
Waktu pulang sekolah pun tiba, Kaira tengah berdiri di depan gerbang sekolah, demi menunggu mang Ucok untuk menjemputnya, tak sampai setengah jam jemputan yang ditunggu Kaira sudah tiba, gadis itu segera naik keatas motor dan kuda besi itu segera melaju.
Setibanya di rumah...
Rasa lelah selama disekolah membuat Kaira ingin segera ke kamarnya saja, gadis itu ingin sekali segera merebahkan tubuhnya, tapi niat itu ia urungkan kala indera pendengaran nya mendengarkan perdebatan kecil antara ibu dan uncle nya.
Berniat untuk mencuri info terkini, Kaira berhenti tepat di samping pilar besar yang ada di sisi ruang keluarga.
Mendengar Zain yang mengucapkan kalimat, "Kan nggak ada hubungan darah mbak."
Berdebar hati Kaira saat ini, "Apa Uncle benar-benar menaruh hati pada ku? Yang benar saja orang tua itu! Masa langsung bilang sama Ibuk?" batin Kaira dengan masih tetap menajamkan pendengarannya. Setelah kata penolakan yang Annisa tegaskan, entah mengapa Kaira merasakan sesak di dalam dadanya.
"Loh Kai? Kamu sudah pulang?" tanya Annisa yang mengabaikan suara Zain yang masih memanggilnya.
Kaira mengangguk, "Iya buk." sahut gadis cantik yang masih mengenakkan seragam putih abu-abu itu.
"Kai mau ke kamar dulu." pamit Kaira kaku, tak seperti biasa Kaira pun bingung sendiri entah mengapa setelah ia mendengar Annisa menolak mentah-mentah permintaan Zain, entah itu hanya sebuah candaan atau keseriusan.
Kaira sendiri juga tidak tau kenapa, rasanya sangat tidak nyaman didalam lubuk hatinya sana.
Gadis cantik itu memilih untuk menghabiskan waktu nya di ruangan fitnes, ia luapkan semuanya tak ada sedikitpun yang ia simpan.
Keringat sudah bercucuran dimana-mana, Kaira terlihat mengatur nafasnya, dan di atas matras gadis itu terlentang, dinginnya udara AC yang baru saja dinyalakan, sungguh begitu terasa nyaman menerpa permukaan kulit yang berkeringat, mulai terpejam netra indah itu menikmati jembusan angin dingin dari alat canggih yang sering disebut AC itu.
"Kai, kau di sini?" suara Zain membuat Kaira terbangun dari posisi tidurnya.
"Uncle? Ada apa?" tanya Kaira, ditatapnya wajah tampan yang terlihat gusar, tak santai seperti biasanya.
"Ayo ikut Uncle, semua harus segera dijelaskan!"
"Apa? Apa yang harus di jelaskan?" Kaira bingung, tapi dengan cepat Zain menarik lengannya dengan paksa, Kaira terseret, mau tak mau gadis itu mengikuti langkah besar Uncle tampannya.
"Uncle, apa-apaan ini? Apa nya yang harus di jelaskan? Dan mau dijelaskan kepada siapa?" cecar Kaira yang membuat Zain berhenti dan berbalik menatapnya.
"Kau mencintai Uncle?" pertanyaan itu membuat bibir Kaira mendadak terkatup, tak berani gadis itu menjawab, malah kini netra bulat itu mengalihkan pandangannya.
Zain meraih dagu Kaira, "Lihat Uncle! Kau mempunyai perasaan pada ku?"
Mengedip beberapa kali Kaira memandang wajah Zain, lihat saja kali ini Uncle tampan itu terlihat serius dan sial nya itu malah menambah kesan tampannya.
"Jawab Uncle Kai! Kau mencintai ku?" sekali lagi Zain bertanya.
"Ta... tapi apakah..."
__ADS_1
"Lupakan!" sela Zain.
"Apa?" terkejut Kaira, satu bulir bening merembas di ujung kelopak matanya.
"Lupakan soal pertanyaan ku, jika kau susah untuk jujur padaku! Biar Uncle saja yang mengakuinya, aku nyaman bersama mu, awalnya takut jika sampai rasa ini hanya hati sepi, yang butuh pelampiasan.
Tapi kau tau? Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika kita saling berjauhan, maka dari itu, mari kita perjelas hubungan ini, menikahlah dengan ku Kai, akan ku tunggu sampai kau lulus."
Peryataan perasaan itu membuat Kaira menghambur kedalam pelukan Zain, dipeluknya tubuh Zain dengan erat.
Kaira menganggukkan kepala, "Tapi bagaimana dengan keluarga kita?" tanya Kaira khawatir.
"Kita ngomong baik-baik ya?" ajak Zain, sedangkan Kaira hanya mengangguk saja, keduanya kini berjalan menuruni anak tangga sesekali mereka saling pandang satu sama lain dan tersenyum malu Kaira, bahkan pipinya memerah bak buah tomat.
Betapa terkejutnya Kaira saat mendapati kedua orang tua Zain kini sudah berada di ruang keluarga.
Semakin gugur saja gadis itu, tapi lagi-lagi Zain menggenggam tangan Kaira memberikan rasa percaya diri, gadis itu menoleh menatap Uncle tampannya, sedangkan Zain membalas tatapan itu dengan senyum manis, bahkan dengan menganggukkan kepalanya.
"Ayah, Zain mau ngomong!" ucap Zain dengan suara lantang.
