
Masih bertukar pandang kedua insan itu di atas ranjang empuk yang nyaman, Zain perlahan mulai memangkas jarak diantara keduanya, sungguh suasana yang sangat tidak sehat untuk kebaikan debaran jantung, karena di saat seperti ini, sudah pasti jantung akan berdebar lebih cepat demi memompa darah agar oksigen dapat mengalir ke seluruh tubuh.
Terfokus netra Zain kearah bibir dengan warna pink nude, mulai memejamkan netra keduanya kala kedua bibir mereka hendak bertautan, tapi...
BRUGH!!
Kaira dengan cepat berpindah posisi hingga Zain ter telungkup di atas ranjang sendirian, berdiri Kaira berniat untuk menjauh tapi dengan cepat tangan Zain meraih pergelangan tangan ramping gadis cantik itu.
Set...
...Brugh......
Kembali tubuh Kaira terhempas di atas ranjang yang kemudian di tindih oleh tubuh kekar Zain.
"Kau yang memulai, jangan coba-coba lari, sayang!" bisikan penuh tekanan itu Zain ucapkan tepat di cuping teling Kaira, hingga membuat tubuh gadis itu meremang.
Memejamkan mata rapat gadis itu, hatinya sibuk bergulat antara menuruti nafsu yang kian memburu atau kewarasan otak yang semakin di dominasi oleh gelapnya hawa nafsu.
Di sela-sela tarian lembut lidah Zain yang menyapu permukaan kulit leher Kaira, gadis itu tak sengaja mengeluarkan desah halus yang di barengi dengan hembusan napas.
Zain semakin menjadi bahkan, sebelah tangannya mulai meraba lekuk indah yang menggeliat dibawahnya, "Uncle... hahh... hahhh... stop..." dengan napas yang memburu Kaira berusaha menahan keliaran Zain.
Hampir terlena dengan sentuhan lembut Zain, Kaira kembali mengingat ucapan Mariana yang mengatakan...
"Oh, dia itu Zoya, calon tunangan Uncle mu."
Suara Mariana terngiang dan memberikan efek terhadap hati dan pikiran Kaira, sehingga...
Set...
...Brugh......
Kaira membalikkan posisi, ia kini menindih tubuh Zain, laki-laki tampan itu hanya pasrah dengan senyum tipisnya, ia meraih tengkuk Kaira dan hendak menyatukan kembali kedua benda yang terasa kenyal nan manis itu, tapi...
Tap!
Kaira menutup mulut Zain dengan telapak tangannya, mengerut kedua alis Zain, ia menatap bingung kepada gadis yang kini mulai beranjak dari atas tubuhnya.
Kaira duduk di sisi ranjang, Zain yang bingung segera mendekat, "Ada apa sayang?"
"Aku butuh penjelasan!" ungkap Kaira, gadis itu tak mau lagi menyimpan rasa dongkol di dalam hatinya.
"Penjelasan yang mana?" tanya Zain dengan mengelus punggung gadis kesayangannya.
Sedikit menghindar Kaira dari perlakuan manis Uncle tampannya, dan itu sukses membuat Zain semakin tak mengerti.
"Ngomong dong Yank! Aku salah dimana? Terus penjelasan apa coba?" Zain mengejar Kaira dengan pertanyaan yang membuat Zain sendiri bingung.
"Zoya!" ucap Kaira dengan menatap tajam Zain, gadis itu dengan keberanian yang ia kumpulkan berhasil menyebut nama gadis yang lebih dewasa dari dirinya.
Zain terperanjat, kenapa Kaira menyebutkan nama mantan kekasihnya itu, bukankah dulu dia sudah pernah mengatakannya.
__ADS_1
"Kenapa diam?! Uncle mau tunangan sama dia?! Hem? Jawab!" cecar Kaira dengan alis yang hampir bertaut.
"Siapa yang bilang?" pertanyaan bodoh itu terlontar begitu saja dari mulut Zain, bahkan lengkap dengan tatapan seriusnya.
"Malah balik tanya lagi, Uncle ini tuli apa nggak peka sih?!" mendengus kesal Kaira menatap jengah laki-laki tampan di sampingnya.
