
Sarapan bersama memang menjadi ritual pagi yang dilakukan keluarga besar itu, bahkan tamu yang tak ada hubungan darah seperti Zoya diajak mereka semua untuk bergabung bersama.
Dimata keluarga besar Flora, Zoya adalah gadis yang sopan dan baik, sedangkan Zain sedikitpun tak mau membahas hubungan kacaunya dengan gadis itu.
Kaira duduk di salah satu kursi, tatapan sinis ia lemparkan kearah Zoya yang saat itu juga tengah menatap tajam dirinya.
"Cih... Apaan coba liat-liat! Kalau gue nggak mikir lo tamu di sini, udah gue banting lo sampe ke puncak sana!" batin Kaira kala ia mendapati tatapan dari Zoya.
"Waaaahhh rame nih." ucapan Zain memecahkan tatapan tajam Kaira, laki-laki tampan itu duduk di kursi kosong yang tersedia dan itu tepat di samping Zoya.
Senyum manis Zoya tampilkan demi menyambut sang pujaan hati, sedangkan lirikan mata Zain terarah kepada wajah cantik yang terlihat mencebik, ya Kaira mencebikkan bibirnya dengan mengalihkan pandangannya.
"Kamu mau selai yang apa Zain? Biar aku ambilkan?" ucap Zoya menawari.
"Enggak..."
"Zaiiiiiiiiinnn... Jangan keras kepala, dia berniat baik loh, lihatlah selain cantik dia juga sangat sabar melayani mu, sudah cocok menjadi istri idaman saja." cetus Maria.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk..." mendengar penuturan dari neneknya, Kaira sampai tersedak susu vanilla yang baru saja di minumnya.
"Hati-hati sayang, kau ini selalu terburu-buru." Annisa mengingatkan putri sulungnya untuk berhati-hati, sebelah tangan Kaira hendak meriah tissue tapi tangan kanan Zain sudah lebih dulu mengulurkan satu lembar tissue kering kepadanya.
Lirikan tajam Kaira arahkan padanya, tangan dengan jemari lentik Kaira segera merebut satu lembar tissue itu dari tangan Zain dengan cepat dan sedikit kasar.
Tapi jujur di dalam hati Kaira menyukai perhatian Zain ini, mengulum senyum gadis itu kala tangan nya mengelap bibir dan pipinya yang terkena air susu.
Baru saja Kaira hendak melahap sandwich buatan Annisa, ibu dua anak itu kembali menanyakan hal yang sangat mencengangkan.
"Kai, bibir kamu kek jontor gitu kenapa sayang?" tanya Annisa dengan nada panik, sedangkan Kaira mendadak memegangi bibirnya yang memerah, bola matanya mengabsen satu persatu anggota keluarga dan tamu tambahan yang ada di meja makan.
"Em... Semalem..." terdiam Kaira bingung mau menjawab apa, gadis itu belum mempersiapkan alasan untuk pertanyaan seperti ini.
__ADS_1
Dilihatnya Zain tertawa tanpa suara dengan sesekali mengusap wajahnya demi menyembunyikan tawa bahagianya, dari situ Kaira mendapat ide jawaban.
"Semalem Kaira lapar, dan pas mau bikin mie instan, nggak sengaja Kaira nabrak pantat panci di dapur, jadi deh bibirnya ciuman sama pantat panci." alasan dengan bumbu kebohongan itu mengundang tawa semua anggota keluarga, selain Zain, ia merasa bibirnya disamakan dengan pantat panci oleh Kaira, setidaknya pasal tempat Kaira tidak berbohong, untuk lapar dan mie instan semoga Tuhan mengerti posisi Kaira saat ini, dan masalah pantat panci, anggap saja itu bibir Zain yang semalam menyerangnya, impas kan, jujur dua bohong dua? haha...
Mungkin begitu isi hati Kiara tak kala ia memandang wajah Zain yang tengah melotot ke arahnya.
Zoya yang mengerti isyarat mata kedua manusia beda gender dan generasi itu hanya dapat menghela napas, berusaha lebih bersabar lagi, "Gue nggak boleh kalah sama gadis ingusan anak SMA itu!" batin Zoya.
"Astaghfirullah nak, kamu itu sering ceroboh, kalau di kira kamu dandan sama guru kamu gimana? Itu loh bibir kamu sampai merah begitu!" ucap Annisa.
"Ya ampun buk, bu guru loh semuanya pasti pakai lipstik, liptint, lipcream, lipbalm, sampai jadi liputan dimana-mana, masa anak didiknya dandan dikit aja ngga boleh sih?" cetus Kaira dengan mencomot satu lagi roti sandwich buatan Annisa.
"Kaiiiii..." Marcel mengingatkan agar putri sulungnya tidak kelewat batas.
"Iya Ayah, ya udah Kaira mau berangkat keburu siang." pamit gadis itu dengan menjabat tangan semuanya termasuk Zoya yang duduk di samping Zain.
