
Melotot Zain mendapati kemeja mahalnya berlumuran ingus dan air mata, mungkin air mata masih lumrah, tapi ini ingus, dan itu membuat Zain mendorong tubuh Kiara agar menjauh!
BRUGH!!!
Terhuyung Kaira jatuh ke lantai, "ADOH!!" keluh Kaira dengan posisi tersungkur.
"Lo cewek jorok banget sih Kai!" geram Zain, ia pun melepas kemejanya dan beranjak menuju kamar mandi demi membersihkan kemejanya.
Di dalam kamar mandi yang tak sempit itu, Zain berdiri di depan wastafel, ia menyiram kemejanya dibawah guyuran air kran, kemudian melemparkannya pada ranjang pakaian kotor milik Kaira.
Segera langkah panjang kaki Zain keluar dari kamar mandi dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati keponakan cantiknya itu kini tengah berdiri diambang jendela kamarnya, bahkan dengan kedua tangan yang ia rentangkan.
"Astaga! Kaira!" Panik Zain berlari mendekati jendela dimana Kaira berdiri, kemudian Zain menarik tangan kiri gadis cantik itu dan ditariknya agar turun dari kusen jendela.
Tapi siapa sangka jika Kaira pun terkejut dan spontan membalikkan tubuhnya menghadap Zain, namun kaki Kaira kehilangan pijakan dan terpeleset...
BRUGH!!!
Terjatuh keduanya dengan posisi tubuh Kaira yang menindih tubuh Zain.
"Lo cari kesempatan banget sih?!" gerutu Kaira, sungguh otak gadis itu masih di pengaruhi alkohol, bahkan Zain saja di anggap orang lain, yang akan ia laporkan kepada Uncle tampannya yang tak lain adalah Zain sendiri.
"Kai, sadar dong! Dia itu cuma salah satu laki-laki tampan di muka bumi ini, masih banyak yang lainnya!" cecar Zain dengan berguling dan membalikkan posisi, menjadi Kaira yang ditindihnya.
Berontak gadis itu berusaha untuk membalikkan posisi, "Diamlah gadis nakal! Kaki mu menyentuh sesuatu yang harusnya tidak kau usik!" Zain memperingatkan agar Kaira tidak lagi memberontak.
Terdiam sejenak keduanya, kini saling bertukar pandangan kedua netra itu dengan jarak yang tak lebih dari 10cm.
Bahkan napas berbau alkohol dari mulut Kaira sampai tercium oleh indera penciuman Zain.
Posisi ini sungguh tidak baik untuk kesehatan jantung, dengar saja suara detak jantung kedua insan beda generasi ini yang saling bersahutan, sudah seperti genderang yang bersiap untuk perang saja.
"Ka... kalian sedang apa?" suara Zahira tiba-tiba terdengar, gadis polos yang duduk di bangku SMP itu kini berjongkok di samping Zain dan Kaira yang masih berbaring di lantai.
Tersentak Zain, ia segera bangun dari atas tubuh Kaira, ia bahkan membantu gadis nakalnya itu untuk duduk.
"Tidak ada, tadi, Uncle terpeleset." Zain beralasan.
"Ooo... kepeleset, terus kok nggak pakai baju? Kalian tidak sedang menirukan permainan orang dewasa kan? Kata ibuk itu nggak boleh, dan dosa, hanya orang dewasa yang boleh melakukannya, eh tapi Uncle sudah dewasa sih, tapi kak Kaira... bukannya masih remaja ya?" Zahira dengan kepolosannya nyerocos. Melongo Zain mendapati pertanyaan Zahira.
Sedangkan Kaira masih kalut di dalam pikirannya sendiri.
"Permainan orang dewasa yang bagaimana Za? Kamu tau dari siapa?" tanya Zain.
__ADS_1
"Zaza pernah lihat ibuk sama ayah, dan mereka posisinya sama seperti kalian tadi, bahkan ayah tidak pakai baju juga, em... Tapi nggak di lantai sih..."
"Cukup!" ucap Zain menghentikan penjelasan Zahira.
"Zaza masih bobok sama ayah sama ibuk ya?" tanya Zain lagi.
"Em.. iya, kan kamar yang biasa Zaza pakai, di pakai Uncle, jadi ya nggak papa, asik kok malah ada temennya kalau bobok." Dengan kepolosan ya Zahira berucap.
"Polos banget sih yang satu, yang satunya malah brutal kayak preman kampung gini, ck... ck... ck..." batin Zain menatap Kaira dan Zahira secara bergantian.
"Oh iya Uncle kenapa nggak pakai baju?" Zahira kembali bertanya.
"Tadi kakak kamu nangis, terus kemeja Uncle dipakai buat ngelap ingus sama dia!" cetus Zain dengan menoyor kepala Kaira.
"Aduh!" keluh Kaira dengan melirik ke arah Zahira.
"Kak Kai nangis? Kenapa?" Penasaran gadis kecil itu bertanya.
"Di PHP katanya." sahut Zain.
Meleyot bibir Zahira, mungkin rasa empatinya ada untuk kakak tercintanya, "Aduh itu pasti sakit."