"Bukannya tadi nenek Mariana sendiri yang ngenalin kalau Zoya itu calon tunangan Uncle? Pura-pura lupa ya?!" imbuh nya dengan mengalihkan pandangan.
"Kalau Uncle mau tunangan sama dia, buat apa Uncle terima ciuman mu barusan? Kau lupa, kamu main cium Uncle di depan Zoya tadi? Heh... mikir dong! Jangan asal emosi aja! Siapa yang jadi kompor sih? Kok jadi Uncle yang kena apinya!" gerutu Zain dengan membelakangi Kaira.
Gadis itu menoleh sedikit kearah Zain, terdiam keduanya, Zain masih sedikit merasa jengkel, karena sifat Kaira yang asal marah, sedangkan Kaira masih mencerna ucapan Uncle tampannya.
"Iya sih, harusnya kan ciuman tadi udah jadi bukti kalau Uncle nggak ada apa-apa sama tu cewek." batin Kaira dengan menggigit bibir bawahnya.
"Uncle..." lirihnya dengan menghadap ke punggung Zain yang masih stay membelakanginya.
"Hem?!" sahut Zain tanpa menoleh sedikit pun.
"Maaf..." lirih Kaira dengan menundukkan wajahnya, Zain sedikit melirik gadis yang kini menunduk dibelakang punggungnya.
Terlihat imut, seperti gadis kecil yang melakukan kesalahan dan turut meminta maaf setelahnya.
Kaira tiba-tiba mendongak menatap Zain dan saat itulah Zain dengan buru-buru mengalihkan pandangannya.
"Uncle marah ya?" tanya Kaira dengan menancapkan dagunya dipundak Zain, gadis itu sedikit memiringkan wajahnya agar dapat melihat raut wajah Uncle tampannya.
"Enggak!" masih ketus suara yang Zain perdengarkan.
"Maaf in istri kecil mu yang pemarah ini sayang." mendengar ucapan tulus Kaira juga mendapat perlakuan manis gadis itu, Zain kini melunak, ia menangkap pergerakkan tangan Kaira yang ada di dadanya.
Berbalik Zain menatap Kaira, "Lain kali jangan asal marah lagi ya! Uncle hanya manusia biasa yang hanya bisa membaca tulisan manusia, tapi tidak bisa membaca pikiran mu, bukan tidak peka, jika kau diam maka Uncle tidak bisa mendengar kata hati mu,
Karena pekerjaan Uncle mu ini hanya pengusaha, bukan peramal!" panjang lebar Zain berucap dan tak sengaja Kaira malah menguap.
"Kaira!" geram Zain, tersentak Kaira dengan suara lantang Zain, gadis itu kemudian berucap, "Maaf Uncle, tapi menguap sama dengan bersin yang sedikit pun kita juga tidak tau kapan datangnya mereka." Kaira mencebikkan bibirnya.
"Kau dengar ucapan Uncle barusan?" Kaira mengangguk pelan, terdengar hembusan napas kasar Zain.
"Zain! Ajak Kaira keluar, kita makan malam dulu!" terdengar teriakan dari arah lantai bawah.
"Kau dengar? Nenek mu sudah mengkhawatirkan kondisi perutmu." ucap Zain dengan mengacak kecil pucuk kepala Kaira.
"Cepatlah mandi, dan turunlah ke ruang makan, aku tunggu di sana." ucap Zain dengan melangkah keluar dari kamar Kaira.
...~∆∆∆🌼∆∆∆~...
Selesai makan malam...
Gautam, Mariana, Zain dan Kiara tengah berkumpul di ruang keluarga, di sana tentu ada televisi yang mengisi keheningan.
"Bagaimana kuliah mu di Korea Kai?" suara bariton itu mengalihkan fokus Kaira dari layar televisi yang ditontonnya.
__ADS_1
"Sudah selesai Kek," sahut Kaira dengan menunduk sopan.
"Loh, bukannya kuliah di sana S1, membutuhkan waktu kurang lebih empat tahun ya?" tanya Gautam yang terkejut dengan pernyataan Kaira.