"Kerasukan apa orang tua ini?! Kenapa berani sekali dia berkata seperti itu kepada Ayahnya yang sudah memasang tampang garang." batin Kaira.
"Ngomong apa? Masih kurang kamu bersenang-senang di sini? Merepotkan kakak mu dan nenek mu?! Hem!" sahut Gautam dengan suara yang menggelegar.
Zain menatapnya lembut gadis yang ada di sampingnya dan memegang tangan Kaira yang menggenggam jemarinya erat, menggunakan sebelah tangan, Zain menenangkan gadis itu.
Kaira menatap Zain dengan raut wajah tak tenang, sedangkan Zain hanya menganggukkan kepalanya sedikit, mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Ayah, Zain mau menikah!" ucap Zain dengan lantang.
"Ya... memang kau harus segera menikah." sahut Gautam dengan senyum yang mengembang, sedikit menghilangkan aura mencekam barusan.
"Tapi tidak dengan Zoya!" ucap Zain yang membuat semua mata menatap kearah tangan Zain yang semakin erat menggenggam tangan Kaira.
"Apa maksud mu?!" nada tinggi Gautam suarakan, Annisa terlihat memberi kode kepada Zain agar tidak mengutarakan keinginannya.
Ibu dua anak itu terlihat menyatukan telapak tangannya di tengah dada dengan menggeleng pelan kepalanya.
Tapi Zain hanya melihatnya sekilas, sudah bulat tekat laki-laki itu, "Zain mau menikah jika itu dengan Kaira."
"Dasar anak tidak tau diri! Sukanya menyusahkan orang tua saja!" teriak Gautam dengan berdiri dari duduknya.
Terlihat Mariana atau ibu biologis Zain mencegah lengan Gautam agar tidak menghajar Zain.
__ADS_1
"Kau sadar dengan apa yang kau katakan?! Kaira ini keponakan mu! Masih saudara..."
"Jauh! Jauh Ayah, kita saudara jauh, dan Zain mau menikah hanya dengan Kaira." sela Zain dengan menatap gadis yang ada di sampingnya.
"Ini tidak bisa dibiarkan! Semakin lama kau semakin seenak jidat mu sendiri saja Zain!" geram Gautam, ia menepuk tangan beberapa kali dan dalam hitungan detik rumah mewah ini sudah dipenuhi dengan para pengawal yang mungkin sudah Gautam siapkan.
"Tangkap Tuan Muda kalian! Bawa pulang ke kota!" titah itu terucap sebelum Gautam angkat kaki dari rumah ibu mertuanya.
Zain dan Kaira semakin erat berpegangan, "Kai jangan lepaskan tangan mu sayang!" ucap Zain sedangkan para pengawal berseragam hitam itu terus saja menarik tubuh Zain bahkan sebagian melepaskan tangan Zain dan Kaira yang masih saling berpegangan.
"Uncle!" lirih Kaira dengan air mata yang mengalir.
"Tidak! Lepaskan aku!" berontak Zain berusaha melepaskan diri, Kaira pun menangis tersedu-sedu didalam pelukan Annisa, masih dapat di dengarnya suara Zain yang meraung memanggil namanya.
"Yang sabar nduk, sadarlah Zain itu Uncle mu sayang." lembut suara Annisa tapi itu semakin membuat Kaira semakin menangis.
"Hiks... hiks... Uncle! Hiks... Hiks..."
"Kai? Kaira? Bangun Woy!" seseorang mencolek-colek tubuh Kaira yang meringkuk di samping alat treadmill.
Membuka mata gadis itu dan dilihatnya Zain yang duduk berjongkok di hadapannya, sontak Kaira segera bangun dan, BRUGH!! menghambur Kaira memeluk Zain.
Hampir terjengkang Zain, bahkan posisi duduk jongkoknya sampai terduduk dengan kaki selonjoran.
"Hey ada apa ini? Kau merindukan ku?" tanya Zain dengan mengelus surai hitam Kaira yang terikat jadi satu di atas.
Hanya menggeleng Kaira tak bersuara, "Ngomong dong, jangan gini, nangis kayak anak perawan yang di paksa nikah aja nangis!" ocehan menyebalkan itu berhasil membuat Kaira menepuk pundak Zain.
Zain melerai pelukannya, "Lo mimpi?" tanya Zain dengan mengusap air mata yang berhasil membasahi wajah ayu keponakannya itu.
Sekali lagi Kaira hanya menganggukkan kepalanya, "Mimpi apa? Horor? Masa pendekar takut sih?" ejek Zain dengan menarik hidung Kaira.
"Emm... sakiiittt!!" merengut gadis di hadapan Zain itu.
"Ya makanya cerita."
"Kai mimpi kalau Uncle di bawa pergi dengan paksa dari sini." jelas Kaira.
"Ehem... lalu?" Zain mendengarkan dengan baik setiap kata yang Kaira ucapkan.
"Sebelumnya, kita kayak jadian gitu lo Uncle." terlihat Zain mengangkat salah satu alisnya.
"Terus kakek Gautam nggak setuju, bahkan dia marah besar dan mengirim banyak orang untuk menjemput Uncle, dan kita berpisah." kembali air mata Kaira luruh membasahi pipinya, dan itu membuat Zain menarik kembali tubuh Kaira untuk masuk ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Zain!!! Ada yang nyariin kamu tuh!" teriak Annisa dari lantai bawah...