Kaira merespon ucapan Zahira, ia menatap sendu adiknya itu, "Iya, sakit banget di sini."
Kaira segera menerima peluk hangat sanga adik.
Keduanya menghibur Kaira berusaha agar gadis ceria dan galak itu kembali ke sifat aslinya.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Sudah beberapa hari ini Kaira murung, setiap pulang sekolah gadis itu selalu menyendiri, dan pagi ini di hari minggu, cuaca mendung, Zain berencana untuk mengajak keponakan cantiknya itu untuk joging seperti minggu-minggu yang lalu.
Zain masuk kedalam kamar yang pintunya telah terbuka itu, dan di sana ia mendapati gadis yang murung, masih mengenakkan jaket hangatnya Kaira duduk menghadap jendela.
"Hai?" Sapa Zain dengan duduk di samping gadis yang tengah murung itu.
"Hem." sahut Kaira dengan sedikit menarik ujung bibirnya.
"Joging yuk?" ajak Zain yang tak memandang cuaca, Kaira memandang Zain kemudian netra indah itu beralih ke luar jendela, "Mendung." lirihnya, sedikitpun gadis itu tak bersemangat.
"Ya kan asik dong, jadi kita nggak kepanasan tapi juga nggak kedinginan." sahut Zain, sedangkan Kaira, dilihatnya gadis itu menghela napas panjang, seolah beban didalam hatinya begitu berat.
__ADS_1
Tiba-tiba Zain memeluk tubuh gadis itu dari belakang, "Semangat dong! Buktiin lo baik-baik aja setelah kejadian kemarin! Buktiin juga sama Julio breng*sek itu kalau lo juga bisa dapet cowok yang lebih keren dari pada dia! Lo cantik, banyak yang mau sama lo, nggak usah khawatir jodoh ada yang ngatur." Zain berucap dengan dagu yang ia tancapkan di pundak Kaira.
Terdiam sejenak keduanya kemudian secara bersamaan Kaira menoleh ke arah Zain begitu juga Zain, ia menoleh menatap wajah Kaira.
Kembali saling pandang keduanya, "Astaghfirullah, rasa apa ini kenapa gue jadi deg-degan gini sih?!" batin Kaira, kemudian gadis itu beralih menatap ke arah jendela dengan cepat, niatnya sih mengamankan jantung juga menghindari tatapan mata Uncle nya yang mampu menembus lapisan dadanya.
"Ok, semanga!t Go Move On!" teriaknya seraya melepaskan kedua tangan Zain yang memeluknya.
Gadis itu berdiri di atas kasur, "Ok gue cantik, gue baik-baik aja, gue siap Move on!" teriaknya dengan kedua tangan lurus ke atas dan telapak tangan yang mengepal.
Zain masih stay duduk di belakang Kaira, senyum nya mengembang tak kala ia melihat gadis itu kembali bersemangat.
Kaki Kaira melangkah mundur dan "YAAAK!!?"
BRUGH!!
Kaira tersandung dan gadis itu terjatuh di pangkuan Uncle tampannya.
Dheg-Dheg... Dheg-Dheg...
"Oh ya Tuhan, ada apa ini? Kenapa dia semakin hari semakin ganteng aja sih, udah gitu perhatian lagi." batin Kaira masih dengan menatap Zain.
Netra Kaira membulat tak kala Zain memangkas jarak di antar keduanya, mendadak terpejam mata gadis itu, entah berharap kejadian apa selanjutnya yang akan terjadi, tapi...
"Cepat bangun dari pangkuan gue! Lo berat!" bisik Zain yang membuat Kaira sontak membuka matanya lebar dan segera berdiri.
"Enak aja gue berat! Gue kan langsing!" cetus Kaira dengan berkacak pinggang, bahkan gadis itu mengerucutkan bibirnya.
"Ya udah sana siap-siap!" ucap Zain dengan mendorong tubuh Kaira menuju ke ruang ganti.
Zain berhenti di ambang pintu masuk ruang ganti, Kaira membalikkan tubuhnya menatap Zain, "Uncle? Emang gue gendut ya?" tanya gadis itu tiba-tiba.
Zain mengangkat salah satu alisnya, kembali wajah tampan itu mendekat, "Nggak gendut, tapi semok!" bisik nya di samping telinga Kaira.
Melotot gadis itu, "Iiiihhh kok gitu!" protes Kaira tak mau di bilang semok.
"Ya udah makanya ayok joging biar berkeringat dan membakar lemak jahat! Buruan ganti!" titah Zain, tapi Kaira tak kunjung masuk ke dalam ruang ganti, ia malah cemberut dengan ucapan Uncle nya.
Zain bersedekap, "Apa mau, gue bantuin ganti bajunya?" bisik Zain seolah ia berbicara dengan niat yang serius.
Semakin membulat mata Kaira, "Dasar Omes! Uncle mesum!" teriak nya seraya masuk ke dalam ruang ganti dan menutup tirainya.
SRAK!!!
__ADS_1
Zain hanya tersenyum melihat kelakuan keponakan cantiknya itu...