"Lah bukannya Ayah yang membuatkan surat lamaran pekerjaan pagi tadi?" ucap Zain dengan melirik Gautam dengan ekor matanya.
"Itu hanya pemikiran Ayah saja, biar nanti kalau Kaira sudah lulus langsung tandatangan kontrak sama perusahaan kita, Ayah nggak mau ya ada bibit unggul keluarga kita tapi malah membantu perusahaan tetangga!"
Zain melirik Gautam, "Ayah yakin Kaira kesini tidak tau?"
"Bukannya tidak tau, bude mu Maria itu sudah telfon, tapi dia tidak bilang kalau Kaira sudah lulus." sahut Gautam dengan menyeruput kopi hitamnya.
"Lagi pula yang ngobrol kan Mama mu, buka Ayah!" imbuhnya.
Kaira hanya menunduk mendengar perdebatan seputar keluarga itu, "Kalau boleh tau kau ahli di bidang apa Kai? Nanti Kakek bantu biar kamu masuk di bagian itu."
"Arsitek, design bangunan, hanya seputar itu Kek." sahut Kaira dengan pelan, rasa takut akan tampang garang Gautam masih belum membuat Kaira terbiasa.
"Tidak! Kaira tidak akan jauh dari ku! Kaira akan menjadi Sekretaris pribadi ku!" sela Zain terang-terangan.
"Bukannya kau sudah punya Jova dan Jefri?" tanya Gautam dengan mengangkat salah satu alisnya.
"Dua sekretaris kan bisa lebih cepat pekerjaan, jadi ada yang ikut kemana pun Zain meeting ada juga yang menangani masalah kantor." jelas Zain memberikan alasan yang kurang logis.
"Tapi kau biasanya pergi bersama Jefri ke mana-mana." timpal Mariana.
"Tapi Mah, Jefri itu mulai banyak pekerjaan juga, lagi pula kalau Zain kemana-mana bersama Jefri, apa Mama sama Ayah ngga takut kalau anak tampan mu ini dikata belok?!" cetus Zain yang membuat terbelalak kedua orang tuanya.
"Dah pokoknya Kaira besok kekantor bareng Zain! Sekarang Zain ngantuk mau tidur!" cetus nya dengan beranjak dari sofa.
Gautam dan Mariana hanya menggeleng pelan kepala mereka, Zain yang hendak menapakkan kaki di anak tangga pertama tiba-tiba berhenti, "Kaira! Masuk kamar, tidur! Besok kerja!" titahnya kemudian melanjutkan langkah kakinya.
"Kai permisi, Kek, Nek." pamit Kaira sebelum meninggalkan ruang keluarga, Gautam dan Mariana hanya mengangguk dengan senyumannya.
"Dia genius loh Yah! Coba aja dia bukan anak cucu nya kak Maria, pasti udah aku lamar kan untuk Zain." cetus Mariana yang bersandar di pundak Gautam.
"Kalau menurut keyakinan aku, sah-sah saja mereka menikah, toh tidak ada hubungan darah, keluarga kamu saja yang terlalu berbelit!" sahut Gautam yang membuat Mariana mengerucutkan bibirnya.
"Jangan jodoh-jodohin anak kita, aku saja kapok menjodohkan Zain dengan Zoya... "
"Loh kenapa?" sela Mariana.
"Mereka sekarang ini sudah tidak pacaran lagi, salah satu anggota ZG-KNIGHT ada yang melapor kalau Zoya mengkhianati Zain kita." jelas Gautam.
"Lalu buat apa kau kemarin mengundang mereka untuk makan malam?"
"Buat apa lagi kalau bukan untuk tetap menjalin bisnis dibaliknya, kemarin juga sudah ku katakan kepada Alex masalah mereka, dan dia tidak mempermasalahkan."
"Syukurlah kalau begitu." bernapas lega Mariana mendengar itu.
Dari lantai dua Kaira diam-diam mendengar perbincangan kedua orang tua itu, "Hayooo... nguping ya!!!" tersentak Kaira, gadis itu menoleh dan Cup!!!...
__ADS_1