Seperti biasa Kaira menunggu mang Ucok menyiapkan motor untuk mengantarkannya berangkat sekolah.
"Gek terooooooooossss?! (Lah teruuuuusss?!)" dengan mata yang membelalak lebar Kaira menatap mang Ucok.
"Hehe... Pangapunten e mbak, cobi mbak Kaira sareng kalih ayah mawon, nopo nek mboten, nyuwun tulung mas Zain.(Hehe... Maaf mbak, coba mbak Kaira berangkat bareng ayah aja, atau nggak, minta tolong mas Zain.)" dengan senyum kikuk plus takut kena amuk amarah Kaira mang Ucok memberikan saran.
"Ya wis lah!" merengut gadis itu sedikit menghentakkan kakinya kemudian kembali masuk kedalam rumah.
"Loh Kai kamu balik pulang lagi nak?" tanya Annisa yang melihat putri sulungnya kembali memasuki area ruang makan.
"Ayah, Kai sareng nggih? (Ayah, Kai bareng ya?)" memohon gadis itu menghadap sang ayah yang masih menikmati secangkir kopi yang masih mengepulkan asap panasnya.
"Loh wong kopine Ayah we durung entek kok!(Lho orang kopinya Ayah aja belum habis kok!)" dengan santai Marcel menyahuti ucapan anaknya.
"Nggih gek nggo ditelas ne nuh! (Ya buruan ayo di habisin dong!)" mengerucut bibir Kaira saat itu.
__ADS_1
"Hayo sido mlocot tenan cangkem ku Kai, nek caramu kek ngunu!(Bisa jadi lecet mulutku Kai, kalau cara mu begitu!)" sahut Marcel, walau begitu ayah dua anak itu beranjak dari duduknya, tapi baru saja pantat Marcel meninggalkan kursinya, "Tunggu Mas!" cegah Zain.
"Gimana Zain?" tanya Marcel yang sudah terlanjur berdiri.
"Biar Zain aja yang antar, sekalian mau beli rokok." ucap Zain, entah itu hanya alasan atau kebetulan rokoknya habis, tidak ada yang tau selain Zain sendiri dan tukang rokoknya nanti.
"Oh ok, pakai mobil aja ya, motornya mau tak pakai berangkat ngantor ntar jam delapan an." ucap Marcel menyarankan.
Tak mau membuang-buang waktu Zain segera menuju garasi, dan di ikuti Kaira.
Masuk kedalam mobil keduanya dengan Zain yang ada dibalik kemudi sedangkan Kaira ada di jok penumpang di samping Zain.
Mobil yang mereka tumpangi segera merayap menuju jalanan yang cukup ramai untuk jam-jam padat seperti sekarang ini.
Tidak hanya di Jakarta, bahkan di Solo saja juga sering terjadi kemacetan panjang, khususnya di lampu lalulintas yang berwarna merah, seperti saat ini, Kaira dan Zain terjebak kemacetan beberapa kali.
Raut kusut kini terpampang di wajah Kaira, "Santai aja kali beib, nggak pernah telat yak?" cetus Zain dengan santainya.
"Uncle bisa nggak jangan sekarang! Ini Kaira lagi ngga mood bercanda ya!" Kaira memperingatkan Zain.
"Ih ya ampun istri ku galak banget sih." goda Zain dengan senyum yang sudah pasti itu sangat menyebalkan bagi Kaira.
"Uncle stop! Kaira serius!" ucap gadis itu dengan mendengus kesal.
"Gue juga serius kali Kai." cetus Zain, dan itu mampu mencuri perhatian Kaira.
"Ma... maksud Uncle?" tanya Kaira dengan menatap kearah Uncle tampannya.
"Ya kali gue nggak serius, pasti udah nyungsek ini mobil dari tadi, gue serius ini bawa mobil biar lo aman juga nggak telat, udah lo tenang aja!" sahut Zain dengan bersiap kembali menginjak pedal gas karena lampu sudah berubah warna menjadi hijau.
Langsung nge-blush wajah Kaira, menyesal ia menanggapi ucapan Zain yang pasti akan melenceng dari kata romantis.
__ADS_1
Zain selalu dengan segala kejahilannya, dan ke rese an nya, terkadang juga ke posesif-annya yang tak beralasan, bahkan sering kali itu membuat Kaira salah paham, dan tak percaya diri untuk mengakui perasaannya, apalagi Zain pernah mengatakan untuk mengikuti saja bagaimana alurnya, ya hanya itu yang selalu membuat Kaira santai dalam menjalani hubungan absurd dengan Uncle tampannya itu, apa lagi Zain belum pernah menyatakan kata cinta dengan serius dihadapannya karena lagi-lagi kata saudara terus saja membayang-bayangi keduanya, walaupun jauh tapi keakraban Zain dan Annisa sudah seperti saudara kandung...