Jangan katakan itu."


CEKLEK!

__ADS_1


Pintu ruangan itu terbuka, seorang perawat datang akan memeriksa keadaan pasiennya.


Zain menepi memberikan ruang agar perawat itu mengecek kesehatan dan keadaan Kaira...


__ADS_2